[FF] Naman Barabwa

Naman Barabwa

Cast: Sehun, Girl/OC/You/terserah

Genre: nggak sad apa romance apa teen apa apa?

Rating: PG-13

Length: One shot

Author: Mujtahidatul Alawiyyah (Tae Hee-Da) / @Mujtahidatul_A

Disclaimer: Sehun milik ortunya, SM, dan saya sebagai istri juga ber hak memiliki(?)

naman barabwa

===

Yehet ohorat. Saya ngeff lagi dan itu bukan comedi. Idk beberapa hari terakhir nggak ngookies padahal ide kookies edisi (?) selanjutnya udah mumet di kepala. Tapi karena banyak banget inspirasi yang datang dengan genre kayak gini, jadi bikin yang gini deh. Ini ff terinspirasi dari temen saya namanya nita. Dia kisahnya lucu banget. bukan sepenuhnya ceritanya ini sama sih, Cuma garis besarnya aja. Ahahhahaha.

Judulnya juga ini dari lagunya Taeyang yang Only Look at Me suka banget apalagi dinyanyiin Jeka ama imin di rookie king 6 itu ajvcyuxhdssbhsfu.

Oke cekidot: (bold=flashback)

===

Srek… tirai jendelaku berhasil ku buka. Sepagi ini entah apa yang mendorongku untuk segera beraktifitas. Karena ini hari minggu, seperti biasa aku hanya akan duduk di depan jendela di ruang tamu sambil mengerjakan tugas kuliah atau hanya sekedar mendengarkan lagu. Dan sesekali juga menatap kosong sebuah rumah tepat di seberang rumahku sambil sedikit bernostalgia pada masa laluku yang sungguh tak ada yang spesial.

Ku pasang headphone ku sambil mendengarkan lagu milik Taeyang – Only Look at Me. dan sedetik kemudian suara yang tak seperti biasanya mengganggu pendengarkanku. Beruntung volume headphone ku belum aku naikkan. Dan aku menatap lurus. Seorang pria dengan rambut kecoklatan dengan badan yang di balut cardigan motif lurik sedang memarkirkan sepeda lipatnya di depan rumah yang biasa aku pandangi. Aku tak berkedip. Aku menahan nafas. Sesaat jantungku berhenti kemudian detik berikutnya memompa darah terlalu cepat. Dia masih sama seperti dulu, wajahnya dingin dan sekalipun aku tak pernah meihatnya tersenyum. Aku menelan ludah kemudian kembali duduk ketika bayangannya sudah hilang dari pandang karena masuk kedalam rumah.

Aku melepas headphone ku, kuletakkan sembarang diatas tumpukan buku. ‘dia kembali’. Aku masih tak bisa mengontrol kewarasanku. Rasanya semua terlalu sulit untuk difikirkan. Kemudian mataku kembali terfokus pada rumah yang dominan berwarna krem itu. “Oh Sehunku saayang, kapan kau kembali hah? Kenapa tidak memberi kabar?” samar samar suara yang ku kenal adalah suara nenek Sehun itu melewati indra pendengaranku dan kuyakin, saat itu mungkin Sehun sedang tersenyum sambil memeluk neneknya. ‘tes’ bagaimana aku bisa selemah ini? Aku terlalu bahagia mengetahui kenyataan bawhwa dia kembali. Setelah empat tahun lamanya semenjak junior haigh school, dia sudah tak pernah mengunjungi rumah neneknya lagi.

Setiap hari minggu. Sejak aku mengenalmu. Aku selalu berusaha untuk selalu melihatmu.

Tiiinnnn tiiinnnn… suara klakson mobil itu membuat Sangjin kecil langsung melompat ke jendela dan saat itu, keluarlah sebuah keluarga kecil dengan susunan yang sepertinya seorang Ayah, Ibu, kakak yang bernama Oh Luhan dan seorang yang seumuran dengan Sangjin yang bergandengan tangan dengan sang kakak. Namanya Oh Sehun. Namun entah bagaimana caranya anak yang masih barusia empat tahun itu sudah memiliki rambut piang. Padahal tak satupun keluarganya yang keturunan luar negeri.

Dan rambut putihnya adalah hal pertama yang membuatku tertarik.

Aku tersenyum mengingat bagaimana pertama kali aku megenal manusia dengan wajah tak pernah tersenyum itu. Juga menahan tawa sambil mengingat rambut Sehun yang saat itu pirang. Jariku masih enggan untuk tak menekan keyboard. Tugas kuliah begitu banyak. Sesekali konsentrasiku teralihkan ketika mataku dengan terkontrolnya naik sehingga langsung menatap pada rumah nenek Sehun. Dan tak ada apapun disana. Aku kembali kepada laptopku.

Aku tetap menunggu saat dimana kau melihatku.

“ayo, bermain disini. Nenek ke dapur dulu ya! Jangan bertengkar” Sangjin kecil mendengar baik baik nasehat nenek Sehun yang kurang jelas. Kurang lebih beliau mengatakan hal itu. Sehun kecil bermain dengan para tetangga. Di hari minggu, orangtuanya selalu sibuk jadi neneknya yang harus menjaga Sehun dan Luhan. Namun bagaimana awalnya, yang jelas saat ini Sehun menangis dan semua temannya meninggalkannya. Luhan keluar dari rumah dan menenangkan adik berumur enam tahunnya itu. Sangjin kecil menatap Sehun dengan perasaan iba. Jika ia berani, ia pasti sudah mencelos dan menyebrang sembarangan dan bemain bersama Sehun.

Sehun, aku ingin bermain bersamamu.

Aku menfokuskan pandanganku ketika seseorang yang sejak tadi aku tunggu keluar dari rumah. Jantungku kembali tak karuan. Dia mengayuh sepedanya dengan kuat dan pergi begitu saja. Tapi setidaknya, hari ini sangat menyenangkan. Sangat tak terbayangkan. Untuk pertama kalinya setelah empat tahun aku tak melihatmu, kini aku melihatmu begitu keren. Kau semakin tinggi. Semakin tampan. Walaupun aku harus menunggu seminggu hanya untuk melihatmu yang rata rata muncul hanya beberapa detik.

Aku tetap suka. Aku akan terus menikmatinya

Sudah setahun aku melihatnya sembunyi sembunyi seperti ini, melihatnya dari jauh semenjak kedatangan pertamanya setelah empat tahun. Semuanya tak ada yang spesial, dia hanya akan mengendarai sepeda lipat lalu masuk ke rumah dan kemudian keluar dan pulang. Hanya itu setiap hari, tak ada yang berubah. Dia juga tak merubah model rambutnya. Paling paling dua bulan sekali rambutnya terlihat memendek. Dan ku dengar, sekarang dia sedang kuliah jurusan kedokteran di Konkuk University. Aku tahu, dia sangat hebat. Walaupun sudah lama, aku baru saja mengetahuinya karena aku tak sengaja menguping pembicaraan ibu dengan nenek Sehun saat nenek sehun mengantarkan makanan. Aku tak pernah mencari tahu bagaimana dirinya, apa makanan favoritnya, apa dia memiliki yeojachingu, atau siapa saja teman temannya, atau dimana rumahnya sekarang. Bukan tak berani atau malu, namun yang kutahu, aku menyukai Oh Sehun, sedikit tak peduli dengan apa yang ada di sekitarnya, yang jelas dia adalah Oh Sehun. Tak peduli apa, tapi dia Oh Sehun dan aku sekarang sudah sangat gila.

Aku memutar mutar bolpoinku tak bersemangat, sudah pukul sembilan namun dia belum juga datang. Dan setelah pikiranku melayang memikirkan beberapa hipotesa penyebab ia telat datang, aku melihat Oh Sehun membawa sebuket bunga yang tak ku ketahui jenisnya, baiklah, ralat. Dua buket bunga yang masih bisa ia genggam di satu tangan. Ia masuk dan aku masih membidik punggungnya, kemudian ia keluar dengan menuntun neneknya. Ia membonceng neneknya, kemudian pergi begitu saja. Dan apa yang ia lakukan belum bisa menjawab rasa penasaranku. Apa yang akan ia lakukan?

Aku selalu ingin tahu dirimu. Bagaimana ini?

Semua orang berbondong bondong masuk kedalam rumah nenek Sehun. Tak banyak, namun cukup untuk memenuhi ruang tamu rumah nenek Sehun sepertinya, Sangjin kecil terus mengintip dari jendela, dia bingung, apa yang semua orang lakukan? Dan ibunya baru saja akan keluar rumah mengenakan baju serba hitam. “ibu, disana ada apa?” ucap Sangjin kecil sambl menunjuk nunjuk rumah nenek Sehun.

“sayang, Luhan oppa sudah meninggal.” Kata ibu Sangjin dengan sangat pelan. Gadis dua belas tahun itu kaget. Dia bingung. Hatinya terus terusan ingin bertanya ‘bagaimana bisa?’ namun ibunya sudah keluar. Sangjin kecil kembali mengintip dibalik jendela, sosok yang biasa ia lihat itu duduk memeluk lututnya di aspal tepat bersandar di depan pagar rumah. Dia menangis. Bahkan dari kejauhan, mata sembabnya masih bisa tertangkap. Orang orang yang berlalu lalang menatap Sehun heran, beberapa juga mencoba membujuk Sehun, namun ia tetap tak mau berdiri. Sangjin kecil ikut meneteskan air mata, ia ikut merasakan bagaimana sedihnya seorang Oh Sehun. Sangjin tahu betul bagaimana sayangnya Sehun pada Luhan. Mereka adalah saudara yang tak akan pernah bisa terpisahkan.

Sangjin menunduk, sebuah lolipop besar berada di tangannya. Kemudian ia kembali menatap Sehun. Melihat lolipopnya lagi, melihat sehun lagi.

Jangan menangis, aku akan membagi lolipopku untukmu. Aku berjanji.

‘huffftttt’ aku membuang napas sembarangan. Aku benar benar masih ingat bagaimana Oh Sehun menangis ketika apa yang bisa dikatakan belahan jiwanya itu pergi. Parahnya pergi untuk selamanya. Aku menghadap langit langit, menahan airmata yang berusaha menerobos keluar. Aku tak mau menangis. Aku sangat ingat bagaimana Oh Luhan yang sedang memeluk Sehun ketika ia menangis, bagaimana Oh Luhan menggendong Sehun, padahal badan Sehun lebih besar kkk~, bagaimana Oh Luhan selalu tidur seakan menjadi pasien, sedangkan Sehun memeriksanya dengan wajah polosnya bak seorang dokter yang sangat profesional. Aku memahami bagaimana rasanya di tinggal seseorang yang setiap hari menemani.

Dia kembali, kemudian memapah neneknya masuk lalu kembali pada sepedanya. Dan pergi… aku melihat matanya yang sembab. Sama seperti saat ia berumur tiga belas lalu. Dia juga menangis.

Bahkan aku belum sempat membagi lollipopku. Maaf.

Sudah dua tahun. Semunya berjalan normal dan biasa. Kecuali jantungku yang memang setiap melihatnya, ia berjalan tak normal. Kudengar dia sudah menjadi dokter muda yang hebat. Dia hebat dan pandai. Dia juga membuka praktek di rumahnya sendiri. Dan aku sudah mengetahui rumahnya sekarang kkk~.

Grrrrssss sebuah mobil keluaran terbaru terparkir rapi di depan rumah nenek Sehun. ‘apa itu Oh Sehun?’ jantungku kembali bekerja tak normal. Seorang Oh Sehun dengan model rambut yang lebih dewasa itu keluar, ia memakai raglan dengan celana jeans. Gayanya benar benar tak seperti seorang dokter yang hebat. Namun apa yang ia lakukan? Ia brjalan membuka pintu mobil yang lain, aku memiringkan kepala dengan alis berkerut. Dan, seorang wanita cantik keluar dari mobil mewah milik Sehun. Sebentar, jantungku hampir berhenti, sesuatu menyekat tenggorokanku. Dia tinggi, tampilannya sedikit dewasa dan (maaf) terlihat seperti tante tante. Dia mungkin lebih tua dari Sehun. Tampilannya glamor dan mewah. Cocok jika bersanding dngan Sehun –dengan berat hati aku mengatakan ini-. Sehun dan wanita itu masuk ke rumah nenek, dan aku tidak mau tahu apa yang setelah itu mereka lakukan. Kurasakan kepalaku sangat berat dan gelap.

Aku mengerjapkan mata, sama seperti saat terkhir kali aku dalam keadaan sadar. Langit sudah menghitam dan sudah tak ada mobil Sehun tadi. dia sudah pergi dengan menghapus semua harapan yang sejak dulu aku bangun. Baiklah, aku tak akan berharap mulai saat ini. Dia sudah menemukan apa yang membuatnya bahagia. Dan itu bukan aku.

Berbahagialah dengan kebahagiaanmu. Karena aku pasti akan selalu tersenyum.

Sudah satu tahun semenjak Sehun membawa kekasihnya ke rumah nenek. Dan aku masih juga tak menyerah, sekali lagi ku tegaskan aku tak berharap memilikanya atau apa yang biasa dikatakan orang orang tentang berpacaran, atau apapun itu. Setidaknya, aku berharap dia mengetahui bahwa disini, ada seseorang yang mengagumimu tanpa harus ku tunjukkan, mengagumimu tanpa harus ku ucapkan, dan mengagumimu dengan bermain dalam perasaanku sendiri.

Dan aku tak tahu bagaimana aku tak pernah sakit hati jika Sehun menggandeng wanitanya dengan penuh sayang, sangat mesra, tapi yang jelas aku menyukai Oh Sehun. Tak peduli dia sudah memiki kekasih atau dia tak menyukaiku, yang ku tahu, aku menyukai Oh Sehun. Jadi walaupun dia mengabaikanku, itu tak akan bisa menjadi alasan kuat untuk aku menghilangkan kebiasaanku, bahkan untuk berusaha menghilangkan perasaanku yang tak jelas ini.

Aku membuka tirai jendela, dan langsung ku dapati sepeda lipat Oh Sehun. Dimana gadisnya? Karena setahun terakhir ia terus membawa mobil dengan menggandeng seorang wanita. Ada perasaan senang terselip kala itu. Aku melihat punggungnya menjauh. Hingga sudah menghilang. Terkadang aku berfikir bagaimana seorang Oh Sehun bisa menjadi dokter? Aku tahu jika dia pintar, tapi dia selalu memakai baju layaknya remaja dengan sepeda lipatnya. Bukan mobil mewah dengan jas mahal –kecuali saat itu-. Aku tersenyum, sedari tadi hanya tersenyum. Menikmati perasaan ku yang aneh dan gila. Bagaimana bisa aku tak pernah melirik satupun namja yang ada di luar sana dan hanya terfokus pada seorang yang bahkan tak mengenalku. Baiknya, aku membuka hati untuk yang lain yang lebih jelas –karena selama ini yang ku ketahui, menyukai seorang Oh Sehun itu sangat abstrak-. Baiknya lagi, aku berhenti saja untuk menyukai namja yang tak pernah tersenyum itu. Tapi aku tidak mau. Apa yang membuatku suka, ya untuk apa di hilangkan? Sedangkan perasaan yang aku nikmati saat ini sama sekali tak mengganggu. Dan aku tak tahu sampai kapan.

Aku menikmati perasaanku untuk menyukai sesuatu yang tak jelas sepertimu Oh Sehun.

Aku menyeruput teh hangatku. Sudah jam tiga sore tapi dia tak juga keluar. Aku melihat rumah nenek dengan intens. Kemudian beruntung sekali seseorang tiba tiba membuka pintu dan keluarlah seseorang yang sudah ku tunggu. Sama seperti tadi, dan biasanya. Dia keluar kemudian menuju sepedanya. Namun belum sempat ia naik, ia melihat sesuata pada sepedanya. Tangannya memegang ban sepeda. ‘oh, sepedanya kempes’ dia melemparkan tatapannya pada seluruh penjuru. Dan mata kita bertemu. Sekitar dua detik. Dan aku berhenti bernafas saat itu juga. dan dia menuntun sepedanya. Mendekat kearahku. Ya tuhan, aku masih ingin hidup lebih lama, sungguh. Dia mendekat. Seluruh dunia seperti sedang di slowmotion. Roda sepedanya tak juga sampai sampai pada tujuan.

“Hei, kau punya pompa?” lamunanku berhenti. Siapa yang memanggilku? Apa hantu? Oh, baiklah tak usah ku hiraukan.

“Hei Sangjin! Kau punya pompa?” hah? Hantu itu memanggil namaku. Dan entah bagaimana prosesnya, mataku melihat Sehun yang mengayun ayunkan tangan kirinya. Tangan kanannya memegang stir sepeda. APA? Dia tadi menyebut namakuuu? Baigaimana ini bisa … tidak… anu… ini bagaimana?

Aku keluar dari rumah dengan menenteng pompa ban, aku langsung memompa bannya tanpa harus di perintah. Sehun tetap saja berdiri di belakangku. Aku sepertinya sudah tidak waras. Kita berada pada jarak sedekat ini? Ini terlalu menegangkan. Lebih dari seperti sepuluh kali naik tornado dalam satu waktu. Oh Sehun, pergilah, kau mau membunuhku hah?. Dan selesai. Aku berdiri dan ku sadari ada sebuket bunga di tangan kanannya.

“Terimakasih ya!”

“hah?”

“iya, terimakasih!”

“hah?”

Kudengar dia tertawa. Apa ada yang lucu? Sepertinya tidak. Tapi dia sangat tampan saat tertaa renyah. Aku sangat menyukainya. Ini kali pertama aku mengetahui ia tertawa. Sangat tampan.

“darimana kau tahu namaku?” aku melancarkan pertanyaan yang sedari tadi tertahan. Ini berat namun tak terkontrol. Aku sudah gila. Aku menunduk.

“bagaimana aku tak tahu nama gadis kecil yang selalu memperhatikan rumah nenekku?”

“hah?”

Dia tertawa lagi. Sebenarnya apa yang lucu sih?

“siapa yang memperhatikan rumah nenekmu?” aku tetap menunduk sambil menggumam tak jelas.

“baiklah, aku ulang. bagaimana aku tak tahu nama gadis kecil yang selalu memperhatikanku?” ia berkata lagi dengan nada yang sama seperti tadi. aku mendongak, dia melihatku. Mata kita bertemu untuk yang kedua kalinya dan aku mendadak gila dua kali lipat. Tuhan, apa Sehun seorang pembunuh. Bisa lepaskan pandangannya?

“hah?” aku mengatakan ‘hah’ untuk yang ke empat kalinya. Kudengar tawanya makin meledak.

“mau mengantarku ke makam Luhan hyung? Kajja!”

Aku hanya membuntut, kemudian suara nenek Sehun datang dari dalam rumah.

“Oh Sehuuuun semoga sukses!”

“iya nek!”

#END#

Wahaaaa…. harusnya ini cast cowonya Jungkook. waktu awal nulis padahal udah ngetik JK. Tapi kok yang di kepala kebayang Sehun? Yaudah Sehun berarti. Wkwkwkwkwk

Maaf ini absurd banget karena bikinnya semalem. Jadi pendek (dipendekin sih) dan gak jelas.

babay….

cropped-watermark-new.png

Iklan

8 thoughts on “[FF] Naman Barabwa

  1. squel dong, thorr plise.. !! *Muka_melas* pengen sehun_nya suka sm sangjin, trus mereka nikahh :v

    plise dong thor….
    Ff ini buatku sangt penasaran, Setengah mati, thor…

    sekali lg squel thor plise

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s