[FF] Nostalgia

Nostalgia

Cast: Jeon jungkook, girl (OC)

Genre: fluff romance?

Rating: PG-12

Length: One shot-Drabble

Author: iidonghae (@Mujtahidatul_A)

Disclaimer: jungkook milik tuhan yang maha esa. Setting punya saya. Maaf kalo salah eyd atau typo.

===

Hai, ini ff mulanya bukan ff. Tapi daripada gak berguna mending jadi f aja. Oke lah cekidot >>>

===

Sudah menjadi rahasia umum jika tiap akhir pekan, seorang gadis menyempatkan sedikit waktunya diantara beribu ribu tugas yang telah menunggu untuk di jamah. Ketukan kakinya pada aspal jalan membuat semua tahu bahwa kegembiraan sedang berpihak padanya. Dengan lengan kanan menggamit map strawberry shortcake dan tangan kiri yang menenteng tas jinjing warna krem, ia terus meminimalisir jarak dari tempat tujuannya. Beberapa kali ia berpapasan dengan teman sekelas, ia hanya tersenyum sumringah. Bahkan Pak Ridho, si penjual es di taman kota pun mengenal gadis tersebut. Sapaan demi sapaan terlontar, begitu juga senyuman yang belum juga memudar.

Gadis itu duduk di pinggiran taman setelah mengamati angle mana yang dirasa pas untuk di jiplak pada sketch book nya. Beberapa peralatan ia keluarkan. Kali ini ia tak membawa easelnya. Cukup hanya papan dada, juga tanpa kanvas. ia mengeluarkan sebuah pensil, lalu mulai membuat beberapa goresan. Matanya terus tertuju pada buku gambarnya. Benar benar tak ada hal yang terlalu penting untuk gadis itu memalingkan muka, kecuali pada objek dan sketch booknya. Lama ia melihat sketch booknya dengan teliti. Goresan di dalamnya makin banyak, namun belum menunjukkan tanda tanda objek yang ia gambar. Seringkali, ia tak hanya menggambar apa yang dilihatnya, beberapa objek maya yang ada di otaknya pun menambah nilai estetik dari karyanya.

Lama ia tak memalingkan muka, akhirnya kepalanya terangkat. Ia menikmati lamat lamat sebuah kursi panjang di seberang. Kali ini fokusnya berpindah seratus delapan puluh derajat dari semula. Beberapa surainya yang menggantung sembarangan, berlarian menjajaki mukanya. Tak berpengaruh pada fokusnya untuk pemandangan di seberang. Karena apa yang ia lihat adalah dirinya sendiri pada masa itu.

Gadis itu bercengkrama dengan seorang pria di sampingnya. Bahkan bisa dikatakan senyumnya adalah senyum yang paling sumringah diantara beberapa yang pernah ia tampilkan. Masing masing membawa satu batang es krim. Menikmatinya dengan menjajahkan senyum satu sama lain. Beberapa kali si gadis mengulum es krimnya, namun apa yang ada di sampingnya tak melakukan apapun. Hingga lelehan es krim menetes pada tangannya. Menelusuri sela sela jarinya. Entah terpesona atau bagaimana, jika ini terlalu berlebihan, maka tidak baginya. Gadis itu menoleh, mendapati kekasihnya menatapnya begitu intens

‘plak’

Tangan kanan si gadis berhasil melakukan pendaratan empuk pada lengan si pria. Lalu mereka tertawa berama. Lagi.

Telapak kaki yang tadinya tenang dan menempel sempurna pada aspal taman, kini tak lagi begitu. Gadis itu berdiri. Membuat hanya kakinya saja yang menjadi tumpuan atas seluruh anggota badannya. Matanya memandang sosok dirinya sedang bangkit dari duduk. Seorang lelaki mengejarnya dengan riang. Benar benar romantis anak muda sekarang bilang. Gadis itu mengikuti dirinya, ikut berlarian mengejar dirinya. Ketika dirinya pada masa itu berjalan diperlambat, maka ia pun begitu. Hanya mengikuti dirinya melewati taman, kemudian melintasi trotoar. Ia terus mengejar dirinya. Mengejar dirinya dan seorang pria yang merupakan kekasihnya. Ia mengikuti dirinya dengan bingung. Tatapannya kosong dan hanya melihat pada apa yang tak akan pernah orang lain lihat. Gadis itu melihat bayangannya menyeruput es cendol pak Ridho. Jangan lupakan kekasihnya yang enggan meninggalkannya sedetikpun.

“nona, kenapa melamun disitu, non?”

Gadis itu melihat dirinya berjalan lagi, berputar putar di sekeliling taman. Ia hanya berjalan mengikuti apa yang dilihatnya. Senyum pada diri keduanya mengembang lebar. Berbeda dengan dirinya sendiri yang kini tak menampakkan ekspresi apapun. Hanya memandang pada satu arah. Adalah senyum yang beberapa bulan lalu berhasil mengoyak hatinya keras. Ia hanya melihat senyum kekasihnya. Di depannya. Yang sedang asik bercengkrama. Pada dirinya. Gadis itu berjalan lagi mengikuti dirinya hingga kembali ia duduk di kursi panjang taman. Seseorang yang berada di seberang masih menikmati es krim batangnya.

Bukankah ini aneh?

Susah payah ia menelan salivanya hingga sesuatu seperti mencekik tenggorokannya. Pandangannya menghitam. Kelopaknya jatuh menutup permukaan. Seakan hanya dia seorang yang kekurangan oksigen pada tempat rindang nan terbuka disitu. Paru parunya berisi penuh udara. Lalu dikeluarkannya perlahan.

Hingga selanjutnya kelopaknya naik perlahan, membuka semua permukaan hingga ia melihat sketch booknya penuh dengan objek yang selama ini di rindukannya. Ia melihat senyum itu sekali lagi pada sketch booknya. Tangannya terangkat untuk menyeka beberapa peluh yang bercucuran. Lalu telunjuknya menggores sketch book tadi. Apa yang menjadi fokusnya adalah bibir yang merekah indah dengan lengkungan khas milik mantan kekasihnya dua tahun yang lalu. Sesuatu menyekik lehernya sekali lagi. Kemudian kesadaran menamparnya pada kenyataan. Kepalnya mendongak. Melihat kenyataan bahwa apa yang sesungguhnya ia lihat adalah senyum masa lalunya dengan seorang gadis lain di sampingnya. Untuk ketiga kalinya lehernya tercekik, ditambah dengan jantunganya yang mendadak bekerja ekstra memompahkan darah. Desiran yang ia rasakan begitu menyentak. Membuatnya cepat cepat ingin menepis kenyataan jika untuk saat ini, hayalan merupakan satu satunya yang lebih menyenangkan.

Ia menundukkan kepala. Senyuman objek yang ada di sketch booknya begitu persis dengan yang barusan ia nikmati pada kenyatannya. Ia memejamkan mata lagi. Mencoba meminimalisir gebrakan berlebihan yang ada di balik rusuknya.

Gadis itu memejamkan mata, sebelum sebuah benda mendarat ringan di samping kursi yang ditempati gadis itu. Gadis itu menoleh, dan apa yang di dapatinya adalah yang ia harapkan untuk datang. Senyumnya sungguh nyata, ia hafal itu. Bahkan kali ini ia masih waras untuk membedakan kenyataan dan tidaknya.

“Jungkook?”

“kau masih suka menggambar disini?”

#END#

Maaf yak absurd maksimal dan gajelassss

byeee

cropped-watermark-new.png

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s