[FF] Tell Me How it Feels

Tell Me How it Feels

Cast: Jeon Jungkook, Lee Sangjin (OC)

Genre: romance?, fluff

Rating: PG-12

Length: One shot

Author: Mujtahidatul Alawiyyah (Tae Hee-Da) / @Mujtahidatul_A

Disclaimer: Jungkook milik ortunya, bighit, dan saya sebagai istri juga ber hak memiliki(?), typo itu penyedap.

Tell Me How it Feels - FF Jungkook

===

Nggak tau, bingung kenapa bener bener nggak mood bikin komedi. Sekali nulis romane, bawaannya romance muluuuu… padahal judul udah banyak banget dan kebanyakan sih komedi. Tapi karena mood romance. Nulis romance nya di duluin deh. Maaf banget ya yang nunggu Kookis… hahahahha entar deh kapan kapan. Kapan? Semoga mood kembali buat nulis komedi amin

Cekidot deh

===

 

Mataku menerawang ambang tak tepat menatap. Tali sepatu yang tak terikat itu menyentuh permukaan air danau di ujungnya, membuat lingkaran lingkaran ombak kecil yang tak ku perhatikan sempurna. ku gerakkan pelan sepatuku, membuat suatu aliran memanjang. Pelan kedepan, kemudian kesamping. Perlahan konsentrasiku kembali. Pandanganku menetap pada pantulan dalam air. Seseorang dengan rambut bob bergelombang, poninya tipis belah tengah. Ia terlihat cocok dengan hoodie putih selutut hingga menutupi hotpants nya. Sneakers pink dalam pantulan air itu hanya menampakkan bagian bawahnya, sedangkan bagian atasnya terlihat nyata. Aku melamun memandangi diri dalam air yang tak terlihat seutuhnya. Tanganku memegangi alas kursi yang sedang ku duduki. Lama melamun, kuangkat kakiku hingga tepat menyentuh tanah.

Aku memejamkan mata, menarik nafas dalam kemudian membuang perlahan.

‘setidaknya, pertimbangkan aku’

Kalimat itu seakan menghantuiku dua tahun belakangan ini. Apa aku benar benar terlalu acuh hingga kata kata itu meluncur dari bibir sahabatku dulu. Aku menghindari perasaannya, juga menutupi perasaanku. Karena tak seharusnya kita seperti itu. Munafik jika aku harus menerimamu namun aku sangat benci dengan persahabatan yang beralih fungsi menjadi perasaan lebih. Aku hanya akan menahannya. Tetap tersenyum wajar ketika ia mulai memberikan signal, atau memberi banyak kerutan di dahi ketika sekali itu, ia mengatakannya.

“Sangjin-ah”

“apa?” lirih suarnya membuatku menoleh. Kulihat tangannya yang terus bergerak mencuili kursi.

“aku benci situasi seperti ini”

“seperti apa?”

Atmosfer ketegangan kembali dalam sekali hembus udara dari mulut yang terucap. Aku tak mau dengar jika ia akan mengungkapkan semuanya.

“bukankah awalnya kita berkomitmen untuk tidak saling menyukai?”

Aku menelan ludah dengan susah payah. Suasana semakin mencekam. Keringat dingir mengucur begitu saja tanpa aba-aba. Aku hanya menunduk melihat genangan danau. Takut takut jika setelah ini ia benar benar akan mengatakannya? Jawaban apa yang paling pantas untuk aku katakan?

Lama aku tak berucap, ia melanjutkan kalimatnya.

“aku tahu, aku salah. Tapi aku benar benar ingin menghapus semuanya! Menghapus janji aneh yang berakhir dengan kemunafikan”

Aku mengatur nafas, nada bicaranya makin tinggi.

“lalu?”

“aku tahu, kau tak akan pernah menyukaiku”

Tebaknya yang sama sekali salah. Aku mengerutkan dahi. Masih menatap air danau karena tak berani menoleh. Melihat wajahnya saja, seakan semua setan berbisik dan menyuruhku untuk memeluknya. Mengatakan bahwa ‘aku juga menyukaimu’. Tapi nyatanya tak begitu. Aku harus apaa?

“aku sangat menyukaimu Jin-ah, apa kau tak pernah merasakan hal yang sama walau hanya beberapa detik? Walaupun sekarang rasamu sudak ada. Tak pernahkah?”

Aku menggenggam tangan kananku. Menggigit bibir bawahku sekuat mungkin. Nafasku tercekat mendengarnya mengatakan hal yang tak ingin kudengar. Tapi aku sudah terlanjur mendengarnya.

“rasa seperti apa? Aku tidak pernah merasakan apapun” seperti menancapkan belati pada dadaku sendiri, mataku memanas. Mengungkapkan satu kebohongan besar yang bahkan lebih menyakitkan daripada harus mengeahui perasaanku sebenarnya.

“sudah kuduga” aku terdiam, ia terdiam. Kita terdiam, mulutku terkunci rapat. Tak ingin berbohong lagi. Ataupun mengungkapkan kemunafikan yang sesungguhnya. Aku melirik wajahnya yang menghadap lurus pada langit sore dengan beberapa semak semak dan pohon besar dibawahnya. Pancaran matahari sore tepat menyinari genangan air dimatanya. Membuatnya makin terlihat jelas dan akan mengalir turun.

“tapi setidaknya…” bibirnya terbuka, aku kembali menunduk. “tapi setidaknya, bisakah kau mempertimbangkan aku? Walaupun pada akhirnya aku akan menerima penolakan, tapi kau harus mempertimbangkanku dulu! Lupakan tentang janji konyol itu. Jika kau juga menyukaiku, katakanlah. Tapi jika tidak, cukup hanya pertimbangkan aku…”

Katanya sangat mantap. Kemudian kurasakan tangan besar mencengkeram bahuku. Membuatku harus memiringkan badan dan melihat wajahnya. Dan setan setan mulai berdatangan membisiki.

“Karena jika kau mempertimbangkanku, itu berarti kau pernah memikirkanku. Walaupun hanya menjadi sebuah pertimbangan” matanya menatapku dalam, hingga air yang menggenang di pelupuknya menurun dengan perlahan bersamaan dengan ucapannya yang sedikit tercekat. Aku mencari oksigen sebanyak banyaknya. Kesabaranku sudah mencapai titik tertinggi. Baru aku ingin mengatakannya, cengkraman tangannya melorot. Ia tak menghapus air di mukanya. Kemudian membalikkan badan. Pergi. Dan menghilang hingga sekarang.

Aku tersenyum dengan mata yang masih menutup. Tepat disini, ia mengungkapkan perasaannya. Tepat disini, terkhir kali kita bertemu. Jika saja sebuah keajaiban datang, tolong bawa dia kesini sekali saja. Aku sudah rindu.

“kau selalu saja tak mengikat tali sepatumu. Ini berbahaya!”

Aku membuka mata, entah apa dewi fortuna sedang memihakku, atau ini hanyalah ulah setan yang dengan tengilnya menggodaku. Menampakkan suara suara yang sekilas mirip dengannya.

Aku menunduk dan setelah mengikat tali sepatuku, kudapati wajahnya sadang mendongak tepat balik melihatku. Ini gila.

“Jeon Jungkook!” aku tak berkedip. Perlahan, ketukan ketukan kecil dalam dadaku semakin mempercepat diri. Membuat aliran darahku bergerak dengan kecepatan tak normal.

“lama tidak bertemu” ia berdiri, menyunggingkan senyumnya. Kulihat rambut kemerahannya, wajah tampannya yang tak pernah berubah, cardigan abu abu dan dalaman putih melekat sempurna pada badannya. Lengan kecilnya dulu sekarang mulai bergelombang. Celana jeans selututnya. Kaki yang sudah mengeluarkan rambut. Sepatu putihnya. HEI INI NYATA! Dan aku ikut berdiri.

Aku kembali pada wajahnya. Ia semakin tinggi. Hingga aku harus mendongak dua kali lipat dibanding dua tahun yang lalu untuk melihat wajahnya.

“apa?” aku masih tercengang. Ia masih sama sepertiku. Keheranan. Bingung bagaimana ia datang, atau apapun yang lain. Pertanyaan pertanyaan lainnya masih melekat di otakku.

“aku datang tadi pagi, kau tak ada di rumah, makannya aku kesini. Ternyata kau masih sering kesini ya?” dia tertawa. Sedangkan aku mesih tetap dalam posisi melongo. Masih tak percaya. Dan juga masih sangat kuat kuat menahan tangan yang sedari tadi ingin sekali merengkuh tubuhnya. Mencurahkan segalanya. Dan perlu diingat Sangjin, itu tak mungkin.

“bagaimana jika kita jalan jalan?”

Aku mengekorinya, kemudian ia sedikit melirikku. Tatapanku kosong melihat punggungnya. Yatuhan, dia terlalu tampan untuk hanya sekedar ditatap!. Kemudian entah bagaimana caranya, langkah kami sepadan, berjalan beriringan di pinggiran danau tanpa tujuan. Hanya berputar putar.

“sudah mempertimbangkanku?” ia mengegetkanku dengan ucapannya. Ia selalu begini, tak pernah berbasa basi. Aku semakin menunduk, ketakutan itu datang lagi. “atau sudah ada yang lain?” lanjutnya dengan nada yang kuyakini hanya berpura pura ceria.

“aku tak tahu, aku sangat munafik. Kau juga!”

“lupakan tentang peranjian konyol itu!”

“aku tidak tahu!” aku berhenti. Jungkook juga berhenti melangkah. Aku menunduk. Menunduk semakin dalam merutuki kebodohanu dan kebodohannya.

“memangnya, apa yang kau rasakan? Ceritakan padaku!”

Aku mengangkat kepala perlahan, rasanya berat sekali. Tapi jika tak ku ungkapkan, apa sesal itu akan datang? Tapi apa salahnya mengungkap kebenaran. Aku tak mau jika terus terusan menutupi. Malah akan menyakiti semua orang.

“saat aku didekatnya, jantungku menggila. Detakannya tak karu karuan” aku menggigit bibir bawah. Sesuatu sudah menggenang di pelupuk. Jari tangan kanan dan kiriku bermain tanpa sebab. Aku mungkin sudah gila.

Namun kuberanikan diri untuk mengangkat tanganku. Dan ku genggam kuat tangan kiri Jungkook dengan tangan kananku. Aku mulai melemah. “saat aku memegang tangannya, rasanya dingin, badanku membeku”

Cepat cepat ku lepas tangannya, lalu ku miringkan badanku menghadapnya. Ia pun demikian. Aku menatapnya lama. Bendungan di mataku tak kuat menahan air tertahan makin banyak. Semuanya pecah saat itu. Aku benar benar tidak waras sekarang.

“dan saat aku melihat matanya….”

Aku bingung. Teggorokanku tercekat. Sesuatu menghalangi pandangan dan tenggorokanku. Sekali lagi aku menggigit bibir. Aku menunduk semakin dalam lagi. Isakan yang awalnya hanya sekali dua kali, sekarang maikin banyak. Namun entah dorongan darimana, kedua tanganku terangkat. Keduanya menggapai leher Jungkook. Kucengkeram punggungnya. Mengeluarkan semuanya. Menangis sejadi jadinya disitu. “aku bingung, Kook!” aku mengeluarkan semuanya. Kebingungan yang selama ini ada, kuungkapkan semuanya. Aku tak mau menahanya sendiri. Jika saja ada yang mau menampung rasaku dan membahagiakannya, kenapa susah susah aku harus terus bersembunyi dan berpura pura mematikan semuanya. Menyamarkan perasaanku sendiri dengan perlakuan bodoh yang kutunjukkan.

Kurasakan tangannya balas memelukku. Hangat. Tak terbesit sedikitpun fikiran untu melepasnya.tangan kanannya mengelus punggungku perlahan. “tenanglah, aku juga sedang bingung.”

Kalimat macam apa itu? Mataku berhenti untuk memproduksi airnya lagi. Isakanku mulai hilang. Aku melepasnya. Dasar perusak suasana. Dia tidak bisa melakukan hal yang manis.

“bingung apa?”

“aku bingung. Jadi sekarang, kau sudah mempertimbangkanku?”

Ia menatapku dengan berbinar. Kulihat ada sisa air di pipinya. Aku hanya menatapnya balik dengan kata ‘apa’ besar di kepalaku.

“ah, salah. Maksudku, sekarang kau menerimaku begitu?”

Dia tersenyum sangat sangat lebar. Aku menunduk. Ya tuhan, wajahku panas. Dan mungkin saat ini sudah sangat merah.

“pikirkan saja sendiri.” Aku berjalan menjauhinya. Tersenyum. Dan selalu tersenyum. Hei aku munafik, sudah, aku tak mau memikirkannya. Sekarang aku merasa lega. Karena tak ada yang lebih melegakan dari mengungkapkan kejujuran. Dalam bentuk apapun itu. Aku senang perasaanya tak berubah. Kudengar ia berteriak teriak di belakang. Membuatku semakin tersenyum lebar.

“YA, APA AKU BENAR BENAR DI TERIMA? BENARKAH SANGJIN? AKU SEDANG TIDAK BERMIMPI KAN? HEI, AKU BAHAGIA SEALI! YA TUHAN!”

Karena tak ada kesabaran yang tak membuahkan hasil. Dan tak ada kebohongan yang akan membahagiakan. Maka ungkapkan semua.

“YA! KAU GILA?”

#END#

Whaaaa. Ampun deh itu endingnya kok gitu banget nggak srek banget. Nggak gantung kan ya? Biasanya gantung -_-. Masa yang kayak gini gantung? Nggak kan ya. Hahahahha

Babay muah

 

cropped-watermark-new.png

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s