[FF] Tulip (Perasaan Itu) – Chapter 2

#2 ╱╲╱Perasaan itu…╲╱╲

☆☆☆

Drrttt drrttt . . . Getar handphone itu bergesekan dengan meja kayu yang ada di bawahnya. Membuat getaran itu makin cepat merambat ketelinga Minhyun yang sedang terjaga dari tidur siangnya. Minhyun meraba raba meja. Benda kotak multifungsi itu akhirnya berada digenggammannya. Dilihatnya baik baik nama yang tertera dikotak penuh layar itu dengan hanya berjarak sekitar 10 centi karena kacamatanya belum ia pakai.

– Aron hyung – 2 new message

Hyun-a, ambil bunga pesananku di toko tulip dekat rumah. Aku sedang sibuk. Uangnya diatas meja makan. Bilang saja kau ingin mengambil pesananku.

Nanti aku tidak bisa menemanimu ke makam. datanglah sendiri, sampaikan salamku pada eomma ya!

Cepat cepat Minhyun mempersiapkan dirinya untuk mengambil bunga pesanan hyungnya sekaligus langsung ke pemakaman. Ia memakai kaus putih tipis tanpa kera dan dilapisi dengan jaket putih dengan separuh motif zebra cross. Tak lupa celana jeans hitam itu melekat pada kakinya yang panjang. Selop biru dongker dengan alas putih itu juga tak kalah untuk menyempurnakan penampilan Minhyun.

Minhyun mencoba berjalan menurut perasaannya karena Aron tidak memberikannya alamat toko tulip itu. Namun baru melewati tiga rumah dari rumahnya terlihat toko bunga yang dulu pernah ia lihat. Tanpa berfikir panjangMinhyun langsung masuk ke toko yang terbilang cukup sederhana itu.

Terlihat yeoja berumur sekitar setengah abad dengan rambut ia gulung kebelakang seperti sebuah benjolan. Orang itu sangat cantik. Wajahnya meneduhkan dan sangat keibuan.

“annyeong ahjumma!” Minhyun berdiri didepan wanita itu. Kemudian wanita itu menoleh. “aku ingin mengambil bunga tulip putih yang dipesan Aron hyung. Aku adiknya!” Minhyun berusaha bertingkah sesopan mungkin. Ia terus saja mengaitkan kedua tangannya didepan perut sambil memainkan jari jarinya.

“oh, kau adik Aron! Wah, kakak adik sama sama tampan! Biasanya Aron sendiri yang mengambilnya,” wanita itu berusaha mengakrabkan diri dengan Minhyun. Minhyun hanya nyengir sambil mengelus tengkuknya.

“Sangjin-ah, ambilkan tulip putih yang biasanya” wanita itu sedikit berteriak lalu menghilang setelah sempat menyunggingkan senyum. Tapi apa katanya? Sangjin?

Minhyun berdiri mematung memikirkan siapa yeoja yang akan keluar mengantar bunganya. Apa Sangjin yang biasanya? Lama sekali ia menunggu sampai ia memutuskan untuk duduk di kursi kayu yang cukup panjang. Dan ya benar sekali! Yeoja yang ditunggu tunggu Minhyun itu keluar. Ia sangat cantik walau hanya memakai kaus putih oblong dengan celana jeans pendek yang hampir tertutup oleh kausnya. Tapi kali ini ada yang berbeda dari seorang Sangjin. Pikir Minhyun demikian. Dan ya, tidak ada kacamata berframe tebal yang biasa ia cantolkan pada telinganya. Mata yang biasanya berwarna cokelat itu kini membiru. Minhyun berdiri menunjukkan keterkejutannya pada yeoja yang ada didepannya.

Hap. . . Mata Minhyun tepat memandangi mata biru didepannya. ‘cantik’ batin Minhyun masih menikmati wajah yang kini dekat sekali berada didepannya. Jantung Minhyun bergemuruh seiring dengan detikan jarum jam yang mereka isi dengan adegan saling tatap.

‘sadarkan aku tuhan!’ batin Sangjin memohon. Ia benar benar terpenjara oleh mata Minhyun. Otaknya memaksa untuk melepas namun hatinya berbalik dari itu. Baru kali ini Sangjin menatap seorang namja. Begitu pula dengan Minhyun.

Cukup kegiatan aneh itu menyita waktu mereka beberapa detik, Sangjin berusaha menarik kuat kuat tatapan yang memenjaranya. Sangjin langsung duduk disebelah Minhyun ‘ya, kenapa aku malah duduk?’ Sangjin merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa disaat jantungnya sedang tidak normal, ia malah menantang lebih lagi dengan duduk disamping Minhyun.

“kau tidak memakai kacamatamu?” Tanya Minhyun basa basi. Sebenarnya ia ingin mengobrol lebih lama dengan Sangjin. Lagi sekarang masih jam setengah empat.

“aku memakai soft lens saat dirumah” jawabnya singkat. Minhyun lagi lagi heran dengan yeoja yang ia ajak bicara itu. Kepalanya menunduk seperti enggan menatap Minhyun. Padahal saat mereka saling tatap tadi tak ada sedikit pun penolakan dari Sangjin. Tapi kali ini kenapa?

Minhyun melirik si jam tangan super mahal Rolex yang tersemat di pergelangan tangan kirinya. Sudah saatnya ia harus ke pemakaman. “aku harus ke pemakaman,” Minhyun berdiri dan segera melenggang dari tempat itu. Namun baru satu kaki kanan dan satu kaki kirinya melangkah. . . “kau mau menemaniku?” Minhyun berbalik. Beruntung Sangjin masih mematung disitu. “eh?” respon Sangjin masih tak sadar entah dari apa.

Sangjin terlihat berfikir. Namun mata Minhyun beralih pada yeoja paruh baya tadi. “ahjumma!” ahjumma yang ternyata eomma Sangjin itu mendekat ke Minhyun. “boleh aku mengajak putrimu menemaniku ke pemakaman?” Omo! Minhyun benar benar nekat! Ibu Sangjin hanya senyum senyum saja dan itu berarti ia menyetujuinya. Minhyun langsung bersalaman pada eomma Sangjin. Disusul dengan Sangjin. Apa yang membuat Minhyun bisa senekat itu? Bahkan bisa dikatakan urat malu Minhyun sudah putus kah? Ini benar benar bukan gayanya.

“ayo!”

Minhyun mengaturkan beberapa doa untuk ibunya. Mereka berdua berjongkok di depan makan eomma Minhyun. Sangjin ikut berdoa entah apa yang ia harapkan. Namun ia melakukannya supaya tidak terlihat aneh saja.

Minhyun mengusap mukanya dengan kasar. Kemudian ia sedikit mengangkat sebuket tulip putih. Namun tangan kanannya melakukan sesuatu yang aneh. Ia memetik bunga tulip itu seperti yang biasa dilakukan Aron untuknya. Ia memilih bunga dengan kelopak terbesar.

“untukmu!” Minhyun menyodorkan setangkai tulip itu. Sangjin langsung menerimanya saja. Berusaha tidak memikirkan alasan kenapa Minhyun memberinya bunga itu.

“biasanya Aron hyung akan memetikkan setangkai tulip untukku. Tapi berhubung Aron hyung tidak ada, jadi aku berikan saja kepadamu!”

“anggap saja tulip putih pertama ini sebagai tanda pertemanan kita!”

☆☆☆

Pagi itu seperti biasa, seorang yeoja keluar dari rumah sederhana disamping toko bunga yang sederhana pula. Yeoja itu melangkahkan kakinya riang dengan kacamata yang selalu setia menemaninya di sekolah. Minhyun memandangi Sangjin dari jauh. Sudah kebiasaannya sejak pertama kali ia melihat Sangjin. Pulang sekolah pun demikian, ia hanya membuntuti Sangjin dari jauh dengan langkah yang terseok seok.

Saat ini Minhyun berada tepat sekitar 100 centi dibelakang Sangjin namun Sangjin tak menyadari kehadiran Minhyun. Minhyun menggosokkan telapak tangannya kemudian meniupnya pelan. Lalu menggosok tengkuknya saat ia sudah berada sejajar dengan Sangjin. Mereka berdua hanya diam hingga sampai sekolah pun diam.

Saat istirahat pun begitu, sama saja saat Sangjin mendengarkan Minhyun bernyanyi, duduk berdampingan. Namun bedanya Minhyun sudah mengetahui keberadaan Sangjin. Tapi diam diam dan diam. Tidak ada yang sanggup merangkai kata bahkan saat jarak mereka terpaut cukup jauh.

itu itu saja lagu yang dinyanyikan Minhyun. 2am dengan You Wouldn’t Answer My Calls. Seperti tidak pernah bosan menyanyikan lagu itu. Yang bernyanyi dengan yang mendengarkan nyanyian itu sama sama tak pernah bosan. Selalu menghayati setiap nada nadanya.

Pulang sekolah sama saja seperti berangkat tadi. Minhyun berjalan disamping Sangjin. Ia tak lagi sembunyi sembunyi dibelakang Sangjin. Namun tetap dalam keadaan diam dan diam.

☆☆☆

Satu bulan berjalan. Mereka sudah bisa dikatakan berteman, namun hanya keadaan diam yang selalu menghampiri mereka.

Dua bulan berjalan, Minhyun bertekad bangun pagi untuk menyusul Sangjin. Eomma Sangjin yang mengetahui itu hanya senyum senyum saja. Dan dalam dua bulan itu Aron selalu sibuk dengan urusan kuliahnya sehingga Minhyun yang harus membeli tulip dan mengajak Sangjin ke makan ibunya setiap minggunya.

☆☆☆

Bel istirahat berbunyi dengan nyaring. Semua siswa berhamburan keluar tak terkecuali Minhyun dan Sangjin. Mereka berdua langsung duduk bersila di tempat biasanya. “semalam, Aron hyung membuatkanku lirik lagu dan aku yang bertugas mengolah instrumennya,” rangkaian kalimat Minhyun akhirnya memecahkan rekor setelah sekian lama hari hari mereka saat berdua ditaman hanya saling diam. “lalu?” Sangjin membalas pernyataan Minhyun dengan pertanyaan singkat dan tentunya tanpa melihat siapa yang ia tanya. Minhyun mengeluarkan secarik kertas yang sedikit lusuh. Terdapat coretan coretan rapi didalamnya. “liriknya belum sempurna, aku bingung memilih part reffnya. Bantu aku!” Minhyun memberikan kertas tersebut pada Sangjin. ‘kenapa harus aku?’ batin Sangjin ketika kertas itu sudah berada ditangannya.

Dibacanya lirik itu perlahan. Memaknai perbait, perkalimat, perkata, bahkan juga perhuruf.

Baby, naega geobjaeng-iyeossda. naneun yong-giga-eobsneun salam-iya. nan danji meolliseo bol su iss-eossda. simjieo han dangye tteol-eojyeoiss-eo. . .

Baby, 내가 겁쟁이였다. 나는 용기가 없는 사람이야. 난 단지 멀리서 볼 수 있었다. 심지어 한 단계 떨어져있 어. . .

Baby, aku adalah seorang pengecut aku ini lelaki tanpa nyali Aku hanya bisa melihatmu dari jauh Tak berani mendekat walau hanya selangkah. . .

Baby, naega geobjaeng-iyeossda. neukkim-eul byeonhwan hal dulyeowo namja. nan danji ganglyeoghan ganglyeoghan gaseum-eul boyu hal su issseubnida. jasin-edo bulguhago mal-eul salang-eul gamhihaji anhseubnida. . .

Baby, 내가 겁쟁이였다. 느낌을 변환 할 두려워 남자. 난 단지 강력한 강 력한 가슴을 보유 할 수 있습니다. 자신에도 불구하고 말을 사랑을 감 히하지 않습니다. . .

Baby, aku adalah seorang pengecut. Lelaki yang takut menterjemahkan sebuah perasaan. Aku hanya bisa memegang dadaku kuat kuat. Tak berani mengatakan cinta walau pada diriku sendiri. . .

Baby, naega geobjaeng-iyeossda. jeoege dangsin-eul salanghandagohaneun gajang joh- eun bangbeob-eul boyeojuseyo, nan dangsin-eul dolbwahaneun bangbeob-eul boyeojuseyo, dangsin-eun naega dangsin-eul eolmana salanghaneunji naui wanbyeoghago modeun jag-eun gyeolham-eul boyeojwo

Baby, 내가 겁쟁이였다. 저에게 당신 을 사랑한다고하는 가장 좋은 방법 을 보여주세요, 난 당신을 돌봐하는 방법을 보여주세요, 당신은 내가 당 신을 얼마나 사랑하는지 나의 완벽 하고 모든 작은 결함을 보여줘.

Baby, aku dalah seorang pengecut. Tolong tunjukkan aku cara terbaik untuk mengatakan cinta padamu, Tolong tunjukkan aku bagaimana aku harus menjagamu, Tolong tunjukkan aku bagaimana aku mencintaimu, Dengan sedikit kesempurnaanku dan segala kekuranganku.

Selesai Sangjin membaca tulisan yang akan menjadi lirik lagu itu. Ia bisa memaknai benar isi lagunya. Kisah tentang seorang pria yang penakut. Takut melakukan segalanya untuk gadis yang dicintainya. Sangjin segera mengambil bolpoin di sakunya. Sekelebat inspirasi itu muncul disaat yang tepat. Segera ia menulis apa yang ada di dipikirannya tepat dibawah rentetan huruf yang sudah ada sebelumnya.

nan salam-iya, deulgo songalag-i nae son-eul ttatteushagehabnida. nae eomji songalag-eulo nunmul- eul dakk-ahalyeoneun dangsin-ui jangsoleul sug-igo nae eokkaeleuljugo sipda. dangsin-i ulgoissneun gos-eulo nae ma- eum-euljugo sipda. dangsin-i salanghaneun nae ma-eum- euljugo sipda. hajiman nan museowo, jeongmal museowoyo! 난 사람이야, 들고 손가락이 내 손을 따뜻하게합니다. 내 엄지 손가락으 로 눈물을 닦아하려는 당신의 장소 를 숙이고 내 어깨를주고 싶다. 당신 이 울고있는 곳으로 내 마음을주고 싶다. 당신이 사랑하는 내 마음을주 고 싶다. 하지만 난 무서워, 정말 무 서워요!

Aku seorang lelaki, Ingin menggenggam jemarimu dengan tangan hangatku. Ingin mengusap air matamu dengan jempolku, Ingin memberi pundakku untuk tempatmu bersandar. Ingin memberi dadaku untuk tempatmu menangis. Dan ingin memberi hatiku untuk kau cintai. Tapi aku takut, aku sungguh takut!

Hanya satu bait yang ia tulis, Sangjin membacanya ulang. Sudah sempurna menurutnya. “kau bisa menggantinya kalau tidak suka!” Sangjin berucap dengan nada yang entah kenapa terdengar sangat dingin sambil memberikan kertas tadi ke Minhyun. Minhyun langsung membacanya dengan teliti. Tulisan Sangjin sangat sinkron dengan apa yang ditulis Aron sebelumnya. Wusssh. . . Inspirasi itu datang menerobos kepala Minhyun. Ia menangkap inspirasi itu dan bolpoin yang dari tadi dijepit oleh dua jari Sangjin itu langsung ditarik paksa oleh Minhyun. Memang cara terbaik menangkap dan menyimpan inspirasi adalah dengan pensil dan kertas menjadi sebuah tulisan.

Kurang dari lima detik Minhyun sudah menyelesaikan tulisannya. Minhyun memegang kedua sisi kertas dengan dua tangannya. Diangkatnya tangan yang sedang memegang kertas itu ke depan. Matanya menyipit seolah membidik objek yang ada didepannya. Kemudian seringai senyum kepuasan itu muncul. Sangjin mencoba melirik apa yang sebenarnya ditulis Minhyun.

nan dulyeowo. . . maeu museowohaessda. . . naneun ‘naneun dangsin-eul salanghabnida’lago dulyeowo haeyo

난 두려워. . . 매우 무서워했다. . . 나는 ‘나는 당신을 사랑합니다’라고 두려워 해요

Aku takut. . . Aku sangat takut. . . Aku takut mengatakan ‘aku mencintaimu’

‘Hanya itu?’ tanya Sangjin pada dirinya sendiri. Hanya satu bait. Bahkan terlalu berlebihan jika dikatakan satu bait. Mungkin lebih tepatnya tiga kalimat dengan susunan 5 kata serangkai. Itupun yang terpanjang.

“cih, yang kau tulis hanya itu?” protes Sangjin yang tidak terima. Karena bagaimana bisa pemilik lagu hanya membuat tiga kalimat. Sedangkan Sangjin yang bernotabene bukan apa apa malah membuat cukup banyak.

“aku yang akan mengolah instrumennya! Kau pikir gampang!”

☆☆☆

Masih pukul setengah tiga tapi Minhyun sudah bersiap untuk pergi ke pemakaman dengan hyungnya. Selama dua bulan ini memang Aron sibuk dengan tugas kuliahnya. Jadi minggu ini merupakan kesempatan yang terbilang langka. Maklum saja Aron akan lulus. Minhyun keluar kamar dengan wajah sumringah. Kemeja kotak kotak warna warni dengan dominasi warna merah itu begitu cocok dengan Minhyun. Dilihatnya hyung tercintanya itu sedang menguliti jeruk di meja makan dengan mengenakan kaus hitam biasa. Aron mengalihkan matanya pada Minhyun. Minhyun mendekati dan hampir duduk di meja makan sebelah Aron. Namun Aron lebih dulu berdiri. Dilihatnya penampilan Minhyun dari atas hingga bawah. Entah kenapa Aron jadi suka sekali mengurusi style Minhyun. Aron meraih tangan kanan Minhyun. Dilipatnya kain yang sebelumnya menutupi seluruh tangannya sampai pergelangan menjadi tiga per empat tepat dibawah siku. Kemudian beralih pada tangan yang kiri. Minhyun memandang Aron aneh. Ia menurut saja. Namun kali ini tangan Aron meraih kera kemeja Minhyun. Dibukanya kancing yang paling atas. Minhyun masih biasa saja. Kemudian kancing nomer dua.

“hyung, kau ini mau menelanjangiku?” kata Minhyun setengah berteriak sambil menepis tangan Aron yang belum sempat membuka kancing yang kedua. Sedetik kemudian terdengar gelak tawa dari mulut Aron. Matanya seketika menyipit. Saking asyiknya tertawa ia sampai menutupi mulutnya kemudian mengatur nafasnya sendiri. Minhyun sedari tadi diam saja. Bingung sejak kapan hyungnya maho begini?

“kau ini polos sekali Hyun-ah! Aku hanya memperbaiki stylemu yang cupu itu!” Aron berucap sambil memandang Minhyun sinis. Kemudian Minhyun terdiam. Tidak mungkin juga kakaknya itu melakukan hal yang gila!

Aron membuka kancing Minhyun yang kedua, ketiga, dan terakhir yang keempat. Aron menepuk pundak Aron. Seperti memberikan kekuatan. Minhyun masih memandangi dadanya. Kaus dalamnya yang berwarna putih itu setengah terlihat hingga membuatnya risih.

“aku malu hyung! Ini bukan style! Malah mengandung pornografi!” kata Minhyun dengan wajah innocentnya. Aron tertawa lagi. Sekarang tawanya lebih dahsyat.

“kau jangan menolak! Sebentar lagi aku akan lulus dan menjadi fotografer handal! Jangan meremehkan styleku!” Aron sedikit menyombongkan diri. Satu sudut Bibir Minhyun tertarik dan matanya menyipit mendengar kalimat Aron. Setelah sudah bisa bernafas dengan normal, tanpa aba aba Aron langsung mengambil kacamata Minhyun dengan sadis. Persis seperti kepala gangster yang sedang membullying anak yang culun.

“hyung hyung! Jangan main main!” respon Minhyun pun demikian seperti anak baru yang sedang diospek kakak kelas. Minhyun memejamkan matanya. Rasanya pusing jika melihat benda benda di depannya berwarna kabur tak jelas.

“pakailah!” Aron menyodorkan sesuatu untuk Minhyun. Minhyun mencoba membuka matanya. Aron mendekatkan benda itu tepat hanya 5 cm didepan mata Minhyun. “soft lens?” Minhyun memastikan pandangannya. Mata yang sudah sipit itu lebih menyipit lagi. Karena dianggap terlalu lama, Aron langsung melebarkan kelopak mata Minhyun. Kemudian benda tipis itu ia tempelkan ke mata Minhyun. “hyung, hyung!” Minhyun sedikit memberontak. Namun terlambat karena kedua matanya sudah terpasang soft lens pemberian Aron.

Kedua tangan Aron memegangi pundak Minhyun. Kemudian posisi Minhyun ia balik sehingga membelakangi Aron. Didorongnya Minhyun yang masih memejamkan matanya menuju cermin yang cukup besar hingga menampakkan ujung rambut sampai lutut. Minhyun segera membuka matanya ketika Aron sudah berhenti mendorongnya. Sesuatu yang dilihatnya pertama kali yaitu pantulan wajahnya dicermin. Minhyun bingung. Apa yang membuat Aron membawanya bercermin? “kau ini sudah tampan, dan lebih tampan jika seperti ini!” ucap Aron sambil meletakkan tangannya ke pundak Minhyun. “biasa saja!” mata Aron mendelik mendengar respon Minhyun. “kalau aku seperti ini untuk apa? Tidak berpengaruh juga!” Minhyun melanjutkan ucapannya sambil masih meneliti dirinya tiap inci dicermin. “hey Minhyun-a! Jika sekarang kau masih seperti ini. . .” ucap Aron menggantung. Wajah yang dari tadi datar kini berubah menjadi sangat serius. Minhyun melihat hyungnya itu sebelum Aron melanjutkan kalimatnya. “sampai saatnya nanti kau akan didewasakan oleh seorang wanita!” Setelah mengucapkan itu, Aron langsung masuk kamarnya.

“OHYA, MULAI SEKARANG AKU TAK BISA MENEMANIMU KE MAKAM! MINGGU AKU LELAH! AKU AKAN MEMBUAT JADWAL SENDIRI!” teriak Aron dari kamarnya. Minhyun hanya bisa mengangkat bahunya kemudian turun dengan kasar.

‘sampai saatnya nanti kau akan didewasakan oleh seorang wanita!’ Minhyun mengingat ingat apa yang Aron ucapkan tadi. ‘apa maksudnya?’ batin Minhyun saat ia melangkah menuju toko tulip seperti biasa. Wajah tampannya berubah sedikit kusut sambil menendang nendang batu yang ada didepannya. Sudah seperti sedang mengiring bola saja.

Lamunan Minhyun terhenti ketika ia sudah sampai di toko tulip satu satunya di daerah itu. “annyeong!” sapanya pertama kali pada ahjumma yang tak lain adalah eomma Sangjin. “Minhyun?” eomma Sangjin memastikan pandangannya. Setelah sadar ia langsung berucap cukup keras. “wah, kau tampan sekali Hyun-a!” Minhyun mengernyit. Apa yang membuat eomma Sangjin begitu memujinya? Padahal menurutnya semuanya biasa saja.

“masuklah!” perintah eomma Sangjin kemudian Minhyun langsung melenggang dari tempat semula. Dilihatnya Sangjin yang sedang duduk menghadap taman tulip yang begitu luas. Jika dilihat dari sudut pandang tempat Minhyun, pemandangan didepannya ini sangat pas. Hamparan tulip putih dengan kursi panjang didepannya. Tak lupa seorang yeoja yang memakai baju putih dengan rok yang juga putih sedang memegang sebuket tulip putih. Dan itulah mungkin objek utama pandangan Minhyun. Minhyun mendekat. Dan duduk disebelah Sangjin. Sangjin menoleh kemudian sudah berancang ancang memberikan buket bunga yang ada ditangannya.

“in. . .” ucap Sangjin terhenti ketika melihat Minhyun yang ada disampingnya. Mata Sangjin terbelalak melihat Minhyun dari bawah hingga atas ‘beginikah seorang Minhyun yang sebenarnya?’ mata Sangjin menatap Minhyun lama sekali. Ini kali kedua ia berani dan mampu menatap Minhyun. “hey, sudah siap?” beruntung Minhyun segera menyadarkan Sangjin. Jika tidak mungkin ia sudah gila sekarang.

“ohya, sebelum pergi ada hal yang ingin aku tanyakan!” ucap Minhyun ketika mereka berdua masih hampir berdiri. Sangjin tak berucap. Sudah kebiasaannya yang seolah tak merespon. Menatap dengan tatapan ‘apa?’ pun tidak. “sebenarnya apa makna bunga tulip putih?” Sangjin sangat tertarik dengan pertanyaan Minhyun. Jarang sekali orang atau pelanggannya yang bertanya demikian. Padahal sangat penting sekali jika mengetahui makna bunga.

“sebenarnya setiap orang harusnya mampu mengartikan bunga, dilihat dari warna dan bentuknya saja sudah bisa ditebak. Tapi sayang biasanya peminat bunga yang ingin menafsirkan artinya, biasanya hanya bergantung pada arti yang sudah ada.” Kalimat Sangjin untuk pertama kali sedikit terhenti. Matanya menatap lurus kedepan. Namun mata Minhyun masih tak beralih dari wajah Sangjin yang masih menikmati pemandangan di depannya. Anak surainya berlarian menjajaki kulit wajahnya yang putih karena tertiup angin.

“secara umum, tulip berarti cinta yang sempurna” seulas senyum terpancar diwajah Sangjin. Manis sekali membuat Minhyun makin tak mau beralih pada wajah didepannya itu.

“tulip putih melambangkan kepolosan, pengampunan, kenangan, kerendahan hati, dan kemurnian. Tergantung tujuanmu untuk apa memakainya.” kalimat Sangjin terhenti dan mungkin sudah selesai ia menjelaskan makna dan lambang tulip putih pada Minhyun. Sangat singkat namun mudah bagi Minhyun memahaminya. Minhyun semakin memperdalam pengetahuannya tentang tulip dengan menanyakan sesuatu yang dari dulu mengganggu pikirannya. Tentunya berhubungan dengan tulip putih.

“jika aku adalah tulip putih, makna apa yang akan kau berikan untukku?” Sangjin mengernyit karena pertanyaan Minhyun yang begitu tidak terduga. Sejurus kemudian Sangjin melihat Minhyun dan langsung menarik matanya. Dia benar benar tidak mau terjebak atau terbunuh oleh death glare Minhyun.

“kepolosan!” jawab Sangjin mantap dan sangat yakin. Kemudian sekelebat ucapan Aron menari nari dalam otaknya.

“tulip putih itu kau!” “kurangi tingkat keluguanmu itu!” “aku heran! kau ini innocent, bodoh, polos, lugu atau apa?” “kau ini polos sekali Hyun-ah! Aku hanya memperbaiki stylemu yang cupu itu!”

Mulut Minhyun komat kamit mengaturkan doa. Tangannya terangkat dan matanya menutup. Sangjin pun demikian. Lalu diusapkannya telapak tangan besar itu di wajahnya. Kemudian Minhyun menjalankan agenda kecilnya. Ia memetik tulip dengan kelopak terbesar lalu diberikannya tulip itu pada Sangjin. Sangjin menerima saja. Ia juga tidak berusaha bertanya mengapa Minhyun selalu menjalankan ritual pemetikan bunga itu. Selain alasan meneruskan kegiatan hyungnya tentunya.

Selesai sudah kegiatan utama mereka. Mereka beranjak berdiri kemudian menyusuri jalan berdampingan. Baru tiga per empat perjalanan mereka, Minhyun berhenti didepan kotak minuman dipinggir jalan. Ia memasukkan beberapa koin. Ia memberikan satu kaleng soda pada Sangjin.

Minhyun mengambil posisi pada tempat duduk panjang disamping lemari soda tadi. Sangjin membuntut saja. Kemudian ikut duduk disamping Minhyun.

Minhyun membuka kaleng sodanya dengan keras. Kemudian badannya membungkuk. Kedua sikutnya ia topangkan pada lutut. Sepertiga wajahnya tertangkap oleh indra penglihatan Sangjin. Hidung mancungnya begitu terekspos. ‘Ahhh bagaimana bisa Kwak Minhyun memiliki gaya seperti itu!’ batin Sangjin sambil senyum senyum sendiri. Dan bagaimana bisa Sangjin teriak teriak dalam hati seperti itu hanya dengan gaya Minhyun yang sebenarnya cukup wajar? Dasar keduanya polos overload.

“ohya, aku tidak pernah melihat ayahmu. Dia dimana?”

“dia mengurus perusahaannya di jepang.”

“kau tidak takut appamu melirik yeoja lain?” pertanyaan macam apa itu? Sangjin sungguh polos. Mungkin bisa dibilang lebih dari Minhyun. Minhyun sedikit melirik Sangjin karena pertanyaan keduanya. Kali ini tidak hanya sepertiga wajah Minhyun yang bisa dilihat Sangjin. Namun hampir tiga perempat. ‘Ah, sungguh Minhyun benar benar aaaaahhh’

“itu malah lebih bagus! Dulu aku melarang appa berhubungan dengan yeoja, namun setelah itu Aron hyung membuka mataku. Namun appa sendiri memang sudah bersikeras tidak mau menikah lagi. Katanya jika appa menikah, siapa yang menemani eomma!” setelah penjelasan itu, Minhyun tertawa. Sangjin hanya tersenyum. Kemudian Minhyun melanjutkan kalimatnya. “aku heran bagaimana bisa appa sangat setia pada eomma seperti itu?”

Deg!. . . Setia? Kata kata itu membuat air mata di pelupuk Sangjin menggenang. Bagaimana bisa Minhyun memiliki appa yang seperti itu, sedangkan dia. . .

“beruntung sekali memiliki appa seperti appamu!” satu kalimat Sangjin kini membuat Minhyun menegakan badannya. Seluruh sisi wajahnya kini tampak pada pandangan Sangjin. Namun Sangjin kemudian menunduk. Minhyun memandangnya terus. ‘ada apa dengan yeoja ini?’ mungkin batinnya demikian. Minhyun terus saja memandangi yeoja yang sedang menunduk disampingnya. Surainya tidak segan untuk memenjara wajahnya. Sangjin terus saja menunduk. Matanya benar benar panas.

“dulu aku, ibu, dan ayah hidup layaknya keluarga lain. Tapi sekarang semuanya berbeda.” tiba tiba Sangjin memberitakan hal yang menbuatnya runtuh seketika. Yaitu tentang keluarganya.

Sangjin adalah anak satu satunya. Keluarga mereka dulu benar benar sederhana. Lebih sederhana dari apa yang ia miliki sekarang. Ketika itu appanya ingin memperbaiki ekonomi keluarga dengan melamar pekerjaan di Jepang. Eomma Sangjin mengizinkan, namun satu tahun berlalu, tidak ada kabar sama sekali. Saat itu Sangjin masih kelas 6 SD. Dan dalam satu tahun itu eomma Sangjin yang menjadi tulang punggung keluarga dengan menjadi buruh cuci.

Beranjak dua tahun, appa Sangjin datang dengan mobil mewah dan pakaian lengkap. Jas, celana, dan dasi bermerek. Namun yang ia lakukan bukanlah pulang untuk anak istrinya. Melainkan ingin menjual rumah yang sedang Sangjin dan eommanya tempati. Jelas saja eomma Sangjin menolak. Dan hingga saat ini tidak ada kabar sedikit pun tentang appa Sangjin.

Sangjin bercerita secara runtut dan lengkap tentang kehidupan keluarganya. Matanya semakin memanas. Dan air matanya mengalir tak terbendung. Isakan demi isakan mengalun dengan keras. Sangjin masih terus menunduk. Tangan kanannya membekap mulutnya, menahan suara tangisnya yang makin menjadi. Namun tak bisa. Minhyun mendengarnya. Mendengar suara mulutnya dan hatinya. Tangan Sangjin bergetar. Mata yang sudah menutup itu ia tutup lebih rapat lagi. Berusaha menutup kenangan pahit masa lalu keluarganya itu.

Ya, kali ini Minhyun tahu betul apa yang dirasakan Sangjin. Dan baru pertama kali ia melihat yeoja yang menangis didepannya. Minhyun menggerak gerakkan jari telunjuknya. Hatinya pasti berkata ya. Bagaimana bisa ia membiarkan seorang yeoja menangis didepannya. Namun pikirannya masih ragu. Iya, tidak, iya tidak. Tangan Minhyun bergetar hebat dan sedikit demi sedikit mulai terangkat. Matanya berubah menjadi sayu melihat yeoja yang ada disampingnya itu menangis makin menjadi. Tangan Minhyun masih bergetar hebat dan akhirnya sampailah tangan itu pada pundak Sangjin. Minhyun mengelus pundak lemah itu perlahan. Mencoba ikut dalam dunia Sangjin. Ikut merasakan apa yang Sangjin rasakan. Kemudian tangan kokoh itu membawa tubuh Sangjin mendekat. Diletakkannya kepala Sangjin diatas dadanya. Tangan kiri Minhyun mengelus rambut panjang Sangjin. Dada Minhyun sesak seiring dengan dekapan tangan kanannya dan sapuan halus tangan kirinya. Janggut panjang Minhyun meraih puncak kepala Sangjin. Mata sipit itu menutup perlahan. Menikmati aroma rambut Sangjin. Dan menikmati irama jantungnya sendiri yang sudah tak karuan.

Sangjin menurut saja dengan perlakuan Minhyun. Dirasakannya tangan Minhyun yang begitu menenangkan dan pelukan itu membuatnya merasakan degupan aneh. jantung mereka saling beradu membentuk suatu irama. Dipadu dengan kehangatan yang entah sejak kapan menghanyutkan akal sehat mereka. Dan sepenggal lirik lagu itu muncul dibenak Minhyun.

nan salam-iya dangsin-i ulgoissneun gos-eulo nae ma- eum-euljugo sipda.

Aku seorang lelaki, Ingin memberi dadaku untuk tempatmu menangis.

‘apakah aku sudah mulai menjadi seorang lelaki?’

☆☆☆

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s