[FF] Shoot Me

Cast:

– Jung Ilhoon
– Lee Sangjin (OC)

Genre: teenlit, romance

Rating: PG-15

Length: Ficlet

Author: Mujtahidatul Alawiyyah (Tae Hee-Da) / @Mujtahidatul_A

Disclaimer: Setting punya saya, Ilhoonnya punya orangtuanya.

PicsArt_1388114265080

=====

Aku melangkahkan kaki pelan sekali. Satu langkah bahkan tak lebih dari 10 centi. Kesepuluh jariku memainkan ujung ujung seragam sekolah. Dengan tatapan tekad mataku membidik satu sosok yang sedang tidur pulas. Nafasku memburu seperti sedang bertempur. Beberapa udara berbondong bondong masuk lewat mulutku, sesekali aku menelan ludah dengan susah payah. Entahlah, kali ini aku benar benar seperti prajurit yang siap tempur. Beberapa menit berlalu, sedikit lagi kakiku sampai didepan sosok itu. Namun… Teeeettt… ‘SIAAAAAAALLL’ Umpatku dalam hati. Jika saja hati bisa bersuara, mungkin umpatanku terdengar hingga ke seluruh penjuru sekolah. Sosok itu menggeliat sedikit kemudian mengucek matanya. Mulutku komat kamit sebagian mengumpat, sebagian lagi meluweskan rentetan kalimat yang sudah aku persiapkan sebelumnya. Dia beranjak dari tempat duduknya, berjalan santai tak mengindahkan kehadiranku.

“Ilhoon sunbae!!! Tunggu dulu!” aku berlari kecil hingga tepat berada dibelakangnya. Dia berbalik dengan cepat ‘kenapa harus sedekat ini?’ aku sedikit mundur, hanya sedikit, sedikit saja karena jujur saja aku tidak menolak berada di posisi ini.

“boleh aku mengatakan sesuatu?” ujarku gemetar. Bahkan atmosfer sekitar lebih beringas lagi untuk masuk ke rongga hidungku.

“katakanlah!” aku mendelik. Namja terpopuler di sekolah, terdingin di sekolah, terpintar di sekolah saat ini sedang berbicara denganku? Melihatku dengan senyum menawannya? Tolong jangan ijinkan aku pingsan seperti cerita dalam drama, kemudian Ilhoon sunbae menolongku, membawaku ke UKS, kemudian dia jatuh hati padaku. Oh sungguh aku tidak menginginkan cara yang seperti itu, sudah terlalu mainstream! -_-

Beberapa detik setelah khayalan konyol tadi tampil perdana dalam otakku, dua tangan mengibas ngibas pelan didepan wajahku. Apa aku sedang berada di UKS? “hey, apa yang mau kau katakan?” oh bukan, ini atap sekolah bukan UKS! Sejak kapan otakku tidak waras begini?

“kau pasti tidak mengenalku? Aku tahu! aku mau berkata, tapi setelah itu jangan membenciku atau mencampakkanku, atau mengindariku, bersikap biasa saja! Aku hanya ingin mengatakannya supaya kau tahu. Hanya ingin itu, tidak ada tujuan lain.” Penjelasanku sungguh mengulur waktu, bahkan Ilhoon sunbae terlihat tergesa untuk masuk kelas. Ya tapi apa peduliku, ini lebih penting! Antara hidup dan mati. Hanya bagiku. Aku sedikit bernafas menenangkan diriku sendiri. Aku menunduk, menutup mataku rapat rapat sambil menikmati jantungku yang sedang berubah fungsi menjadi bedug masjid, detaknya terlalu cepat dan kencang.

“aku tahu ini konyol, tapi aku menyukaimu!” aku mengangkat kepala, wajah tampan Ilhoon sunbae begitu mencolok, tidak ada yang lebih indah selain wajahnya. Untuk saat ini. Aku berfikir, apa kalimat yang selanjutnya aku katakan? Aku melupakan semuanya, teks satu baris yang kubuat dalam 5 jam semalam, seakan menguap. Aku diam saja, kulihat raut muka Ilhoon sunbae yang standar. Tidak ada raut keterkejutan atau meremehkan. ekspresinya standar sangat standar dan datar. Oh baiklah, mungkin pernyataan yang semacam itu sudah biasa berlalu lalang di telinganya yang kini memerah? Berbagai jenis pernyataan seperti itu mungkin sudah banyak diungkapkan yeoja yeoja di sekolah, mulai dari yang kelas atas sampai yang biasa biasa saja.

Aku menunduk pesimis, dia tidak merespon apapun dan tetap mematung ditempatnya. Namun aku teringat satu satunya sesuatu yang aku banggakan untuk mengatakan ini. “aku menyukaimu sejak pandangan pertama, sejak kau menjadi kakak pendamping di kelompok orientasiku kemarin!” ah, itu bukan sesuatu yang patut dibanggakan, menyukai Ilhoon sunbae pada pandangan pertama? Itu menggelikan Lee Sangjin! Bahkan sudah berapa banyak yeoja yang juga menyukai Ilhoon sunbae pada pandangan pertama. Lagi, aku melakukan sesuatu yang sudah terlalu mainstream. Sama sekali bukan gayaku. Cinta pada pandangan pertama, cih aku ini hidup di tahun berapa. Tapi entah mengapa ada suatu kebanggaan terselip saat aku mengatakannya, yah walaupun sekali lagi kukatakan sudah terlalu mainstream.

Cukup aku bingung sendiri dengan apa yang aku lakukan selanjutnya, tidak mungkin jika aku harus ikut mematung seperti orang didepanku sekarang. Sedikit kesal memang, namun kelegaanku lebih dari rasa kesalku.

“sudah, aku permisi dulu! Maaf jika mengganggu!” aku sedikit menunduk, lalu melangkahkan kaki kanan, kemudian belum sempat kaki kiri menapak sebuah tangan besar mencengkeram lenganku. Dalam situasi seperti ini, kenapa si jin jin penunggu sekolah berulah berlebihan? Membuatku besar kepala membayangkan tangan kekar ini adalah milik Jung Ilhoon. Kurasakan bulu kuduk tengkukku menegang. Beberapa deru nafas Ilhoon sunbae menyapu leherku. Bahkan aku baru sadar bahwa seseorang yang ada disampingku adalah JUNG ILHOON!!! Bahu kami saling berpapasan. Kurasakan kepalanya mendekat. Aku tak berani menoleh, bisa bisa kami melakukan… Omo! Bahkan fikiranku sekarang sudah terombang ambing.

“kapan kapan, datang lagi padaku, ucapkan itu sekali lagi, tanpa embel embel pandangan pertamamu itu.” suaranya pelan sekali, terdengar mendesah. Untung aku tidak terbuat dari es. Jika begitu, mungkin aku sudah meleleh. Bulatan hitam dimataku kuputar hingga ke ujung, kulihat Ilhoon sunbae sedang menjauhkan kepalanya. Ia tersenyum sangat manis membuat bibirnya tertarik ke samping, gemas sekali melihat pipi chubby-nya. Dia berbalik, sedikit demi sedikit menjauh. Aku masih mematung, apa yang tadi itu benar benar Jung Ilhoon? Atau setan penjaga sekolah yang sedang mengerjaiku?. Kulihat punggungnya makin menjauh, langkahnya terhenti. Ia menoleh padaku? Senyumnya masih bisa ku tangkap dari kejauhan.

“secepatnya ya!” ucapnya setengah berteriak dari seberang. Aku mengangguk lemah, sedikit berfikir juga. Kemudian ku stop pikiranku tentang apa yang baru saja terjadi. “huaaa aku harus masuk kelas!”

*

Sudah hampir seminggu aku menebak teka teki yang diberikan Ilhoon sunbae. Bukan teka teki sebenarnya, hanya sebuah perintah yang mengandung teka teki -_-. Aku berguling ke kanan, berhenti sejenak kemudian berguling ke kiri, berulang kali kulakukan seperti itu sembari berfikir. Membuat kasur putihku kusut saja. “Kalau suka pada pandangan pertama, pandangan pertamanya dibuang berarti hanya tinggal sukanya saja.” aku menggumam sambil menatap langit langit kamar. Dan ya! Aku langsung berdiri turun dari kasur. Kakiku melangkah tak tahu arah, tanganku menunjuk nunjuk bak seorang penunjuk jalan.

“mungkin maksudnya Ilhoon sunbae tidak suka jika ada orang yang menyukainya pada pandangan pertama. Tapi kenapa? Bukannya harusnya dia bangga jika baru pertama melihat ia sudah disukai orang lain. Tanpa melakukan apapun? Tapi itu kan tidak mungkin!” aku sedikit menurunkan kacamata biru full frameku, dahiku bergetar, kedua alisku naik. Langkahku terhenti “mana mungkin mengaku suka padahal tidak mengerti apa apa? Berarti selama ini aku bukan menyukai Ilhoon sunbae begitu? Hanya mengagumi? Tidak begitu!” aku kesal sendiri dengan analisis bodohku. Beberapa kali kakiku menghentak lantai. Aku menggaruk rambutku dengan kasar.

“tapi aku kan tidak begitu!”

*

“kapan kau kembali dan mengatakannya lagi?” suara suara otak frustasiku menggema di pinggiran sungai han. Aku terus memejamkan mataku, enggan untuk membukanya, walaupun dengan bangganya sungai han menyodorkan keindahannya tetap aku malas dengan semua itu.

“padahal aku sudah menunggumu!” lagi lagi suara hatiku seakan keluar hingga menerobos telingaku. Cukup selama tiga bulan ini aku frustasi dengan Ilhoon sunbae, sekarang aku mau menenangkan diriku. Sebenarnya sudah lama aku ingin mengatakannya lagi, tanpa embel embel pandangan pertama seperti perintahnya. Tapi aku sudah tahu kenapa Ilhoon sunbae menyuruhku melakukannya. Dan sungguh aku malu jika harus mengatakannya. Kenapa dulu harus ada embel embel kalimat tidak penting itu? Rasanya malu sekali jika aku mengatakannya lagi.

“apa kau tidak menyukaiku lagi? Makannya tidak mau mengatakannya lagi.” kali ini suaranya begitu nyata. Ini bukan suara hati atau suara otak. Ini suara manusia nyata. Aku mengangkat kepala. Sedikit demi sedikit memutar kepalaku hingga mataku membelalak besar. “Ilhoon sunbae?” aku memastikan pandanganku. Dia terlihat begitu tampan dengan baju casualnya. Kaos dalam putih dengan cardigan hitam lurik, juga celana jeans hitam menambah kesan santainya. Rambut hitam berponinya masih bertengger sebagai mahkotanya. Aku suka bagian itu. Kulihat matanya yang menyipit dan bibirnya yang memanjang kesamping ‘dasar manusia tampan!’ aku hanya bisa mengumpat melihat ukiran tuhan yang sangat indah itu. Ilhoon sunbae juga sangat baik, walaupun terlihat dingin tapi menurutku tidak karena saat aku menguntitinya dia sangat baik dan ramah.

“tega sekali kau itu, padahal aku sudah menunggu!” pujianku padanya terpotong oleh ucapannya. Apa? Apa dia bilang? Menunggu? Kenapa dia menungguku? “aku malu mengatakannya lagi.”

“kenapa harus malu? Hebat sekali ya! Padahal dulu tidak ada kata malu sedikitpun.” yah yah yah orang ini sudah membuat pipiku memanas.

“aku malu dulu dengan bangganya aku mengatakan menyukaimu sejak pandangan pertama. Padahal itu kan tidak ada!”

“Berarti kau sadar bahwa kau hanya mengagumiku?”

“pertama aku mengetahuinya, sepertinya begitu. Tapi perasaanku tetap seperti dulu, tapi mungkin kadarnya semakin naik. He he he” aku menggaruk tengkuk, sekarang aku kembali seperti dulu, tidak tahu malu. Aku tidak tahu persis bagaimana wajah Ilhoon sunbae sekarang, tapi kudengar tawa kecilnya. Yah, baiklah dia menertawakan ke-tidak-tahu-malu-an-ku.

“kau tahu kenapa aku suruh kau kembali lagi dengan syarat itu?”

“aku tahu, tapi hanya menebak nebak.”

“apa itu?”

“karena tidak ada yang namanya suka pada pandangan pertama, pandangan pertama itu semacam apa yang membuat kita kagum saat melihat sesuatu pada pandangan pertama itu. Rasa kagum atas penampilan mungkin, bukan perasaan cinta! Tidak pernah ada cinta yang tumbuh hanya karena melihat penampilan saja! Itu bukan rasa cinta, tapi kagum! begitukah? Aku benar tidak?” penjelasanku mungkin sangat rumit untuk dipahami, aku menoleh ke Ilhoon sunbae. Kulihat jempol dan jari tengahnya menyentik dan separuh bibirnya naik.

“kau tahu, dari banyak yeoja yang menyatakan perasaannya sama sepertimu, hanya kau yang aku suruh kembali!”

“wae? Mungkin aku terlihat paling bodoh diantara mereka?”

“hahaha… Termasuk itu mungkin. lalu? Kapan kau mengatakannya lagi?”

“hmmm… Secepatnya! Pasti! Aku akan mengatakan…” kalimatku menggantung, aku menegakkan tubuh, membenarkan posisi duduk, juga sedikit mengusap rambut. Dadaku membusung memproduksi karbondioksida terlalu banyak. Kubelalakkan mataku hingga berbinar, senyum tipis juga tak lupa kusunggingkan. Mataku menatap dalam hamparan air didepan seakan sedang memandang wajah Ilhoon sunbae. Ani! Ini hanya perumpamaan dan aku sudah hampir tak bisa bernafas. Tenanglah Lee Sangjin! “ekhm ekhm” “Ilhoon sunbae! Neomu Joahae! Saranghae!” suaraku kubuat besar layaknya namja impian yang sedang menyatakan perasaannya pada yeojanya. AAAAAAHH… Itu namja pada yeoja! Bukan yeoja pada namja! Aku memang yeoja yang ke-namja-namja-an.

“itu kau sudah mengatakannya?” Oh, kali ini wajah Ilhoon sunbae dibuat tanpa dosa! Apa salahku ya Tuhan, diberikan perasaan ini untuknya. -_-

“ah, ani! Ani! Itukan hanya contoh! Nanti kukatakan lagi saat sekolah!”

“sepertinya kau tidak perlu mengatakannya lagi!”

WHUUUTTT!!!!! Dia sendiri yang menyuruhku mengatakannya, sekarang dia juga yang menyuruhku membatalkannya. Jung Ilhoon, apa manusia ber-spesies mendekati sempurna sepertimu pada dasarnya bersikap seperti ini? Tidak tidak, kau orang baik.

“WAEEE?????” terlambat sudah, terlambat~ responku terlambat! Berjarak beberapa menit untuk aku berteriak dalam hati. Lalu kenapa aaaahhh… Manusia pemberi harapan palsu! Aku menunduk,mengatur nafasku yang semakin lamban lamban, dan untung aku tidak sampai mati. Dan Tes! Ah, apa ini? Benda putih bening berada di tanganku. Tapi sungguh ini bukan kotoran burung atau gerimis! Betapa malunya saat ini aku menangis? Yeoja perkasa separuh idiot separuh ke namja-namja-an kini menangis! Tapi mau bagaimana lagi! Kalau pada akhirnya dia hanya mengatakan ini tolak saja aku dari awal! Walaupun tak ada yang lebih baik.

“Uljima!” dua jari dalam satu tangan menyentuh daguku pelan. Apa di sungai Han juga banyak hantu? Atau ini hantu sisa di sekolah yang jahil hingga mengikutiku sampai sini? Dua jari itu menarik kepalaku untuk menoleh ke kiri. Ya Tuhan! Kenapa ada makhluk semacam ini! Semacam yang bagaimana? Ya seperti Jung Ilhoon.

“jangan mengatakannya lagi!” kalimatnya terhenti. mau apalagi dia? Mau memperjelas penolakannya. Punggung tangannya mengusap pipiku pelan sekali. Namun airmataku malah sangat pintar. Tidak mau berhenti berproduksi. Seakan faham pada pemiliknya bahwa aku ingin berlama lama menikmati momen seperti ini. “karena….” Ucapan Ilhoon sunbae menggantung seiring dengan tangannya yang melorot dari wajahku. Oh, ada ‘karena’nya? Berarti perkataannya yang tadi belum selesai. Tapi sekarang kalimat selanjutnya antara mau memperjelas penolakannya, atau membatalkan ucapannya. “karena aku yang akan datang padamu dan mengucapkan, Lee Sangjin! Neomu joahae! Saranghae!”

“WHUUUUTTTT” aku membekap mulut kuat kuat. Ku fikir yang itu suara hati, ternyata mulutku yang mengeluarkannya. Betapa malunya! Kulihat Ilhoon sunbae sedikit tersenyum.

“bagaimana? Mau jadi yeojachinguku tidak?” Yah, ada apa ini? Jangan sampai yang ada didepanku ini setan sekolah yang sedang mengerjaiku! “katakan padaku kalau ini dunia nyata dan kau adalah Jung Ilhoon!” tanpa sadar aku mengatakan itu, dengan mata yang masih melotot. Bola mataku mungkin hampir keluar.

Cup~ Sebuah benda mendarat pelan juga sangat sebentar di dahiku. Wajah Ilhoon sunbae masih dekat dengan wajahku. “aku Jung Ilhoon” bisiknya pelan sekali. Suara semacam ini! Suara namja impianku WAAAAAHHH…

“bagaimana? Mau tidak?”

“harusnya kau yang menjawabnya! Kan aku lebih dulu mengatakannya!”

“tapi aku kan namja! Kau yang harus menjawab”

“kau saja!”

“kau saja!”

“kau”

“kau”

“KAU!”

“KAU!”

“WAKAKAKAKAK” kami tertawa bersama setelah terjadi tindak anarkis (?) kecil tadi. Ah, aku percaya setelah ini kita akan menjadi pasangan somplak, awkward, aneh, semuanya. Oh apa? Kita? Pasangan? Kulirik Ilhoon sunbae yang merentangkan tangannya. Kusambar badannya dengan badanku. Ia mengunciku dalam pelukannya.

“saranghae!”

“nado saranghae!” Entahlah! Semua ini sulit diterima. Tapi coba pikirkan tentang ‘Nothing Love at the First Sight’

##end##

Selesaiii… Ini padahal cuma drabble tapi bikinnya lebih dari 3 hari. Ya! Maklum authornya plin plan. Kalo ada ide bikin ff, ff yg lain terabaikan. Terima segala jenis komen yang bermanfaat. Wassalmualaikum. Wr. Wb.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s