[Cuap cuap] Sidang Doktor

Gaya ya gue. Nggak pernah muncul, sekalinya muncul judulnya udah keren aja. Jadi sebelumnya, gue menulis ini karena emang gue lagi pengen nulis. Males nulis fanfic, nggak ada berita yang ditulis juga, nggak punya bahan untuk gue review. Hasilnya, gue memilih untuk menulis tentang pengalaman gue megikuti sidang doktor untuk pertama kalinya.

Mungkin kesannya emang super katro dan ndeso sih, Cuma karena emang seumur-umur gue nggak tau gimana sidang doktor berlangsung, ada kesan tersendiri ketika gue mengikutinya sebagai orang awam dan sebagai pihak yang emang bukan siapa-siapanya seseorang yang lagi sidang.

Di kampus gue, nggak tau kenapa liburan ini bisa terbilang banyak banget promosi sidang terbuka doktor. Di depan masing-masing jurusan, pasti ada aja banner dengan tulisan sidang terbuka doktor.

Ceritanya ketika liburan kemaren, sebagai seorang reporter (abal) di kampus, gue telah banyak memiliki hutang karena sewaktu liburan gue hanya menulis satu berita. Dengan niat baik gue untuk melunasi hutang liputan, gue line koordinator liputan (korlip) gue. Sehari setelahnya, gue ditawarin liputan sidang doktor. Gue sih mau-mau aja karena emang gue masih dalam keadaan gabut. Akhirnya berangkatlah gue ke sidang doktor itu.

Gue bener-bener nggak kepikiran baju apa yang gue pakai. Gue Cuma berpikir yah palingan baju standar kuliah. Akhirnya gue pakai baju standar kuliah aja. Gue berangkat, di depan ruang sidang kan nggak ada absensi atau sejenisnya, jadi gue pikir gue nggak harus ijin untuk masuk. Di depan ruang sidang itu pula, ada beberapa gerombolan ibu-ibu necis yang gue sama sekali nggak kepikiran siapakah mereka karena mereka emang Cuma ngobrol biasa di depan. Akhirnya gue langsung masuk.

Gue ambil posisi di belakang karena biar nggak terlalu ganggu kalau mau ambil gambar. Gue duduk kan, sambil ambil beberapa gambar sebelum dimulai. Kemudian ketika gue plonga-plongo, seorang ibu-ibu cantik wangi dan berkacamata datang menghampiri gue seraya bertanya “mbak dari pers ya?” gue manggut-manggut aja mengiyakan. Si ibunya tanya nama medianya, gue jawab juga sambil senyum senyum manja. Ternyata si ibunya adalah istri dari si calon doktor. Gue juga baru sadar si ibu bawa souvenir buat gue. Gue nggak lihat di depan ada souvenir sih, gue jadi mikir jangan-jangan si ibu tadi lihat gue nyelonong aja kemudian membuntuti gue (ini gr parah).

Akhirnya obrolan singkat itu disudahi. Dan gue kembali plonga-plongo melihat beberapa orang semakin ramai masuk ruang sidang. Semuanya salam-salaman beramah tamah persis kayak kondangan. Gue juga baru sadar baju yang dipakai emang rata-rata batik. Dan gue hanya memakai… baju standar kuliah anak muda (?).

Akhirnya kursi di ruang sidang sudah mulai penuh. Isinya ada bapak-bapak dan ibu-ibu, ada satu anak kecil yang gue tebak anaknya si calon doktor dan ternyata emang bener, dan ada juga yang gayanya masih anak muda pakai jaket himpunan kayaknya sih mahasiswa jurusan itu. Alhamdulillah, gue nggak sendirian.

Akhirnya si MC mulai ngomong kan. Lah keheranan gue mulai saat itu juga. Ternyata sidang ada MC nya ya? Wkwkwkkw begitu batin gue. Akhirnya kami, para peserta (?) yang undangan ini diharapkan untuk berdiri karena ada yang bakal masuk (?) yaitu si pimpinan sidang dan wakil sama promotor dan penguji. Bahkan gue baru tahu pada hari itu juga istilah-istilah semacam itu. Akhirnya kami disuruh duduk lagi kan. Gue baru sadar kalau sidang doktor kayaknya emang sesakral dan seformal itu (yaiyalah tolong).

Kemudian ketua promotor berbicara (?) yang kebetulan pak ketua promotornya adalah rektor kampus gue hahahaha. Lanjut si bapak yang disidang mulai melakukan presentasi. Demi apa ya disitu gue sungguh-sungguh takut kalau nggak paham. Kenapa? Yang pertama gue bukan seseorang dari jurusan tersebut. Kedua, gue masih tahun pertama yang masih polos. Ketiga, gue masih reporter baru yang abal. Keempat, gue agak panik.

Tapi emang yang gue pahami hanyalah latar belakang penelitiannya aja sih, sama tujuan dan manfaat (plis) selebihnya dari rumus, grafik, metode, dan semuanya gue nggak paham apapun. Untung banget tadi souvenirnya isi buku yang ada tulisan yang dipresentasikan, seenggaknya gue bisa memahami lebih lanjut di kosan walaupun presentasinya si calon doktor juga gue rekam.

Tapi serius itu gue gapaham sama presentasnya si bapak.

Maklum ya.

Iya gapapa.

Lanjut.

Kemudian para penguji dan promotor mengajukan pertanyaan. Lagi-lagi pertanyaannya nggak bisa nyampek otak gue. Gue denger pertanyaannya, baru mau masuk kuping, langsung mental dah tuh saking gapahamnya. Ya mana si penguji sama promotornya para prof prof yah… nggak nyampek beneran kan otak gue.

Karena nggak paham dan nggak bisa fokus, gue jadi agak-agak ngantuk sambil cari wifi yang semuanya di password. Makin ngantuk kan.

Jadi waktu itu gue sudah kepikiran apa yang akan gue tulis. Yaitu tentang penelitihan si bapak tentunya dan berencana untuk mengulik lebih dalam tentang diri si calon doktor dengan wawancara. Tapi niat itu gugur karena ketua promotor yang sekaligus rektor gue menanyakan apa yang akan gue tanyakan (walaupun nggak semuanya). Akhirnya gue nggak jadi wawancara si bapak dan menulis dua berita dari sidang tersebut.

Setelah sidang istirahat karena para penguji dll dll itu rapat, akhirnya si calon doktor sudah resmi menjadi doktor. YEEEEY.

Akhirnya, acara foto bersama dan ramah tamah pun dimulai. Jadi tadinya, gue hanya memotret bapaknya dari kejauhan sebenernya gue bukannya nggak mau maju atau cari tempat yang enak. TAPI emang sudah ada tukang poto lain (?) yang suka seliweran di tempat yang gue anggap enak itu. Akhirnya gue males kan desek-desekan. Pas ramah tamah gue langsung nyelonong aja maju motoin karena udah ngga sabar juga. Wkwkwk.

Jadi si bapak doktor itu bawa orang tua, mertua, anak sama istrinya. Gue baper anjir. Waktu pertama gue bicara sama istri si doktor aja gue sempat baper. Romantis ya sidang didatengin istri, semua pada ngasih selamat ke istrinya juga AKH JADI PENGEN. Pengen dapet gelar doktor juga maksudnya AH (AMINKAN). Kemudian ternyata ada mertua dan orang tuanya. UHHH BETAPA BAHAGIANYA. GUE BAPER ASLI.

Akhirnya supaya kebaperan gue nggak berlarut-larut (APASIH), gue pulang dengan membawa bingkisan makanan. Alhamdulillah, rejeki anak kosan. WKWKWK.

Hehe

Nggak jelas ya

Iya

Yaudah

Begitulah pengalaman gue yang sangat absurd ini. Mungkin lain kali gue akan pakai batik dan flat shoes (?) kalau liputan sidang doktor biar sopanan dikit. WKWKWK. Semoga kita semua, yang baca juga bisa merasakan bagaimana menjadi seseorang yang berkeringat waktu presentasi, menjadi seseorang yang deg-degan ditanya-tanyai promotor dan penguji, dan semoga bisa jadi orang-orang yang bisa punya gelar doktor dan bermanfaat bagi agama, nusa, dan bangsa.

AMIN

EA

Tumben bener

Oke gitu aja yang bisa gue sampaikan.

BHAY~~~

Sampai bertemu di postingan gue selanjutnya!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s