[FF] Drama

Drama

Cast: Jeon Jungkook, Lee Sangjin (OC/You)

Genre: romance, fluff

Rating: PG-12

Length: One shot

Author: Mujtahidatul Alawiyyah (Tae Hee-Da) / @Mujtahidatul_A

Disclaimer: cerita ini murni punya saya, ide saya, OC is mine. Jungkook punya saya orangtuanya, maaf kalau ada typo

Drama - FF Jungkook

===

Hayiiiiii… marhaban ya ramadhan yah semuanyaaaa… maaf lama nggak apdet FF… hahahahah. tahan dulu ya, mau curhat dulu. Sebenernya aku nggak apdet soalnya kemaren ada acara /? jadi pembantu di jambore cabang /?, terus juga sibuk liat anime /? Pertama kali liat anime sih jadi excited. Judulnya Sakurasou no pet na kanojo.

Ff ini terinspirasi dari itu anime (posternya… hahahahah), walaupun ending kisah cintanya nggak jelas, tapi beneran aku dukung sorata kalo sama aoyama. Si shiina itu walaupun pemeran utama, aku nggak suka, dia dateng, terus ngambil hatinya sorata padahal si aoyama udah lama gitu… ya gitulah pokoknya. Sama juga kayak di you who come from star. Aku pendukungnya hui kyung sama songyi. Minjun dateng terus enak benget ngerebut hatinya songyi ya walaupun hui kyung perjuangannya lebih ama gitu. AKU GAK SUKA. Kasian pemeran kedua, entah pria atau wanita mesti di korbanin. Kenapa sih ih gerget ih. Okelah, biar nggak berlama lama, cekidot ceritanya.

===

“kenapa beberapa hari ini kau menghindariku, hah?” suara berat itu mengalun sesaat setelah beberapa detik aku sampai di lapangan belakang sekolah ini. Langkah besarnya terus terusan mengitari lapangan, dengan benda bulat yang di pantulkannya menimbulkan bunyi bunyian semacam ‘bug bug bug’. Tidak ada balasan satu kata pun dariku. Ku abaikan dia, perlahan duduk di kursi panjang tanpa perlu memandangi kegiatannya.

‘Bug bug bug’ suaranya mendekat, hingga berakhir tepat di hadapanku. Keringat di pelipisnya turun dengan pelan, juga lehernya yang basah. Lengan berototnya terekspos dengan jelas karena ia sedang memakai baju basket, hanya kain sekitar tiga jari menutupi pundaknya. Aku mendongak. Bola coklat yang tadi di pantulkannya ia peluk di perut. “wae?” ucapnya sekali lagi. Pandangannya tajam menusuk mataku juga. Membuatku tak bisa se mili pun berkutik.

“aku tak mau terlibat hingga jauh, Kook!” menunduk. Semakin dalam aku menunduk. Aku memelankan nada suara, benar benar tak ingin berkata apapun. Tapi sesuatu mengganjal di tenggorokan. Disisi lain mendorong hasrat untuk segera berkata. Tapi di sisi lain ada sesuatu ingin segera melahap apa yang harusnya di ungkapkan. Seperti ingin melenyapkannya. Dia berjalan menyamping, mengambil posisi tepat di sebelahku. Kemudian suara basket menggelundung terdengar.

“maksudnya?” hampir saja tangan yang sudah ku kepalkan sejak tadi melayang bebas mengenai muka tampannya. Selalu begini, dia akan menjadi seorang yang akan mendengar apa yang bisa ia dengar saat itu, tanpa harus menerawang lebih jauh apa makna di dalamnya. Membuatku jengkel acap kali aku sedikit saja memancarkan signal.

“aku hanya pemeran wanita kedua, tak lebih. Jadi dari pada nanti berakhir seperti dalam drama, lebih baik aku sudahi saja.” Aku sedikit meliriknya, sikutnya ia tumpukan pada paha. Badannya sedikit membungkuk membuat wajah sisi kanannya saja yang terlihat. Sangat sempurna. Namun, keringat di ujung hidungnya menetes. Membuatku mendapatkan sentakan hebat. Tersadar akan keindahan di depanku tak selayaknya kunikmati, karena aku akan tetap menjadi pemeran wanita kedua.

“Pemeran wanita kedua bagaimana?” JUNGKOOOOOK!!! Aku berteriak dalam hati, rasanya benar benar ingin ku hantam pipinya supaya menjadi kebiruan.

Aku memutuskan untuk mundur, biarlah dia akan tetap menjadi sahabatku selama lamanya mungkin? Atau tidak? Karena mungkin pemikiran menjadi sahabat selamanya akan ku hapus. Aku akan mundur. Dan menghindar.

Oh Hayoung, dia adalah pemeran utama wanitanya. Dan Jungkook sebagai pemeran utama pria. Tak pedui seberapa lama atau seberapa besar perasaan pemeran wanita kedua, maka dia akan kalah. Dan ‘dia’ disitu adalah aku. Aku tak tahu persis kapan Hayoung datang dan aku meyakini dia menyimpan perasaan lebih pada Jungkook. Jungkook menaruh perhatian padanya, menolongnya dengan tiba tiba, tanpa ragu mengulurkan tangannya untuk membantu berdiri, atau menyunggingkan senyum terindahnya pada Hayoung. Bahkan kurasakan Jungkook semakin tak terlihat, semakin jauh, semakin mendekat pada apa yang tak pernah aku harapkan. Dan mungkin akan semakin lenyap. Makadari itu, aku tak mau terlibat drama sengit ini terlalu jauh, jika ada pilihan untuk menghilang, kenapa tak kucoba? Walaupun sangat sulit.

“Hayoung pemeran utama wanitanya”

“mengapa melibatkan hayoung?” badannya ia tegakkan sempurna. Sedangkan aku menatap lurus tak fokus. Aku mengambil nafas… kemudian membuangnya perlahan. Berniat meminimalisir kegilaan di balik dadaku, namun sialnya, gagal.

Sesuatu mengetuk dadaku dengan kapak sepertinya, perih. Kemudian membuat buliran di pelupuk pecah. Mengalir turun dengan santainya. Aku lelah. Mengapa semuanya berjalan sangat sulit?

“Jungkook-ah” bahkan untuk mengucapkan namanya saja sulit sekali. Hingga udara yang keluar lebih mendominasi ketimbang bunyinya sendiri.

“wae?” jika tak salah dengar, suaranya sangat rendah dan lembut. Tak seperti biasanya.

Aku menoleh sedikit. Sedikit sekali. Samar samar wajahnya bisa ku tangkap walaupun sedikit terhalangi oleh air yang tak henti hentinya berproduksi.

“karena pemeran wanita kedua akan selalu mengalah. Pemeran utama wanita akan selalu mendapat hati pemeran utama pria.” Aku menunduk. Benar benar bingung dengan apa yang selanjutnya kulakukan. Ini sangat gila. Bagaimanapun yang aku katakan, sepanjang apapun, Jungkook tak akan pernah mengerti. Mungkin ia terlanjur buta.

“pemeran wanita kedua akan selalu berada di sisi pemeran utama pria. Selalu. Dengan menyandang status temannya. Tersenyum pada apa yang membuatnya sakit sekalipun. Dan aku tak mau itu, Kook! Sungguh!” aku semakin menunduk, cara bicaraku mulai berantakan, isakan demi isakan meluncur begitu saja.

Belum lama setelah itu, kurasakan sebuah tangan menyentuh rambut di sisi kiriku. Menyelipkannya di balik telingaku hingga aku meliriknya, di barengi dengan tangan kirinya yang turun.

“Sangjin-ah…” katanya menggantung, seluncur nafas beratnya sampai terdengar. “jika memang pemeran utama wanita yang selalu mendapat hati pemaran utama pria, maka kau adalah pemeran utama wanitanya”

Seulas senyumnya meluncur. Sangat manis.

“benarkah?”

#END#

Wahaaa….. judulnya nggak nyambung sama isinya kah? nggak jelas sekali aduh terus itu kenapa tbtb ada hayoung begitu, hahahahha spontan itu. Itu masuk gantung gak sih? Nggak tau ah, oke babay :-*

cropped-watermark-new.png

Iklan

2 thoughts on “[FF] Drama

  1. asli baca iki rada ngejleb, bagian yang “pemeran wanita kedua akan selalu berada di sisi pemeran utama pria. Selalu. Dengan menyandang status temannya. Tersenyum pada apa yang membuatnya sakit sekalipun. Dan aku tak mau itu, Kook! Sungguh!” 🙂 aku sedikit tergimana gitu. sama yang “aku menghindar”.. kaya ada sing nyentil *ahoposeh:|

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s