[FF] 6th ‘Ya!’

6th ‘Ya!’

Cast: Jeon Jungkook, Girl

Genre: nggak tau apa karena terlalu pendek

Rating: PG-13

Length: One shot

Author: Mujtahidatul Alawiyyah (Tae Hee-Da) / @Mujtahidatul_A

Disclaimer: Jungkook milik ortunya, bighit, dan saya sebagai istri juga ber hak memiliki(?)

ff2

===

Hai hai haiii….. lama sekali nggak nulis Kookies setelah tanggal 4 kemarin, hahahha. Aku lagi buntu ide komedi nih, jadi mau yang romance pendek nan nggak jelas aja dulu! Okedeh, selamat membaca.oh iya, semuanya ini ‘Girl’ POV ya… soalnya authornya nggak tau apa isi hati Jungkook (?)

===

‘selamat ulangtahun ya! Selamat ulangtahun!’ suara suara gadis cempreng di kelas dan hampir di setiap sudut sekolah tadi benar benar masih terngiang sangat jelas dalam benakku. Entah kenapa suara itu tidak bisa terlepas dan seakan menghantui, dibarengi dengan detikan jam dinding dan suara jangkrik yang mulai bermunculan. Baiklah, aku sekarang menyesal. Kuakui. Pagi tadi, seisi kelasku memberikan kejutan untuk ketua kelas. Kado perwakilan kelas dan kado masing masing anggota kelas sangat banyak ‘ia’ terima, tapi kau tahu apa yang aku lakukan saat itu? Aku hanya tersenyum dan tidak berani memberikan kadoku untuknya. Parahnya lagi, senyumanku tak terlirik sepersekian detikpun olehnya. Baiklah, kalian bisa memanggilku gadis autis atau idiot. Dan apa ada orang yang peduli apa yang gadis manis sepertiku lakukan pukul 17.15 begini? Pasti kalian tak akan percaya jika aku hanya ingin memberikan kado untuknya. Bukan bermaksud mengambil moment special –supaya tidak bersama anak anak yang lain- bukan, bukan itu, aku hanya menyayangkan kadoku jika tak kuberikan padanya. Susah payah semenjak sebulan yang lalu aku belajar merajut demi ini, dan hasilnya hanyalah kupluk warna merah dengan bulu bulu bulat diatasnya. Sekali lagi siapapun bisa mengataiku bodoh, autis maupun idiot.

Tuk tuk tuk… aku mengetukkan ujung kakiku, rasanya membosankan sekali. Bagaimana tidak, sudah lebih dari dua jam yang lalu aku hanya duduk memangku kotak kecil dengan pita diatasnya. Dan duduk di kursi depan perpustakaan tanpa beranjak sedikitpun. Bergeserpun, kemungkinan hanya beberapa milimeter. Beberapa kali aku menoleh, memastikan seseorang yang kutunggu benar benar masih ada. Bukan sedang tertidur atau sudah pulang sejak tadi. dan sedari tadi aku melihatnya yang sedang berkutat misterius dengan laptopnya. Mungkin sedang mengerjakan tugas? Atau apa? Sebentar, itu hanya hasil analisisku saja.

Berkali kali kuhela nafas panjang, kemudian disusul dengan melirik jam tanganku yang mungkin saja ia berbicara, pasti ia akan memohon “hey, jangan lihat aku terus” dan sekarang aku… permisi… ‘HOAAAAAMMMM’ menguap. Aku mengantuk!

Tek… tek… tek… rasanya kepalaku enteng sekali, semuanya gelap dan telingaku hanya mendengar detikan jam, rasanya ringaaannnn… ringaaannnn… dan ‘plak plak plak!’ aku memberikan sedikit bogeman pada pipi kanan dan kiriku. Bagaimana aku bisa tertidur disini sedangkan orang yang aku tunggu…. sebentar, mataku melebar dengan bibir yang juga melebar. Itu punggung si ketua kelaaasssssss…. EOTTOKHAE EOTTOKHAE??? Seharusnya aku tinggal berlari mengejarnya, tapi aku tidak bisa dan rasanya jantung dan otakku telah bekerjasama untuk memporak porandakan diriku yang awalnya masih benar benar waras.

“Jungkook-ssiiiiii” WAW! Kau tahu ini adalah rekor seumur hidupku karena ini kali pertamanya aku memanggil si ketua kelas dengan nama aslinya. Dia berbalik dan masih mendapatiku berlari mengejarnya. Sampai akhirnya sampai. Belum, belum sampai, mungkin berjarak dua lantai besar aku didepannya. Sungguh aku masih tidak berani memporakporandakan diriku sendiri. Lagi.

“syukurlah!” ucapnya sedikit sekali. Aku bingung. Aku masih menunduk, tapi mataku memutar keatas –ini menyeramkan-.

“syukurlah jika selama ini kau mengenal namaku” mungkin wajahku tadi bisa membuat ia menarik kesimpulan bahwa aku bingung dan ia langsung mengatakan hal itu. Aku mengangkat kepalaku sedikit dan menyunggingkan creepy smile yang canggung.

Lama aku hanya berdiri dan diam… kau tahu, dalam keadaan seperti ini mana bisa aku melakukan banyak hal, rasanya jantungku ingin mencelos keluar sekarang.

Tek tek tek… rasanya koridor sekolah ini makin menunjukkan tanda tanda malam yang menyeramkan karena tak ada suara sedikitpun dari kita.

“ada apa memanggilku?” yah, untuk ketiga kalinya aku menyuruh semua orang di dunia mengataiku idiot. Kenapa aku tidak bisa berucap sekalipun? Harusnya aku yang berucap malah Jungkook yang memancingku. Mungkin ini kali kedua Jungkook mendapatiku ling lung kemudian membuat simpulan dalam dirinya bahwa aku tak bisa berbicara? Dan perlu difikir lagi, untuk apa aku memikirkan hal ini?.

“aku… mau memberimu ini.” Aku harus rela melepas kotak kecil yang sudah lebih dari dua jam menemaniku menungguinya. Aku mengulurkan tanganku, dan tepat tangannya mengulur lurus menangkapnya. Apa jarak yang kita ambil terlalu jauh?

“yasudah, aku pergi dulu. Annyeong!”buru buru aku berlari menuju jalan keluar dari kesesatan berhadapan dengannya. Tapi belum jauh, masih sekitar dua langkah, suara besarnya memanggil

“Ya!”

Aku berbalik.

“darimana kau tahu hari ini ulangtahunku?”

“aku mendengar dari teman teman!” sku menjawabnya dengan sangat datar karena aku masih dalam zona tidak waras. Aku berpaling dan melanjutkan langkahku. Dengan santainya aku berjalan. Tak berharap terpanggil untuk kedua kalinya sebenarnya… tapi.

“Ya!”

Aku berbalik lagi.

“kenapa tidak memberikan ini tadi pagi saja?” katanya dengan masih berdiri di tempat yang sama. Sekarang nadanya sedikit naik.

“maaf lupa”

Aku berbaik lagi. Dan berjalan lagi, dan benar benar tak terfikir bisa terpanggil lagi, aku mendengar suara “Ya!” nya lagi.

“kau membuatnya sendiri?” katanya sambil menggenggam kupluk tadi dan mengangkatnya tinggi tinggi. Jarak kita sudah terbilang jauh. Dia berbicara setengah berteriak.

“Ne!” aku hanya mengucapkan satu kata yang terdiri dari dua huruf. Aku tidak tahu harus apa? Karena semakin aku menjauhi zona ketidakwarasan, maka semakin aku tidak waras. Bahkan saat ini aku bisa menemuka hukum baru.

Dan kali ini sedikit lama, aku terus berjalan menelusuri koridor sekolah yang beruntung tak ada belokan, sehingga samar samar panggilan “Ya!” keempatnya masih terdengar.

“KENAPA SUSAH SUSAH MEMBUATNYA SENDIRI? KAU BISA BELI SAJA KAN?” kau tahu, sekarang jangan pernah mengataiku idiot, tapi kau harusnya mengatai Jungkook yang idiot. Hey apa dia tidak berfikir aku ingin pulang? Jika dia mau menahanku kenapa tidak menahanku saja seperti dalam dongeng yang biasa ibuku ceritakan? Atau setidaknya berjalanlah mendekat kemudian bertanya dengan normal. Dan coba cermati baik baik pertanyaannya. Apa itu penting?.

Aku berbalik, walaupun sudah cukup jauh, tapi wajah tampannya masih bisa kutangkap. Sandainya saja aku tidak buru buru pulang tadi. aku bisa melihatnya lebih lama. Tapi sepertinya sulit juga untuk melawan tinju dari dalam dadaku sendiri.

“KARENA AKU INGIN MEMBUATNYA SENDIRI SAJA!” sekarang adil. Pertanyaan bodoh, pantasnya di jawab dengan jawaban bodoh juga kan? Aku juga tak berencana menjawabnya dengan kalimat demikian. Tapi apa boleh buat, saat ini, yang terpenting adalah sekali lagi kukatakan bagaimana aku bisa keluar dari zona ketidakwarasan.

Aku berbalik dan melanjutkan langkahku yang sedikit ku percepat. Tapi masih dalam kategori berjalan. Dan sesuai prediksi….

“Ya!” oh tuhan, ini sudah kelima kalinya. Aku dan dia sudah sangat jauh sekarang. Tapi teriakannya masih bisa kutangkap.

“APA INI SPECIAL?” teriaknya yang kuyakin, urat di lehernya sekarang sudah tiga dimensi.

“NEEEEEE” belum empat aku berbalik, dan dia berucap kembali. Aku kembali memfokusskan telingaku.

“KENAPA INI SPECIAAAL???” kenapa dia terlalu banyak bertanya? Aku memberinya kado supaya dia memakainya sudah hanya itu saja. Kenapa menanyakan hal hal yang sangat privasi begini. Jika saja aku dan Jungkook dalam jarak yang tak sejauh ini, aku berani menantangnya. Tanyakan pada seluruh gadis yang memberinya kado di hari ini apakah kado mereka special? Dan kujamin semua gadis itu serempak menjawab IYAAAAA. Dan apa yang harus ku jawab? Aku berpaling, dan tak langsung menjawab. Aku takberani memberikan alasannya sungguh. Tapi aku tak tahu bagaimana suara lantangku saat itu seakan menjadi satu satunya suara di dunia ini.

“KARENA AKU MENYUKAIMUUUUUUUUUUUUUUUUU” aku berteriak sekeras mungkin. Terserah sekarang apa yang ada di fikiranny. Aku berbalik kemudian memegangi dadaku yang seakan tertinju dengan sangat sangat tak normal, aku memejamkan mata, berharap nafas tak terkontrol ku kembali normal. Aku terus berjalan pulang. Tak ada panggilan “Ya!” nya lagi, baiklah, kuakui ini pertama kalinya aku berharap ia memanggilku. Sekali saja kumohon. Aku memperlambat langkah dan tak ada panggilan? Apa aku menerima penolakan?

Aku terus saja melangkah, dengan hati yang sudah membunyikan mantra mantra supaya dia memanggilku lagi dan….

“YAAAA!!!” tuhan mengabulkan doa ku. Aku tak berani berbalik karena sangat sangat malu memamerkan wajahku yang sudah basah. Tapi tetap saja aku berbalik, toh dia tak akan melihatku karena jarak kita yang sudah terpaut cukup jauh.

“KALAU AKU LEBIH MENYUKAIMU BAGAIMANAAAAAAAA?????” HAH! Tuhan jangan ambil nyawaku sekarang aku tidak mau. Mataku membuka lebar masih memastikan dan meyakinkan diriku sendiri apa yang di ucapkannya? Tak bisakah kisah ini seperti siaran bola di televisi, saat gol, akan di ulang ulang sehingga aku tak salah dengar.

Aku meneguk ludah dengan susah payah, kemudian kembali membalik badan. Dia tak memanggilku lagi. Cukup hanya dengan enam panggilan… dan aku akan pulang dengan membawa teriakanmu.

#END#

HAHAHHA… gantung? Ya wajar lah (?)

bye

Iklan

2 thoughts on “[FF] 6th ‘Ya!’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s