[Cerpen] Painkiller

Assalamualaikum… Lama aku nggak bikin cerpen. Hari hari bikin ff terus soalnya. Ini cerpen juga mampet dapet inspirasi dari MVnya T-ARA, THE SEE YA, 5DOLLS, SPEED yang ‘Painkiller’. MVnya recomended bgt lah sebelum baca ini cerpen. MVnya cocok buat jiwa jiwa melankolis suka mewek gitu #apasih. MVnya galau tapi bertenaga (?) nggak cuma mewek mewekan aja. Aku pakek sudut pandang aku. Rencana pakek ‘dia’ tapi nggak enak. Tapi kalo pakek aku, nulisnya jadi berat, susah dan kurang ngeh nggak tau kenapa. Ini bukan songfic! Ceritanya mirip MVnya tapi beda sama lirik lagunya. Lirik aslinya tentang cinta cintaan. Tapi disini aku ganti. Yah gitu pokoknya. Maaf typo bertebaran, setting gak jelas dan cuma satu, tokohnya juga cuma satu. Hahaha. Selamat membaca!

=====

Satu persatu kubuka kain putih yang menutupi barang barang dalam rumah ini. Rumah persegi dengan dominasi perabot kayu didalamnya. Cukup luas untuk ditempati satu orang. Tempat tidur king size disebelah kiri. Berjarak beberapa langkah didepannya terdapat sebuah meja kecil dengan dua kursi. Juga cermin besar seukuran tubuh manusia dewasa berada di samping pasangan meja kursi tersebut. Rumah penuh kenangan saat aku masih di ayunan bunda. Tapi tidak, sekarang ini semua bukan lagi rumah kenangan. Sebut saja rumah pengasingan. Jahat memang semua orang di dunia ini jahat. Sangat jahat. Mengasingkan seorang penderita HIV akut (ngasal). Dengan alasan supaya kamu bisa tenang dengan hidupmu sendiri, supaya kamu bisa memuaskan dirimu di dunia ini tanpa segala peraturan. Apa iya seperti itu? Terlalu halus! Semua orang menghindariku! Semuanya!. Aku melihat pantulan diriku di cermin besar yang memperlihatkan seluruh tubuhku setelah aku berhasil membuka kain putihnya. Aku melihat diriku lagi. Menatap lekat lekat bayangan manusia yang seharusnya tidak dilahirkan di dunia ini. Tak ada gunanya. Aku menelan ludah dengan susahnya. Sedetik kemudian mataku beralih pada jendela besar disamping cermin itu. Pelan aku menarik benang di ujung jendela itu. Cahaya matahari menyilaukan merambat lurus menampilkan debu debu yang beterbangan. Aku tersenyum simpul lalu melihat lihat lagi keadaan rumah. Berputar putar pada satu titik. Semua kenangan itu tampil dengan jelasnya. Aku mencoba acuh, kemudian kubereskan bajuku. Ckrieeeettt… Dua pintu lemari coklat disamping ranjang berhasil kubuka lebar. Terdapat beberapa baju kecil disitu. Aku melihatnya. Memandangnya nanar sebelum mengambilnya. Lalu ku peluk baju itu erat erat. Sesak sekali rasanya. Dadaku naik turun. Mataku terpejam sangat erat. Aku terisak hebat. Mengingat masa lalu yang itu begitu menyesakkan. Kembali aku mencoba acuh, menenangkan diriku. Kucoba meraih ujung kasur dengan kedua tanganku. Butuh tenaga kuat untuk aku melakukannya. Dengan nafas yang masih berantakan, aku mencoba duduk di tepi ranjang. Dadaku naik turun saat aku menuangkan beberapa butir pil yang ‘katanya’ penolongku. Entah berapa banyak tanganku menerima tumpahan benda merah dari botol kaca coklat tadi. Beberapa butir berserakan di lantai. Ku makan semuanya membuat kepalaku mendongak menerima semua itu. Namun belum sampai tertelan, aku memuntahkannya dengan darah yang mengalir bebas dari mulut sampai tanganku. Mataku menutup lagi. Sangat rapat. Aku memukul dadaku kuat. Diiringi deruan nafas juga beberapa isakan sebagai irama latar belakang penderitaanku sekarang. ‘aku lelah! Sungguh aku lelah!’. Telapak tanganku meraba permukaan kasur. Seluruh bagian tubuhku menyusul. Mataku menutup perlahan. Nafasku belum teratur sempurna. ‘mungkin setelah ini! Kumohon jangan bangunkan aku!’

☆☆☆

“bunda, bunga yang ini belum disiram!” “kita akan pindah ke kota nak, dirumah baru ayah!” “Hana, jangan menangis. Bunda hanya demam” “bunda terkena HIV Hana! Maafkan ayah!” “jaga dirimu, doakan bunda ya!” “Hana, lebih baik kamu pindah ke desa. Ayah akan tinggal dengan mama!” “ayah sudah melupakan bunda?” “SUDAHLAH HANA! BUNDA SUDAH TIDAK ADA!” “lebih baik kamu pindah ke desa, kamu terinfeksi HIV seperti bundamu!” “ayah tidak mau jika kamu tinggal bersama ayah, nanti kamu tidak bisa bebas! Pergi hari ini! Siapkan barang barang kamu!” Cahaya orange matahari pagi menerawang jendela kamarku. Menelusup pada kelopak mataku yang masih enggan menerimanya. Namun setelah itu aku langsung membelalak kaget. Semua mimpi semalam seperti roll film. Menampakkan segala kenangan buruk kala itu. Tanganku terulur meraih ponsel yang ada di atas meja kecil disamping kasur. Nafasku kembali tak terkendali. Aku memencet nomor ayah. Tidak ada jawaban. Airmataku sudah mengalir deras. Aku memencet nomor ponsel bunda. Aku masih menghafalnya. Lalu untuk apa? Kenapa aku benar benar tidak waras? Aku membanting ponsel itu ke sembarang arah. Mataku menutup kuat kuat. Aku menjambak rambutku sendiri. ‘tuhan tolong aku!’ aku begitu frustasi. Aku menangis sejadi jadinya. Menyampaikan segala kepenatanku selama ini lewat isakan. Entah bagaimana bisa aku menangis. Aku terlalu sering melakukannya. Apa airmataku tidak habis? Kutekuk lututku kemudian kubenamkan wajahku disitu. Aku meremas selimut dengan kuat. ‘tuhan, kapan waktu itu akan datang? Aku menunggunya!’ Selang beberapa jam setelah aku aku merasa tenang, aku berjalan ke sembarang arah. Kulihat kamar mandi besar yang masih sama seperti dulu. Aku memasukinya, kulihat diriku di cermin. Ku kaitkan beberapa rambutku ke belakang telinga. Aku menarik nafas panjang kemudian tersenyum kecil. Namun mataku tertarik oleh botol parfum di pinggiran jendela. Aku menghirup aroma parfum itu. Bau kayu manis begitu kentara. Aroma favorit ayah. Aku duduk di lantai. Bersender pada tembok dengan kaki yang sengaja ku luruskan. Aku membalik parfum tadi. Menatap satu persatu tetesan yang keluar dengan tatapan kosong. Airmataku menggenang. “ayah!” aku menangis lagi. Kemudian ku Letakkan botol parfum tadi ke sembarang tempat. Selesai aku membersihkan diriku, aku menyiapkan sarapan dengan bahan seadanya. Lima piring sudah rapi bertengger di meja kecil didepan ranjang. Sendok dan garpu pun tak lupa kuletakkan. Dua porsi makanan untuk aku dan bunda. Aku tersenyum terus sambil memainkan jari jariku. Sesekali melihat pintu untuk memastikan apa bunda sudah datang?. Namun rasa sakit itu datang lagi. Begitu menyakitkan. Ku pegang dadaku kuat kuat. Juga kupukul sesekali. Rasanya begitu perih. Pertahananku melorot. Aku terjatuh dari kursi. “uhuk uhuk” tangan kananku memegangi mulut, tangan kiriku memegang dada yang masih perih. Aku batuk dan memuntahkan banyak darah. Bahkan tanganku tak cukup menampung darah itu. Darah itu banyak menetes ke lantai. Aku menunduk. Aku ingin berteriak tapi percuma. Siapa yang mau mendengarkanku? Airmataku berlomba lomba jatuh. Aku melihat tangan kananku dengan gemetar. Semuanya penuh dengan darah. Aku terisak hebat entah untuk yang keberapa kalinya. Aku melirik kilas meja makan tadi. Aku bangkit dan kuangkat satu piring dengan pelan dan langsung saja kubuang ke sembarang tempat. Aku terus menangis. Entah kenapa aku yang menderita seperti ini? Kenapa aku begitu frustasi? Kenapa aku tidak bisa menjalankan semuanya dengan tenang? Tidak! Tidak bisa! Semua ini terlalu menyakitkan! Ku geser semua benda yang ada di meja tadi. Pikiranku terus menampilkan wajah bunda saat bersamaku. Dengan kuat dia melawan penyakitnya. Tapi kenapa aku tidak bisa seperti bunda? Aku mengangkat satu gelas yang tersisa. Aku memecahkannya dengan malas. ‘bunda, datanglah kesini! Aku menunggumu!’.

Aku melihat sekitar. Darah berceceran dimana mana. Aku tertawa kencang. Tapi mataku masih berair. Aku menertawakan diriku yang seperti ini. Aku hidup untuk menjadi lelucon?. Aku kembali menangis ketika melihat botol obatku masih dengan apik berada diatas meja. Aku meraihnya dengan tangan gemetar. Kemudian entah angin apa yang mendorongku untuk melihat cermin. Aku melihat baju putih dengan longdress putihku penuh bercak bercak darah. Aku tertawa lagi. Apa benar aku diciptakan di dunia ini untuk menjadi lelucon? Darah di dagu dan sudut sudut bibirku menambah niatku untuk tertawa lebih kencang. Ku tatap diriku lagi di cermin. Mata sayuku ingin berbicara. Lalu sesuatu menghalangi penglihatanku. Semua yang ada di dunia ini menjadi kabur. Aku menginginkan itu. Tuhan tolong!. Namun itu hanyalah airmataku yang menumpuk di pelupuk. Mataku terpejam sesaat. Mencoba menggeser posisi airmata itu hingga ia turun dengan sabarnya. Namun sesuatu menonjok dadaku kuat. Sakit sekali. Tangan kiriku mengepal memegangi dada kananku. ‘selalu seperti ini! Kenapa?’ batinku berteriak sembari aku terisak kuat kuat. Antara menahan sakit fisik juga psikisku. Aku melemparkan botol obatku tadi ke kaca. Membuat retakan amarah. Si kaca kalah dari si botol yang hanya jatuh tanpa cacat. Aku menutup mulut. Aku berteriak didalamnya. Sekali lagi pertahananku ambruk dilantai coklat kayu rumah itu. Aku menangis kuat kuat sambil menunduk. Kedua tanganku mencoba meremas lantai sesekali memukulnya kuat. ‘kenapa seperti ini?’. Aku terkulai lemas. meringkuk sendiri diatas lantai dingin ini. ‘tuhan, aku menunggu saat itu! Aku sudah tidak kuat! Aku menunggu. Secepatnya!’

☆☆☆

Sekarang pukul 10.30 siang. Aku memandangi jam weker kayu yang tergeletak di meja ruang tamu ditemani botol obatku dan beberapa tumpuk buku. Aku hanya duduk disofa sembari memandangi jam itu tanpa tujuan. Detik detiknya terus berjalan maju. Pelan telunjukku memutar jarum weker itu satu setengah jam yang lalu. Tapi tidak bisa. Jarum itu kembali seperti semula. Kembali pada saat ini. Dan akan terus berputar maju. Aku mengangkat jam weker tadi. Kuputar mundur berkali kali dengan airmata yang sudah memberontak ingin keluar. Aku menggigit bibir bawahku sambil terus memutarnya. Tolong kembalikan aku pada saat saat dimana aku tidak menjadi sosok seperti ini. Kalaupun tak bisa, jangan pernah menghidupkanku tuhan. Jangan pernah meletakkanku pada rahim ibuku dulu (dosa ini dosa ><). Jangan menyesali hidup! Omong kosong! Lalu apa yang perlu disyukuri dari hidupku saat ini? (dosa ini dosa lagi. XD) Aku berhenti memutar jarum weker tadi. Jarum tersebut tidak menurut dan terus berputar maju. Mencari waktunya saat ini. Kesal aku meletakkan jam itu kasar. Nafasku mulai berantakan. Tapi belum sempat airmataku menetes, kepalaku menoleh ke botol obat yang tergeletak di seberang tempat jam weker. Aku meraihnya dan ku tumpahkan semua isinya hingga habis. Aku menelannya. Kepalaku mendongak namun “uhuk uhuk!” sesak itu datang lagi. Aku memegangi dadaku sakit. Juga memukulnya. Perih sekali rasanya menahan sakit seperti ini terus terusan. Tuhan, aku masih menunggu saat itu. Ambil aku kapanpun kau mau. Secepatnya!. Pikiranku makin kacau. Tapi sesuatu membuatku tertarik dan sakit itu hilang begitu saja entah kemana. Tek tek tek… Suara jam weker tadi terdengar begitu jelas. Mataku membelalak melihat beberapa jarum disitu berputar mundur. Entah sampai berapa jam, hari, atau tahun. Kedua tanganku meraih jam weker tadi. Satu airmataku pecah. Kututup mataku dan aku tersenyum. Kupeluk jam weker tadi. Apa ini hanya ilusi? Atau rekayasa tuhan untuk kebahagiaan sesaatku? Lama aku memeluk jam itu erat. Mataku terus terpejam. Rasanya bahagia sekali. Kepalaku terasa berat. Aku berguling ke samping. Bunda, sampai jumpa!. Benarkah sekarang? Terimakasih!.

-Painkiller-

sarangeun mosdoen gieogiya. sarangeun dachin chueogiya.
[Cinta adalah kenangan yang buruk. Cinta adalah ingatan yang menyakitkan.]
eonjejjeum gwaenchanha jiryeona?. haeneun eonje dasi tteuryeona?. wonrae ibyeori da ireohge?.
[Kapan semua akan baik-baik saja?. Kapan matahari akan terbit lagi?. Apakah perpisahan selalu seperti ini?.]
sarangeun apaya sarangiya.
[Hanya Cinta ketika cinta ini sakit.]
jugeul deusi apeunyago.
mogi maeyeo sumdo mot swigo.
sigani gado soyongeopseo.
jogeumina useul su issge.
nae mam jom chiryohae jwoyo.
[Aku tercekat, Aku bahkan tidak bisa bernapas.
Bahkan waktu yang berlalu tidak merubah apa-apa.
Silakan menyembuhkan hatiku.
agar aku bisa sedikit tersenyum.]
inomui dutongi nasjil anhayo.
du pare begaereul kkeureo anhayo.
gasiga simjangeul jakku jjilleoyo.
bul kkeojin bangane bimyeongeul jilleoyo.
jidokhan gamgineun nasjil anhayo.
mul eopsi duseal yageul samkyeoyo.
deoreoun achim jidokhan gamgie wae tto gichim..
[Sakit kepala ini tidak akan dapat lebih baik.
Aku memegang bantal erat dalam pelukanku.
Duri menusuk ke dalam hatiku.
Aku menjerit di ruang gelap.
Dingin yang mengerikan ini tidak akan dapat lebih baik.
Aku menelan beberapa pil tanpa air.
Pagi kotor, batuk yang parah Dan batuk lagi..]
jugeuldeusi apado ne saenggakman.
jeongmallo geudaen naui yagingabwa.
imi kkeutnabeorin yaegingabwa.
naega naega unda.
(gamgineun dangchwe nasjilanhayo.)
[Bahkan ketika sakit begitu banyak aku masih memikirkanmu.
Kau adalah obatku.
Ini adalah kisah yang harus berakhir.
Aku aku menangis.
(Dingin ini tidak semakin baik.)]
jintongje piryohae. Help me take my pain away.
neul naege neoneun haeroun aeyeossdago.
saenggakhaessgeonman.
Ma mistake..
[Aku perlu obat penghilang rasa sakit.
Bantu aku mengambil rasa sakitku pergi.
Aku selalu berpikir Kau adalah pengaruh berbahaya. Kesalahanku..]
geudae eopsi nan mossaneunde.
nae momhana chaenggiji moshaneunde.
ireul eojjae aigo ya.
ireodaga saram japgessne.
[Aku tidak bisa hidup tanpamu.
Aku bahkan tidak bisa merawat diriku sendiri.
Apa yang harus aku lakukan?.
oh.. Aku pikir aku akan mati]
tteonaganeun bareul butjapgo.
aewonhago sipjiman.
geumanhan yonggido.
eopseul mankeum nan neomu apa.
[Aku ingin meraih kakimu ketika Kau pergi.
Dan memintamu untuk tetap tinggal.
Tapi aku sangat sakit.
Aku bahkan tidak memiliki keberanian untuk mencoba.]

-Painkiller-

##end## GJ? Tinggalkan komentar! Terima masukan, saran, hinaan (?).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s