[Cuap Cuap] Membangun Kepercayaan

Hellaw fellas (ala ala blogger unyu). Kembali lagi dengan cuap cuap yang nggak jelas ini. Lagi suka nyuap nyuap karena ketika aku nulis cuap cuap ini, rasa rasanya plong gitu. Maksudnya, aura auranya beda dengan ketika nulis Fanfiction. Dengan ingus meler yang masih cair, Huhhhhh diri ini berjuang mati matian demi bisa napas normal dari idung. Apalagi ini ingus masih cair gitu, idung gatel semua. Hih KZL kata anak gaul sekarang mah.

Kok jadi bahas ingus, sih!

Dari judulnya, wuih, kelihatannya tema kali ini berat banget ya. Duh berat, seperti cinta masa lalu yang kembali mencuat #EA

Kali ini mau membahas masalah ‘membangun kepercayaan’ versi saya, bukan berdasarkan teori teori para ahli dengan survey surveynya. Nggak, nggak gitu. Bahasan kali ini berdasarkan analisa sotoy sotoyan saya aja. Hehehehhe

Menurutku pribadi, kepercayaan itu… gimana ya…

Bingung

Semacam sesuatu yang di percayai. Di percayai untuk melakukan sesuatu, di percayai untuk memegang sesuatu. Ya semacam itulah.

Krik

Kepercayaan itu penting banget di bangun dalam kehidupan yang fana ini #EA. Setelah membangun kepercayaan, tentulah tugas selanjutnya adalah mempertahankan kepercayaan yang sudah ada. Membangun kepercayaan ini, mungkin umumnya banyak kita dengar untuk perusahaan perusahaan gitu ya, membangun usaha, butuh kepercayaan pelanggan, konsumen, masyarakat. Tau kan kenapa biasanya olshop baru mesti bikin giveaway untuk nambah testimoni? ya supaya masyarakat dunia maya bisa percaya sama dia. ngumpulin beberapa testimoni dari para pelanggan yang udah dulu dulu. Tak lain dan tak bukan, tujuannya yaitu untuk menarik minat pelanggan dan membangun kepercayaan. Ea.

Tapi karena saat ini aku masih belum menjadi seorang pengusaha. Ya besok lah ya #AMIN #AMIN. Aku akan membahas bagaimana kita membangun kepercayaan ala ala anak SMA. Yang dekat dengan anak SMA apasih. Gadget? Oh tentu. Tapi ini bukan lagi bahas benda mati sih. Klo gadget ikutan end sudah ini tulisan.

Next

Setelah mempertimbangkan dengan matang, dan juga udah konsultasi sama kak seto, lalu mengadakan konverensi meja bundar beserta pak pres dan jajarannya #INIAPASIH, aku sudah merangkum tiga objek yang kepercayaannya harus kita bangun. Yaitu orang tua, guru, dan teman. Sebenarnya sih nyatanya nggak hanya ini aja, tapi karena nggak mungkin dimuat semuanya entar kebanyakan end sudah ini tulisan (2).

Oh bentar, karena ini sesuai yang remaja remaji, kenapa nggak ada membangun kepercayaan pacar? Ehm, itu karena yang nulis nggak tahu ya. Nggak berpengalaman gitu maksudnya. Ya. Gitu. Udah jangan banyak omong. #Menangisdialamselimut #LEBAY

Yang pertama yang akan kita bahas adalah membangun kepercayaan orang tua.

Sebenarnya yang pertama ini, agak gimana gitukan. Kan orang tua kita sendiri, jelas udah percaya lah? Kenapa harus di bangun lagi? Oke oke ditampung. Sebenarnya membangun kepercayaan orangtua yang ku maksud disini adalah bagaimana membuat orang tua percaya akan apa yang kita lakukan. Bukan untuk nipu, bukaaan. Kita pasti merasa plong kan ketika orang tua kita nggak curigaan. Bukannya nggak peduli. Tapi mereka udah percaya bahwa apa yang kita lakukan adalah pilihan yang tepat buat kita. Dan itu adalah hal hal yang baik. Kalau kata orang bijak sih kasih “kebebasab yang bertanggungjawab” EA. #Tolongdongkabelbuatnyambungin #Hashtagpanjaaang

Disini, memang di butuhkan timbal balik gitu. Ketika orang tua sudah percaya, yang kita lakukan adalah menjaga kepercayaan itu. Ya, semuanya juga kayak gitu sih, nggak Cuma untuk orang tua aja. #Barubilang

Kepercayaan yang diberikan orang tua untuk anaknya, sekali lagi bukan karena orang tua nggak peduli dengan anaknya. Malah peduli banget. Cara mereka aja yang kayak gitu. Lah sebenernya orang tua bisa percaya pada kita itu sih baiknya memang di anu sejak kecil. Sori ini nggak ngerti mau ngetik apa. Kalau dari kecil orang tua sudah memberi kepercayaan buat kita, dan tentu masih dengan pengawasan, maka kita juga akan cenderung nurut, kan. Bayangin kalau kita pulang sore padahal kerja kelompok, terus orang tua tanya. ‘kamu pasti jalan jalan’ ‘kamu dari situ kan?’ ‘kamu pacaran ya?’ yang terakhir itu biasanya ayah gue sih, KAMFRET. Kalau orang tua suka curiga curiga gitu kan kitanya juga nggak enak kan ya. Ya gimana ya. Ya gitu deh, kan gimana gitu apa apa di curigain.

apadeh

Bentar deh, setelah membaca paragraf sejauh ini kayaknya nggak nyantol sama tema.

Oke jadi buat kalian yang mungkin masih di curigain dan di tuduh aneh aneh sama orang tua kalian, padahal kalian BENAR BENAR berada di jalan yang lurus (?), cara membangun kepercayaan dari orang tua kalian antara lain:

  1. Menjadi baik

Hahahahha. Apasih ini menjadi baik. Maksudnya menjadi nurut dulu, ketika udah nurut, nanti berangsur angsur orang tua mikir mikir ‘anak gue nurut banget ya’

  1. Tunjukkan buah kebaikan lo

Sampah! yang kedua ini maksud saya apa nggak ngerti. Ya pokoknya tunjukin hasil hasil dari kebaikan yang udah lo lakukan. Kayak misalnya pulang sore karena belajar bersama, mungkin orang tua akan curiga. Eh tapi paginya ulangan lo dapet sepuluh. Lah, dari situ mungkin kepercayaan orang tua lo akan sedikit demi sedikit terbangun.

Udah

Gitu aja?

Oke next yang kedua yaitu membangun kepercayaan guru. Hukum alam mengatakan bahwa disekolah ada tiga tipe siswa. Pertama, siswa teladan. Kedua, siswa biasa aja. Dan ketiga, siswa kurang teladan. Bahasanya halus banget loh.

Dan hukum alam juga mengatakan, guru nggak akan kenal sama siswa yang biasa aja, ya kecuali tetangganya sih. Yang diingat, pasti siswa yang teladan dan yang nggak. Yang biasa biasa aja pasti nggak membakas.

Sedikit cerita. Waktu UTS kemarin, ada kejadian yang lumayan ehm. Kemarin, sebelum ujian kita sudah di kasih kisi kisi sama gurunya (mata pelajaran tidak di sebutkan). Dan saat itu karena ada satu kisi kisi yang materinya nggak pernah di sampaikan, otomatis dong, kita nyari di Google. Udah nyari, hafalin di rumah. Waktu ujian berlangsung, soalnya keluar dan aku jawab dengan seadanya apa yang kuingat kemaren. Karena emang aku bukan tipe tipe yang ngacir di hafalan. Poin poin penting nya aja sih yang ku tulis. Waktu hasilnya di bagiin. Apa yang terjadi? Apa yang terjadi pada dirimu? Lembar jawaban ku ditulisi sama gurunya

‘Nyari di google’

What the….

Ya emang bener sih nyari di google. Ya, bener sih sebenrnya. Terus apa yang salah?

Berfikir sejenak

Sampai 1 hour

Ya kalau maksudnya nyari di google waktu sebelum ujian, harusnya sih gurunya maklum dan nggak perlu di tulis di LJ juga dong. Kan materinya nggak pernah di sampaikan. Kalau ngiranya aku cari di google waktu ujian? Tau darimana? Ilmu nerawang siapa itu? Oke oke whatever.

Lah, itu merupakan contoh gimana kita belum bisa mendapat kepercayaan dari guru. Karena aku orangnya nggak terlalu ngeh banget sih sama pelajarannya. Jadi banyak kemungkinan gurunya nggak kenal. Dan terjadilah hal itu.

Problemnya murid dan guru paling Cuma itu itu aja kan? Umumnya? Iyain.

Lah biar gurunya bisa menaruh kepercayaan sama kita (entah masalah ujian atau yang lain), apa aja sih yang harus kita lakukan?

  1. Menjadi baik (2)

Lagi lagi menjadi baik. Karena ketika menjadi baik, kebaikan juga akan datang kepada kita pula. EA. Banyak mungkin anak yang baik, tapi karena biasa biasa aja di kelas, tetep aja gurunya nggak terlalu melirik. Tapi walaupun begitu, tetep jadi baik adalah yang utama. Mendengarkan guru saat mengajar contohnya.

  1. Berprestasi

Menurutku, kalau kita berprestasi, guru guru akan menaruh perhatian pada kita, mereka akan menaruh kepercayaan lebih buat kita. Misalnya, gurunya mau masukin nilai. Mau dibantuin sama muridnya. Anak anak berpretasi biasanya di tunjuk untuk membantu. Yeah, walaupun nggak semua anak yang berprestasi itu di percaya. Karena masih kembali ke nomer satu. Kebaikan itu yang utama men!

Sebenarnya ini bingung mau nulis apa lagi. Mikir mikir, eh udah masuk ke menjadi baik. Pokoknya jadi baik itu baik lah (LOH). Tapi jangan sekali kali pengen dipercaya sama guru kalau kalian (atau kita)(atau saya) masuk kategori siswa yang kurang teladan. Karena walaupun pepatah mengatakan ‘Don’t judge the book by its cover’ , tapi ada sifat manusia yang melihat apa yang bisa dilihat itu menghambat terealisasinya quote indah tersebut. Iyain. Walaupun lo baik hati, tapi ketika tampilan lo kurang teladan, mungkin hanya orang orang tertentu dan tertentu banget yang memberikan kepercayaan lebih buat lo. Karena sekali lagi manusia melihat apa yang bisa dilihat. EA.

Yang terakhir adalah, kepercayaan dari teman.

Kepercayaan dari teman ini menurutku sih awalnya, orang yang melihat kita itu merasa percaya bahwa ‘seseorang itu’ bisa dipercaya untuk menjadi teman kita. Berbeda dengan orang tua dan guru sih. Kalau teman, kita diberi pilihan untuk mau berteman atau nggak. Tapi kalau dua diatas ini sudah paten. Mau nggak mau ya itu sudah takdir. YAGAK?

Oke nggak lama lama. Apa aja yang mesti kita lakukan supaya dipercaya oleh teman?

  1. Menjadi Baik (3)

Sungguh kebaikan itu berharga banget. Hahahhaha. Orang kalau sudah melihat kalau kita itu baik,pasti nggak segan segan untuk menjadikan kita sebagai temannya. Nggak mungkin dong orang pengen berteman dengan orang yang jahat? Ada gitu? Pasti cari teman itu ya cari teman yang baik. Jadi, kita harus jadi baik. Suka menolong contohnya.

  1. Tidak terlalu menutup diri, pendiam

Ketika kita terlalu menutup diri atau pendiam, orang nggak bisa menilai kita. kita baik apa jahat mereka nggak tau. Lah kalau nggak tau, gimana bisa membangun kepercayaannya. Yagak?

  1. Dst

Oke yang nomer tiga bercanda. Soalnya saya sudah binguuuung. Lagi lagi ketika memikirkan beberapa cara lain, baliknya ke menjadi baik. Emang ya, kebaikan itu luarbiasa banget.

Kalau cara untuk mempertahankan kepercayaan yang sudah di berikan sih sama aja kayak diatas Cuma ditambah dengan kata ‘tetap’. Ceritanya males nulis.

Sebenernya aku sih bukan orang yang gampang percaya. Bisa dilihat dari hal hal kecil, misalnya aku nyuruh orang dektein, aku nulis. Karena nggak enak, tetep aja ujung ujungnya aku lihat apa yang di dektein itu tadi. Nggak enak aja gitu. Ngerti dekte gak? Diktih? Apa gimanasih nulisnya. Contoh lain kayak kerja kelompok, walaupun di kerjakan bareng bareng, suka nggak enak kalau bukan aku pemegang terakhir (?). Minimal aku penyunting terakhir. soalnya suka nggak enak gitu.

Tapi kadang kadang membangun kepercayaan ataupun membangun kembali kepercayaan itu banyak halangan. Sering kali kita sudah melakukan hal hal yang mungkin bisa membuktikan apa yang nggak dipercaya oleh ‘mereka’ dalam diri kita, tapi tetep aja masih nggak di percaya. Itu tugas tambahan.

Sekali lagi selftalk aja sih postingan ini, dan berbagi kesadaran (?) soalnya ini lagi bener aja. Besoknya udah heng lagi. Sekarang masih pikiran anak SMA, jadi pendapat pendapat diatas mungkin merupakan pendapat sementara, siapa tahu pikiran saya beberapa tahun kedepan bisa berubah. Namanya juga human. Sori kalau banyak nggak nyambungnya. Thanks mungkin yang sudah menyempatkan diri untuk membaca.

Akhirnya

byeeee

cropped-watermark-new.png

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s