[Cuap Cuap] Pentingnya Memahami sudut pandang dan berpikiran terbuka

Gue yakin tiap tiap manusia pasti mengalami pertumbuhan dan perkembangan (kayak kata ibu guru bio gue waktu SMA). Makin gede kita, makin banyak hal-hal yang kita ngerti dan semakin kita mengerti akan sesuatu, maka makin besar pula lingkaran ketidaktahuan kita (kata rektor gue). Makin kita pengen memahami kehidupan, makin banyak pula pertanyaan-pertanyaan yang timbul. Makin banyak pula pertanyaan pertanyaan dengan jawaban yang mengambang.

Kali ini gue mau membahas tentang sudut pandang dan berpikiran terbuka. Sepenting apasih menjadi orang yang bisa melihat banyak sudut pandang dan sepenting apasih menjadi orang yang berpikiran terbuka terhadap tindakan, sikap, dan pendapat orang lain?

Sebenernya tulisan gue ini nggak berdasar apa-apa sih, Cuma kayak bersumber dari pemikiran-pemikiran gue ketika gue mendapat masalah atau cobaan. Rasanya ketika ada sesuatu yang secara langsung atau nggak langsung melibatkan gue, rasanya gue mikir banget sebenernya ini tuh gimana sih? Posisi gue salah dimananya sih? Dan berbagai pertanyaan lain yang menimbulkan hipotesis yang akhirnya hanya bisa gue pikirkan solusinya dengan berdiskusi dengan temen temen yang gue percaya. Kadang juga sebelumnya gue mendiskusikan dengan diri gue sendiri sampai larut malam bahkan pagi lagi.

Gue sempet cari-cari pentingnya sudut pandang dan berpikiran terbuka di google, dan emang tulisan serupa itu banyak banget dan gue banyak persen sependapat. Beberapa hari ini gue dihadapkan pada beberapa konflik. Sebelumnya gue dihadapkan dengan sebuah pergulatan batin (apasih) dengan masalah yang tidak melibatkan gue sebagai individu, tapi kelompok. Dan gue udah mikir bahwa timbulnya sebuah konflik adalah karena sudut pandang yang kita lihat itu beda. Kalau nggak ada penerang untuk meluruskan dan membuka mata kedua belah pihak, maka satu pihak akan kukuh melihat apa yang dilihat dan pihak lain akan kukuh dengan apa yang dilihatnya pula. Dan beberapa hari terakhir pun demikian, gue dihadapkan pada masalah yang lebih mikir (?) karena melibatkan gue secara pribadi . semakin kuatlah pemikiran gue mengenai sudut pandang ini.

Gue mengambil salah satu contoh yang ada di artikel yang gue baca

Suatu waktu beberapa orang India dikumpulkan kedalam sebuah kandang gajah dalam keadaan gelap gulita. Semua orang ini sepanjang usianya belum pernah melihat gajah. Saat itu untuk pertama kalinya mereka akan diuji untuk mengenali seekor gajah dengan merabanya.

Setelah beberapa waktu mereka meraba gajah tersebut, maka mereka pun dikumpulkan kembali untuk menceritakan bagaimana wujud seekor gajah.

Seorang yang hanya menyentuh belalainya menjelaskan kalau wujud seekor gajah mirip dengan cerobong yang panjang. Seorang lagi yang hanya menyentuh gajah bagian perutnya menjelaskan kalau gajah mirip dengan tembok yang tinggi, seseorang yang menyentuh kaki gajah menjelaskan bahwa wujud gajah mirip dengan tiang yang tinggi, dan seorang lagi yang menyentuh telinganya menjelaskan kalau gajah adalah mirip dengan kipas besar.

Seperti itulah gambarannya. Hidup ini sebegitu luasnya dan sebegitu kompleksnya. Banyak banget sudut pandang yang bisa kita tarik untuk menjadi jawaban atau pedoman. Kita gabisa menyalahkan seseorang untuk mengambil sudut pandang manapun, karena menurut gue hidup ini memang sejatinya menyediakan itu. Menyediakan sudut pandang yang begitu banyaknya. Sampai akhirnya ketika kita mau terbuka, jawaban yang timbul bukan saklek iya atau tidak. Tapi iya karena dan tidak karena. Tinggal bagaimana kita bisa  menghargai ‘karena’ itu. ‘Karena’ yang bisa menjadi latar belakang seseorang memilih jawaban. ‘Karena’ yang membuat seseorang menarik simpulan. Semacam itu. Tapi tetep, hal ini gak berlaku dalam kasus Hukum Allah, yang paling mutlak.

Berbicara tentang sudut pandang, menurut gue hal ini erat kaitannya dengan memposisikan diri sebagai orang lain. Sedikit cerita (kayaknya gue dari tadi cerita) suatu waktu gue pernah mengikuti editorial yang bahas tentang budaya telat. Dan salah seorang dari kami saat itu berpendapat. Kenapa orang bisa tepat waktu dan orang bisa terlambat? Jawabannya karena mindset  ‘saya tidak ingin diperlakukan seperti itu, maka saya tidak akan melakukannya’ rasanya begitu melekat. Ibaratnya, ketika seseorang tidak mau menunggu orang yang terlambat, maka orang tersebut tidak akan terlambat (kok agak ganyambung yak? Wks). Intinya memposisikan diri sebagai orang lain dulu, baru kita bisa merasakannya. Jadi ketika terjadi suatu konflik, ada baiknya kita memposisikan diri sebagai orang lain kemudian kita akan berpikir tentang apa yang melatar belakangi seseorang melakukannya dan memahami sudut pandang mana yang mereka ambil. Tapi ketika kita mengambil banyak sudut pandang itu nggak harus ketika ada konflik antara satu pihak dengan pihak yang lain sih, menurut gue. Pengambilan sudut pandang ini bisa dilakukan kapanpun dan dalam case apapun agar kita juga terbiasa melihat banyak sudut pandang. Jadi semacam nggak hanya memahami sudut pandang orang lain tapi juga bisa membuat sudut pandang sendiri yang sebelumnya bahkan belum terpikirkan.

Yoman gue mulai gajelas.

Tapi ya seperti itu.

Sudut pandang yang gue bahas dari tadi adalah sudut pandang yang positif. Gue agak kurang setuju kalau kita melihat sudut pandang lain yang negatif. Boleh dan bisa, tapi menurut gue ruang lingkupnya lebih dipersempit dari sudut pandang positifnya. Karena ya begitulah kehidupan, kalau ada yang baik, kenapa harus memikirkan dan memilih yang buruk. Selama dapat berpikir positif, kenapa juga harus memprioritaskan yang negatif.

Menjadi seseorang yang kurang bisa melihat berbagai sudut pandang ini menurut gue disebabkan karena beberapa hal. Menurut gue dan kebetulan dibenarkan juga oleh hasil pemikiran orang-orang dan searching-an (kenapasih bahasa gue WKS), ada dua hal mendasar yang menyebabkan seseorang sulit untuk melihat dari berbagai sudut pandang yaitu tidak tahu dan merasa paling benar.

Yang pertama, tidak tahu. Menurut gue disini tidak tahu dalam artian tidak terlalu ambil pusing terhadap makna sebuah sudut pandang yang begitu krusial. Hal ini berhubungan pula dengan penyebab kedua, merasa paling benar. Ketika seseorang sudah memiliki pengetahuan atau beberapa hal yang melebihi orang lain, bisa jadi ada perasaan bahwa “saya adalah yang paling benar”. Maka ketika mindset tersebut telah tertanam, segala pendapat yang masuk atau ada tak bisa ia terima. Merasa lebih tahu, merasa lebih tua, merasa lebih bisa, bisa menjadikan seseorang sulit melihat sudut pandang orang lain.

Bicara soal sudut pandang (dari tadi), melihat sudut pandang orang lain ini erat kaitannya dengan berpikiran terbuka. Memiliki banyak sudut pandang merupakan salah satu cara seseorang untuk berpikiran terbuka. Menerima ide dan pendapat yang ada di sekelilingnya.

Tapi menurut gue, selalu ada plus dan minus dari apa yang kita lakukan. Udah banyak bertebaran apa aja plus dan minus kalau kalian cari sendiri di google. Kadang gue juga mikir karena gue sudah memegang apa yang gue tulis di sini (?), ketika gue dihadapkan pada suatu konflik dengan orang lain, gue resah dulu. Enggak langsung nangis atau baper. Malah bikin gue bingung sendiri karena memikirkan hal itu.

Kemudian ketika kita kukuh dengan pendapat kita, bukankah itu menunjukkan bahwa kita memiliki prinsip yang kuat dan teguh pada keyakinan yang kita pegang?

Orang yang berpikiran terbuka, pada dasarnya akan menerima. Menerima semua pendapat dari sudut pandang manapun. Disetujui atau tidak adalah urusan akhir. Kalaupun pada akhirnya dia tidak sependapat, tapi dia sudah menerima dan menimbang sudut pandang yang lainnya. Sisanya, hak masing-masing untuk setuju atau tidak, atau membiarkan perbedaan itu dapat menjadi suatu kekuatan untuk bisa mewujudkan persatuan dan kesatuan, bukan malah menjadi kekurangan dan badik tajam pemecah keutuhan.

Di pertengahan gue menulis tulisan ini, gue sempat cari cari dan gue menemukan kata yang sangat tepat

Karena sejatinya, yang dilakukan oleh seseorang yang berpikiran terbuka dan berpandangan luas, adalah “seseorang akan berjalan memegang teguh keyakinannya, tanpa berani mengklaim diri sebagai yang paling benar” gue utip dari sini.

Seseorang akan cenderung mengungkapkan sejauh apa yang ia ketahui. Kebenaran hanyalah milik tuhan. Kita hanya akan mengungkapkan kebenaran sesuai dengan apa yang kita ketahui. begitu pula tulisan gue saat ini yang gue tulis sejauh apa yang menjadi pemahan gue. Siapa yang tahu kalau tiga lembar tulisan gue ternyata hanya melihat dari satu atau dua sudut pandang aja. Maaf kan gue kalau gue punya salah di tulisan gue kali ini. Tulisan ini gue tujukan pada diri sendiri juga, sebagai self reminder agar ketika gue mungkin nanti tiba-tiba gak sabaran dan secara sembarangan nyalahin orang, gue bisa baca tulisan ini lagi.

Mungkin itu aja yang bisa gue sampaikan disini, sampai jumpa di postingan gue selanjutnya!!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s