[FF] Coffee

Coffee

Cast: Jeon Jungkook, Girl

Genre: nggak tau apa karena terlalu pendek

Rating: PG-13

Length: One shot

Author: Mujtahidatul Alawiyyah (Tae Hee-Da) / @Mujtahidatul_A

Disclaimer: Jungkook milik ortunya, bighit, dan saya sebagai istri juga ber hak memiliki(?)

ff3

===

Ini bukan songfic, karena emang beda sama liriknya. Beda dikit sih. Ini ff nggak niat bikin banget aduh. Nggak dapet gitu (?) untuk POV nya, itu author sama Jungkook POV. Nggak aku kasih keterangan soalnya ganggu. Wkwkkw. cekidot lah pokoknya.

===

 

Baby Baby Geudaeneun caramel macchiato
Yeojonhi nae ipgaen heudae hyanggi dalkomhae
Baby Baby Tonight…

[Baby baby, you’re a caramel macchiato
Your scent is still sweet on my lips
Baby baby tonight
Baby baby, you were warmer than the scent of a cafe latte
Do you remember that feeling?
Baby baby tonight]

Hai dulu, masih ingat siapa aku?

bukan kesan ingatanmu.

Atau siluet hitam yang menghantui.

Tapi tujuanmu.

Pria dengan balutan jaket tebal dengan snapback bertuliskan BOY dan masker hitam itu berhenti melangkah, niat jalan jalan malamnya yang aman kini terhambat pada sebuah lantunan suara yang sangat tak asing baginya, lagu dan suara itu menjadi favoritnya sekarang. Suaranya yang sedikit mendesah dengan udara yang mengepul keluar itu membuatnya tersenyum. Entahlah, rasa bangga mencuat begitu saja menimbulkan ujung bibirnya naik beberapa derajat. Pria itu menoleh ke kanan, tepat dimana sebuah kedai kopi yang sudah sepi itu menjadi satu satunya objek yang paling gemerlapan di matanya karena semua toko disampingnya sudah terlalu malam untuk ikut gemerlapan. Entah dorongan dari mana pria itu melangkah dan menaiki tangga kecil kedai tersebut. Matanya sangat awas memastikan apa yang dilihatnya, dia tersenyum masih berada di ambang pintu toko, berdiri sambil mengamati tulisan menu besar diatas meja barista. Ia tersenyum lagi, jantungnya menggedor gedor merasakan sakit yang mendalam. Entah kenapa perasaan itu menjalar terlalu tiba tiba. Antara takut akan kembali pada masa lalu indahnya ataukah bahagia meratapi keterpurukannya saat ini. Ia tak mencoba untuk mendekat pada barista, setidaknya bagi pengunjung yang baru masuk, baiknya ia menuju meja atau menuju tempat berista untuk memesan. Tapi tidak dengan pria itu yang masih menatap sendu menu menu tak bersalah itu.

Girl na debwihaesseo, i mal han madimyeon doegetji?
Eolmana seonggonghal ji sesangirang naegihaesseo
Negeman boyeojudeon nae bandal nunuseum, yojeum dasi jitgo danyeo
Nae paendeuri gunggeumhaehaejwo
A geurigo jal an masyeo makkiatto
Aljanha neo ttaeme seupgwani doen amerikano
Sagwil ttaen ige museun masinga sipeosseonneunde
Chagapgo dwitmaseun sseupsseulhan ge niga eobseunikka ijen jogeum ihaega dwae girl
Ireoke dadeul iksukhaejyeo ganeun georamyeon huhoe manheul buljangnaneul dasi seontaekhagesseo naneun
Uriui yasokhadeon yaksokdeul, sumanteon jalmotdeulgwa tto dareun jalmotdeul sai nohin mal motal jaljalmotdeul
Matbolsurok sseugiman haetdeon chueogi damgin jan
Wae deurikige doeneunji al geot gatjiman
Da ireoke saneun georan mari waeiri seulpeuji na

[Girl, I debuted, that’s enough right?
I made a bet with the world on how much I’d succeed
My half-moon eye smile that I only showed you, I’m doing it again these days
My fans are curious
Oh and I don’t drink macchiatos
You know that I started drinking americanos because of you
When we dated, I wondered what kind of taste this was
But this cold and bitter aftertaste makes sense now that you’re not here girl
If I’m gonna get used to everything like this, I would choose the full-of-regrets, playing with fire
Our heartless promises, countless mistakes and other wrongs, our unspeakable and small wounds
The glass filled with memories is more bitter as I drink it
But I think I know why I keep drinking it
Why am I getting so sad that everyone lives this way]

‘suara Rapmon hyung sangat besar’ kata hatinya setelah terdiam beberapa saat menghayati rentetan lirik lagu yang menyeret namja itu pada masa lalunya. Batinnya tersengal mengingat kencan pertamanya pada gadis yang sudah di incarnya sejak kelas satu SMP. Dan baru ia dapatkan saat kelas tiga.

“Jungkook-ah, mau pesan apa?” tanya nya antusias menawari kopi apa yang akan aku pesan, hari ini, kencan pertamaku, menghabiskan malam terakhir di kedai kopi memang bukanlah ide yang buruk.

“tapi aku tak pernah minum kopi!” jawabku enteng sembari terus melihat lihat bangunan itu dengan mata memicing. Aku memang tak pernah ke kedai kopi sebelumnya.

“bagaimana jika macchiato?”

“terserah padamu saja!”

Baby Baby Geudaeneun caramel macchiato

Yeojonhi nae ipgaen heudae hyanggi dalkomhae

Baby Baby Tonight…

[Baby baby, you’re a caramel macchiato
Your scent is still sweet on my lips
Baby baby tonight
Baby baby, you were warmer than the scent of a cafe latte
Do you remember that feeling?
Baby baby tonight]

Aku menggigiti ujung kuku. Entahlah, sesuatu yang mencengkeram jantungku saat ini masih belum bisa terdefinisikan penyebabnya dan apa itu sebuah penyakit?. Malam ini, aku berhadapan dengannya yang juga kulihat sedang menggigit ujung kuku. Apa kita terlihat begitu canggung? Sampai seorang pelayan datang dan memberikan kami dua cangkir macchiato dengan caramel yang menggiurkan diatasnya juga dua piring tiramisu brownie bars.

“kau suka macchiato?”

“suka sekali!” jawabnya antusias sambil mendongak melihatku. Ujung ujung bibirnya dipenuhi busa susu. Kenapa dia sangat lucu?

Aku tersenyum melihatnya begitu bersemangat, sepertinya aku sudah menghilangkan kecanggunganku. “kenapa?”

macchiato itu pahit, namun busa susu dan karamel diatasnya membuat kopinya terasa manis!” jawaban yang lucu. kubilang, sama seperti dirinya, caramel macchiato itu sangat manis, seperti dirimu.

“apa tak ada yang lain?”

“aku juga suka cafe latte!”

“kenapa?”

“aromanya menjadi favoritku, aku sangat menyukainya, apalagi dalam keadaan masih mengepul!” kubantah sekali lagi dalam hatiku, bahkan kau lebih hangat dari aroma Cafe latte. Percayalah.

Sejak itu, kedai kopi yang buka duapuluh empat jam itu tak pernah lewat ku kunjungi. Tentunya bersama gadisku. Dia menunjukkanku segala macam jenis kopi yang ada disitu. Bahkan sampai sekarang aku tak bisa menghaafalnya.

“kenapa rasanya begini?” protesku ketika baru saja menyeruput Liqueur Coffe dengan whipped cream dalam gelas bening besar.

“bukankah rasanya manis?” rasanya manis, memang. Tapi aku terlalu sering meminum kopi pahit pesanannya. Salah siapa?

“iya, memang manis. Lama lama enak!”

Kita sama sama tersenyum, menyeruput kopi dalam kehangatan.

Baby tonight jal jayo oneul bam
Gwaenhi dul sai eosaekhan giryuman
Heureudeon cheot munjawa cheot tonghwa
Gidaehadeon cheot mannam geunde nan wae sontomman
Mureotteudeosseulkka ginjanghaeseoyeosseulkka
Sigani heureugo jayeonseure uri dul sain
Yeonin anim aein geureon maldeullo maeil
Seororeul hwaginhago hwaginhaetji mame saegin
Uriui cheot mannameun kyaramel makkiatto
Cheoreom dalkomhaetji eodideun gachi gago
Sipdeon maeumdo sigani jinamyeonseo
Machi eseupeuresocheoreom naeryeonoke doeeosseo
Uh gwaensiri sogapeune, uh urin cham johanneunde
Ibyeoreun sseudisseun amerikano
Ajikdo chueogeun yeojeonhi geu kapero gago isseo

 

[Baby tonight, have a good night
Our first text and phone call that was filled with awkward moments
Our highly anticipated first date, why did I bite my nails? Why was I so nervous?
As time went by, we naturally developed into lovers
With those kinds of words, we checked each other’s feelings
Our first date was sweet like a caramel macchiato
Wherever we went, we wanted to go together
But as time went by, those feelings went down like dripping down espresso
My insides ache for no reason, we used to be so good
Breaking up was like a bitter americano
My memories still go to that cafe]

Yang kuingat, aku menyukai espresso yang pahit dan pekat. tapi espresso manis, manis tanpa gula sepertinya.

“lihat ini!” aku memberikan kertasku pada yeoja di depanku. Dia terheran membaik balik kertas itu. “cepat buka!”

“kau…..” reaksinya tak seperti yang ku harapkan. Di membelalak dengan mulut yang sedikit terbuka.

“iya, aku akan segera debut! Aku benar benar tidak percaya!” aku tersenyum tanpa basa basi. Tapi ia tetap mematung. Ada kaca bening di pelupuk matanya.

“Jungkook-ah!” kemudian dia pergi tanpa berkata apapun. aku berpaling dan menyenggol espresso ku. Aku melihat punggungnya yang bergetar dari jauh. Nafasku tak terarah seakan benar benar tak terima dengan apa yang ada. Aku menyakitimu?

Aku mengaduk mint coffee ku dengan kasar, melihat gadisku terus terusan menatap jendela dengan pemandangan sangat tak menarik diluar itu membuat ku risih. Aku seolah tak di perhatikan.

“bagaimana dengan kita?” tanyaku langsung pada inti permasalahan.

“kita berakhir saja!”

“tapi tak ada dendam dan kita masih berteman!”

“baiklah!”

Kemudian dia pergi seperti ucapanku adalah angin lalu. Aku menoleh, sama seperti kemarin, dia pergi dan seperti untuk menatapku selama beberapa detik saja apa terlalu menjijikkan?

Geurae maeil haru jongil ni hyanggi soge chwihadeon sijeolgwa
Seoro meon hutnareul giyakhamyeo ibyeoreul taekhaetdeon gieogi na
Neowa gachi johahaetdeon minteuhyang, keopireul meokda boni neoga saenggangnamyeo rewind
Sigani manhi jinan yojeum gakkeum niga bogopeun geon waeilkka?


[
The days when I used to be intoxicated with your scent all day
I remember we chose to break up after promising our futures together
As I drink this minty coffee that you used to like, I think of you, rewind
A lot of time passed and these days, I sometimes miss you, I wonder why?]

Pria itu masih saja berdiri dan setelah terseret lamunannya, ia sadar akan semuanya yang telah usai. Tak ada lagi gadis manisnya yang dengan cerewet mengenalkan tentang kopi dengan berseangat. Juga tak ada lagi gadisnya yang menjelaskan filosofi filosofi anehnya tentang kopi.

‘bahkan sekarang aku mencium aroma tubuhmu?’ pria itu terus terusan membatin, tak ada harapan yang terukir saat itu, hanya mengingat kenangan manis seperti caramel macchiato yang dengan tak sopannya di guyur kenangan buruk oleh espresso.

Pria itu menarik nafas kemudian udaranya mengepul melalui lubang hidungnya tak kalah ingin bersaing dengan kepulan kopi panas disekitarnya.

Pria itu memesan Americano, kemudian membawa nampannya sendiri menuju meja favoritnya bersama gadisnya dulu. Dia masih ingat dimana. Bahkan sangat ingat.

Namun pria itu berhenti, memergoki makhluk tuhan yang sangat tak asing baginya, rambut kemerahannya sekarang sudah panjang. Ia menatap jendela dengan balutan sweater merah tebal. ‘Dia sama seperti dulu, saat mengabaikanku di malam terakhir kencan kita’

Pria itu membulatkan tekad untuk mendekat, rasa rindu yang tak terbumbuhi sedikitpun amarah itu menguar dalam seluruh anggota tubuhnya. Hingga menuntun organ organnya untuk bergerak tak kendali.

‘tek’ nampan yang ia bawa tadi tepat mendarat diatas meja. Gadisnya itu menoleh keatas, tak ada sesuatu yang terlalu berlebihan untuk di ekspresikan karena kekuatan detak jantung satu sama lain saling berlomba.

“Jeon… Jung Kook?”

“hai, apa kabar?”

===

Hai dulu, masih ingat siapa aku?

bukan kesan ingatanmu.

Atau siluet hitam yang menghantui.

Tapi tujuanmu.

 

masih ingatkah?

Macchiato pertama yang kita beli?

Pahit! Namun busa putih nya adalah jiplakanmu.

Manis dan lembut.

 

Dan apa kau masih peduli?

Sekarang aku mulai dengan americano.

Merangkai puzzle lebih simpel dalam sejenak waktu tanpamu.

 

Aku tak memaksamu untuk melupakanku

Tapi fikirmu masih segan bersamaku kan?

Aku tak memaksamu untuk mencari yang lain.

Tapi hanya aku yang paling pantas denganmu kan?

Aku tak memaksamu mendekat padaku lagi.

Tapi kau tak mampu jauh kan?

Tak peduli seberapa tipis lempengan ingatanmu tentangku.

Ku tegaskan lagi. aku adalah tujuanmu.

 

Dulu, jangan tersenyum dengan matamu yang berbinar. Tatap aku dengan sendu.

Aku mengharapkan pengharapan dari mu, dulu.

Dulu. Bukan seperti kisah yang lain.

Dulu, aku adalah tujuanmu. Tapi tak sekarang.

Karena selepas cinta lalumu, tak ingkarku jika berucap tak sedikitpun terselip cinta lain yang lebih dari milikmu

 

Baby Baby Geudaeneun caramel macchiato
Yeojonhi nae ipgaen heudae hyanggi dalkomhae
Baby Baby Tonight…

[Baby baby, you’re a caramel macchiato
Your scent is still sweet on my lips
Baby baby tonight
Baby baby, you were warmer than the scent of a cafe latte
Do you remember that feeling?
Baby baby tonight]

#END#

===

Kan, beneran kan? Sebenernya mau bikin yang model goodbye summer gitu, tapi karena udah keburu buru, jadi dipersingkat banget mungkin ada bagian yang nggak jelas

 

lyric: kpoplyrics.net

cropped-watermark-new.png

Iklan

One thought on “[FF] Coffee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s