[FF] Just One Night

[FF] – Just One Night

Cast:

– Jeon Jungkook

-Lee Sangjin (OC)

Genre: romance suram

Rating: PG-12

Length: Drabble

Author: Mujtahidatul Alawiyyah (Tae Hee-Da)/ @Mujtahidatul_A

Disclaimer: Jungkook milik ortunya, OC punya saya, Setting punya saya.

===

Yuhuuuu…. hari ini masih hari dimana uts mupeng mupeng tapi nyempetin diri buat nulis. Hahaha. sebenernya ada buanyak hal hal yang emang aku udah fikirin mau ditulis. Tapi waktunya itulooohhh… susah banget cari waktu senggang buat nulis. Karena biasanya kalau ada waktu senggang dibuat fangirlingan… hahaahah…

Yaudah cekidot ceritanya…

jon

===

Bug Bug Bug… samar samar suara hantaman keras menyentuh lantai. Suaranya bergelayut menggema di daun telinga gadis yang sedang berdiri di koridor sekolah itu. Buku yang ia tenteng sekarang berpindah tempat menjadi di depan dadanya. Tangannya mengalung pada buku itu sambil melirik kanan kiri. Ekor matanya mencari cari bunyi bunyian mistis tadi, ditambah lagi sekarang matahari mulai hilang dari peradabannya, senja merah sudah menggantung di langit.

Bug Bug Bug… suara itu makin keras dan nyata, gadis tadi berputar tiga ratus enam puluh derajat dengan bertumpu pada satu ubin. Tapi beberapa detik kemudian, sekotak ubin terlewati. Dua kotak ubin didapatkannya secara perlahan lahan. Sepatu kets warna lemon chiffon itu terus melangkah mementingkan ego dan rasa penasarannya. Tanpa memperdulikan hal hal mistis, kriminal ataupun sesuatu yang menyeramkan lainnya. Kakinya terus melangkah hingga sampai di tempat dengan rajutan kawat di sekelilingnya. Hanya satu bagian yang tak tertutup. Tingginya sekitar dua meter. Gadis itu mematung memandangi pemandangan yang ada dilamnya, terpaku dan…. shock lebih tepatnya. Beberapa benda warna coklat dengan tulisan molten di sisi lengkunganya menggelinding tak tahu arah. Ada seseorang disitu. Baju lengan tiga jari khas anak basketnya basah. Rambutnya yang hitam pekat juga ikut basah. Pelipisnya pun basah. Wajahnya tak terlihat dengan jelas, ia berada dalam posisi meringkuk.

Hening dan sangat sepi. Gadis itu masih terus terusan menatap sosok itu. Ia tahu betul siapa sosok itu. Tahu sangat jelas malah. Gadis itu terus terusan menatap nanar. Mata hazelnya tak mau bergerak se desi pun. Objek yang dipandanginya sejak tadipun belum menunjukkan tanda tanda kehidupan. Glek gadis tadi menelan salifanya, membasahi kerongkongannya yang gersang mungkin. Tempo nafasnya berubah, dibarengi dengan refleks cepat tangannya yang mengusap pipi merahnya yang basah.

Sepersekian detik setelah itu, ia berlari kencang, kuncir kudanya seirama naik turun mencerminkan bagaimana kuatnya sekarang ia berlari.

“cola…. mana cola…” berbeda dengan tadi, matanya kini memberi respon cepat terhadap apa yang dihadapinya. “dingin… atau tidak… dia suka yang apa?” rutuknya bertanya tanya pada lemari pendingin toko sepertinya. Sebenarnya menimbang nimbang berat minuman ditangannya pun memang tidak perlu dilakukan unuk saat ini, namun dia melakukannya. “ah, jangan cola, mungkin jus. Dia pasti lelah dan butuh minuman yang menyegarkan!” dia mengganti cola tadi menjadi kaleng jus jambu biji ditangannya. “ah, apa lebih baik minuman berisotonik?” gadis itu menggigit kuku telunjuk kanannya. “ah, tidak. Lebih baik cola.”

Setelah lama menimbang nimbang minuman di toko dan beradu argumen dengan perasaannya sendiri, gadis itu kembali berlari dengan tiga botol minuman yang dipeluknya erat erat didepan dadanya. Kuncir kudanya kembali naik turun, namun anak surai di tepi dahinya tak bergerak sedikitpun karena peluh yang perlahan mulai turun. Dia berlari kencang menyusuri koridor sekolah menuju lapangan basket belakang. Dia terus berlari dengan background semburat mega merah yang mulai tertutup awan ungu.

Buagh… “aishhhhh” dengusnya pelan. Ketiga colanya menggelinding. Satu diantaranya sudah berhenti karena menyentuh pojok lapangan. ‘aku sudah sampai?’ beruntung hanya colanya saja yang bernasib naas. Sedangkan pemiliknya masih berdiri tegak deengan mata yang ia edarkan ke seluruh penjuru lapangan. Hingga ia bertemu pada sebuah wajah. “J-Ju-JJ-Jungkook-ssi?” Jungkook melihat nametag gadis di depannya =LEE SANGJIN=, hanya memastikan karena tak biasanya dia sekumel ini. Glek dengan sangat sadar ia menelan ludahnya, fungsi liurnya tadi bukan hanya membahasahi kerongkongan, namun bercabang menjadi meminimalisir ketukan keras dari dada kirinya. Tapi tetap saja itu tak berfungsi. Sangjin memandangi mata Jungkook yang memerah. Sangat merah dan bengkak. Ia meremas ujung seragamnya dengan sangat kuat. Merutuki dirinya karena bagaimana bisa dia seteledor ini hingga berada di depan Jungkook secara langsung dan menatapnya intens.

Tapi sungguh patut di syukuri, belum sampai ia pingsan saat itu juga, Jungkook sudah berjalan menjauh. Kecewa. Benar. Tapi tak bertahan lama. Jungkook mengambil tiga cola yang menggelinding tadi. membawanya ringan kemudian duduk sila bersandar di rajutan kawat. Sangjin mengikuti, duduk disamping Jungkook. Sebenarnya untuk melawan rasa itu memang sulit, tapi dia tidak terlalu bodoh hanya untuk membuang waktu berdua dengan pria yang diincarnya sejak dulu.

“hmmm…” Jungkook menggumam sedikit, sembari menyodorkan tangannya yang sudah terdapat cola disitu. Dan ditangkap begitu saja oleh Sangjin.

“w-ww-waeyeo?” Sangjin memulai pembicaraan dengan suaranya yang sedikit parau. Sejujurnya ia benar benar tak tega melihat Jungkook menangis separah ini.

Hening… tidak ada yang tahu apa yang ada di fikiran masing masing. Sampai akhirnya…

“kau pernah tidak, merasakan saat dimana dirimu menjadi seseorang yang paling tak berguna di dunia?”

“hoh?” Sangjin berusaha melihat wajah Jungkook dengan memalingkan wajahnya ke kiri. Yang tentunya dengan terus terusan menahan jantungnya yang ingin mencelos keluar. Namun Jungkook hanya menatap lurus ke langit yang sudah menghitam.

“pernah tidak?”

“aku? Tidak pernah!”

“kau sangat beruntung!”

“hoh? Tidak begitu juga, hanya saja saat aku merasakan hal seperti itu, aku akan berfikir tentang apa saja hal hal yang berguna bagi hidupku. Aku mensyukuri hidupku sendiri. Memangnya kenapa? Apa kau sedang berada di situasi seperti itu?”

“ya, sepertinya aku memang tak berguna!”

Lagi lagi Sangjin menoleh ke arah Jungkook. Dan tak beruntungnya, Jungkook juga sedang melihatnya. Cepat cepat sangjin mengalihkan pandangannya ke sembarang arah yang saat itu di dominasi oleh hitamnya langit pukul 18.05.

“bagaimana pria setenarmu merasa hal seperti itu? Uang? Kau sudah punya. Pandai? Bahkan kau selalu menempati peringkat kedua setelahku. Wanita? Kau kan hanya tinggal pilih. Bukankah semua yeoja di sekolah ini mengidolakanmu?” jealas Sangjin beruntut. Kalimat terakhirnya memang sangat berat dia ucapkan. Seperti sedang mengutarakan perasaannya sendiri.

“orangtuaku akan cerai besok”

“HAH?”

Jungkook menunduk. Ia memeluk lututnya. Wajahnya ia tumpukan di lutut. Sesekali pundaknya naik turun. Dia terisak. Baru kali ini Jungkook menangis dihadapan seorang yeoja dan baru kali ini juga Sangjin melihat Jungkook seperti ini.

Satu menit. Hening.

Dua menit. Hening.

Lima menit. Hening.

Jantung Sangjin seperti tertahan. Sakit dan menusuk. Melihat Jungkook seperti itu membuatnya hanyut dan tertarik dalam perasaan wanitanya. Ingin sangat mengusap beberapa butir air yang pecah dari pelupuk matanya. Tapi tak bisa. Biarlah itu akan menjadi sebuah hayalan. Bahkan saat ini, untuk menyeka airmatanya sendiri saja rasanya sudah sangat sulit. Sangjin ikut terisak.

Dengan kepala yang masih ia tumpukan pada lutut, Jungkook memutar kepala. Melihat Sangjin yang turut menangis dalam hening.

“Ya!”

Sangjin tersadar. Suara berat itu membuatnya tersentak dan jelas ia malu. Jungkook menegakkan badan kemudian menangkup kedua pipi sangjin yang mulai memanas. Jempolnya bergerak ketengah, kemudian menepi. “jangan menjadikan masalahku sebagai bebanmu. Aku tahu bagaimana menyelesaikannya sendiri” lanjut Jungkook lirih. Ia melepas tangannya. Kemudian menarik nafas berat. Ia sandarkan punggungnya pada rajutan kawat. Kepalanya mendongak dan matanya terpejam sempurna. Namun kedua tangannya masih mengalung di kaki. Sangjin menatap Jungkook dalam diam. Ia tak mengharapkan sesuatu yang lebih dari Jungkook. Cukup hanya melihatnya sedang tersenyum bahagia walaupun bukan untuk Sangjin. Ia melihat Jungkook dengan sangat intens. Ekor matanya tak lari kemanapun dan hanya berkutat pada satu wajah cerminan malaikat di depannya.

“cukup dengan syukuri hidupmu saat ini” Sangjin menggumam pelan dengan suara yang benar benar parau. Dia yakin, Jungkook mendengarnya walaupun matanya tertutup seperti sedang berada di kedamaian. “yakinlah, jika kau mendapat suatu kesedihan yang amat sangat….” Sangjin menggantungkan ucapannya. Ia tak henti hentinya melihat paras Jungkook yang sedang terlelap. “maka percayalah suatu saat nanti kau akan mendapat kebahagiaan yang amat sangat pula.”

“aku percaya” Jungkook menyahut tak membutuhkan interval waktu yang lama. Dengan tanpa merubah posisi. “tak perlu menunggu suatu saat nanti…” Jungkook mengambil nafas panjang dan sangat dalam. Kata katanya menggantung, Jakunnya bergerak keatas menandakan ia sedang meneguk liurnya. Sangjin tetap memandangi Jungkook dengan lagi lagi susah payah menahan jantungnya. “apa seperti ini? Aku sangat sangat bahagia mendapatimu menangis bersamaku dan tentunya untukku”

#END#

Kan, kan, kan… kalo aku bikin yang romance, pasti jatuhnya 1. Absurd. 2. Gantung. 3. Nggak greget gitu yah… tapi sebenernya itu bukan gantung. TAPI membuka hayalan para reader maunya ni cerita diapain biar readernya mikir sendiri #APASIH

Yaudah, sekian… tunggu postingan selanjutnya. Yang insyaAllah abis UTS kalo nggak bisa nyolong waktu (?)

iidonghae.wordpress.com

Iklan

3 thoughts on “[FF] Just One Night

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s