[FF] Book of Love

Book of Love

Cast: Jeon Jungkook, Lee Sangjin (OC)

Genre: nggak tau apa karena terlalu pendek

Rating: PG-13

Length: One shot

Author: Mujtahidatul Alawiyyah (Tae Hee-Da) / @Mujtahidatul_A

Disclaimer: Jungkook milik ortunya, bighit, dan saya sebagai istri juga ber hak memiliki(?)

ff5

===

Kembali lagi bersama sayaaa (?) dengan ff romance gagal dan bikin gantung diri #APA. Judulnya alay bangeeeettt…. sumpir ya buntu ide judul banget. jadi ngawur deh. Cekidot ceritanya.

===

Srek… suara gesekan kertas dan sejenisnya itu merambat cepat hingga telinga. Sepagi ini, rambut kecoklatan yang di kuncir tinggi di belakang degan sedikit anak surai yang melayang layang tak terikat sebagai poni, sudah bergoyang goyang menggeleng mengikuti bagaimana si pemilik kepala juga menggelengkan kepalanya ringan. Matanya awas seakan tak mau sedikitpun lepas dari benda kotak berlembar di tangannya. Sesekali matanya menyipit pada beberapa kalimat yang tergarisbawahi oleh otaknya sendiri. Tak sadar bahwa saat ini matahari saja masih tertutup mega kemerahan. Bunga bunga yang ada di taman tersebut juga masih berair pada permukaan daunnya. Entah hal apa yang bisa mendorongnya datang ke sekolah sepagi ini. Ya mungkin demi membaca bukunya secara sembuyi sembunyi tanpa diganggu sahabat rewelnya. Ia sedikit berasumsi bahwa jika saja sahabatnya tahu buku apa yang sedang ia baca, maka tamatlah riwayatnya.

Belum genap lima detik asumsinya itu mencuat di fikiran, aura hangat dan sejuk udara pukul lima terganti dengan aura mistis. Biasanya aura semacam ini, hanya dibawa oleh si namja yang mengaku tampan ‘ itu’. Hari hari gadis itu memang terus menerus diisi dengan aura mistis si namja. Baiklah ini sedikit berlebihan, katakan saja bahwa namja yang biasa disebut Kook ini sangat menjengkelkan, dan masuk dalam jajaran teratas nama dalam Death Note milik gadis tadi. Tapi bukan hidup namanya jika hanya memiliki satu sisi, maka si Kook pun memiliki dua sisi berbeda, kadang menjadi si penolong, si peduli,dan si perhatian. Bahkan pernah merangkap semuanya dalam satu waktu. Ia membawa nyaman dan damai. Sempat terbesit pikiran si gadis untuk menghapus nama namja itu dari Death Note miliknya, namun bagaimana bisa? Dia tetaplah namja tidak waras yang selalu tertawa disaat yang tidak tepat, tersenyum di saat yang tidak tepat pula, atau bisa dikatakan apa yang ia lakukan memang semuanya tidak tepat (sumpah ini lebay) .

Meraka sudah terbiasa dengan sikap satu sama lain, bagaimana tidak terbiasa? Hidup bertetangga seumur mereka hidup bukanlah hal yang WOW. Pagi hari, bertemu saat berangkat sekolah. Siang hari hingga sore bertemu di sekolah, malam hari terkadang satu sama lain merecoki rumah satu sama lain pula. Dan entah bagaimana caranya saat ini buku yang tadi di tangan si yeoja, berpindah kuasa menjadi berada di tangan si namja. Dan lupakan bagaimana caranya ia tiba tiba datang.

“YA! JANGAN LIHAT!”

“Aku hanya ingin tahu sebentar!” namja itu berdiri, meninggikan badannya yang jelas saja akan sulit digayuh oleh si yeoja yang tingginya hanya mencapai bahu si namja.

“YAH! KEMBALIKAN!” yeoja itu berteriak sebisa mungkin hingga telinga si namja berdengung. Tapi tetap saja tak bisa, ia menjinjit dan sesekali melompat, tetap tak bisa.

“Aku hanya ingin baca, kenapa sih?” ucap namja itu santai ketika si yeoja sudah terduduk di kursi kayu semula. Ia bersandar di pohon dengan beberapa tetes peluh yang mengalir menuruni pelipis.

“Kook, ayolaaahhh!” mohon si yeoja pada si Kook tadi.

“Tidak mau Jin!” bantah Kook yang memiliki nama asli Jungkook itu. Ia membalik balik halamannya. Masih benar benar tak mengerti sepenuhnya apa yang sebeanrnya ia baca.

“Kook!” suara Sangjin melemah mendapati Jungkook yang terlihat sangat serius membaca buku tadi. Sangjin mencoba meraih lengan Jungkook. Namun dengan cepat tangan Jungkook menghindar dan satu satunya hal yang bisa sangjin lakukan saat ini hanyalah pasrah.

Jungkook masih membolak balik isi buku itu dengan sangat serius.

“Buku macam apa ini?” tanya Jungkook yang sebenarnya tidak ditujukan untuk siapapun. Sangjin terdiam sambil sesekali melirik Jungkook. ‘yatuhan, sejak kecil ketampanannya tidak berkurang’ lamununnya. Hingga suara “YYAAAAAA” bercengkok khas Jungkook itu memecah lamunan Sangjin.

Jungkook membaca judul buku tersebut dengan terbata. Bukan terbata, lebih tepatnya disengaja untuk memperjelas detail katanya. “Tanda tanda….. Sedang Jatuh Cinta???” Judul bukunya berbahasa inggris dengan sisipan hangul di bagian bawahnya. Dan mengapa Jungkook baru menyadarinya, padahal ia sudah membaca kilas isi buku yang dominan berwarna pink itu.

“Kau sedang jatuh cinta? Pada siapa? Ya, kenapa tidak bercerita padaku? Ah, kau selalu begitu, Jin!”

Sesuai prediksi Sangjin, Jungkook memberondonginya dengan berbagai peranyaan yang membuat telinga dan wajahnya panas dan mungkin sudah memerah.

“Sebentar, kenapa kau datang sepagi ini? Bahkan biasanya setiap hari kau pasti terlambat, kan?” tanya Sangjin menyelidik dan berusaha menutupi rasa malunya.

“tadi ibumu ke rumahku, dia menitipkan pesan untukku supaya aku menjagamu. Dia bilang kau datang pagi pagi sekali, dia takut terjadi apa apa padamu. Makannya aku berangkat pagi dan mendapatimu disini.”

‘AIIIISSSSHHHHH’ Protes Sangjin sambil menggaruk kepalanya. Ia bingung mengapa ibunya selalu mempercayai si Jungkook. Hal ini memang sudah sering terjadi. ‘apa ibu tidak tahu bagaimana Jungkook. Bisa bisa aku malah tidak selamat, malah mati di tangannya sendiri’ Sangjin memanyunkan bibirnya sambil membatin untuk yang kebeberapa kalinya.

“Jin! Jawab pertanyaanku yang tadi!” bentak Jungkook yang heran melihat Sangjin yang malah hanyut dalam lamunannya sendiri.

“Tapi… tidak, aku itu hanya penasaran dengan buku itu, anu, jadi ya aku beli saja!” jawab Sangjin gelisah, jarinya sudah memainkan ujung seragam dengan sangat kuat.

“Kau tidak bisa membohongiku Jin! Aku tak suka jika kau berbohong padaku! Bahkan aku tak pernah berbohong padamu!” sekarang Jungkook lagi lagi menyerang Sangjin. Alis Jungkook menyatu membentuk garis yang tajam. Diantara alis itu terhalang sekitar tiga kerutan. Matanya memancarkan kesungguhan. Sangjin melihat mata Jungkook balik dan…

“Sebenarnya aku juga tidak tahu, Kook!” Tubuh Sangjin yang tadinya tegap melihat Jungkook, kini ia rebahkan begitu saja menyentuh permukaan pohon. Dadanya naik turun membuat pikirannya kembali melayang pada kemungkinan kemungkinan terburuk tentang perasaanya.

“ceritakan saja padaku, aku tak apa!” Jungkook mendekatkan wajahnya pada wajah Sangjin yang menutup. Kemudian sadar akan hal itu, ia menjauh.

“kan sudah kubilang aku tak tahu!”

“bagaimana bisa kau tak mengerti perasaanmu sendiri?” tanya Jungkook sedikit sarkastik.

“ya memang karena aku tak tahu! Kau tahu, ini rumit Kook!” ucap sangjin kemudian bangkit duduk tegap, namun setelah berucap, ia kembali lemas.

“baiklah, anggap saja aku memahaminya!” Sangjin bernafas lega dengan ucapan Jungkook. Setidaknya biarlah dia melupakan tentang perasaan konyol nya. Tapi reaksinya berbeda seperti biasanya. Entahlah. Karena kemarin, saat teman satu kelasnya yaitu Yugyeom bercerita tentang hal hal yang berbau cinta pada Jungkook. Dan saat itu Jungkook hanya tertawa karena menganggap bahwa itu bukan cinta, ia terlalu menganggap dirinya terlalu kecil untuk menyelami hal itu.

Jungkook masih membaca buku Sangjin dengan sangat serius. “Kook!” hingga Sangjin berucap dan sedikit menolah pada Jungkook. Hidung tumpul Jungkook terlihat apik saat itu. Alis tebalnya seakan menyembul dari kulit. Bibir imutnya komat kamit tanpa suara. ‘setidaknya dia tampan, mau tidak berguna sekalipun, yahhh… dia tidak terlalu memalukan’ batin Sangjin yang di iringi senyum tulusnya.

“menurutmu, apa kita masih terlalu kecil untuk merasakan itu?” tanya Sangjin tak langsung di perjelas. Ia memberikan tambahan kata ‘itu’ sengaja supaya Jungkook berfikir.

“tidak, sudah saatnya kita merasakan itu, Jin! Makannya kalau kau benar benar merasakannya, ceritakan padaku. Sahabat itu tempat paling nyaman untuk menceritakan hal itu” Jungkook tak menoleh sekalipun pada Sangjin. Ia terus menatap buku yang ada di depannya. Dan Sangjin kembali lemas. Kata kata Jungkook terselip desakan untuk Sangjin mengatakannya. TAPI TIDAK!.

“bagaimana kalau kau aku tes!”

“tes apa?” Sangjin membulatkan matanya, membuatnya semakin cantik dimata Jungkook.

“Tes dari buku ini!” Jungkook memukul buku tadi ringan. “pokoknya, jawab pertanyaanku!”

Sangjin tak memberikan respon lebih, ia hanya mengangguk mengikuti permainan Jungkook selanjutnya.

“Pertanyaan pertama” Jungkook memulainya. “bagaimana saat kau berada di sampingnya?”

“rasanya gemetar, kadang aku tak kuat melihat wajahya, tapi sekali melihat wajhnya, aku tak bisa lepas. Pokoknya aku sangat gemetar! Sampai aku harus menahannya dengan susah payah!”

“apa setiap bersamanya selalu gemetar?”

“iya! Selalu!” Sangjin sedikit melirik Jungkook yang daritadi melihatnya, kemudian ia menggigit bibir bawahnya.

Jungkook membuang napas kasar, kemudian melanjutkan pertanyaannya.

“yang kedua, apa yang kau harapkan dari dirinya!”

“Aku tak berharap apapun!” Sangjin menggelengkan kepalanya dengan sangat lucu.

“bagaimana kau tidak mengharap apapun dari namja yang kau sukai? Berharap memiliki mungkin, atau bagaimana?” tanya Jungkook menyelidik.

“setidaknya jika dia bisa bersamaku lebih lama tanpa harus aku memilikinya, aku sudah senang, Kook!” Sangjin membuang nafas, melihat Jungkook dengan tersenyum.

“baiklah, yang ketiga.” Jungkook melihat buku tadi dengan teliti. “siapa dia?”

“HAH? SIAPA?” jantung Sangjin seakan mau keluar dari tempatnya. Beru dua pertanyaan, kenapa harus sudah pertanyaan ‘siapa?’. “Kau jangan memaksaku, Kook!”

“ya, siapa yang memaksamu, aku melihatnya dari buku ini!”

“aku tidak mau menjawab!”

“ya, aku tidak memaksamu, tapi setidaknya ceritakanlah padaku! Jika tak padaku, kau mau bercerita pada siapa? Aku tahu kau tak punya teman dekat lagi selain aku yakan?”

“…” Sangjin menunduk namun tak mengabaikan perkataan Jungkook.

“Jin! Tak apa merasakan hal semacam itu, kita sudah cukup besar untuk merasakannya. Kau akan sakit jika terus terusan memendamnya sendirian!” kata Jungkook halus. Sangjin masih terus menunduk, dan… tes… satu kristal bening itu menuruni matanya, punggung Sangjin bergetar membuat Jungkook merasa bersalah.

“Ya! Wae?” Sangjin makin hanyut dalam tangisannya. Tak peduli ceramah ceramah yang mungkin saja sewaktu waktu bisa di lemparkan oleh mulut Jungkook tanpa peduli pada apapun walaupun mungkin salah.

“Ya! Sudah kubilang kan, ceritakan saja padaku! Tak apa! Aku berjanji, aku akan membantumu, Jin! Jangan menangis seperti ini!” Sangjin tetap tak memberi respon, ia tetap menunduk seperti awal.

“Apa No Minwoo si ketua osisi itu? Atau Park Jimin? Ketua tim basket? Aku berjanji akan membantumu! Dulu kau pernah bilang mereka tampan kan? Atau si Bad Boy Kris Wu? Dulu kau pernah bilang dia keren. Atauuu… Hwang Minhyun? Kau pernah bilang suaranya sangat indah. Atau jangan jangan Yook Sungjae? Katamu dia manis!” ucap Jungkook mencoba menebak nebak yang tentunya membuat punggung Sangjin bergetar. Dan mungkin ucapannya berhasil membuat Sangjin berdiri. Jungkook ikut berdiri menghadap Sangjin. Sangjin menatap muka Jungkook dengan mata merah dan dada yang naik turun seperti menahan amarah.

“YA! JUNGKOOK-AAAH!” Sangjin berucap denganada tinggi. Bahkan sangat tinggi.

“BAGAIMANA BISA KAU MEMBANTUKU HAH!” Sangjin menunjuk dada Jungkook sekali, dengan pipi yang masih basah. Jungkook hanya menatap Sangjin bingung. ‘kenapa dia jadi marah padaku?’

“BAGAIMANA KAU MEMBANTUKU JIKA ORANGNYA adalah kau!” Sangjin melemah pada kata terakhirnya. Sangjin menunduk lagi, pundaknya bergetar bahkan lebih parah dari tadi. sangjin menunduk dengan perasaan bercampur aduk disitu, ini adalah kali pertama ia merasakannya, dan kali pertama mengungkapkannya.

“maaf Kook, sudah kubilang kan, ini sulit!” Sangjin masih menunduk, kemudian berlari meninggalkan Jungkook yang masih berdiri mematung memandangi kuncir Sangjin yang bergerak riang. Sangat berbeda dengan perasaan pemiliknya.

Jungkook menutup mulutnya dengan jari kanan. Matanya menyipit menyembunyikan tawa, bukan tawa mungkin, itu terkesan jahat. Tapi senyum. Ia melepas tangannya yang menutupi mulut. Jungkook tersenyum membiarkan gadis kecilnya yang sedang jatuh cinta itu pergi. Sebenarnya tidak ada pertanyaan bodoh tadi didalam buku, itu semua hanyalah ulah jahil Jungkook yang terlalu penasaran terhadap apa yang difikirkan Sangjin.

Ia tersenyum sekali lagi, terus terusan tersenyum sambil memandang punggung sangjin yang makin menghilang. Ia salah, ia kurang memahami perasaan sahabat kecilnya, dia terlalu membiasakan diri dengan sikap manja dan perhatiannya dalam kedok sahabat. Tak pernah terbesit jika rasanya selama ini terbalas walaupun dengan pengungkapan yang sangat menyakiti perasaan Sangjin.

“Jin, bahkan aku lebih dulu menyukaimu!”

#END#

Hahahha…. sebenernya setelah Sangjin nyatain itu, pengennya langsung tamat, tapi kayaknya nggak deh… wwkwkwkkwkw tanggung banget. walaupun emang sekarang masih tanggung sih. Hahhahah.

Bye..

Iklan

2 thoughts on “[FF] Book of Love

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s