[Cerpen] Saya dan Adinata

Mati-matian, saya, bolpoin saya, blocknote saya, bahkan tape recorder saya menahan radiasi netra punya Adinata Bumantara. Ata, panggilannya serta merta menjawab pertanyaan saya dengan selingan tawa sederhana. Juga Ata, sedang menguji ketahanan saya dalam kegiatan saling pandang dan menjajah senyum kami berdua.

Sejujurnya, saya mengabaikan eksistensi dua pria lainnya di samping Ata. Tentang bagaimana kapal tanpa awak mereka mendapat juara pertama, atau bagaimana proses lomba yang mereka ikuti dua hari lamanya, semua hanya Ata yang menjabarkan. Paket komplit dengan senyuman. Jika beruntung, paket spesial bonus candaan.

Tidak terlalu lama saya mengidamkan Ata. Dari sekolah menengah pertama, SMA pun masih sama. Baru saat kuliah saya bertekad akan melupakannya, tapi kiranya semua itu omong kosong belaka saat saya tahu kami menggunakan jas alamamater yang sama.

Sungguhpun saya tidak paham tentang bagaimana sistem kapalnya bekerja, Aldinata tetap saya penjara diantara pandangan milik saya. Ketika senyumnya pecah, saya pun menurut untuk mengikutinya. Tanpa sadar juga saya ikut tertawa ketika Ata melakukannya. Sebagai pesan terakhir, kesan dan pesan selalu gagal saya ajukan. Ada tekanan yang mengharuskan saya bertanya lagi, tidak boleh sekalipun mengakhiri.

Demi semesta, Ata dan senyumannya adalah yang paling indah. Bahkan senyum penuh paksaan ketika ia mendapati saya hampir kehabisan stok pertanyaan pun demikian. Karena tidak mungkin saya bertanya apakah dia sudah makan, atau bagaimana kabarnya setelah ditinggalkan mantan ke pelaminan, saya hanya membalas senyum Ata pun dengan paksaan.

Akhirnya Ata menjelaskan kesannya saat mengikuti lomba dan membeberkan pesannya untuk mahasiswa agar selalu berkarya. Dengan berat hati saya berdiri sembari berterimakasih. Harusnya saya mencoba berbasa-basi, tapi saya tidak mau mati di tempat ini. Alhasil, saya pergi.

Kemudian sebuah suara teriakan mengaung dari belakang.

“Saya tunggu wawancara selanjutnya!”

Saya menoleh, Adinata melambaikan tangannya. Saya gelagapan dibuatnya. Saya melompat dalam hati, namun senyum tipis saja yang terpatri. Sampai saya membuka suara, Ata masih tak segan mengumbar lengannya.

“Iya,” ucap saya kencang. Disusul beberapa doa dan harapan tulus mengaminkan. beberapa kali saya mengharapkan jika Ata memang seharusnya menjadi juara agar saya bisa mewawancarainya. Agar saya bisa menuliskan fakta, bukan delusi saya tentang Ata. Agar ia masih mengingat saya, teman SMPnya. “semoga,” lanjut saya melempar senyuman dan pulang menyiapkan cadangan nyawa untuk mendengar suaranya dalam rekaman.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s