[FF] The Reason

The Reason

Cast: Jeon Jungkook, Girl/You/OC/terserah

Genre: romance? Nggak tau 😀

Rating: PG-12

Length: One shot

Author: Mujtahidatul Alawiyyah (Tae Hee-Da) / @Mujtahidatul_A

Disclaimer: Jungkook milik ortunya, bighit, dan saya sebagai istri juga ber hak memiliki(?)

===

Haiiii….. Kookies pending. Lagi muncul ide romance aaahhhhhhhhh maaf ini dialognya nggak banyak. Ini anu ah. Sudahlah. Gak bisa ngomong. Cekidut

the reason

===

 

“Sehun-a, mengapa kau menyukaiku?” Ucap Jinri dengan menatap manik mata Sehun sangat dalam, ia hanya memastikan, apa yang Sehun rasakan benar benar tak salah.

“aku tidak tahu”

Jari jemariku menari dengan lihai diatas keyboard bak seorang profesional. Mataku berbinar melihat layar laptop yang berisi rentetan tulisan yang sebut saja ‘FanFiction’ tentang idolaku, Oh Sehun. Sampai pada aku menulis bagian ‘aku tidak tahu’ entah apa yang membuat jemariku berhenti. Dahiku berkerut, dan punggung yang sejak tadi bebas menegang itu ikut terheran merasakan sesuatu yang datang tiba tiba. Aku mematahkan leherku ke kanan, kemudian ke kiri, dengan wajah datar yang tak terlihat seperti sedang berfikir. Kemudian seluncur nafas keluar begitu saja menimbulkan suara hembusan yang bisa di rasakan sekitar. Aku meletakkan kacamata biru full frame ku di atas meja. Kemudian punggungku jatuh bebas pada benda empuk yang sedari tadi aku tumpangi.

‘mengapa tidak tahu?’ tanganku bersendekap dan mataku memicing tak jelas melihat langit langit kamar. Seperti disana terdapat gambaran seseorang yang sejak tiga tahun yang lalu bisa ku katakan aku sukai? Bayang bayang wajah idolaku yang tadi berlama lama dalam otakku kini terganti.

‘apa memang tidak ada alasannya?’ aku masih saja memikirkan apa yang akan ku tulis tadi. apa cinta benar benar tak butuh alasan? Ini terlalu dramatis tapi kalimat itu seolah telah mendarah daging bagi semua insan di dunia? Tapi apa bisa mencintai tanpa alasan?

Aku berguling ke kiri tanpa sedikitpun menyentuh bangku kecil dengan laptop diatasnya yang masih menyala. Dan kini gambaran wajah namja tadi berpindah tempat menjadi berada di punggung kursi meja belajarku.

‘tapi apa aku punya alasan?’ aku terus melototi punggung kursi seakan benar benar sedang menantang menatap wajah’nya’. Tapi aku hanya berani pada bayangan, bukan pada kenyataannya. Sungguh.

Aku frustasi memikirkan pemikiran yang tiba tiba muncul tadi. hingga aku memutuskan untuk menutup laptopku, merapikan tempat tidurku dengan membawa pertanyaan besar “apa cinta benar benar tak butuh alasan?”

Pagi hari, aku menemukan ia berjalan di koridor sendirian, aku seperti mengekor di belakangnya karena tak berani menyalip ataupun menyamakan posisi berjalan, aku memperlambat juga memperkecil sudut langkah. Aku tak heran dengan jantung yang terlalu menggebu untuk memompa darah ataupun nafas yang meluncur tak karuan saat itu. Atau es di kutub yang berpindah ke telapak tangan dan kakiku. Sangat tak heran jika hal hal mistis semacam ini terjadi, namun aku tidak terbiasa melewatinya. Dan tak akan pernah biasa.

Dan pagi itu aku masuk kelas seperti sehabis berlari. Peluh dingin menetes dan senyum saat itu mengembang sebelum digantikan oleh pertanyaan yang menjadi PR untukku.

‘apa aku membutuhkan alasan?’

‘apa aku membutuh alasan?’

‘apa aku harus mencari alasan?’

‘ya, aku harus mencarinya!’

Bolpoin yang sedari tadi hanya sebagai alat untuk menggosok gosok anggota badanku, masih tak beralih fungsi. Sesekali bolpoin itu kugunakan untuk menggaruk tengkuk, menggaruk rambut, atau hanya kutempelkan di bibir. Mataku membidik seseorang. Memandang lurus tubuh yang terlihat kecil karena terpaut jarak jauh itu dengan intens. Aku masih mencari alasan.

Bagaimana aku bisa dikatakan menyukainya? Berbicara saja hanya dua kali saat Junior High School. Bertatap muka saja mungkin tak sampai ratusan kali. Bahkan kita tak saling menyapa. Yang ku tahu, aku hanya merasakan jantungku, nafasku, dan telapak tangan dan kakiku, RALAT lebih tepatnya seluruh anggota tubuhku lalai dari fungsinya. Apa cinta sesederhana itu? Tapi setidaknya aku yakin, dia mengenal namaku.

Kacamataku melorot, membuat penglihatanku sedikit buram dan tak sampai melihat apa ekspresi wajahnya. Telapak tangan dan kaki ku seperti membeku, jantungku ingin melompat dan beruntung, nafasku belum menjadi-jadi. Lalu bagaimana aku mencari alasannya? Dengan apa?

Aku meregangkan otot otot tubuhku, kutarik kanan, kiri, kebelakang, keatas, sesekali terdengar bunyi seperti patah tulang atau apapun itu. Sudah pukul sebelas malam dan aku belum benar benar mengantuk. Apa yang membuatku mengantuk sebenarnya adalah tugas. Beruntung mereka semua sudah selesai. Kuurungkan niatku untuk mematikan laptop, perlahan ku buka draft FF ku kemarin, masih sampai pada

“Sehun-a, mengapa kau menyukaiku?” Ucap Jinri dengan menatap manik mata Sehun sangat dalam, ia hanya memastikan, apa yang Sehun rasakan benar benar tak salah.

“aku tidak tahu”

Ingin sekali aku cepat menyelesaikannya jika saja pikiranku tidak terlalu jauh ikut berfikir masalah begini. Sedangkan sekolah saja aku tak beres. Apa perlunya memikirkan hal hal semacam ini? Aku menekan tombol silang warna merah di pojok kanan atas. Dan kumatikan laptopku. Aku berbaring, kacamataku belum terlepas hingga cat langit langit yang tak rata itu terlihat jelas.

‘apa aku membutuhkan alasan?’

“Jeon Jungkook!!!” refleks kepalaku menoleh. Seseorang dari jauh memanggil nama anak itu -aku tak berani menyebut namanya- dia melambaikan tangan dan kulihat kemana arah berjalannya dan ku dapati meja di depanku di tempati oleh anak itu. Ehm Jungkook. Dan seketika itu seperti biasa, hal hal mistis kembali datang. Dia tidak tersenyum padaku, dia tak melihatku, dia tak berbicara padaku, tapi aku tersenyum sambil menikmati aura mistis tadi. aku menahan nafas, seperti ingin mati. Tidak, itu terlalu. Yang jelas aku sulit bernafas. Dan sedetik kemudian dia pergi dengan teman temannya dan aku tersenyum sangat lebar.

‘apa alasanku?’

Aku berfikir lagi. Kubilang, dia sama sepertiku. Tidak pernah berpacaran (ini mungkin) ataupun terlalu menghiraukan perasaan yang seperti ini. Dia terlalu pendiam dan pemalu. Dia pandai. Dia tampan. Dia…. aku tak akan meneruskannya. Tapi yang ku ketahui, dia bukan satu satunya orang terpandai di sekolah, dia juga bukan satu satunya orang ter tampan di sekolah, bukan satu satunya orang ter pendiam di sekolah. Bahkan banyak yang lebih keren! Banyak yang lebih dan lebih dari dia. Tapi aku tak tahu kenapa aku menyukainya?

‘apa aku benar benar tak punya alasan?’

Tapi jika aku tak punya alasan, mengapa harus dia? mengapa bukan orang gila sekalipun (maaf) dengan segala kekurangannya dan aku akan mengatakan pada semua orang bahwa aku tak punya alasan untuk menyukainya karena dia terlalu tak sempurna.

TEEEEEEETTTTT….

Beruntung sekali bel masuk sekolah membuyarkan lamunanku. Dia datang tepat waktu dan lagi lagi aku masih belum bisa menemukan alasan, sekalipun aku berfikir sangat keras.

‘apa aku benar benar tak punya alasan?’

Aku membuka jendela kamar dan langsung melihat pemandangan jalan raya yang masih lengang. Sesekali hanya kendaraan beroda dua yang bisa terhitung jari jumlah per menitnya. Aku menyelipkan rambutku ke belakang telinga. Membiarkanku lebih leluasa memandang sesuatu yang berada di sebelah kananku. Kulihat laptop yang tergeletak di meja belajar dan aku segera duduk disitu, membuka draft FanFictionku yang sudah sekitar enam hari tak berlanjut.

“Sehun-a, mengapa kau menyukaiku?” Ucap Jinri dengan menatap manik mata Sehun sangat dalam, ia hanya memastikan, apa yang Sehun rasakan benar benar tak salah.

“aku tidak tahu”

Sudah puluhan kali aku membaca kalimat terakhir itu. Aku bingung apa yang harus aku lakukan karena aku belum juga menemukan jawabannya. Ini terlalu sulit di jelaskan. Namun seharusnya aku percaya saja pada pendapat orang orang bahwa cinta tak butuh alasan maka FanFictionku akan segera selesai tak sampai satu jam.

Aku meletakkan tanganku di pipi. Menumpukan kepalaku pada siku yang bergesekan secara langsung dengan meja tadi. dan aku berfikir. Lagi.

“ada sesuatu yang lain yang ada dalam dirinya. Aku tak tahu apa, yang jelas sesuatu itu menarikku untuk mengatakan aku jatuh cinta padanya. Hanya menarik diriku” saliva ku turun melewati kerongkongan, aku masih mencerna perlahan kata kata sahabatku tadi pagi. Hayoung namanya. Dari beberapa paragraf kalimatnya, hanya kalimat itu yang terus mengotori pikiranku.

Tapi sesuatu itu apa? Dia berkata bahwa ada sesuatu. Apa sesuatu itu adalah alasannya?

Aku memikirkannya lagi. Bayangan wajahnya seolah sedang berada di layar laptopku yang menghitam. Aku suka semuanya. Menyukai kelebihan dan kekurangannya? Ini seperti status di facebook orang orang 😀 . dan, apa yang aku pikirkan? Aku menyukai semuanya. Aku menyukai dirinya yang sempurna.

Aku menegakkan badan. Mataku berbinar seolah tersesat beberapa tahun di gua gelap kemudian menemukan setitik cahaya.

‘tapi dia tak sempurna!’

Ku katakan sekali lagi, dia tak setampan Taehyung sunbae, dia tak se berwibawa No Minwoo, dia tak sepandai Kim Joonmyun sunbae, dan dia bukan apa apa jika terus aku bandingan dengan semua orang di dunia ini.

‘tapi dia sudah sempurna’

‘dia memiliki apa yang tak terfikirkan’

‘dia adalah sebuah kesempurnaan’

‘semuanya sempurna’

‘sempurna hanya bagi diriku’

‘kesempurnaan relatif yang hanya ku ketahui’

‘semua yang ada pada dirinya adalah sempurna’

‘dari kekurangannya ataupun kelebihannya’

“jika satu dari kesempurnaanya hilang, berarti cinta itu juga ikut hilang?” aku sedikit menggumam, ada saja pertanyaan pertanyaan yang menggangguku dalam menarik simpulan. Dan kubilang. IYA. Kesempurnaan relatifnya adalah apa yang menarikku untuk mencintainya, dan jika itu hilang atau berkurang, bagaimana sesuatu itu bisa menarikku kuat? Bagaimana bisa sebuahbuah magnet yang sudah tarik menarik dengan besi kemudian magnet tersebut memiliki tarikan yang sedikit. Atau kekuatan tarikannya berkurang? Apa tarikannya akan sekuat dulu. Tentu tidak! Tapi tak akan sepenuhnya hilang.

“hey, itu bukan cinta, itu hanya perasaan sesaat yang tak dalam. Hanya melihat apa yang bisa dilihat saja. Dan ketika apa yang bisa dilihat hilang, maka rasamu juga akan hilang.” Aku menggerutu lagi, mengacak rambutku yang sudah berantakan menjadi makin berantakan. Seperti aku sedang beradu argumen dengan malaikat di sisi kananku dan setan di sisi kiriku. Tapi aku tak tahu mana yang benar.

jika begitu, apa alasan yang tepat jika aku menyukainya? Apa tak ada? Dan benar benar tak ada? Rasa itu datang menarikku tak beralasan dan jatuh pada seseorang yang bisa saja tak ku kenal sekalipun? Hei itu mustahil!

Dan aku kembali pada kesempurnaan relatifku. Aku melihatnya dengan standar kesempurnaan yang ku miliki. Melihatnya dengan keseluruhan indra yang aku punya. Dan juga keseluruhan apa yang aku lihat. Hingga aku menyimpulkan bahwa aku menyukaimu karena kesempurnaanmu yang tak terdefinisikan. Kesempurnaanmu yang sudah menjadi standar bagiku.

“Sehun-a, mengapa kau menyukaiku?” Ucap Jinri dengan menatap manik mata Sehun sangat dalam, ia hanya memastikan, apa yang Sehun rasakan benar benar tak salah.

Dia menghapus kata menambahkan kata setelah kalimat “aku tidak tahudan menggantinya dengan beberapa kalimat.

“aku tidak tahu. aku melihat semua yang kaumiliki. Dan kau sempurna. Itu yang membuatku mencintaimu”

Dan selanjutnya aku terus menulis dengan semangat. Aku tak peduli dengan semua orang, yang jelas, itu pendapatku untuk saat ini. Dan aku menyukainya.

Aku duduk dan memangku laptopku di taman sekolah, sesekali tersenyum menyelesaikan kata kata terakhirnya. Aku terus terusan tersenyum entah mengapa. Dan aku menyelesaikan kalimat terakhirnya.

“Kau adalah kesempurnaan relatifku, Oh Sehun!”

Dan aku tersenyum. Aku menekan nekan jariku. Tepat sepuluh kali dia berbunyi.

“kesempurnaan relatif itu apa? Memangnya kalau menulis seperti itu mau kau kirimkan ke Sehun?”

Aku merasakan atmosfer sejuk siang hari itu berubah dalam sekejap. Kulirik manusia sebelah kiriku. Dan aura mistis itu kembali mencuat. Bahkan lebih dari biasanya. Aku tak tahu harus berbuat apa dan aku terus saja memandangnya.

‘Kau adalah kesempurnaan relatifku Jeon Jungkook’

Karena cinta itu datang bukan tanpa alasan, namun lebih kepada menuntut kesempurnaaan relatif yang tak terdefinisikan, hingga menyimpulkan bahwa tak ada alasan untuk mencintai seseorang dan membuat bibir tak ragu berkata “aku tak tahu”.

#END#

Bagaimana? Absurd? FINE! Ceritanya gj banget. Hahahha endingnya? Hahahah itu masuk gantung apa awal apa apasih gaktau. Yaudahlah babay

cropped-watermark-new.png

Iklan

3 thoughts on “[FF] The Reason

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s