[FF] Tupperw#re

Tupperw#re

Cast: Jeon Jungkook, Lee Sangjin (OC/U)

Genre: boleh anggep romance, boleh anggep friendship, (???)

Rating: PG-12

Length: One shot-Ficlet

Author: Mujtahidatul Alawiyyah (Tae Hee-Da) / @Mujtahidatul_A

Disclaimer: Jungkook milik ortunya, bighit, dan saya sebagai istri juga ber hak memiliki(?). maaf kalo ada typo

Tupperw#re - FF Jungkook

===

Ahahahha… malam ini mager banget dari kasur, pulang sekolah Cuma gelundungan, males nulis juga. Tapi karena beberapa hari ini sekolah udah kelar, target sehari kalo nggak dapet 1 ff ya separoh ff. Atau kalo gak ya 1 fanart atau separuh… ah tapi malesnya ituloh.

Oya, untuk judul, plis jangan kira aku lagi promo si barang merek anu… hahahah… ini ff terinspirasi sama mv nya shin ji hoon yang hurtful. Disitu ada anak kecil yang unyu unyu banget kisahnya. Sad gitu. Aku ngambil dikit kisahnya. Sama itu ada wadah itu apaan nggak tau anggep aja tempat makan. Lah awalnya kan nggak tau itu tempat makan namanya apa kalo di inggrisin. Hahahha jadi sebut merek sensor dikit ajah (?) *curhat lewat*

Bold=flashback

Cekidot ceritanya.

===

Cepat cepat ku buka bungkus roti tawarku, kemudian melahap habis seluruh isinya. Aku mengusap mulutku dengan punggung tanganku kasar. Kemudian ‘hek’ sedikit sendawa keluar dari mulutku. Soda yang berada di kursi sebelah kiriku juga harus ku habiskan. Kuhabiskan semuanya. Sekali lagi, kuusap mulutku dengan punggung tanganku secara kasar. Kemudian meletakkan botolnya sembarangan.

‘tik tik tik tik tik’ aku mengetuk ngetukkan ujung jari telunjuk, kuku panjangku tepat mengenai permukaan kursi membuat timbulnya suara suara ringan. Mataku menatap lurus kedepan. Tak ada yang spesial karena hanya ada pohon pohon di bagian atas saja yang sangat tak berguna jika harus di pandangi terlalu lama. Aku berdiri. Kurapikan sedikit seragamku kemudian berjalan maju sekitar tiga langkah. Tepat menyentuh pagar pembatas. Kepalaku menunduk, melihat pinggiran lapangan yang di penuhi teriakan gadis gadis seangkatannya dan juga kakak kelasnya.

“cih, apa bagusya!”

Kemudian mataku bergerak sedikit, melihat ke tengah lapangan, segerombol siswa yang sedang berebut bola itu bagiku terlihat sangat datar dan biasa. Apa yang bisa dilihat dari mereka? Mereka terlalu memuja! Tunggu. Atau aku yang memang tidak normal. Ah.

Aku hanya berdiri, terus berdiri. Tak ada kegiatan yang terlalu berharga untuk kulakukan saat ini. Sendiri, bosan, itu sudah menjadi makanan sehari hariku. Bukannya sok misterius, tapi sungguh aku tak pernah percaya dengan apa yang dinamakan teman. Aku tahu, di dunia ini memang serba terbatas. Tak pernah ada keabadian. Maka temanpun sama, tak ada best frend forever atau slogan slogan yang serupa. Omong kosong. Karena teman memang bukanlah sosok yang harus bersama kita selamanya. Hanya, kita di batasi tempat dan waktu. Jika tempat dan waktu sudah tak sama, apa arti sebuah pertemanan? Tak berarti. Hilang. Dan hampa. Dan itu yang membuatku menjadi orang yang tak ingin mengenal apa itu teman. Cukup dengan kau mengenalku (itupun kalau iya) dan aku mengenalmu. Hanya perkenalan singkat. Tak ada yang namanya teman. Jika saja teman akan datang bergantung pada tempat dan waktu, lalu ketika kriteria itu sudah tak memenuhi, aku harus melepas seorang teman. Hey! Bukankah lebih baik tak mengenal dari awal jika pada akhirnya akan kembali kesepian dan harus melepaskan. Tidak berguna.

Aku diam, melamuni sikapku yang sepertinya sulit untuk dirubah ini. Kulihat segerombol gadis gadis centil berjalan bersama. Mereka berteman. Atau dua orang berkacamata tebal yang selalu bersama kapanpun. Mereka berteman. Semuanya berteman. Tapi tidak untukku. Atau, belum mungkin?

Seumur hidup, aku hanya memiliki satu teman, katakan saja kita sudah tidak berteman karena memang tak ada hubungan antara kami untuk saat ini. Aku tak mengenal namanya, ia hanya seorang anak lelaki tampan seumuranku yang selalu datang di saat yang tepat.

“Ya! Jangan bermain disini! Ini tempat kami” aku menunduk dalam, masih tak bergeming. Aku bingung. Semua anak laki laki mengelilingiku. Mendorongku ke kanan, ke kiri. Aku menunduk melihat rumah pasir yang ku buat sudah hancur. Ingin sekali menangis, tapi tak bisa. Aku hanya diam dan menunduk dengan badan tereguncang.

“Ya! Jangan ganggu dia” seorang anak laki laki datang, dia memukuli semua anak disitu sepertinya. Aku tak tahu persis karena aku benar benar ketakutan, aku masih menunduk. Aku tidak tahu harus apa.

“pasang ini” perintahku ketika aku dan dia (anak laki laki) sudah sampai di rumah reot ku. Aku meberi plester luka warna kuning bergambar beruang untuknya, cepat cepat ia memasangnya di pipi. Sedetik kemudian aku tertawa, aku melihatnya melongo, aku makin tertawa memegangi perutku.

“bukan disitu” protesku sambil mengambil plesternya lagi, kemudian dengan sangat hati hati, kuletakkan plester tadi di bawah matanya, agak keatas dari posisi semula. Kita tertawa bersama, tertawa dalam sebuah kepolosan.

Dan sejak saat itu, yang kutahu, dia adalah temanku. Iya, teman. Temanku duabelas tahun yang lalu.

Aku tak tahu persis kapan terakhir aku mengingatnya sebelum sekarang. Dia lugu, tampan, penolong. Semuanya. Dia selalu datang disaat yang tepat. Seperti malaikat yang diutus tuhan untuk melindungiku. Berlebihan. Tapi biarkan saja imajinasiku menjajah keluar dari kerasionalan. Sempat aku berfikir, apa dia yang dulu memang tak ada? Hanya teman khayalan seperti yang ada dalam novel novel mungkin? Atau dia memang bukan bagian dari masa kecilku? Dia hanya sebagian dari mimpiku semalam mungkin? Dan mungkin mungkin yang lain tergambar jelas dalam otakku membuatku mengerutkan dahi. Siapa yang tak waras sekarang?

“dasar wanita tidak di untung! Harusnya kau mencari kerja! Aku sudah lelah mencari kerja! Urusi Sangjin dengan Chanyeol sendiri. Aku akan pergi” kulihat dari luar rumah, ibu didorong oleh ayah hingga jatuh ke lantai. Ibuku menangis sesenggukan tapa sedikitpun membantah. Sedangkan ayah terus terusan menghujani ibu dengan omelan omelan tak berguna. Aku belari sekencang mungkin. Berlari kencang dan mengosongkan fikiran. Sambil menenteng bekal makan sisa sekolahku. Aku terus berari. Berlari terus terusan hingga sampai pada pinggiran danau yang sangat sepi. Aku terduduk tepat di pinggir danau. Merangkul kakiku erat erat. Kemudian menidurkan kepalaku diatas lutut. Kotak makan yang kubawa tadi tergeletak sembarangan di sisi kananku. Aku menangis tanpa isakan, hanya airmata yang tak bisa dibendung untuk terus terusan keluar. Aku bingung. Aku kacau. Aku tidak tahu kenapa aku selalu menangis? Sedangkan semua temanku tertawa riang sambil bermain dengan mainan mahal mereka. Kenapa orangtuaku bertengkar? Sedangkat orang tua teman temanku sering berjalan jalan bersama. Hidupku adalah hidup paling berbeda dengan semua orang di dunia ini. Fikirku.

Taklama aku menagis, seseorang menepuk pundakku. Ia menepuk nepuk kecil hingga aku menoleh. Dia, anak laki laki kemarin. Bagaimana dia datang? Aku semakin yakin jika dia sengaja dikirim oleh tuhan.

“wae?” saat itu, suara kecilnya membuatku takut. Aku tak percaya dengan semua orang. Aku takut. Dan aku berlari kencang lagi meninggalkannya. Terus terusan berlari.

BODOH! Mengapa aku sangat bodoh! Karena itu adalah hari terakhir aku melihatnya. Karena hanya akhir yang kuingat. Sampai saat ini, aku tidak bertemu dengannya. Bahkan untuk bersalaman dan saling mengenalkan nama pun kami tidak pernah. semua pikiran itu membuatku mengetuk ngetukkan jari (sekali lagi) pada besi pagar pembatas.

Pikiran aneh itu muncul lagi. Aku semakin yakin jika dia memang tak ada di dunia, hanya teman khayalan. Atau dia adalah bagian dari mimpiku semalam. Aku meyakinkan diri. Aku sudah tak waras sepertinya. Sampai seseorang memudarkan lamunanku. Ia menepuk nepuk punggungku pelan sekali. Membuatku menoleh dan belum sempat kulihat wajahnya,

‘grep’ dia memelukku? HEI apa apaan ini. Dia sangat tak sopan. Dia memelukku sangat kuat. Hingga tanganku tak bisa bergerak. Dan hampir tak bisa bernafas.

“YA!” aku mengerahkan seluruh tenaga untuk melepas pelukannya dan berhasil!. Ia sedikit terguncang ke belakang tapi syukurlah, tak sampai terjatuh.

“Jungkook? Ada apa?” aku melihat mukanya. Aku tidak bisa langsung membentaknya. dia memang tak sopan. Tapi dia murid baru di kelasku, pindahan dari jepang, jadi aku tidak boleh melakukan hal hal yang bisa membuatnya tak nyaman. Dia masih terdiam. Aku memperhatikannya. Ini masih istirahat tapi dia memakai tas punggung? Ada apa?

Dia membuka tas punggungnya, mengeluarkan sesuatu berwarna merah bundar dengan tulisan tupp#rware di bagian tutupnya. Kotak makan itu. Dulu. Dia…

“ini kotak makanmu dulu kan?”

“K-KAU? JUNGKOOK KAU?”

“Ne!”

Aku memeluknya. Aku tak tahu dorongan apa yang membuatku segila ini. Dia bukan mimpiku semalam. Juga bukan teman khayalanku. Dia Jeon Jungkook. Temanku dulu. Dan akan menjadi temanku untuk saat ini. Terimakasih telah kembali. TERIMAKASIH.

#END#

Waaaaa legaaaa ff ini dibuat 2 hari (?)… separuh kemaren separuh malem ini karena kemaren emang lagi males malesnya. Ahhhhhh maaf genrenya nggak jelas itu romance atau friendship sih? Tapi kayaknya lebih ke friendship deh. Tapi endingnya itu anggep aja romance. Etapi terserah sih (?). mau endingnya di anggep Sangjin/Jungkook nya suka, atau dianggep mereka Cuma temenan ya terserah… hahahahah

babaaaaaay

cropped-watermark-new.png

Iklan

6 thoughts on “[FF] Tupperw#re

  1. Sering mampir kesini un, tp kok ya sepi padahal authornya kocak (?) yaudin saya aja yg komen wkwkwkkwk 😀 merek semakin mengganggu tuh, knp harus tupp#rware kenapa gak li*nstar (?)

  2. Annyeong ^^
    Aku reader baru disini 😀 , bukan baru sebenernya._. Cuman lebih sering jadi silent reader karna aku gak tau cara komen gimana._. *curcol
    FFnya gantung sekali ._.
    Tapi keren!! ‘-‘ aku suka ama bahasanya itu loh *bahasaapa’-‘ , oh iya thor aku suka ama FF Kookies ._. Kapan dilanjutinnya nih?? Aku menunggu/? Loh 😀
    Keep Writing ya thor^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s