[FF] Integral

Integral

Cast: Jeon jungkook, Girl (OC/Lee Sangjin)

Genre: aku nggak tau ini genrenya apa. Dibilang romance ya nggak, surrealism ya nggak, riddle juga nggak, mungkin frendship? nggaktau dehya pokoknya.

Rating: PG-12

Length: One shot-Ficlet

Author: iidonghae (@Mujtahidatul_A)

Disclaimer: jungkook milik tuhan yang maha esa. Setting punya saya. Maaf kalo salah eyd atau typo.

Integral - FF Jungkook

===

Haiiiiiiiiiii…. hehehhehe ff terakhir sequelan, sekarang muncul lagi. Ini sebenernya awalnya cume cerpen buat tugas, dengan casting fiksi Yoshitoki Lion dan Alen Casey Addyson dengan setting yang kebarat2an #apasih…. tapi setelah itu aku ganti jadi Jungkook dan Sangjin as always…. ini cerita aku bener2 nggak bisa ngasih genre. Agak nggak jelas juga. Setting juga tersirat, dan nggaktau pokoknya suram bangetlah… hahahhaha lebih baik cekidot. Semoga mengerti apa yang ingin author sampaikan /?

===

Sungguh bukannya merasa terusik dengan beberapa mulut besar di sekitar. Teriakan masing masing menyerukan bagaimana angka angka bisa dikalikan satu sama lain atau pun rumus porogapit agaknya terlalu riuh. Pojok ujung depan membuat gerombolan, deretan belakang semuanya menyatu, beberapa deret menyemburkan udara pada permen karetnya. Beberapa lagi hanya mengeluarkan dengkuran syahdu.

Telunjuk lentik Jungkook memainkan pinggiran buku panduan. Sedang segala yang kiri atraktif menjambak ujung alis tebalnya, sesekali mengurutkan dahi. Aku tak yakin Jungkook turut pada haluan anak yang lain untuk keras keras berpikir.

“apa yang kau lihat, Jin?” semburnya secepat kilat dengan aksen Korea yang menggelitik.

“aku… aku… ajarkan aku rumus porogapit”

“itu mudah!”

Bulu romaku menegang tatkala guru tambun tak berleher kian mendekat. Aku mereguk saliva sejemang. Lamun rotan satu meter di tangan kanannya sekalipun tak pernah membawa salah seorang ke rumah sakit, tetap saja ditambah dengan bola mata memerah dan dua lembar alis tanpa celah, tak satupun murid segan mendekat. Tapi seorang berhak menampik, semua pun setuju jika aku mengajukan eksepsi untuk Jungkook.

“Jeon Jungkook, kerjakan kedepan” benar, kan. Kini tinta hitam tersebut berpindah kuasa ke tangan Jungkook.

Diantara beberapa gemuruh jantungku yang berpacu kian dipercepat, kaki jenjangnya menyundul bangku ke belakang, mendirikan sedikit celah untuk dirinya kemudian melangkah gagah. Jangan melupakan empat jari kirinya yang tak sedikitpun menyembul diantara saku celana.

Jungkook mengotori papan dengan beberapa rumus yang sedikit ku pahami. Persisnya, aku meyakini segitiga yang ada merupakan ‘pascal triangle’. Semua berlomba membuat riuh dengan tepukan tak henti henti, sembari terdengar debuman kaki Jungkook kian mendekat. Si guru tambun memelintir sungut. Belum tiga detik puas melihat gigi pak guru yang tumben tumbenen menyembul, sesorang memanggil.

“Sebelahnya, Lee Sangjin!” mataku melotot. Guru itu masih melihat lihat absen siswa. Tapi pergerakan bibirnya seolah sedang menggantungkan kata. “kamu, maju! Kerjakan!” lanjutnya dengan aksen kental satoori.

Aku menekuk punggung. apa apaan guru itu. Namun apa boleh buat, aku hanya berdiri lantas sedikit melirik Jungkook. Banyak berharap dengan senang hati ia mentransfer energi positif kemudian aku menjadi master matematika dadakan.

Jungkook mengerling pelan. “menurut estimasiku, kau pasti bisa!”

‘Tuk’ lelap mata sayuku tertutup penuh. Hingga benar benar tak ada beban dan sangat relax. Hingga suara JDAK membuatku terbangun. Oh, seorang yang seringkali disebut master matematika sepertinya telah memukul kepalaku.

“Sangjin, sepertinya kau sudah pintar!” ia mengeluarkan majas. Sindiran tajam lidahnya menukik ulu hingga siapapun tak bisa membantah.

“ah, Jungkook lebih pandai, bu!” aku berujar asal sembari menikmati lamat lamat papan tulis dengan satu satunya yang aku tahu adalah lambang integral.

“Jungkook siapa?” ekspresi bu guru kali ini kontras dengan sebelumnya. Alis melengkungnya bergetar sembari mukanya lebih mendekat. Oh, dan eyeliner serta mata selebar pingpongnya lebih menyeramkan dari jelangkung batok kelapa.

Seketika pangkal gala semua orang menoleh acak. Aku baru ingat bahwa ia pindah seminggu yang lalu.

“Ah, sudahlah! Kau mulai merajuk”

Aku menyesap perlahan minuman hijau yang orang sebut sebagai kelp sahake. Memanfaatkan keheningan atap sekolah memang hal paling pandai saat ini. Mengingat waktu tidurku di kelas yang tadi terusik oleh guru matematika, kini yang bisa aku lakukan hanya menguap, kemudian menyedot kelp shake lagi. Menguap lagi, seterusnya hingga seseorang mengetuk lantai dengan beringas. Dan pada ketukan terakhir, di depanku.

“maaf aku tidak bisa” jelas terlihat Jungkook terengah engah. Air mukanya sungguh gelisah. Ditambah beberapa peluh menuruni pelipisnya.

Nafasnya masih terdengar tak beraturan, setidaknya untuk hari ini saja aku akan memakluminya. Sepertinya tugas matematika yang kemarin tak akan terkumpul besok. Jungkook mendudukkan diri. Seandainya saja aku bisa mengatur nafasnya, sudah kutata rapi hingga tak berhamburan bak sehabis maraton seperti ini.

Ia merampas kelp shakeku. Mengeluarkan sedotannya kemudian menyeruput habis. Kali ini aku juga berusaha maklum. Setidaknya membiarkannya duduk dalam beberapa detik kedepan membuatku sedikit lega sembari memandangi tetesan peluhnya dari samping.

“mungkin lain kali” ujarnya ringan.

Sesungguhnya Jungkook merupakan pecandu dialog terhadapku. Bukan dihadapan orang banyak, yang biasa ia lakukan dengan mengangkat dagu tinggi tinggi sembari menyembunyikan empat jari dalam saku celana. Ia hanya malas membangun konversasi bila bukan dengan sesamanya. Beberapa orang menganggap Jungkook sedikit gila. Beberapa berspekulasi bahwa ia adalah seorang mata mata atau semacamnya. Maksudku sama dengan Jungkook adalah yang sama karena ego, otak, dan jiwa bengahnya.

“kakaaaaak” seseorang membuyarkan keadaanku yang sedang bergumul dengan yang kusebut dengan calon masa depan. Kuncir kuda di kepala kanan dan kirinya seakan merajuk persis dengan lengkungan kebawah bibirnya.

Cepat cepat Jungkook menegakkan badan. Dan secara otomatis pula kedua jarinya menelusup kedalam saku. Tangan kanan gadis itu serta merta menggamit lengan Jungkook. Keduanya menjajahkan sunggingan.

Tunggu, gemerlap bundaran emas pada jari manis satu sama lain membuatku menyipit. Sadar akan hal itu, tangan kananku menjawat pasangannya, membuat jantungku tersentak berlebihan.

“ah, sepertinya tidak ada lain kali. Aku permisi dulu!”

Aku menuruni tangga. Menahan jantungku yang bergejolak sembari mengutarakan jampi jampi agar jantungku tak turun hingga perut ataupun meledak.

“Karena jika pun engkau mencintainya dalam periode tak terbatas, maka takdir tuhan bahkan melampaui yang tak terbatas. hingga lapang dada dan katakan. Aku mau yang itu, hanya untuk kemarin” seseorang mendesah pelan.

Dari belakang Jungkook dan gadis tadi meneriakiku.

“SANGJIIIN!!!”

“SANGJIIIIIN!!!”

“SANGJIIIIIIIIN!!! BANGUUUN!”

Mataku mengeryit. Sedikit terbuka, lalu menutup lagi. “SANGJIIIN!” lalu beruntung semuanya terbuka.

“cepat mandi lalu sarapan!”

Sesungguhnya nyawaku belum sepenuhnya berkoordinasi untuk menghidupkanku. Hingga bunyi bunyian yang berasal dari handphone diatas nakas membuat mereka langsung menyatu.

1 Message Notification

-JJK-

Aku tidak yakin kau mengerjakan tugas integral. Dasar pamalas.

#END#

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s