[Cerpen] Triangle

[Cerpen] Triangle

Hai hai haiii…. aku balik dengan cerpen. Dari judul udah tau ceritanya pasti segi tiga segitigaan (?) (mainstream banget) Sekian lama (?) nggak nyerpen 😀 niatnya ini cerita di jadiin fanfic. Tapi lagi males nyari tokoh. Jadi cerpen aja. Oke. Selamat membaca!

===

‘Aku menerimamu, namun bukan untuk dijalani’

Terik mentari pukul 2.30 siang merambat lurus indah mengenai permukaan wajah tampan laki laki yang sedang duduk di bangku taman, beberapa yang lain lebih memilih untuk mengistirahatkan tubuh mereka di rumah. Bukan membiarkan duduk menegang dengan dua tangan tertaut dan siku yang ia bebenkan pada paha. Baju abu abu putihnya sedikit basah karena terik yang begitu menyengat. Kaki kananya bergetar mengetuk rumput taman seirama. Tak lupa tangan yang sedari tadi bertautan santai kini mulai banyak bergerak risau. Alis tebalnya yang hampir menyatu itu lebih menempel lagi, hanya terhalang beberapa kerutan. Pipinya menggembung kemudian mengeuarkan udara tak terlihat.

“tumben sendiri Yon, biasanya pasti bareng sama Vano”

Suara cempreng namun lembut itu mengagetkan Dion. Hingga beberapa peluh tadi menetes sembarangan. Gadis yang mungkin ditunggu itu duduk di sebelahnya, seketika keringat panas tadi mendingin. Tidak biasanya dia seperti ini.

“ada apa Yon, kok tumben ngajak ketemu”

“nggak papa, jarang banget ya, kita berdua gini Ta!,”

Tiba tiba kalimat terakhir Dion membuat gadis yang di panggil ‘Ta’ itu membusungkan dada, mengambil nafas dalam dan membuangnya tak beraturan. Tatapan matanya kosong menerawang semak semak yang sebenarnya tak ada gunanya juga untuk dipandang. “jarang banget gimana Yon, sekalipun kita nggak pernah berdua. Mesti bertiga mulu. Gue, elo, sama Vano”. Kata Talita sarkastis. Talita tersenyum kecil, dengan pandangan mata yang masih enggan berpindah sejak tadi.

Dion sedikit memalingkan wajah, alis tebalnya kini sedikit mengendur melihat wajah sahabatnya yang tersenyum -walau terkesan memaksa. Wajah ke-arab-araban-nya kini di hiasi senyum yang tak terlalu lebar. Hanya sedikit namun itu sudah bisa membuat ketampanannya meningkat drastis.

“kadang gue kesel banget kenapa kalian kadang mandang gue kayak anak kecil”

Dion mulai diam kala beberapa kata terucap dari bibir Talita. Ini kali pertama gadis yang biasa di panggil Ita itu bercerita empat mata dengan Dion. Karena sekali lagi, mereka selalu melakukan hal apapun bertiga, kecuali jika Dion dan Vano, kadang jika tak ada Talita, mereka selalu berdua.

“Waktu istirahat, tiba tiba lo sama Vano bawain gue Cola……”

“dan lo nerima dua duanya,”

Kalimat Talita dipotong sepihak oleh Dion, membuat masing masing tersenyum.

“dan itu nggak sekali doang. Banyak. Kemaren waktu jalan jalan juga kalian gitu. Si Vano ngasih snack ke gue…..”

“dan gue bagi snack gue ke Vano?”

Untuk kedua kalinya kalimat Talita dipotong oleh Dion. Talita mengangguk pelan dan kebetulan Dion melihatnya. “kalian berdua so sweet banget. Kayak saudara kembar nggak bisa pisah”

Dion yang mendengar kalimat Talita langsung mengikik. Genggaman tangannya yang kendur ia letakkan untuk menutupi mulut yang menyembunyikan tawa yang siap untuk meledak kapanpun.

“gue masih inget banget dulu waktu gue kecil, di taman bermain, gue pernah ketemu sama anak kecil cowok dua”

Talita memberhentikan ucapannya dalam beberapa detik, membuat Dion melihan Talita tajam, pembicaraan kali ini sepertinya menarik.

“waktu itu gue di beliin mama es krim dan es krim gue jatoh. Terus ada cowok yang bawa es krim coklat. Gue masih inget banget es krimnya lonjong pasang dua dan ada dua stik. Dia matahin es krimnya jadi dua…”

Alis Dion yang tadi mengendur, kini kembali hampir menyatu dan naik di salah satu ujung. Ia terus berusaha sebaik mungkin menjadi pendengar bagi Talita.

“nggak lama setelah itu, dateng cowok kedua yang seumuran sama kita. Gue pikir dia kakaknya cowok yang pertama. Dia agak marah karena es krimnya di kasih ke gue, tapi dia nggak berusaha ngambil es krim nya lagi. Dan dia malah matahin es krimnya sendiri buat di kasih ke gue ‘kalau kamu Cuma satu, aku juga satu aja.’ Gue inget banget satu satunya kalimat yang diucapin cowok kedua tadi…”

Fiuuuh… Talita membuang nafas sedikit, mencoba melirik Dion yang sedang tidak melihatnya. “dan saat itu, gue nganggep   cowok kedua itu jahat… jahat banget sama gue, karena dia ngasih es krim bukan karena gue, tapi karena cowok pertama. Dan cowok pertama baiiiik banget karena dia tulus.”

Dion mulai memutar kepalanya sedikit hingga matanya bisa menjangkau mata Talita. “dan cowok jahatnya itu gue kan?” mata mereka bertemu. Talita sedikit mengangguk kemudian membuang pandangannya kelain arah.

“sampe sekarang, lo juga masih jahat sama gue!”

“kok bisa gitu?” nada bicara Dion sedikit naik. Punggung yang tadi lemas santai kini tegap menegang. Tegang karena dua hal. Ia terpojokkan oleh ucapan Talita. Ia terlalu meninggikan Vano. Dan yang kedua kalimat ‘sampe sekarang, lo juga masih jahat sama gue’. Oke, dari dua hal itu membuat tujuan awalnya kini sedikit mengendur.

“dulu, gue nggak percaya kalo ada yang ngomong ‘nggak akan ada persahabatan antara cewek dan cowok’ tapi….”

“GUE NGAJAK LO KESINI KARENA GUE MAU NGOMONG SESUATU SAMA LO” baiklah impas, setelah pertanyaan Dion yang tak terjawab, sekarang giliran Dion yang memotong kalimat. Mudah saja. Nadanya sedikit ia tinggikan untuk menghentikan ucapan Talita yang Dion yakini lebih lama lagi keputusannya untuk mengatakan ini akan surut.

“mau ngomong ap…”

“TAA, YOON! Teriak suara laki laki dari kejauhan, suaranya memang kecil, tapi jika saja dia tidak tumbuh dewasa, maka mungkin suaranya bahkan lebih kecil dari ini. Entahlah hari ini banyak sekali aksi aksi pemotongan kalimat.

Wajah yang tak asing bagi mereka itu perlahan mendekat, memperlihatkan mata sipit dan alis yang tipis. Sangat berbeda dengan milik Dion.

“yah, kalian berdua disini, gue cariin lo kemana mana nggak ada Ta,”

“ada apa emang Van?,”

Vano menggigit bibir bawahnya sedikit. Ia menenangkan jantungnya yang tiba tiba berlebihan dalam memompa darah. “gue mau ngomong sesuatu sama elo”

“apa perlu gue cabut dari sini?” tanya Dion santai walaupun dia menyesal mengatakan hal itu. Namun untunglah dewi Fortuna masih berpihak padanya saat ini. Ia merasa beruntung setelah mendengar kalimat “nggak usah Yon, biar lo juga tau”.

masih dalam posisi berdiri Vano mengatakannya. “Gue suka sama elo Ta!,”

GLEK… Semua menelan ludah. Buru buru Talita menatap Vano tajam dan sedikit tak percaya. Yup benar, ternyata memang mustahil adanya persahabatan antara laki laki dan perempuan. Belum lama Talita melihat Vano tak yakin. Kemudian suara besar yang menemani pendengarannya sejak tadi ikut bersuara. Mata Dion memanas.

“yang mau gue omongin tadi Ta, gue suka sama lo!,” dan pandangan talita beralih menatap Dion, kemudian menatap mereka berdua bergantian dengan perasaan aneh yang membuncah. Tak ada satu katapun terucap pada saat itu. Bahkan hembusan angin yang halus saja masih bisa terdengar. Nafas masing masing dari mereka memburu. Perasaan marah, lega, kaget, tak percaya, semua ada dalam lingkaran setan itu.

“Yon…” Berat Vano mengucapkan rangkaian tiga huruf itu. Vano menatap Dion dan Dion pun balik melakukannya. Mata masing masing diantara mereka merah dan memanas. Sampai akhirnya airmata salah satu diantara mereka hampir pecah. Vano berlari meninggalkan Talita dan Dion. Dia tak tahu lagi apa yang harus dilakukan setelah ini. Begitu pula talita yang hanya menunduk kaku. Tidak ada air mata. Hanya saja nafasnya yang mulai tersengal.

“Ta, sorry”

“gue yang harusnya minta maaf. Gue dateng malah jadi perusak antara kalian”

“nggak gitu Ta,”

Hening. Sampai berlangsung sangat lama. Masing masing masih menenangkan pikiran. Masing masing berusaha menenangkan yang lain. Dan masing masing memikirkan 3 fikiran. Dirinya sendiri, dan kedua sahabatnya.

“apa lo nggak bisa milih Ta?,”

“nggak bisa Yon”

“gue yakin lo nggak akan suka sama kita berdua” kalimat Dion terhenti. Ia sedikit mengambil nafas “dan gue yakin lo juga nggak mungkin nggak suka sama kita berdua”

Dion menelan saliva dengan susah payah. Beberapa deru nafas mereka sejak tadi beradu dan saling bersahutan.

Talita mengangkat kepalanya, berusaha mencari wajah Dion di sampingnya. Matanya seakan membenarkan kalimat Dion. Dion benar benar meyakini itu.

“disini…” Airmata Talita mulai menggenang. Tangannya menunjuk nunjuk dada kirinya sendiri. “ada Dion”

Talita mulai susah untuk berucap lebih banyak lagi. Dion dengan mata yang sudah tajam itu lebih ia tajamkan menilik. Yang tentunya dengan nafas yang belum bisa kembali normal.

“Gue nerima elo, tapi bukan untuk dijalanin”

#END#

Ha ha ha *ketawa setan* sorry buat temenku yang req nama ni cerpen sama namanya sendiri aka ITA. Namamu tak panjangin dikit. Wkwkwkwk

Maaf kalo kurang bisa dimengerti. Wkwkwkwk dadaaah

nametag

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s