[FF] From ‘Cur’ to ‘Amour’

From ‘Cur’ to ‘Amour’ (?)

Cast: Jeon jungkook, Girl (OC), Jeon Jungmin (Jungkook’s lil sist)

Genre: romance gajelas /?

Rating: PG-13

Length: One shot-Ficlet

Author: iidonghae (@Mujtahidatul_A)

Disclaimer: Jungkook milik siapa (?), cast pure mine yeah /?, setting juga, maaf kalo ada typo. Ini alurnya sedikit gaje mohon maklum. Nggak pake eyd maaf

From Cur to Amour - FF Jungkook

===

Maaf judulnya gajelas. Udah buntu banget cari judul. Lama nggak ngeff mungkin bahasanya bakal sedikit kaku. Semuanya girl POV ya, dan alurnya ini maju mundur tapi nggak ditunjukin tepatnya semoga nggak bingung. Cekidot.

===

“Apa kau masih mengingatnya?”

Ah, tepat sekali. Tepat di depanku tiba tiba terlihat pipi kanannya yang lebam, ditambah kaki yang tak menopang badannya dengan sempurna. Terkadang juga terseok-seok saat berjalan. Bukan, katanya itu bukan salahku. Beruntung ia kini tak memakai jaket jeans kesayangannya juga celana rombeng penuh lubang dimana-mana. Apa kata orang yang melihat?

“Apa kau yakin ingin ke seoul? Pikirkan baik-baik.” Ucapku sedari tadi terus mendesaknya untuk tidak gupuh mengambil keputusan. Ku terawang memar memar di wajahnya. Rasanya pasti sakit, belum lagi pasti masih banyak dalam tubuhnya.

“ah, tak ada alasan yang terlalu berharga”

“ibumu pasti akan menghawatirkanmu! Aku yakin” dia meringis. Ujung bibir kirinya naik. Sedikit ada raut keren dan angkuh jika orang asing yang melihatnya.

“kau masih membahas ibuku? Apa pedulinya dia. dia akan tetap menganggapku sampah. Apa untungnya memiliki anak haram”

“YA!” hampir saja suaraku memekakkan telinga banyak orang jika tidak dibarengi suara speaker pengumuman keberangkatan kereta selanjutnya yang sedikit menyamarkan.

“jangan berlebihan!” begitu balasnya sangat santai. Tangan koper yang daritadi ia genggam, kini harus rela dilepaskan karena perpindahan kuasa tangannya pada rambutku. YAK! Ia memulai kebiasaannya.

“Jungmi pasti akan sangat sedih. Dia sangat menyayangi oppa-nya.”

“eomma bisa merawatnya lebih baik dariku. Memberinya lebih dari yang ku berikan. Jangan khawatirkan itu” dia berlagak santai lagi. Seperti tak ada yang harus di pertimbangkan karena anggapnya, ini adalah keputusan yang terbaik dan paling benar, mungkin.

“lalu, lalu bagaimana denganku?”

“kemarin kau bilang bahwa kau selalu merepotkanku. Kalau aku pergi, kau tak perlu membuatku repot kan? Bukankah itu lebih baik” yah beginilah jika harus berbicara dengan jeniusan terpendam. Egois dan tak mau mengalah. Selalu ada dalih yang menyembur membenarkan.

“terserah padamu saja!”

“lagipula, di seoul pasti banyak orang kaya. Kalau aku mencuri atau merampok disana, hasilnya pasti akan lebih banyak daripada di Busan.” Dia tertawa. Apa yang sedang di tertawakan? Kebodohannya sendiri? Atau apa?
“ah, jangan lupa juga. Kalau nanti ada berita tentang orang yang mati tanpa identitas, atau masuk jurang, atau membusuk di penjara, atau dihukum mati, atau… emmm… atau sejenisnya, jangan terlalu hawatir karena itu pasti aku” kali ini dia tak lagi tertawa. Hanya meringis sesaat. Kemudia mengangguk angguk. Aku masih belum paham.
“dan kalau saat itu datang, kau jangan mengaku sebagai temanku. Oke?” ia menaikkan dua jempolnya memamerkannya tepat di depan mataku.

Aku tahu kalau dia dimata semua orang adalah penjahat cilik. Anak yang kelahirannya tak di harapkan, setiap hari sapu lidi menyapu badannya oleh ibunya, mencuri sejak empat tahun dan keluar masuk penjara selama tiga tahun semenjak ia punya komplotan pencurian. Ah, itu di mata orang banyak. Bukan didepanku. Lalu siapa peduli? Persetan dengan apa yang dilakukannya di depan orang banyak. Buktinya dia tak pernah sekalipun menyakiti atau bahkan, maaf, menyentuhku. Yah, hal yang biasa dilakukan oleh para kriminal. Tapi dia tak begitu.

“kau masih ingin menjadi dokter kan?” ucapnya lantang membuyarkan raut kalut yang menghampirinya beberapa detik. Aku mengangguk cepat dan bersemangat.
“belajarlah yang rajin, lalu jika besok aku pulang dengan wajah yang memar, kau bisa menyembuhkanku.” Aku tersenyum lagi. Mengangguk lagi tanpa harus mengucapkan sepatah kata yang akan membuat suasana menjadi tak seindah kali ini. Dia juga tersenyum. Seperti yang biasa kita lakukan bertahun tahun. Tersenyum satu sama lain. Tapi tak semembosankan itu.

“ah, aku ada sesuatu”

“sesuatu apa”

“ah bukan benda, hanya kalimat yang. Emmm.. ah, bagaimana ya?” rambutnya yang sejak tadi sedikit berantakan, kini dibuatnya lebih berantakan. Jarinya terus terusan menelusup helaian rambutnya. Tak lupa, bibir bawah yang memerah karena sedari tadi giginya senang sekali menggigitnya. Terlihat tak tenang. Sangat gelisah.

“apa?”

“aku… begini, aku…. menyukaimu” tak butuh waktu lama untuk mengunyah kalimatnya kemudian menelannya hingga sampai perut. Belum sempat banyak berfikir, ia melanjutkan. “ah, lupakan saja. Ah… harusnya aku menyukai orang yang sama brengseknya denganku. Kenapa jadi gadis baik-baik sepertimu.” Dia memukuli kepalanya sendiri. Wajahnya gelisah tak terarah. Matanya berlarian tak seperti tadi yang berani menatapku. Susah payah aku menelan ludah. Jadi itulah alasan mengapa dia melakukan hal hal yang berlebihan, mungkin. Dari bagaimana ia terus memakai masker ketika berjalan denganku, kakinya yang sekarang ini terseok seok karena mendorongku menepi hingga mobil sport membawanya ke rumah sakit berbulan bulan, atau ketika ia menjadi kuli batu untuk memberiku sepatu sekolah? Apa itu semua karena itu? Yatuhan ini terlalu mendadak dan tak pernah terpikirkan.

“keretanya sudah datang.” Ia mengangkat kopernya mempersiapkan diri untuk segera melenggang masuk. Ada sesuatu mengganjal di matanya. “jangan terlalu difikirkan. Besok aku juga akan melupakannya.”

“Ya, Jungkook-a!”

“hm?”

“ya, aku ingat! Selalu ingat!”

“aku sangat bodoh ya?” kepalaku berpaling ke kanan, sebelumnya melihat semak semak yang menyembunyikan matahari pukul lima sore. Sekelebat aku tersenyum, melihatnya begitu tampan dengan kemeja putih dengan lengan yang di singsingkan meninggalkan tiga perempatnya.

“bodoh kenapa?”

Kakinya mengayun ayun. Bersantai di rumah pohon kami memang sangat sempurna ketika sore hari. Seperti senja lalu, kita duduk tak jauh. Sedikit melupakan fakta bahwa kita sudah dewasa. Bukan pemakai seragam SMA terakhir kita berada disini. Sekitar empat tahun yang lalu.

“ah, bukan apa apa. Kudengar kau sekarang sudah menjadi dokter?” nada bicaranya meninggi pada kalimat terakhir. matanya berbinar dengan kepala yang menoleh. Ah, seperti dahulu. Tapi berbeda, kali ini wajahnya putih tanpa memar sedikitpun. Segorespun.

Aku tersenyum simpul. “hanya dokter biasa”

“merendah!” tangannya terangkat menghancurkan tatanan rambutku. Yak! Dia tak bisa merubah sikap.

“sudah bertemu eommonim dan Jungmin?”

“sudah. eomma sudah pindah bersama Jungmin yang sudah menikah. Sepertinya aku memang ditakdirkan untuk hidup sendirian” dia tersenyum lagi. Dia memang sangat pandai menyembunyikan kesedihan. Membawa wajah santai setiap saat.

“ohya, aku tak menemukanmu masuk berita dengan kasus orang yang mati tanpa identitas, atau masuk jurang, atau membusuk di penjara, atau dihukum mati, atau sejenisnya. Memangnya apa yang kau lakukan di seoul? Sendirian? Hah? Apa dompet orang seoul tebal-tebal? Atau banknya menyimpan banyak uang? Kau yakin bisa merampok sendirian? Yak! Kau tambah jenius!” aku tertawa. Sejujurnya sama sekali tak meyakini satupun huruf pada ucapanku. Aku memukul lengannya sambil tertawa. Lagi lagi mengabaikan fakta bahwa kita sudah dewasa.

“aku bekerja sangat keras tahu! kau benar benar tak mengerti aku? Apa kau tak punya internet hah?”

Aku meledakkan tawa. Entah untuk apa dan siapa. Yang jelas saat itu terdengar sangat lucu. Jungkook terdiam. Mungkin dia heran mengapa aku bisa terbahak dengan brutalnya.

“ia pak insinyur, aku tahu! ah, atau pak arsitek? Kenapa kau serakah sekali megambil gelar?” kami menjajahkan senyum satu sama lain. Terasa seperti senyum senyum sebelumnya, tak akan pernah membosankan. Juga tak akan pernah sama.

“aku sangat bekerja keras bukan?”

“bagaimana kau bisa berkeliling Eropa hanya untuk membuat sebuah hotel? DAEBAK!” aku mengacungkan dua jempol di depan mukanya. Membuat senyumnya sedikit tersamarkan. Lalu kita tersenyum lagi. Lagi lagi dan terus menerus.

“aku tidak mau menjadi orang brengsek yang mencintai gadis baik-baik. Jadi aku berusaha menjadi pria baik-baik supaya aku bisa mencintai gadis yang baik-baik juga…” ia menarik nafas panjang. Menggantungkan kalimatnya pada tempat tertinggi. “Apa aku sudah pantas?” aku sedikit terhenyak. Kali ini tak semengagetkan empat tahun lalu. Saat ia mengungkapkannya di stasiun. Karena ini bukan kali pertama. Aku tersenyum lagi. Dia tersenyum pula. Seperti senyuman sebelumnya. Berbeda, namun tak pernah membosankan. Karena tak perlu sebuah jawaban atas pertanyaan terakhir. Aku yakin, semanis apapun jawabannya, pasti akan merusak jajahan senyum tulus yang terpancar. Tak akan pernah seindah itu.

Karena selamanya kebaikan memang akan selalu berdampingan dengan keburukan. Hanya sebatas itu. Karena pada akhirnya kebaikan akan bersatu dengan kebaikan. Begitu pula keburukan dengan keburukan.

#END#

Terimakasih yang udah baca. Terima saran, komen, kritiknya 😉

Iklan

3 thoughts on “[FF] From ‘Cur’ to ‘Amour’

  1. annyeong, author~
    aku suka FFnya. kali ini FF buatan author ga pendek, jadinya lebih keren dan bikin penasaran 😀 btw, itu bagian awalnya tuh mereka sebenernya ngeflashback ya?._.
    oh iya, aku mau saran dikit yaa. menurutku kalau di dalam cerita itu sesudah titik, kata selanjutnya pake huruf kapital (tiap awal kalimat) gitu, mungkin FFnya bakal lebih rapi lagi~
    tapi overall, ini udah bagus kok. fighting!^^

    • hahaha itu sudah panjang kah? kok menurutku masih pendek ya… kekekek

      iya itu diawal flashback >_<

      sebenernya yang masalah huruf kapital itukan udah diserahin sepenuhnya ke ms word /? hahahah. biasanya kan disitu huruf gede kecil kan otomatis. jadi mungkin yang itu lagi gimana apa gimana /? tapi makasih sarannya :*

  2. heii salam kenal aku pengunjung baru 😀 ffnya baguuus >.< pembawaannya pas. apalagi aku lagi jatuh cinta sama maknae yang satu ini. uhh feelnya dapet banget dah eomma aku nahan D: keke~
    keep writing ya kak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s