[FF] Tulip (Insane) – Chapter 3

#3 ╱╲╱insane╲╱╲

☆☆☆
Minhyun memetik senar gitarnya dengan semangat. Kurang dua bait lagi lagunya akan selesai. Ia duduk di balkon kamarnya yang berada dilantai dua. Duduk bersila sambil sesekali menghadap langit dengan bintang yang tampak sebagai motif. Sampai akhirnya tangan besar menepuk pundaknya dan mengambil posisi disamping Minhyun.
“bagaimana rasanya memeluk seorang yeoja?” tanya suara besar itu yang tak lain adalah milik Aron. Terang saja Minhyun langsung berfikir ‘darimana dia tahu?’
“ayolah! Ceritakan pada hyungmu ini!” desak Aron lagi. Dan itu makin membuat Minhyun ingin bercerita.
“saat aku meraih pundaknya, rasanya gemetar sekali hyung! Jantungku tak karuan!” selesai Minhyun berucap, Aron malah tertawa terpingkal pingkal. Minhyun hanya bisa memandang bingung campur heran. Hyungnya itu selalu begitu. Tertawa disaat yang tidak tepat. Setelah mengatur nafasnya sendiri, Aron berdiri kemudian menepuk nepuk pundak Minhyun. “ingat kataku dulu ya!” kemudian Aron pergi dari kamar itu. Pikiran Minhyun langsung terpusat pada kalimat yang sampai saat ini membuat Minhyun bingung namun sekaligus sedikit membenarkan untuk saat ini. Ia mengingatnya kembali sambil senyum senyum tak jelas.
‘sampai saatnya nanti kau akan didewasakan oleh seorang wanita!’
☆☆☆
Pagi pagi, Minhyun sudah menjemput Sangjin dirumahnya. Semuanya terlihat biasa saja hingga mereka sampai kelas, Minhyun menyadari bahwa mata Sangjin sembab dan ada kantung hitam dibawah matanya.
“matamu sembab? Kenapa?” tanya Minhyun saat mereka sudah duduk dibangku. Mata Minhyun membulat menanyakan hal itu. Semburat kekhawatiran muncul begitu saja disela sela garis wajahnya.
“ani! Tidak apa apa!” Sangjin memalsukan seringainya. Berharap Minhyun juga bisa tersenyum.
‘apa sisa yang kemarin? Hah! Kemarin?’ Minhyun senyum senyum sendiri mengingat kejadian itu.

Teet. . . Teet. . . Mata Minhyun berbinar mendengar bel istirahat yang sebenarnya seringkali ia dengar. Namun kali ini berbeda. Minhyun langsung berdiri kemudian menyambar tangan Sangjin. “ayo!” Minhyun terus menggandeng Sangjin menyusuri koridor sekolah. Sudut kaki Minhyun besar besar sehingga membuat Langkahnya begitu cepat. Sangjin sampai berlari kecil di belakang Minhyun. Tentunya dengan tangan yang masih bertautan. Sesekali Sangjin melirik tangan dinginnya digenggam hangat oleh Minhyun. Pipinya merona melihat kejadian sederhana namun indah itu.
nan salam-iya. deulgo songalag-i nae son-eul ttatteushagehabnida.
Aku seorang lelaki, Ingin menggenggam jemarimu dengan tangan hangatku.
Akhirnya sampailah mereka ditempat yang sepertinya sudah menjadi markas bagi mereka. Minhyun langsung duduk bersila kemudian memangku gitarnya. Disusul dengan Sangjin yang juga duduk bersila disampingnya.
“aku sudah menyelesaikan lagunya!” Mata Minhyun membelalak semangat dengan ucapannya sendiri. Sangjin hanya bisa membalasnya dengan senyum seadanya. Entah dia tidak bisa fokus hari ini. Pikirannya melayang entah kemana. Maklum saja semalam Sangjin membantu eommanya untuk merangkai pesanan bunga yang begitu banyak. Berkali kali mata Sangjin berusaha menutup dan kepalanya yang sedikit demi sedikit menunduk. Tapi semua itu tidak boleh terjadi. Bagaimana ia bisa melewatkan lagu yang ditampilkan perdana ini!
Jreng Jreng Jreng. . . Baru awal intro, genjrengan gitar Minhyun sudah bertenaga dan kuat. Kemudian selang tiga detik genjrengan itu mulai lembut. Sangat lembut hingga akhirnya tak terdengar.
Baby, naega geobjaeng-iyeossda. naneun yong-giga-eobsneun salam-iya. nan danji meolliseo bol su iss-eossda. simjieo han dangye tteol-eojyeoiss-eo. . .
Baby, 내가 겁쟁이였다. 나는 용기가 없는 사람이야. 난 단지 멀리서 볼 수 있었다. 심지어 한 단계 떨어져있 어. . . Baby, aku adalah seorang pengecut aku ini lelaki tanpa nyali Aku hanya bisa melihatmu dari jauh Tak berani mendekat walau hanya selangkah. . .

Mata Minhyun menutup perlahan mengikuti feelingnya mengartikan dan menghayati lagu itu. Kepalanya bersandar santai. Lembut sekali Minhyun menyanyikannya. Lirik lagu bikinan Aron, Sangjin, dan Minhyun itu dibuat Minhyun menjadi lagu sendu. Suaranya mendayu dayu dan terkadang terdapat desahan ringan disetiap kalimat dibait terakhir.
Baby, naega geobjaeng-iyeossda. neukkim-eul byeonhwan hal dulyeowo namja. nan danji ganglyeoghan ganglyeoghan gaseum-eul boyu hal su issseubnida. jasin-edo bulguhago mal-eul salang-eul gamhihaji anhseubnida. . .
Baby, 내가 겁쟁이였다. 느낌을 변환 할 두려워 남자. 난 단지 강력한 강 력한 가슴을 보유 할 수 있습니다. 자신에도 불구하고 말을 사랑을 감 히하지 않습니다. . .
Baby, aku adalah seorang pengecut. Lelaki yang takut menterjemahkan sebuah perasaan. Aku hanya bisa memegang dadaku kuat kuat. Tak berani mengatakan cinta walau pada diriku sendiri. . .
Sangjin memegangi dada kirinya. Suara lembut itu sudah membunuhnya secara tidak langsung. Matanya menutup rapat sekali. Seluruh indranya ia fokuskan pada suara Minhyun. Walaupun terkadang Sangjin harus sedikit tertunduk karena menahan kantuk.
genjrengan gitar Minhyun mengalun lebih cepat. Nadanya hampir menyerupai nada saat intro lagu. Setelah empat ketukan, yang kelima suara itu kembali mengalun.
nan salam-iya, deulgo songalag-i nae son-eul ttatteushagehabnida. nae eomji songalag-eulo nunmul- eul dakk-ahalyeoneun dangsin-ui jangsoleul sug-igo nae eokkaeleuljugo sipda. dangsin-i ulgoissneun gos-eulo nae ma- eum-euljugo sipda. dangsin-i salanghaneun nae ma-eum- euljugo sipda. hajiman nan museowo, jeongmal museowoyo! 난 사람이야, 들고 손가락이 내 손을 따뜻하게합니다. 내 엄지 손가락으 로 눈물을 닦아하려는 당신의 장소 를 숙이고 내 어깨를주고 싶다. 당신 이 울고있는 곳으로 내 마음을주고 싶다. 당신이 사랑하는 내 마음을주 고 싶다. 하지만 난 무서워, 정말 무 서워요! Aku seorang lelaki, Ingin menggenggam jemarimu dengan tangan hangatku. Ingin mengusap air matamu dengan jempolku, Ingin memberi pundakku untuk tempatmu bersandar. Ingin memberi dadaku untuk tempatmu menangis. Dan ingin memberi hatiku untuk kau cintai. Tapi aku takut, aku sungguh takut!
Telinga Sangjin mendengar bagian lagu yang sepertinya reff itu. Otaknya berfikir keras dengan setiap liriknya. Kemudian ia tersenyum singkat saat mengerti lirik yang kemarin ia buat menjadi bagian utama dalam lagu itu.
Baby, naega geobjaeng-iyeossda. jeoege dangsin-eul salanghandagohaneun gajang joh- eun bangbeob-eul boyeojuseyo, nan dangsin-eul dolbwahaneun bangbeob-eul boyeojuseyo, dangsin-eun naega dangsin-eul eolmana salanghaneunji naui wanbyeoghago modeun jag-eun gyeolham-eul boyeojwo
Baby, 내가 겁쟁이였다. 저에게 당신 을 사랑한다고하는 가장 좋은 방법 을 보여주세요, 난 당신을 돌봐하는 방법을 보여주세요, 당신은 내가 당 신을 얼마나 사랑하는지 나의 완벽 하고 모든 작은 결함을 보여줘.
Baby, aku dalah seorang pengecut. Tolong tunjukkan aku cara terbaik untuk mengatakan cinta padamu, Tolong tunjukkan aku bagaimana aku harus menjagamu, Tolong tunjukkan aku bagaimana aku mencintaimu, Dengan sedikit kesempurnaanku dan segala kekuranganku.
Baby, naega geobjaeng-iyeossda. neukkim-eul byeonhwan hal dulyeowo namja. nan danji ganglyeoghan ganglyeoghan gaseum-eul boyu hal su issseubnida. jasin-edo bulguhago mal-eul salang-eul gamhihaji anhseubnida. . .
Baby, 내가 겁쟁이였다. 느낌을 변환 할 두려워 남자. 난 단지 강력한 강 력한 가슴을 보유 할 수 있습니다. 자신에도 불구하고 말을 사랑을 감 히하지 않습니다. . .
Baby, aku adalah seorang pengecut. Lelaki yang takut menterjemahkan sebuah perasaan. Aku hanya bisa memegang dadaku kuat kuat. Tak berani mengatakan cinta walau pada diriku sendiri. . .
Mata Sangjin sudah benar benar tidak kuat. Walaupun dari tadi ia sudah memejamkan mata, tapi kali ini dia sudah benar benar tak kuat. Perlahan Sangjin menunduk. . .terus menunduk. Suara Minhyun masih jelas terdengar menggerogoti telinganya terlebih lagi ulu hatinya. Kemudian ia sadar, dan bangun. Diliriknya Minhyun yang masih terpejam sambil memetik senar gitar itu. kepalanya juga masih bersandar di permukaan pohon. Membuat kepalanya sedikit mendongak. Lekukan pada lehernya terlihat begitu sempurna. Sangjin mencoba membelalakkan matanya. Kurang beberapa bait lagi. Ia harus kuat.
nan salam-iya, deulgo songalag-i nae son-eul ttatteushagehabnida. nae eomji songalag-eulo nunmul- eul dakk-ahalyeoneun dangsin-ui jangsoleul sug-igo nae eokkaeleuljugo sipda. dangsin-i ulgoissneun gos-eulo nae ma- eum-euljugo sipda. dangsin-i salanghaneun nae ma-eum- euljugo sipda. hajiman nan museowo, jeongmal museowoyo! 난 사람이야, 들고 손가락이 내 손을 따뜻하게합니다. 내 엄지 손가락으 로 눈물을 닦아하려는 당신의 장소 를 숙이고 내 어깨를주고 싶다. 당신 이 울고있는 곳으로 내 마음을주고 싶다. 당신이 사랑하는 내 마음을주 고 싶다. 하지만 난 무서워, 정말 무 서워요!
Aku seorang lelaki, Ingin menggenggam jemarimu dengan tangan hangatku. Ingin mengusap air matamu dengan jempolku, Ingin memberi pundakku untuk tempatmu bersandar. Ingin memberi dadaku untuk tempatmu menangis. Dan ingin memberi hatiku untuk kau cintai. Tapi aku takut, aku sungguh takut!
Selesai bagian reff terakhir dan Dep. . . Kepala Sangjin jatuh pada pundak kiri Minhyun. Minhyun bisa merasakan tapi ia terus melanjutkan lagunya.
nan dulyeowo. . . maeu museowohaessda. . . naneun ‘naneun dangsin-eul salanghabnida’lago dulyeowo haeyo
난 두려워. . . 매우 무서워했다. . . 나는 ‘나는 당신을 사랑합니다’라고 두려워 해요
Aku takut. . . Aku sangat takut. . . Aku takut mengatakan ‘aku mencintaimu’
Suara Minhyun seakan hilang perlahan. Hanya tinggal desahan pada kata terakhirnya. Dan genjrengan gitar itu berakhir berbarengan dengan berakhirnya suara Minhyun.
Mata Minhyun membuka perlahan. Rambut hitam Sangjin tepat di depannya. ‘aku tahu kau mendengarnya’ batin Minhyun.
Hanya senyum tulus yang bisa ia lakukan kala jantungnya yang tiba tiba memberontak memompa darah begitu cepat. Hanya poni mangkuk Sangjin yang bisa Minhyun lihat dari posisinya saat ini. Juga bulu mata kanan tipis dan lentik itu juga turut menelusup indra penglihatan Minhyun. Tangan kanan Minhyun tergerak menyelipkan anak rambut Sangjin kebelakang telinga kiri yang dari tadi menutupi seperempat wajah manisnya. Perlahan Minhyun menyelipkan anak rambut itu dengan sangat hati hati. Bak barang mahal yang didunia inipun tak pernah ada gantinya.
Selesai kegiatan kecil itu namun efeknya benar benar membuat semua syaraf Minhyun kaku. Minhyun meletakkan pipinya pada puncak kepala Sangjin. Aroma rambut Sangjin begitu kuat menyelinap menggoda rongga hidung Minhyun. Mata Minhyun perlahan menutup. Minhyun tersenyum simpul dalam gelap pandangannya. Mensyukuri kehadiran satu wanita pertama yang membuatnya begitu merasa menjadi lelaki yang benar benar laki laki.
☆☆☆
-Hari berikutnya-
“Minhyun-ssiiiii” teriak Sangjin dari jauh dengan suara cempreng khasnya. Minhyun menoleh dibalik pohon besar yang menghalangi seluruh badannya yang sedang duduk bersila. Kepalanya menyembul perlahan. Rambutnya sedikit miring mengikuti kepalanya yang juga miring. Sangjin tersenyum riang menghampiri Minhyun.
Istirahat kali ini mereka memang tidak berbarengan pergi ke taman. Sangjin sibuk mengerjakan tugas di kelas dahulu sehingga Minhyun terpaksa meninggalkannya.
Sesaat kemudian Sangjin berhasil duduk disamping Minhyun. Matanya berbinar. Minhyun memandangi Sangjin dari samping. Heran dengan perubahan raut muka Sangjin hari ini.
“bernyanyilah untukku!” Sangjin berucap tanpa menoleh sambil meletakkan suatu alat diatas tangan Minhyun yang memang sudah terbuka.
“biasanya juga seperti itu kan?” tanya Minhyun sambil melihat lihat alat yang berada ditangannya. Dan ternyata itu adalah sebuah perekam suara Sony tipe ICD-AX412.
“menyanyilah! Kemudian akan aku rekam supaya aku bisa mendengarkan suaramu setiap hari!” jawab Sangjin polos yang jelas membuat Minhyun melayang.
“kalau kau sudah punya rekamannya, nanti malah tak mau mendengarkan suara asliku!” goda Minhyun membuat Sangjin dua detik menatap Minhyun.
“tidak mungkin begitu! Sudahlah ayo mulai!”
“baiklah!”
Sangjin mengambil alat perekam tadi. Dipencetnya beberapa tombol disitu. Dan. “mulai”
Baby, naega geobjaeng-iyeossda. naneun yong-giga-eobsneun salam-iya. nan danji meolliseo bol su iss-eossda. simjieo han dangye tteol-eojyeoiss-eo. . .
Baby, 내가 겁쟁이였다. 나는 용기가 없는 사람이야. 난 단지 멀리서 볼 수 있었다. 심지어 한 단계 떨어져있 어. . . Baby, aku adalah seorang pengecut aku ini lelaki tanpa nyali Aku hanya bisa melihatmu dari jauh Tak berani mendekat walau hanya selangkah. . .
Baby, naega geobjaeng-iyeossda. neukkim-eul byeonhwan hal dulyeowo namja. nan danji ganglyeoghan ganglyeoghan gaseum-eul boyu hal su issseubnida. jasin-edo bulguhago mal-eul salang-eul gamhihaji anhseubnida. . .
Baby, 내가 겁쟁이였다. 느낌을 변환 할 두려워 남자. 난 단지 강력한 강 력한 가슴을 보유 할 수 있습니다. 자신에도 불구하고 말을 사랑을 감 히하지 않습니다. . .
Baby, aku adalah seorang pengecut. Lelaki yang takut menterjemahkan sebuah perasaan. Aku hanya bisa memegang dadaku kuat kuat. Tak berani mengatakan cinta walau pada diriku sendiri. . .
Reff nan salam-iya, deulgo songalag-i nae son-eul ttatteushagehabnida. nae eomji songalag-eulo nunmul- eul dakk-ahalyeoneun dangsin-ui jangsoleul sug-igo nae eokkaeleuljugo sipda. dangsin-i ulgoissneun gos-eulo nae ma- eum-euljugo sipda. dangsin-i salanghaneun nae ma-eum- euljugo sipda. hajiman nan museowo, jeongmal museowoyo! 난 사람이야, 들고 손가락이 내 손을 따뜻하게합니다. 내 엄지 손가락으 로 눈물을 닦아하려는 당신의 장소 를 숙이고 내 어깨를주고 싶다. 당신 이 울고있는 곳으로 내 마음을주고 싶다. 당신이 사랑하는 내 마음을주 고 싶다. 하지만 난 무서워, 정말 무 서워요! Aku seorang lelaki, Ingin menggenggam jemarimu dengan tangan hangatku. Ingin mengusap air matamu dengan jempolku, Ingin memberi pundakku untuk tempatmu bersandar. Ingin memberi dadaku untuk tempatmu menangis. Dan ingin memberi hatiku untuk kau cintai. Tapi aku takut, aku sungguh takut!
Baby, naega geobjaeng-iyeossda. jeoege dangsin-eul salanghandagohaneun gajang joh- eun bangbeob-eul boyeojuseyo, nan dangsin-eul dolbwahaneun bangbeob-eul boyeojuseyo, dangsin-eun naega dangsin-eul eolmana salanghaneunji naui wanbyeoghago modeun jag-eun gyeolham-eul boyeojwo
Baby, 내가 겁쟁이였다. 저에게 당신 을 사랑한다고하는 가장 좋은 방법 을 보여주세요, 난 당신을 돌봐하는 방법을 보여주세요, 당신은 내가 당 신을 얼마나 사랑하는지 나의 완벽 하고 모든 작은 결함을 보여줘.
Baby, aku dalah seorang pengecut. Tolong tunjukkan aku cara terbaik untuk mengatakan cinta padamu, Tolong tunjukkan aku bagaimana aku harus menjagamu, Tolong tunjukkan aku bagaimana aku mencintaimu, Dengan sedikit kesempurnaanku dan segala kekuranganku.
Baby, naega geobjaeng-iyeossda. neukkim-eul byeonhwan hal dulyeowo namja. nan danji ganglyeoghan ganglyeoghan gaseum-eul boyu hal su issseubnida. jasin-edo bulguhago mal-eul salang-eul gamhihaji anhseubnida. . .
Baby, 내가 겁쟁이였다. 느낌을 변환 할 두려워 남자. 난 단지 강력한 강 력한 가슴을 보유 할 수 있습니다. 자신에도 불구하고 말을 사랑을 감 히하지 않습니다. . .
Baby, aku adalah seorang pengecut. Lelaki yang takut menterjemahkan sebuah perasaan. Aku hanya bisa memegang dadaku kuat kuat. Tak berani mengatakan cinta walau pada diriku sendiri. . .
Reff nan salam-iya, deulgo songalag-i nae son-eul ttatteushagehabnida. nae eomji songalag-eulo nunmul- eul dakk-ahalyeoneun dangsin-ui jangsoleul sug-igo nae eokkaeleuljugo sipda. dangsin-i ulgoissneun gos-eulo nae ma- eum-euljugo sipda. dangsin-i salanghaneun nae ma-eum- euljugo sipda. hajiman nan museowo, jeongmal museowoyo! 난 사람이야, 들고 손가락이 내 손을 따뜻하게합니다. 내 엄지 손가락으 로 눈물을 닦아하려는 당신의 장소 를 숙이고 내 어깨를주고 싶다. 당신 이 울고있는 곳으로 내 마음을주고 싶다. 당신이 사랑하는 내 마음을주 고 싶다. 하지만 난 무서워, 정말 무 서워요!
Aku seorang lelaki, Ingin menggenggam jemarimu dengan tangan hangatku. Ingin mengusap air matamu dengan jempolku, Ingin memberi pundakku untuk tempatmu bersandar. Ingin memberi dadaku untuk tempatmu menangis. Dan ingin memberi hatiku untuk kau cintai. Tapi aku takut, aku sungguh takut!
nan dulyeowo. . . maeu museowohaessda. . . naneun ‘naneun dangsin-eul salanghabnida’lago dulyeowo haeyo
난 두려워. . . 매우 무서워했다. . . 나는 ‘나는 당신을 사랑합니다’라고 두려워 해요
Aku takut. . . Aku sangat takut. . . Aku takut mengatakan ‘aku mencintaimu’
Selesai lagu itu dinyanyikan. Lembut dan sangat lembut dari biasanya. Sangjin mematikan tombol yang berada pada alat tersebut.
“wah, gomawo Minhyun-ssi! Akhirnya aku bisa mendengar suaramu kapanpun!” kalimat terakhir Sangjin pada hari itu membuat kepala Minhyun ingin meledak. Menumpahkan segala permen permen lucu, lollipop, dan pita pita kecil yang akan mewakili kebahagiaannya hari ini.
Kemudian Sangjin berlari meninggalkan Minhyun. Minhyun mengikuti arah punggung yang makin menjauh. . . Jauh. . .
“gomawo Minhyun-ssiiiii!” teriak Sangjin dari jauh sambil melambai lambaikan tangannya. Minhyun tak membalas apapun. Masih menatap wajah bahagia itu. Mematung melihat seonggok daging berjalan itu makin menjauhinya kemudian berbelok dan hilang dari pandangannya. Senang sekali rasanya Minhyun bisa membuat Sangjin tersenyum dengan suaranya. Hingga akhirnya senyum Minhyun mengembang lebar, sangat lebar. Batinnya tergerak untuk berucap.
‘jika suaraku adalah kebahagiaanmu, maka semua tentangmu adalah kebahagiaanku!’

Pelajaran hari ini sudah selesai. Bel pulang berbunyi berulang ulang melebihi bel istirahat. Sangjin mulai berdiri dan mengucapkan sesuatu. “Hyun-ssi, sepertinya hari ini kita tidak bisa pulang bersama! Aku ada keperluan osis untuk adiwiyata sekolah”
Memang baru baru ini sekolah sedang gencar gencarnya mengurus adiwiyata sekolah karena sekolah sudah berada ditingkat nasional. Walaupun osis, tapi Sangjin sudah kelas akhir yang akan disibukkan dengan ujian nasional. Namun ada saja kegiatan sekolah yang aneh aneh.
“aku tunggu disini!”
“nanti bisa sampai sore!”
“justru karena sampai sore itu! Yeoja tak boleh pulang sendiri! Tidak baik! Aku disini juga sambil mengerjakan tugas!” Minhyun mengeluarkan buku tugasnya. Mencoba memberi alasan yang mungkin tak akan ditolak Sangjin. Sedangkan Sangjin yang berdiri didepan Minhyun hanya nyengir tak jelas.
“tidak merepotkan?”
“merepotkan apa? Sama sekali tidak!”
“nanti kalau sudah selesai, aku kesini ya?”
“memang harusnya seperti itu!”
“kalau begitu aku duluan! Annyeong!” Sangjin membungkukkan badan kemudian perlahan meninggalkan Minhyun yang dari tadi berbicara dengan memasang tampang ‘sok cool’. Tanpa melihat Sangjin yang berbicara padanya. Pura pura cuek. Tidak menghiraukan. Padahal hatinya melonjak kesenangan. ‘Sangjin mengajakku berbicara?’ ‘selama itu? Huaaaaa’ suara hatinya berteriak kencang sekali. Namun raut mukanya hanya berubah pada satu organ. Sebuah garis lurus mengembang dengan tampannya. Minhyun memegangi dada kirinya sambil menutup mata. Perlahan punggungnya ia sandarkan pada tembok. Pipinya menggembung kemudian nafasnya keluar perlahan. “aku sudah gila!”

Sangjin masuk kelas. Sekarang sudah pukul 5.30 sore. Ia mendekati Minhyun. Dilihatnya mata Minhyun yang sedang menutup. Bibirnya sedikit terbuka. Kepalanya ia sandarkan pada tangan kiri yang lurus diatas bangku dengan buku matematika tebal yang sedikit tertindih oleh tangan Minhyun. Poni yang sedikit ke-bieber-an itu menutupi mata kanannya. Tampan sekali. Sangjin memandanginya lama. Memandangi secuil keindahan tuhan yang dititipkan pada sebuah wajah di depannya.
Sangjin mengibas ngibaskan tangannya didepan wajah Minhyun. Minhyun sama sekali tidak merespon. Ia benar benar tertidur. Sangjin tidak berani membangunkan Minhyun. Raut takut itu terlalu mendominasi wajah putihnya.
Dipandanginya wajah Minhyun lama. Lama sekali. Hingga Sangjin menggeleng gelengkan kepalanya. ‘sadar sadar!’ batinnya. Bagaimana bisa saat berbicara singkat saja Sangjin sungkan untuk melihat Minhyun. Namun saat dirinya berada pada momen ‘aku melihatmu dan kamu tidak melihatku’ itu Sangjin begitu berani. Sampai sampai hampir saja ia sedikitpun tak bisa berpaling.
Sangjin tertarik dengan buku yang ditindih tangan Minhyun. Diangkatnya tangan Minhyun perlahan. “permisi ya!” kata Sangjin pada seseorang yang sedang tak bernyawa sementara itu. Kemudian duduk dan diambilnya buku itu pelan pelan.
Sreeekkk. . . Halaman pertama buku itu terbuka. Terdapat tulisan cakar ayam khas tangan namja. Mata Sangjin langsung terarah pada Satu judul yang menghabiskan dua garis diatas tulisan kecil sesudahnya ‘INSANE’. Dibacanya deretan kalimat itu perlahan.

-INSANE-

Dalam gelap ini, aku mengais kerinduan di kolong malam…
Dalam gelap ini, aku menerawang dalam jauh diatas langit sana…
Dalam gelap ini, tanganku menodong keajaiban…
Rindu ini tak pernah tersampai…
Pada merpati aku berpesan… Titipkan hatiku untukmu yang disana…
Berikan seutuhnya…
Dari satu rasa yang tak tersampaikan…
tidak bisa?
Rindu ini tak pernah tersampai…
Aku berteriak pada sang cupid…
Lepaskan panahku untuknya…
Dari satu nyawa yang tulus menginginkannya…
Tancapkan badikmu pas pada adiratnanya… Jauh dalam ulu hatinya…
tidak bisa?
Bagaimana aku menunjukkannya?
Bagaimana aku menyampaikannya?
Bagaimana aku memberinya?
Kakiku bersenandung lemah mengoyak pasir…
Menghampiri secuil permata ditengah samudera…
Tanganku rapuh meraih pawana…
Dengarkan aku…
Dengarkan aku…
Dengarkan aku dengan hatimu…
Tidak bisa? Akupun tak bisa memperdengarkannya…
Sayatan itu begitu indah Luka itu begitu menyempurnakan Walau sakit itu begitu dalam…
Dengarkan aku…
Dengarkan aku…
Aku begitu gila?
Sangat Gila?
Terlalu Gila?
Sayang… Sungguh Aku tidak bisa…
Namun hanya satu yang aku bisa…
Dalam gelap ini, tanganku menodong keajaiban…
Tuhan, ijinkan nanti rusuknya melengkapi hidupku…
Tempatkan kami pada mahligai keagungan-Mu…
Hingga raga ini terbujur kaku…
Sangjin benar benar kagum dengan Minhyun. Ternyata namja bisa menulis puisi ‘namja melankolis’ batinnya mencoba menerawang sifat Minhyun. Kemudian sebait lirik lagu yang diciptakan Minhyun itu terlintas begitu saja.
Aku takut. . . Aku sangat takut. . . Aku takut mengatakan ‘aku mencintaimu’
Memang sangat berhubungan, namun sesudah itu Sangjin meringis miris. Kemudian kepalanya ia letakkan diatas meja. Posisinya berhadapan dengan Minhyun. Dilihatnya lagi wajah malaikat yang sedang tidur itu lekat lekat. “kau sedang jatuh cinta ya?” tanyanya lirih sekali. Hampir tak terdengar. Kemudian mata kanannya mengeluarkan setetes kepedihan. ‘kau sedang jatuh cinta ya?’ tanyanya lagi memastikan. Namun kali ini cukup hatinya saja yang bicara. Kali ini mata kirinya yang memberontak mengeluarkan bongkahan kecil air mata. Air itu lambat menuruni hidung mancungnya. Kemudian menetes begitu saja diatas bangku. Sakit.
‘yah! Aku kenapa?’ Sangjin mengangkat kepalanya. Kemudian mengusap airmatanya kasar dengan punggung tangannya. Berkali kali ia mencoba menelan ludah namun tak bisa. Sakit itu menjalar ke semuanya. Sakit. Terlebih lagi hatinya.
Sangjin menyibukkan diri dengan mengerjakan tugas matematika Minhyun. Sampai jam 17.30 Minhyun membuka matanya perlahan. Dilihatnya yeoja berkacamata didepannya sedang serius dengan pensil dan buku.
Minhyun mengedarkan pandangannya ke segala arah. Hap! Matanya berhenti pada lingkaran waktu yang terus bergerak berputar. “setengah tujuh?” ucap Minhyun setengah berteriak. Sangjin langsung menoleh kearah sumber suara.
“kau tidak membangunkanku?”
“maaf, tadi kau terlihat sangat nyenyak!”
“yasudah! Sekarang kita pulang!”
Minhyun mengemasi buku bukunya. Kemudian menyambar tangan Sangjin untuk keluar kelas. Sangjin mengikut saja. Ekspresi Minhyun kali ini sulit dijelaskan. Antara raut marah, kesal, standar, atau apapun itu tidak bisa diterjemahkan. Minhyun melepaskan tangan Sangjin ketika mereka sudah berada di gerbang sekolah. Minhyun menoleh sekilas. Menyunggingkan senyum terbaiknya dalam satu hari ini. Dan itu sangat membuat pertanyaan berbelit tentang ekspresi Minhyun itu terjawab sempurna.
Mereka menjajaki tanah seoul dengan pelan. Entah kenapa kaki mereka enggan untuk cepat sampai. Seringkali mereka berdua mengeratkan jaket sekolah masing masing. Udara malam kota seoul memang cukup dingin. Hingga nafas orang orang orang terlihat seperti mengeluarkan asap.
Sedikit demi sedikit bola mata Minhyun berputar. Mata hazel itu sampai di ujung kiri matanya. Dilihatnya yeoja yang sedang menggembungkan pipi menahan dingin sambil menatap lurus jalanan dengan tatapan tanpa dosa seperti anak kecil. Lucu sekali. Perlahan senyum kecil Minhyun nampak. Namun kecil sekali. Perjalanan mereka berlanjut dalam gelap malam yang dengan senang hati menyelimuti dua anak manusia yang perasaannya sedang beradu dengan keadaan.
Sampai mereka didepan rumah Sangjin yang minimalis itu. “aku duluan!” ucapnya sedikit membungkuk kemudian berlari kedalam rumahnya tanpa melihat Minhyun yang masih senyum senyum kecil.
Namun baru tiga langkah… “BRAKKKKK” Minhyun menoleh kebelakang. Seorang pria berperawakan tegap dengan pakaian lengkap baru saja keluar dari rumah Sangjin. Seketika pikiran Minhyun berlari entah kemana. Kemudian tanpa aba aba kakinya melangkah sampai didepan rumah Sangjin. Dilihatnya dua wanita saling berpelukan. Hatinya bergetar. Minhyun melangkah mendekat pelan sekali. Sangat pelan hingga isakan suara wanita terdengar sangat jelas. Dua wanita itu saling mengucurkan sebilah perasaan sakit pada airmata mereka yang sudah bercampur. Dua wanita itu menangis sejadi jadinya. Mata Minhyun masih terbelalak. ‘apa yang terjadi?’ batinnya demikian. Melihat kejadian itu membuat Minhyun iba. Dia laki laki disini! Satu satunya lelaki disini! ‘lalu apa tugasku?’
Minhyun langsung mengelus punggung wanita yang tangisannya paling hebat. “sudah ahjumma, Tenangkan dirimu dulu!” Minhyun menuntun eomma Sangjin pelan menuju kursi ruang tamu. Eomma Sangjin duduk diantara Sangjin dan Minhyun. Sangjin sudah tak bisa berbuat apa apa lagi. Menenangkan dirinya saja sudah sulit.
Minhyun mengambil air putih dari dapur Sangjin. Kemudian memberikannya pada eomma Sangjin yang terus menangis. “sudah ahjumma, Tenangkan dirimu dulu!” apa tidak kosakata lain? Sudah yang kedua kalinya Minhyun mengucapkan itu. Pikirannya kabur entah kemana. Batinnya terus bertanya ‘aku satu satunya lelaki, apa yang harus aku lakukan?’
“orang itu mau menjual rumah ini Jin-ah!”
“Bagaimana ini?”
“kita mau tinggal dimana Jin-ah?”
“eomma tidak kuat!”
Berulang kali eomma Sangjin menggumam tak jelas. Sedangkan Sangjin semakin malam, tangisannya makin menjadi.
Hampir setengah jam Minhyun berada di rumah Sangjin. Tangisan eomma Sangjin sudah mulai mereda. “aku permisi pulang!” ucap Minhyun dengan sangat hati hati. Dalam keadaan seperti ini pasti perasaan orang orang didalam situ masih sensitif.
Minhyun sedikit membungkuk kemudian melangkahkan kakinya keluar rumah. Janggut eomma Sangjin sedikit terangkat mengisyaratkan sesuatu. Sangjin langsung mengikuti Minhyun keluar.
“Hyun-ssi, hati hati!” Minhyun berbalik ketika mendengar suara yeoja yang memaksakan diri berbicara ditengah isakan tangisnya. Minhyun melangkah pelan menghampiri Sangjin. Hanya sedikit langkah sampai Minhyun sudah berada tepat didepan Sangjin.
Dua tangan Minhyun menangkup pipi Sangjin yang sudah basah. Kemudian Dep. . . . Dua pasang mata itu bertemu. Seakan ingin memeluk mata satu sama lain.
“jangan pernah menangisi namja. Hanya namja brengsek saja yang akan tega membuat yeoja menangis!” ucap Minhyun lirih sekali. Perlahan jempol Minhyun bergerak kearah tengah. Gerakannya sangat kecil. Namun lama sekali jempolnya mendarat ke permukaan wajah Sangjin. Setelah sampai, jempol itu bergerak kesamping. Pelan sekali. Hingga Sangjin bisa merasakan tangan Minhyun yang benar benar bergetar. Kemudian beralih pada jempol tangan kirinya.
“dengarkan aku!” suara Minhyun sedikit bergetar. Matanya sudah mulai berkaca kaca. tangan Minhyun lemah melepas wajah Sangjin. Diraihnya pundak Sangjin dengan kuat. Berusaha menguatkan pundak didepannya. “tegapkan pundakmu! Busungkan dadamu! Angkat dagumu! Jadilah wanita yang kuat!” Minhyun tersenyum diakhir kalimatnya. Seketika Sangjin meleleh. Mungkin ia harus meralat senyum terindah untuk hari ini bukanlah tadi. Tapi sekarang. Sekarang ini. Sekarang ini suatu kebesaran tuhan sedang terselip pada wajah tampan didepannya. wajah yang tanpa ekspresi pun bisa membuat Sangjin tenang. Bagaimana dengan ucapannya tadi? Baginya semua yang ada pada diri Minhyun adalah suatu kesempurnaan.
“fighting!” Minhyun mencoba bercanda dengan mengepalkan tangannya keatas. “masuklah! Sudah malam!” senyum itu lagi. Sejak tadi yang ada difikiran Sangjin hanya ‘bagaimana Kau bisa mempertemukanku pada namja ini tuhan?’. Sangjin mengikuti perintah Minhyun untuk masuk. Namun baru kepalanya saja yang menoleh, “Hyun-ssi!” Sangjin kembali pada posisi awal. Beruntung Minhyun belum beranjak dari tempat semula. Kedua alis Minhyun sedikit terangkat. Terdapat pertanyaan ‘apa?’ dalam tatapannya.
“kalau nanti aku menangis lagi, kau mau menjadi sandaranku kan?” Ucap Sangjin polos. Pipinya masih basah oleh airmata. Minhyun meringis pelan. Tadi pedang itu dengan cepat menusuk. Namun sekarang sekarang pedang itu seakan dicabut dengan kencang. Lega sekali. Perasaan lelaki Minhyun keluar. ‘kau mau bersandar padaku?’ batinnya memastikan keadaan. pikiran lelakinya benar benar mendominasi. Seakan dia adalah sosok yang memang sengaja diutus untuk melindungi Sangjin. ‘tanpa kau minta, aku akan melakukannya’
Setelah diam beberapa saat, Minhyun tersenyum lagi. Sangat manis. “aku berjanji!” ucapnya tegas. Kemudian Minhyun meninggalkan Sangjin perlahan. Membuat suatu jarak diantara mereka. Mata Sangjin masih bisa menangkap punggung namja itu. Kemudian Minhyun menoleh sambil melambaikan tangannya. Ada rasa syukur dalam hati seorang yeoja yang berhasil diluluhkan oleh namja yang disayanginya.
‘terimakasih tuhan!’
☆☆☆
Cklek… Pintu rumah Minhyun terbuka lebar setelah Minhyun mencoba menghembuskan nafas cepat cepat. Minhyun berjalan lurus menuju kamarnya tanpa menyapa bahkan melihat wajah Aron yang sedang menonton tv di ruang tamu. Aron memandangi punggung Minhyun sambil bertanya tanya pada dirinya sendiri. Wajah Minhyun ditekuk sangat. Muram tanpa arti. Setelah hampir 20 menit berlalu, Aron bertekad masuk ke kamar Minhyun. Sudah kebiasaan Minhyun jika ada masalah, pasti malam malam Minhyun akan melamun di balkon kamarnya dan Aron sudah menghafal itu. Aron melihat adik kecilnya berdiri menghadap langit hitam dengan taman kecil dibawahnya yang juga tampak hitam. Aron mendekatinya perlahan sampai ia sudah berdiri sejajar dengan Minhyun. Dilihatnya Minhyun yang sedang memejamkan matanya. Pipinya basah dan bahkan masih ada airmata yang masih sibuk menuruni pipi putihnya.
Puk. . . Aron menepuk pundak Minhyun pelan. Memberikan sebuah kekuatan dari sang kakak pada seorang yang dilahirkan sesudahnya. Yang sudah ditakdirkan untuk ia lindungi. Minhyun tidak bergerak. Tak peduli siapapun yang ada disampingnya tak bisa mengoyak pikirannya saat ini.
“kau tahu, ada dua alasan kenapa pria menangis!” ucapan Aron membuat mata Minhyun terbuka. Namun tatapannya masih lurus. Minhyun sangat tertarik dengan awal pembicaraan mereka.
“yang pertama karena Tuhannya!” kata Aron selanjutnya. Tangannya melorot dari pundak Minhyun dan beralih pada pegangan pagar besi yang ada didepannya. Mata Aron masih tak mau lari dari wajah adiknya. “dan yang kedua. . .” kalimat Aron menggantung lama. Membuat kepala Minhyun menoleh pada sang kakak. “karena seorang wanita! Ada apa dengan yeoja itu?” tutur Aron pelan sekali. Namun terdapat penekanan pada dua kata terakhirnya.
Minhyun menarik matanya dari Aron. Ia mengambil nafas banyak banyak kemudian dikeluarkannya udara itu cepat cepat lewat mulutnya. Matanya terpejam dalam beberapa saat. Merasakan hembusan angin malam yang menyapu wajahnya. Dalam hatinya ia memang menyetujui apa yang dikatakan Aron. Sangjin adalah wanita kedua yang ia tangisi. Tentunya setelah ibunya. “dia lemah hyung! Dia sangat lemah!” ucap Minhyun dengan suara serak. Matanya terbuka. Kembali ia mengeluarkan nafas berat. Kepalanya menunduk menatap rumput cepak yang ada dibawah dengan diselimuti cahaya remang kuning lampu taman. Pandangannya kabur tertutup genangan air yang sudah menumpuk pada sudut matanya.
Aron menghela nafas berat. Mulutnya ia buka. Seakan hidung mancungnya saja tidak cukup mengambil oksigen yang ada disekitarnya. Perasaan seorang kakak bercampur dengan perasaan seorang lelaki. “wanita itu makhluk lemah! Dan lelaki akan menjadi lebih lemah karena kelemahan wanita.”
Minhyun mendongakkan kepalanya. Untuk kedua kalinya Aron menggetarkan hati Minhyun. Apa yang diucapkan memang benar. Sangat benar. Aron kembali menepuk pundak Minhyun tiga kali. Memberi kekuatan dan menguatkan dirinya sendiri.
“lalu apa yang harus aku lakukan hyung?”
“kenapa menanyakannya padaku?” Aron balik bertanya. Mata bulatnya menatap lurus kosong. Wajahnya seakan cuek dan tak peduli dengan perasaan adiknya. Dan itu semua bertolak belakang dengan batinnya. “Cintai dia dengan caramu, cintai dia dengan hatimu, dan cintai dia dengan kesempurnaanmu!”
“kenapa harus dengan kesempurnaanku? Cinta tidak memandang kesempurnaan!” Ucapan Minhyun sepertinya akan menimbulkan perang argumen malam ini.
“kalau dia benar benar mencintaimu, apapun yang ada dalam dirimu adalah suatu kesempurnaan! Kekurangan, kelebihan, keanehan, semua itu satu kesatuan yang kompleks. Sempurna!”
“tapi sempurna juga bisa diartikan tanpa cacat kan hyung? Sempurna itu bisa berarti tanpa kekurangan!” Minhyun membantah pendapat Aron. Perasaan Aron sudah mulai tidak enak. Kalau sudah begini, sampai pagi pun tak akan habis perang dunia 3 itu. Sedangkan Aron masih mau menikmati momen menenangkan itu. Tak mau direcoki dengan Jurus jurus ke sok tahuan mereka yang pasti akan muncul.
“relatif!” skak mat! Drew! ‘aku pernah Hyun-ah! Bahkan lebih darimu!’ kali ini Minhyun yang melihat Aron memejamkan matanya. Minhyun mengikuti kegiatan Aron itu. Dan saat ini kedua anak manusia itu sedang menikmati rasa yang telah diberikan tuhan. ‘masih’ permulaan dan terasa sakit. Dan manusia bersaudara itu hanyut dalam fikiran masing masing. Memaknai perasaan dan masalah masing masing. Saling menguatkan dan memberi kekuatan. Aron dan Minhyun Terpejam gelap dalam gelap.
☆☆☆

maaf typo dimana mana… dan lirik itu aku buat sendiri tanpa nada, guru lagu, guru gatra, guru wilangan, dan lirik itu hasil translateannya si google, jadi mian kalo salah salah 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s