[FF] Tulip (Parallel) – Chapter 1

Cast:

– Hwang Minhyun as Kwak Minhyun
– Lee Sangjin (OC)
– Aaron Kwak

Genre: Romance, Friendship, Brothership, Family. Dll (cari sendiri)

Rating: PG-13

Length: Short story ( Chapter)

Author: Mujtahidatul Alawiyyah (Tae Hee-Da)

Disclaimer: semua plot karyafiksi semata, jika ada kesamaan tokoh, alur, dll mungkin kebetulan lewat karena ff ini murni hasil pemikiran saya dan terinspirasi dari beberapa kejadianalam (?), ff ini hanya untuk hiburan semata, semuaproperti yang digumakan terbuat dari styrofoam *eh. dan tokohtokohyang saya gunakan adalah milik Allah SWT, agensi, orang tua. kecuali Aron milik saya #dilarangprotes

tulipku. . .
cintai aku dengan kepolosanmu. . .
aku akan mencintaimu dengan kepolosanku. . .

#1
╱╲╱ Parallel ╲╱╲

☆☆☆

“tulip putih itu kau!” selalu empat kata itu yang diucapkan Aron ketika adik kecilnya itu sudah mulai bertanya “kenapa kau selalu memberiku tulip putih ini?” atau “apa hubunganku dengan bunga tulip putih?” dan berbagai variasi pertanyaan yang serupa. Minhyun -adik Aron- itu sudah berulangkali dibuat bingung oleh kakaknya sendiri. Bagaimana tidak? Awalnya Aron memang hobi membeli tulip putih untuk diberikan ke makam ibu mereka. Namun lambat laun Aron mulai dengan kebiasaan anehnya. Ia selalu mengambil satu tangkai tulip putih dari rangkaiannya untuk diberikan kepada Minhyun.

Sore itu seperti biasa, sepasang kakak adik itu mengunjungi makam ibu mereka. Tempat makamnya tak jauh dari rumah mereka sehingga hanya dengan jalan kaki saja sudah sampai. Minhyun dan Aron mengepalkan tangannya membentuk suatu permohonan saat mereka sudah berjongkok ditepian gundukan tanah yang tidak terlalu tinggi. Mata mereka terpejam. Mulut mereka mengatup rapat namun hati mereka sarat akan permohonan dan permintaan kepada Penguasanya. Sampai akhirnya lelaki yang paling tua mengusapkan tangannya ke wajahnya sambil sedikit tersenyum. Kemudian disusul dengan lelaki yang memakai kacamata minus tebal. Aron segera meletakkan sebuket bunga tulip putih itu di depan nisan putih. Namun sebelum itu ia memetik satu tangkainya. Memilihkan bunga dengan kelopak terbesar dan memisahkannya pada kawannya.

“hyung, ke. . .”

“karena tulip putih itu kau!”
Dengan cepat Aron menceletuk ucapan Minhyun karena hampir setiap minggu ia menanyakannya. Setelah itu tanpa aba aba Aron langsung meninggalkan Minhyun yang masih kesal kemudian Minhyun mengekor dibelakang Aron.
☆☆☆

Sinar kuning itu menyelinap masuk melewati kisi kisi kamar Minhyun. Cahayanya pas mengenai mukanya. Membuat malaikat pun iri dengan ketampanannya.

“arrrggh. . .” Minhyun mengerang sembari badannya ia lekuk ke kanan kiri supaya lebih relax.
Matanya mengernyit mencoba beradaptasi dengan cahaya pagi yang begitu menyilaukan. Tangannya meraba raba meja kecil yang ada disamping ranjang tidurnya. Mencari nyawa bagi matanya. Kemudian ia keluar kamar dengan langkah gontai.

Aron tak henti hentinya memandangi adiknya yang sedang mengoles roti dengan selai kacang. Bukan karena ia menyukai adiknya sendiri. Ia juga masih sangat normal. Mata Aron membidik penampilan Minhyun dari ujung rambut hingga sepatunya.

“kenapa hyung?” Minhyun bertanya sambil melihat penampilannya sendiri. Baginya semuanya normal dan tidak ada yang aneh.

Aron malah menampakkan wajah seperti balik bertanya. Kebingungan itu muncul begitu saja diantara mereka. Sebenarnya Aron sendiri bingung, adik semata wayangnya itu benar benar lugu. Rambutnya tersisir rapi ala rambut bieber, kancing atas kemejanya tertutup rapat dan dasinya juga ikut menghiasi. Baju bawahnya masuk rapi kedalam celananya. Tak lupa ciri khas Minhyun memakai kacamata bingkai penuh dengan banyak minus. Semuanya terlihat rapi. Seperti anak SD yang baru masuk sekolah. Awalnya Aron merasa itu wajar, namun saat memasuki SMA sikap Minhyun tidak berubah atas penampilannya. Padahal Aron sudah berusaha membuat penampilan Minhyun semenarik mungkin saat dirumah, namun Minhyun selalu menolak saat kakaknya itu mengatur selera berpakaiannya saat sekolah.

Minhyun melangkah santai menjajaki jalanan yang masih sepi. Namun baru lewat tiga rumah, matanya beralih ke toko bunga tulip ‘sejak kapan ada toko bunga disini?’ batin Minhyun. Tak lama setelah itu seorang gadis muncul dari rumah sederhana samping toko tulip itu. Baju yang mereka kenakan sama. Gadis itu melangkah santai tak mengetahui kalau ada seorang namja yang sedang mengamatinya. Minhyun berjalan cepat karena langkah kalinya memang besar besar. Sampai hanya berjarak sekitar 150 centi Minhyun dibelakang yeoja itu.

‘aissshhh. . . Yeoja ini jalannya lama sekali!’ Minhyun menggerutu dalam hati. Ia terpaksa berjalan terseok seok dibelakang yeoja itu. Tak mungkin jika Minhyun menyalip yeoja itu atau lebih tidak mungkin lagi jika berjalan bersama dengan yeoja itu. Berjalan beriringan dengan yeoja yang ia kenal saja tidak pernah, bagaimana dengan yang belum kenal?. Sesekali Minhyun menghentikan langkahnya ketika jarak mereka sudah terlalu dekat.

Minhyun duduk di kursi pojok sendirian. Sebenarnya ia anak yang pintar di sekolah, juga berasal dari keluarga yang mapan. namun hanya karena penampilannya yang tidak bertahun 2013 itu membuat teman temannya enggan untuk mendekat. Banyak sekali teman yeoja yang berkata “harusnya kau tampan, tapi dandananmu itu!” banyak yeoja yang berkata demikian. Dan biasanya dengan sengiran mengejek sesudahnya.

“kita kedatangan murid baru! Silahkan masuk, perkenalkan dirimu!” tiba tiba Jung seonsaengnim memanggil seseorang masuk dengan nada tegasnya. Lalu terlihat oleh Minhyun kuncir belakang itu. . .

“annyeong, Lee Sangjin imnida!” ucap yeoja itu. Suaranya sangat kecil dan lembut. Butuh tenaga ekstra untuk hanya bisa mendengar suaranya. Minhyun mengernyit “yeoja tulip itu?”

Yeoja itu mengambil posisi disamping Minhyun karena hanya ia yang tidak memiliki teman sebangku. “Sangjin imnida!” ucap Sangjin singkat. Sedikit menoleh pada Minhyun namun kemudian menarik matanya kembali.

“Minhyun, Kwak Minhyun imnida!” Minhyun menjawab perkenalan Sangjin. Minhyun merasa aneh lagi dengan yeoja itu. Berkenalan tanpa berjabat tangan? Melihat pun tidak? Yeoja itu memang aneh.

Bel istirahat berbunyi dengan nyaring. Semua siswa meninggalkan kelas. Namun tidak untuk Minhyun dan Sangjin. Mereka berdua sibuk berkutat dengan kesibukan masing masing.
Sangjin sibuk membuka lembar demi lembar buku tebal yang biasa orang sebut novel. Sedangkan Minhyun sibuk mencari headphonenya lalu segera ia tancapkan pada telinganya. Biasanya saat istirahat Minhyun langsung ke taman sekolah. Bersenandung sambil memetik gitarnya namun berhubung kali ini ia tak membawa gitar ia hanya bisa berdiam dikelas.

Tuk tuk tuk. . . Tangan Minhyun mengetuk bangku mengikuti intro lagu yang keluar dari headphonenya. Jelas saja itu membuat Sangjin terganggu. Sangjin memalingkan mukanya ke Minhyun dan berusaha berucap tanpa nada tinggi.

“bisa kau. . . .” belum selesai Sangjin berbicara, suara Minhyun keluar dengan sangat lembut.

Uhlmana uhlmana shiruhar ji
armyunsuhdo
eeguht baggeh har geh uhbtda
Nuh-eui jib apesuh hariruhbshi
nuhreur gidarineun eer

Satu bait lagu 2am itu sukses membuat Sangjin terpana dengan suara Minhyun. Minhyun begitu menghayati lagunya. Matanya terlelap. Namun bibirnya membuka dan menutup untuk mengeluarkan suara beningnya. Perlahan mata Sangjin ikut menutup. Telinganya terbuka lebar menunggu bait selanjutnya.

Amoori amoori na bichamhaedo
nuhreur irhneun guhtbodan
Eerhuer geh uhbsuhsuh
gateun gosesuh
nuh-eui jib apesuh gidarinda

Satu bait selanjutnya membuat Sangjin benar benar bertekuk lutut. Suaranya teduh, tenang, bening. Tidak hanya membuat tubuh seseorang bergetar, namun bisa membuat jantung seseorang lebih dari kata bergetar. Mata Sangjin masih saja terlelap untuk menunggu bait selanjutnya. Namun lama sekali ia tak mendengar apapun. Sampai ia membuka matanya. Minhyun ada didepan Sangjin. Ia menatap Sangjin dengan heran. Kedua alisnya menyatu ke tengah menbuatnya sedikit berkerut.
Sangjin gelagapan “hoooaaammm”
Sangjin membukan mulutnya lebar lebar kemudian menidurkan kepalanya diatas novel yang masih terbuka. Ia meneguk ludah cepat cepat. Namun Minhyun hanya menangguk angguk. ‘rupanya kau sedang mengantuk’.

☆☆☆

Hari kedua Minhyun sebangku dengan Sangjin. Semuanya biasa biasa saja, malah terkesan saling menghindar. Minhyun tidak berminat dekat dekat dengan Sangjin karena itu memang bukan gayanya. Kwak Minhyun yang terkenal tidak pernah sekalipun berhubungan dengan seorang yeoja. Sangjin pun demikian, walaupun suara Minhyun bisa membuat hatinya luntur berkeping keping dan suara itu juga yang menbuatnya menyatu kembali tapi semuanya tetap biasa saja. Ia juga sepemikiran dengan Minhyun. Sifat mereka berdua hampir sama. Dan jalan pikiran mereka juga serupa. Mereka berdua juga sama sama memakai kacamata tebal.

Seperti biasanya jam istirahat berbunyi. Minhyun

Iklan

One thought on “[FF] Tulip (Parallel) – Chapter 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s