[FF] Allegation

Allegation

Cast: Jeon jungkook, OC

Genre: fluff romance? Friendship?.

Rating: PG-12

Length: One shoot-Drabble

Author: iidonghae (@Mujtahidatul_A)

Disclaimer: jungkook milik tuhan yang maha esa. Setting punya saya. Maaf kalo salah eyd atau typo.

Summary: “kau tak akan bisa membuktikan jika dugaanku salah, kan? Sampai tak ada pembuktian, kalimatku akan tetap menjadi dugaan” – jeon jungkook

===

Wuahhhh, kembali dengan FF Jungkook. Ide ini datang tiba-tiba di pagi hari. Bener-bener tiba-tiba kemudian langsunglah ditulis pagi-pagi gini. Selamat menikmati>>>

===

“Until It’s Verified, It’s an Allegation”

“Jeon Jungkook, apa kau tadi mendengarkan materi oleh tamu sekolah kita? Detektif terkenal itu!” ujar gadis dengan peluh sedikit bercucuran karena membendung matahari pukul dua belas siang di atap sekolah. Kepalanya ia tundukkan lagi, melakukan blok sembarangan atas sinar matahari yang sedang dimanfaatkan Jeon Jungkook untuk berfotosintesis –katanya beberapa hari yang lalu. Kuncir kuda gadis itu melorot ke kiri dan membentuk benjolan pada cetak mukanya diatas muka Jungkook. Berkali-kali Jungkook berani jujur jika ia tak mau diganggu jika sedang telentang di atap sekolah – yang ia sebut fotosintesis. Tapi telinga sahabatnya itu bak bunge jumping dengan elastisitas sangat tinggi. Apapun yang dikatakan Jungkook, pasti langsung terlempar jauh.

Dengan gerakan cepat Jungkook mengangkat separuh badannya hingga perut. Kulit porselennya masih ingin untuk melakukan ritual menantang matahari. Tentu, gadis itu langsung mendapat murka “sudah kubilang jangan ganggu aku jika sedang di atap. Aku sibuk!”

“apa yang di sibukkan orang tidur telentang seperti itu?” cibir gadis itu sarkartis. Bibirnya ia maju-majukan dengan diimbuhi gemetar, kebiasaannya.

Jungkook pun tak kuat, kemurkaannya akan selalu padam pada saat itu juga. Selalu. Seberapapun sahabatnya itu membuat Jungkook hampir frustasi, tak pernah ada hasrat marah atau ingin memukul mukanya, bukan karena dia seorang wanita. Hanya saja Jungkook tak mau.

Jungkook menegakkan semua badannya. Kali ini, bukan pantatnya yang menjadi tumpuhan. Kakinya siap menopang badan Jungkook yang semakin mendekat ke arah pagar pembatas. Seseorang dengan kuncir kuda itu mengikuti. Persis seperti perkiraan Jungkook. Dan setelah ini, ia sudah tau jika gadis itu akan bercerita panjang lebar tanpa bosan. Hanya bel masuk kelas yang bisa menghentikannya.

“aku benar-benar kagum dengan kalimatnya. Katanya, jika reporter tak boleh sembarangan memberi dugaan, maka detektif harus membuat sebanyak-banyaknya dugaan. Kemudian hanya akan ada satu kebenaran lewat dugaan manapun” mata gadis itu melebar seiring dengan panjangnya kalimat yang ia ucapkan. Pada kalimat terakhir, ia menambahkan senyum lebar.

Bukan tak mau menghargai, Jungkook hanya menggetar-getarkan alis. Jangan kira karena Jungkook sedang berfikir, ia hanya tak kuat melihat sinar matahari yang begitu terik. “benarkah dia berkata seperti itu? Yah, suaranya benar-benar merdu, membuatku sangat berminat untuk tidur” Jungkook memberi penekanan kuat pada akhir katanya. Janggutnya ia angkat ke kanan dan sedikit terlihat gadis di sampingnya mulai memaju-majukan bibirnya. Lagi.

“Aishhh… aku tahu, tanpa mendengarkannya pun, kepandaianmu tak akan hilang. Aku masih benar-benar heran, bagaimana kau menjadi juara sekolah sejak pertama masuk?” tidak ada kalimat lanjutannya. Dan Jungkook juga segan untuk menjawab. Jungkook hanya terus berdiri dengan meletakkan dua sikunya di atas pagar, dengan wajahnya yang bersinar satu juta kali dari biasanya. Jika seluruh gadis di sekolah melihatnya, mereka tak akan pulang dengan selamat. Jungkook memang benar-benar idola.

“Ohya…” benar, tidak mungkin gadis itu berbicara singkat. “bisakah kau membuat suatu dugaan? Bukankah tadi kalimat detektif Jeon sangat keren? Ayahmu benar-benar berdedikasi tinggi pada pekerjaannya” gadis itu kembali antusias. Lebih-lebih dari sebelumnya.

“aku harus membuat dugaan pada kasus yang seperti apa?” tantang Jungkook kemudian dengan suaranya yang santai. Gadis itu tahu jika umpan pertamanya pasti ditangkap oleh Jungkook. Ia tahu betul jika Jungkook bercita-cita menjadi seperti ayahnya. Tak jarang, namanya terpampang di koran-koran harian karena membantu memecahkan kasus bersama sang ayah. Benar, kan? Dia memang seorang idola.

Gadis itu memulainya dengan deheman kecil. Disusul dengan dua tangannya yang berpindah kuasa menjelajahi tangan yang lain, menyilang di depan perutnya. Sia-sia ia melakukan pergerakan, toh tangan kanannya kembali terangat sambil berucap “bisakah kau membuat dugaan tentangku? Sebagai seorang wanita. Bukan seorang teman”. Begitu permintaannya ia ucapkan dengan sangat percaya diri.

“maksudmu, kau mau menjadi sebuah kasus dimana aku harus membuat dugaannya lalu memecahkan kasusnya, begitu?” Jungkook kini yang mencapai kepercayaan diri sangat luar biasa. Tak mau kalah, tangannya beralih menyilang didepan perutnya. Dengan janggut yang sedikit naik dan kepala yang ia miringkan, sungguh membuat gadis yang saat ini berada didepannya mendadak gemetar.

“apa aku salah ucap?” bodohnya, seharusnya gadis itu cukup menyimpan kalimat yang demikian dalam otaknya. Bukan ia ucapkan dengan lisan.

Setelah terlihat berfikir, Jungkook kembali berucap. Mengabaikan sinar matahari yang semakin membakar. Yang ia tahu, seseorang didepannya semakin bersinar. “setidaknya, aku sudah membuat satu dugaan sangat kuat” lanjutnya sambil memberi kekuasaan pada kakinya untuk satu langkah kedepan.

Was-was, gadis itu mebat satu langkah ke belakang. Aura yang ditampilkan Jungkook berbeda dari biasanya. Sombong yang menjadi sangat sombong, menggoda yang menjadi sangat menggoda, dan tampan yang menjadi sangat tampan. Jika ia bisa membuat dugaan kuat sesingkat itu, maka kepandaiannya pun menjadi sangat pandai.

Tak ada yang bisa diucapkan gadis itu, setelah Jungkook melihat gadis itu terus terusan menggit kecil-kecil bibir pinknya, kini giliran Jungkook yang mengambil alih dialog selanjutnya. “yang pasti, kau menyukaiku”

Entah menduga atau menggoda, begitulah yang diucapkan Jungkook. Kali ini, gadis itu sedikit lebih pintar, karena hanya menyimpan pertanyaan apa aku salah ucap? Dalam otaknya.

“ah, aku lapar. Aku harus ke kantin” gadis itu cepat-cepat menghembuskan nafas setelah mengucapkannya, kemudian kembali menggigit bibirnya kecil-kecil. Lalu melengos menghindari Jungkook.

“kau tak akan bisa membuktikan jika dugaanku salah, kan? Sampai tak ada pembuktian, kalimatku akan tetap menjadi dugaan” teriak Jungkook dari kejauhan. Ia betul-betul bangga menyuaraknnya. Setidaknya, mungkin akan membuat sahabatnya itu tak mau menatapnya dalam tiga hari kedepan, Jungkook sudah pernah melakukannya. Kemudian ia memberi senyum lebar yang menjadi sangat lebar saat ini.

Sedang gadis itu semakin kencang berlari. Salah besar jika ia mengatakan apapun pada Jungkook. Jungkook akan bisa memaknai segala hal. Sekecil apapun percikan yang diterimanya.

apa aku salah ucap? Sepertinya aku benar-benar salah ucap

#END#

Yuhuuu kelar deh finally alhamdulillah. Beberapa adegan (?) disini terinspirasi dari drama School 2015 yang Taekwang fotosintesis. He he he. Terimakasih yang sudah baca. Beri komen lah ya biar lebih semangat nulis. Bye byeee!~~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s