[Cuap Cuap] Hidup Gue Terlilit Kabel

Selama ini, gue nggak pernah post tentang lebaran atau minta maaf atau semacam itu di blog ini. Padahal udah lumayan lama blog ini melewati hari raya. Jadi sekarang gue mau minta maaf bagi pembaca blog ini, baik yang langganan komen, langganan kasih like, yang udah follow, atau pun yang ubek-ubek google terus nyasar ke blog gue ini. Gue minta maaf kalau mungkin ada postingan gue yang menyakiti hati para pembaca sekalian, dan mungkin menghabiskan beberapa jam beberapa menit dan beberapa detik waktu kalian buat baca blog gue yang super nggak penting ini.

Sebenarnya postingan ini nggak gue peruntukkan untuk minta maaf aja, kali ini gue mau curhat. Hahaha. Baru juga minta maaf. Dari judulnya, mungkin pikiran kalian bakalan melayang ke hal-hal serba keren dan bijak juga penuh motivasi. Aduh, bahas soal hidup nih. Atau duh judulnya penuh majas gini. He he eh tapi nggak dong, kali ini gue nggak curhat tentang hidup gue yang sudah susah berbelit oppa oppa dari negeri antah berantah.

Sebenarnya, gue mau bahas masalah bangku sekolah gue di SMA.

Ehm

gue kasih gambar kabel, biar meyakinkan

Mulai

Tolong yang hidupnya terlalu penting jangan buang buang waktu anda untuk membaca postingan ini tolong. Gue nggak tanggung jawab.

Waktu kelas sepuluh, gue adalah anak yang lumayan rajin. He he he. Dibandingkan dengan sekarang lahya. Dulu, gue akan lebih memilih deretan bangku kedua atau ketiga karena gue nggak mau ada di deret pertama, dan kalau deret paling belakang, gue nggak kelihatan. Tapi nggak lama setelah itu, guru gue ngacak bangkunya gitu kan, sama pasangannya juga. Alhasil karena gue berkacamata, gue ditaruh paling depan. Gue nggak terlalu gimana-gimana banget sama posisi ini, karena ini bukan kali pertama gue bangku paling depan pada masa-masa sekolah. Setelah itu, kelas gue pindah kan akhirnya bangkunya acak-acakan lagi dan gue dapet bangku pojokan nomor empat yang nggak ada belakangnya. Padahal harusnya kan ada lima gitu, you know lah. Dan nikmatnya bangku belakang tuh kalau istirahat bisa nobar film yang numpuk-numpuk bangku belakang berasa rumah sendiri.

Naik ke kelas sebelas, gue mengalami masa-masa sulit dimana bangku gue tepat didepan meja guru, dan jaraknya itu deket banget kayak lo mau tidur aja nggak enak sendiri. Kayak gue harus tegap siap grak bersahaja merdeka gitu. Dan itu nggak enak. Setelah lama berada pada kursi panas depan guru, akhirnya wali kelas gue memutuskan untuk mengacak tapi mengacaknya nggak se random waktu gue kelas sepuluh. Anak cewek di kelas gue jumlahnya ganjil dan ada satu cewek yang sorry ya kayak susah buat adaptasi gitu, nggak mudah gaul, jadi mesti sendirian. Jadi wali kelas gue berinisiatif buat setiap minggunya, anak cewek harus ada yang sendirian dan itu bergilir sesuai urutan absensi. Dan tempat bangkunya ini semau-mau muridnya. Mau bangku paling belakang, paling pojok, depan sendiri semua diperbolehkan ganti tiap minggunya. Yang pasti jangan gelar tenda aja di kelas. Prinsipnya, siapa cepat dia dapat. Dan sialnya, gue adalah anak yang rumahnya nggak jauh-jauh banget dari sekolah tapi super telatan. Jadi waktu rebutan kursi gitu, gue suka nggak dapet. Dan herannya, yang selalu kosong bangkunya adalah bangku depan guru dan depan papan tulis. What the hell… gue sudah lama duduk di depan guru dan karena gue telat, gue harus duduk depan guru lagi dan itu nunggu seminggu lagi untuk diacak lagi. HUFFF. Dan temen sebangku gue juga nggak pagi-pagi banget, tapi juga nggak setelat gue, jadi kalau lagi bejo, gue bisa duduk nyaman di tengah baris kedua atau ketiga gitu.

Semester dua, kelas gue ganti lagi dan di kelas baru ini bangku gue nggak terlalu monoton karena gue selalu pindah-pindah. Pernah di belakang banget, di tengah, pojok depan (lagi), jadi nggak terlalu ada memori. Tapi waktu akhir-akhir mau ujian, gue jadi sering banget duduk di bangku depan pojokan tapi bukan pojokan depan guru (hamdalah) tapi pojokan deket pintu dan sangat deket dengan colokan. Gue jadi sebahagia itu karena colokan.

Setiap hari, hidup gue nggak jauh-jauh dari yang namanya gadget. Mau hp atau laptop, gue selalu membawanya ke sekolah (nggak sering-sering banget sih tapi sering). Dan kedua gadget kesayangan gue itu, baterainya pada ancur. Laptop gue baterainya udah sengklek dan gue pakai colokan buat nyalainnya, baterai hp gue cepet abis dan udah kembung hampir mirip kayak jajan kembung isi udara yang 500 perak. Jadi kalau gue pakai gadget, gue harus dekat dengan colokan. Dan saat itu impian gue terealisasikan dengan posisi bangku sekolah gue yang sangat strategis.

Tapi you know what? Dengan dekatnya gue sama colokan, temen-temen pada eh, numpang ces (?)in ya, eh numpang ya, eh numpang ngeces (?) di laptop lo ya, sampai laptop gue penuh dengan kabel data. Mana kalu ada yang nitip ngeces laptop suka kampret banget orangnya dimana, kabelnya dimana, malah membelit gue. Cukup gue dibelit oppa oppa dan hutang (nggak) jangan belit gue dengan kabel juga.

contoh salah satu oppa yang melilit kehidupan gue (?)

wp iidonghae

Iklan

2 thoughts on “[Cuap Cuap] Hidup Gue Terlilit Kabel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s