[FF] Math Makes One

FF/ Math Makes One/ Friendship/ One Shot/ 14+

Tittle: Math Makes One
Cast:
-Seo Young Joo
-Lee Sang Jin
-Im Yoon Ah
-Lee Dong Hae
Genre: Friendship, Romance
Backsong: 2PM – I Can’t
Author: Mujtahidatul Alawiyyah (Tae Hee-Da)
Twitter: @iidonghae861015
Blog: www.iidonghae.wordpress.com

Assalamualaikum, ciye balik lagi. Padahal ujian banyak bgt tapi masih sempet bikin hayalan hayalan lebay. (۳ ・ิω・ ิ )۳

Ngeliat judulnya aja pasti udah mupeng dan bayangin rumus matematika yang engga akan habis di makan waktu (˛•̃•̃)/\(•̃•̃¸) #authorsangtae.

Judul itu sebenernya terinspirasi dari embel embel nya MAMA (mnet asia music award) yang “music makes one”
Eh, keseliwer deh ide dungu buat bikin judul “math makes one” kebetulan juga ceritanya ada unsur kematematikaannya (•ˆ⌣ˆ•) #Ngemengepe

Mian kalo ceritanya ababil dan banyak adegan yang “sinetron banget”

Yaudah, cekidut lah ke ceritanya.

Cusss on. . .

*************

bel pulang sekolah sudah berahir, tapi itu malah menjadi mala petaka bagi Youngjoo dan Sangjin. Mereka harus di hukum push up 100 kali karena sesuatu yang sangat biasa. Youngjoo dan Sangjin memang sudah terkenal seperti Tom and jerry bahkan mungkin lebih. Dari berangkat sekolah hingga pulang ada saja ide kreatif mereka untuk mengerjai satu sama lain. Tidak pernah ada yang menang dan tidak ada yang mau mengalah.
Keisengan favorit mereka adalah setiap istirahat, entah siapa yang berhasil ke lantai dua duluan, maka yang terahir harus siap siap kena timpuk kaleng minuman dari atas.

“tiga puluh satu, tiga puluh dua a a. Fiuhhh” Sangjin mendengus kesal karena ia sudah lelah dan ketinggalan jauh dari Youngjoo yang sudah sekitar 70.

Sangjin merebahkan tubuhnya kasar ke tanah sambil ngosh ngoshan.
“seongsangnim. . . Aku lelahhh,,, aku kan yeoja, masa harus sama dengan namja!”

“hahhh, hanya alasan. Jangan dengarkan seongsangnim! Dasar yeoja manja! Sudah kumel, manja, lemah juga. Kenapa kejelekan itu ada di dirimu?” tiba tiba Youngjoo menyahuti permintaan Sangjin pada Lee Donghae seongsangnim.

Dengan cepat Sangjin mengambil batu kecil yang ada di depannya dan. . . “plukkk” pas terkena punggung Youngjoo . “hey, jaga mulutmu itu! Dasar ganteng ganteng tapi otakmu dangkal!”

“apa! Hey, lumayan itu! Dari pada yeoja kumel dengan kacamata dan ponimu itu. Mengganggu pemandangan setiap orang!”

“apa! Hah” Sangjin dan Youngjoo pun berdiri anjing dan kucingpun beraksi.

“DIAAAAAAAMMM” Lee Seongsangnim mengheningkan suasana dan hukumannya di tambah.

Setelah selesai. Merekapun pulang dan semoga tak ada keributan yang terjadi di jalan.

☆☆☆☆☆

“na na na na . . .” Sangjin mendendangkan lagu pelan sambil berjalan ceria menuju kelas. Tapi baru setengah jalan ia malah disuguhi pemandangan yang sangat membuatnya iri. ‘kenapa Youngjoo sangat terkenal, pagi pagi saja sudah banyak yang memberinya kado. Lah aku? Kumel, kaca mata, aishh’ eluh Sangjin dalam hati.

Baru tiga langkah ia langsung berhenti. “ahaaa” sebuah ide kreatif Sangjin muncul begitu saja. Ia langsung bergegas ke kelas dan mempersiapkan kado istimewa untuk musuh sebangkunya.

“Minggir.” Youngjoo datang dengan kasar dan terheran heran dengan kado kecil yang ada di laci mejanya. Ia langsung membukanya. “waaahh, lucu sekali siapa yang memberiku Baby kecoa ini?” Youngjoo menenteng antena kecoa tersebut dan mengelus mesra kecoa yang Sangjin berikan lalu berjalan ke luar kelas. “Kenapa dia tidak takut? Apa phobianya sudah sembuh” Sangjin heran dengan sikap Youngjoo yang sangat tidak di harapkannya. Padahal rencananya tidak seperti itu.

“iiihhh, yeoja gila.” Youngjoo membuang kecoa tersebut ke tempat sampah sambil kegelian. “untung aku tadi tidak gegabah. Kau pikir aku bodoh hah! Aku sudah tahu akal bulusmu yeoja kumel! Hihhh tapi jijik.” Youngjoo masih menggaruk garuk badannya kegelian.

‘awas saja yeoja kumel! Aku punya segudang rencana untukmu! Tunggu pembalasanku besok!’

☆☆☆☆☆

#Esok hari

“Permisi, Sangjin!” Youngjoo datang sambil menyunggingkan senyum manisnya. Sangjin? Dia menyebut nama Sangjin? Mustahil. Sangjin yang kebingungan, tidak membalas senyum Youngjoo . Rasa aneh dan waspada menggelayuti pikiran Sangjin.

“Teet teet” bel istirahat berbunyi dan Sangjin tidak berminat keluar dan mengerjai Youngjoo hari ini . Youngjoo memberi isyarat supaya dia diberi lewat dan Sangjin hanya menggeser badannya kemudian melanjutkan ke posisi semula. Bel masuk sudah berbunyi namun tidak ada guru yang masuk, Sangjin pun memutuskan untuk tidur di kelas karena badannya panas.

Youngjoo yang dari tadi hanya mempermainkan PSP nya sekarang melirik kecil Sangjin yang ketiduran. Kemudian ia melambai lambaikan tangan ke arah matanya memastikan apakah dia benar benar sudah tidur.

‘yeah, ini sebagian kecil rencanaku’ Kata Youngjoo licik dalam hati dengan menyunggingkan senyum evilnya.

Youngjoo memulai tugasnya, ia mencoreti wajah Sangjin dengan cat minyak yang tentu saja sulit untuk dihilangkan. Youngjoo dengan jelih menyoretkan catnya seperti menggambar di kanfas. 3 garis di kanan dengan warna biru, 3 garis di kiri dengan warna biru, dan satu bulat besar di tengah dengan warna merah. Semuanya pas.

‘ah, ini masih kurang! Aku harus memanfaatkan waktu tidurmu ini!’ Youngjoo memutar otak mencari akal akalan cerdik sambil meniup permen karet. “aku tahu!” Youngjoo dengan cepat mengulurkan benda yang dari tadi ia kunyah dan menempelkannya ke poni Sangjin. “awas kau gadis kumel, aku masih punya yang ke tiga, dan ketika kau bangun, Tadaaaaa aku akan tertawa puas.”

#Pulang Sekolah

“ayo ambil, ayo! Ayo, hahahaha” terdengar keramaian di lapangan sekolah. Sangat ramai. Dan benar saja ternyata Youngjoo tepat sasaran. ia sekarang berada di lantai dua melihat pemandangan mengasyikkan. Sangjin yang wajahnya sudah di corat coret dan permen karet diwajahnya sedang kesusahan mengambil tas di tiang bendera. Sangjin yang bersusah payah itu menangis. Awalnya hanya dalam hati, ia merasa kali ini sangat parah. Ini sudah keterlaluan.

Ahirnya Sangjin pun berhasil mengambil tasnya dan berlari dari cemoohan semua teman temannya sambil membawa kaca mata yang mengembun.

Sangjin memutuskan kembali ke kelasnya yang sudah sepi. Tak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. “lalu besok bagaimana? Aku pasti di cemooh ahh, membayangkannya saja aku tidak kuat. .” Sangjin berbicara di tengah isak tangisnya. Sudah satu jam ia menangis. Dan ahirnya dalam keadaan sakit dan kacau itu dia malah teridur di bangku.

Di balik jendela kelas seseorang memperhatikan Sangjin dengan raut penyesalan di wajahnya. “apa aku keterlaluan? Tapi itu sudah biasa kan? Tapi apa itu memang keterlaluan?” Youngjoo bertanya tanya pada dirinya sendiri. Dan beranjak masuk ke kelas. Ia menulis surat kecil dan meletakkannya dimeja Sangjin bersama jaket sekolahnya Lalu ia memutuskan untuk pulang.

Sangjin mengucek ucek matanya yang membengkak dan mendapati secarik kertas abu abu “maaf jika aku keterlaluan, pakailah jaketku, aku tahu kau kedinginan!”

Sangjin mencari nama pengirimnya namun tidak ada. Hanya saja ada jaket has SMA Kirin dan kulihat namanya – 서영주 -.

Aku membelalakkan mataku panas. Gumpalan perasaan dendamku muncul. ‘Sudah ku duga! Awas saja, kau akan menyesal!’ Uring sangjin dalam hati sambil meremas keras surat itu dan membuangnya.

☆☆☆☆☆

#Pagi hari

Sangjin berjalan cepat menyusuri lorong sekolah sambil menutupi sebagian mukanya dengan tas miringnya. Takut takut ada yang memperhatikan kemudian mencemoohnya seperti kemarin.

Sangjin masuk kelas dan langsung duduk di mejanya, kemudian mengeluarkan jaket SMA lalu meletakkannya ke meja Youngjoo tanpa melihat wajahnya. “gomawo, pakailah aku sudah mencucinya.”

Bel istirahat berbunyi dan Sangjin menarik tangan Youngjoo paksa. Sangjin mengajak Youngjoo ke lantai dua, tempat jahil favorit mereka.

“hey, apa yang aku lakukan sampai kemarin kau melakukan semua itu padaku hah?” masih satu kalimat namun airmata Sangjin sudah memaksa untuk keluar.

“bukankah itu sudah sering kita lakukan? Saling mengerjai! Itu hanya lelucon! Lagi pula aku sudah meminta maaf!” Youngjoo memelankan suarnya. Sedikit tak tega dengan Sangjin yang sepertinya bernasib sangat sial.

“apa kau bilang? Lelucon? Hey manusia berotak dangkal, saat aku mengerjahimu, pernakah aku sampai membuatmu malu seperti apa yang kau lakukan kemarin? Kemana akal sehatmu! Coba bayangkan kalau yang kemarin itu adalah kau! Kau pasti menyesal!” Sangjin menangis sejadi jadinya sampai tak kuat menopang badannya sendiri dan “brukkk”

“kau tak apa?” Youngjoo tak berani menyentuh Sangjin. Ia masih saja berdiri melihat Sangjin yang sudah terduduk ambruk.

“pergilah! Dan renungkan perbuatanmu itu! Tak perlu meminta maaf, aku sudah memaafkanmu! Sebaiknya kita tidak lagi saling bertengkar. Anggap saja kau tidak pernah mengenalku!” Sangjin bangkit berdiri dan berkata sambil menunjuk nunjuk dada Youngjoo.

Youngjoo pun kaku tak bisa berbuat lalu dengan cepat meninggalkan Sangjin yang masih terisak hebat.

“diberitahukan kepada siswa siswi yang mengikuti ekstra seni teater diharapkan berkumpul sepulang sekolah di ruang seni.” Sangjin dan Youngjoo yang mengikuti ekstra seni teater mendengarkan baik baik pengumuman Im seongsangnim.

“tett tett. . .” bel sekolah berbunyi. Semua murid yang mengikuti ekstra seni teater bergegas menuju ruang seni.

“oke, sebenarnya minggu depan SMA Kirin akan mengadakan pentas seni. Dan salah satu pertunjukannya adalah teater kita ini! Saya sudah berbicara dengan Lee seongsangnim dan kami sepakat bahwa kita akan menampilkan pertunjukan dengan judul Putri tidur!” Im seongsangnim menjelaskan konsep pertunjukan dengan detail.

“hah! Putri tidur? Drama apa itu seongsangnim? Ah, terlalu kampungan!” Celoteh Youngjoo sembarangan.

“tidak bisa Youngjoo! Saya sudah sepakat dengan Lee Seongsangnim sebagai kepala sekolah! Oke, lalu pemerannya Sangjin sebagai Putri tidur dan Youngjoo sebagai pangeran.”

“WAAAADDDD” Teriak Sangjin dan Youngjoo bersamaan sambil menunjuk satu sama lain. “tidak mau!” lanjut mereka bersamaan lagi.

“seongsangnim, aku tak keberatan jika kau memilihku, karena aku tahu aku memang seperti pangeran, tapi ah, lihat wajahnya, tidak ada secuil wajah putri di situ! Seongsangnim harus membertimbangkan pemain dengan matang!” kata Youngjoo emosi dengan nada tinggi.

“kenapa pangerannya harus dia? Mana ada pangeran berotak dangkal!” Sangjin tak mau kalah dan balas mengejek Youngjoo.

“cukup! Sudah, keputusannya sudah bulat. Dan kamu Youngjoo, saya memilih Sangjin karena dia mahir berbahasa inggris! Yasudah Seminggu ini kita latihan terus setiap pulang sekolah. Ingat! Ini pertunjukan kolosal! Kalian harus berusaha maksimal!” gretak Im seongsangnim membakar semangat anak anak.

☆☆☆☆☆

“kau sudah siap putri tidur?” senggol Im seongsangnim ke bahu Sangjin. Sangjin hanya meringis sambil menahan high heels yang sangat mengganggunya. Saat ini Sangjin mengenakan gaun putih simple dengan rambut terurai. Tak lupa bando bunga bunga ala fairy tale tersemat cantik di kepalanya. Tentunya tanpa poni dan kacamata.

“Jika benar kau adalah jodohku, maka pasti kau akan bangun jika nanti aku cium!” Youngjoo dengan apik memerankan sang pangeran.

“Deg. . .” tak tahu kenapa dada Sangjin berdegup kencan. Setelah ini adegan…

Belum selesai Sangjin berfikir tapi ia merasakan ada sesuatu menyentuh ujung hidungnya. Sangjin perlahan membuka matanya dan wajah Youngjoo tepat di depan wajahnya. Ia meneguk ludahnya dan masih menatap wajah Youngjoo. Sangjin masih menatap mata Youngjoo dengan was was.

Sedetik kemudian Youngjoo memiringkan kepalanya dan menurunkan wajahnya sampai separuh hidung. Tapi sangjin cepat cepat memasukkan mulutnya takut. Youngjoo perlahan mendekatkan wajahnya lagi. Namun sekuat tenaga Sangjin menekan bantal yang ia pakai. Sedikit saja ia bergerak, maka bibir mereka pasti bersentuhan. Sangjin sampai menahan nafasnya. Padahal dalam keadaan seperti itu jantungnya memompa darah dengan cepat. Pada posisi sedekat itu Sangjin masih melek dan matanya mengisyaratkan bahwa ia tidak mau. Sangjin sedikit menggeleng kepalanya namun Youngjoo hanya tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya genit.

“ss wudahh” Sangjin berkata pada Youngjoo dengan mendesah takut bibirnya menyentuh bibir Youngjoo.

Ahirnya Youngjoo menjauh dan Putri tidur pun bangun.

“ahirnya putri tidur dan pangeran hidup bahagia. . . Prok prok prok.” terdengar sorakan dari penonton dan para pemain berderet membungkukkan badannya 90° ke penonton.

#backstage

“aktingmu bagus sekali sangjin, terimakaaih ataa kerja samanya.. yasudah ibu pulang dulu ya!” sangjin hanya membalas sapaan Im seongsangnim dengan senyum ramah. Sangjin bergegas mengangkut barang barangnya dan merangkul tasnya.

“apa besok hari minggu? Aku harus mengerjakan tugas.” sangjin melihat kalender yang ada di sampingnya dan berpaling ketika ada yang mengetuk pundaknya dari belakang.

Sangjin dengan cepat memalingkan badannya dan mendapati Youngjoo sedang mengepungnya. Youngjoo menyandarkan telapak tangan kirinya ke tembok dan tangan kanannya meremas kuat bahu Sangjin. Di sini sudah tidak ada orang. Hanya tinggal suara detikan jam yang menambah seram suasana.

“tadi itu belum selesai.” Youngjoo berbisik tepat ditelinga Sangjin yang dengan cepat memberikan efek yang kuat pada detak jantung Sangjin. Sangjin hanya melongo sambil menahan nafas. Kemudian Youngjoo dengan cepat mendekatkan wajahnya ke wajah Sanjin. Sangjin hanya pasrah dan menutup matanya perlahan.

Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Sangjin kebingungan dan ia membua matanya. Sangjin mendapati Youngjoo yang badannya terhalang tas yang sedari tadi Sangjin peluk.

Youngjoo hanya menghela nafas berat kemudian pergi begitu saja dan hanya dibalas tatapan heran Sangjin.

Youngjoo yang kesal, menyetir mobilnya dengan cepat. Namun perlahan menjadi lambat karena matanya teralihkan oleh seorang yeoja berseragam kirin yang berlari kecil sambil meletakkan tas miringnya di atas kepala. Mungkin maksudnya untuk menghindari hujan.

Ciiiittt… Youngjoo mengerem mendadak dan membuka jendela mobilnya. “hey, yeoja kumel, masuklah!” Youngjoo menawari yeoja itu dengan suara agak keras karena harus berbenturan dengan hujan.

“ah, tidak perlu, gwenchana!” Sangjin menolak ajakan Youngjoo.

“gadis kumel, sudah kubilang masuk! Nanti kau kehujanan lalu sakit!”
Youngjo turun dari mobil dan menuntun Sangjin pelan masuk ke dalam mobilnya.

“kalau aku sakit memangnya apa pedulimu?” Sangjin hanya membalas perhatian Youngjoo dengan mengerucutkan bibirnya.

“oh ya, tadi di ruang ganti kau mau apa? Kau mau menciumku? Hahh, jangan bilang kalau diam diam kau suka padaku!”

“cih, jangan sembarangan! A a aku t tadi hha hanya hanya mengetesmu, dan ternyata responmu malah memejamkan matamu! Mungkin kau yang diam diam suka padaku. Oh ya jelas. Aku kan keren!” Youngjoo mengelak pernyataan Sangjin dengan segudang alasan yang tak masuk akal.

“jangan alasan!” balas sangjin dengan wajah menyindir.

“kau!” Balas Youngjoo lagi dengan wajah meremehkan.

Kau kau kau kau. . . . Kata yang sering sekali terdengar. Mereka malah ribut di dalam mobil.

Recokan mereka berhenti ketika Youngjoo lebih memilih menadahkan tangannya keluar jendela mobil dan tidak membalas kata terahir Sangjin.

“rupanya sudah tidak hujan, turunlah!” Youngjo sedikit menggelengkan wajahnya ke kanan mengisyaratkan supaya Sangjin turun. Sangjin hanya bisa mengeryitkan matanya heran.

“sudah turunlah, sama sekali tidak merepotkan! Maaf sudah memaksamu!” Youngjoo tiba tiba punya ide untuk mengerjai Sangjin.

“tapi rumahku masih jauh! Kau ini bagaimana?”

Youngjoo kemudian membukakan pintu disamping Sangjin dan menyunggingkan senyum kemenangan. Sangjin turun dan menggaruk garuk kepalanya seperti orang bego.

“dasar namja gilaaa!” Sangjin meremas kuat tas yang di peluknya kemudian mengambil batu kecil dan di lemparkan ke mobil Youngjoo.

☆☆☆☆☆

#2 hari kemudian

Sangjin bermalas malasan di kelas sambil menyandarkan kepalanya miring di atas bangku dan mengetuk ngetuk pensilnya.

“Sangjin, kenapa kau mendiamkanku terus?” tiba tiba Youngjoo ada di depan Sangjin sambil melakukan apa yang Sangjin lakukan.

“aku kan sudah minta maaf!” lanjut Youngjoo yang sama sekali tidak di gubris Sangjin.

“Sangjin, apa kau mendengarku?”

“hey, manusia berotak dangkal! Kesalahanmu itu terlalu banyak! Pertama, kau mengerjaiku habis habisan. kedua, kau menurunkanku sembarangan di jalan. Dan yang terparah. ..” Sangjin memutar mutar jarinya menunjuk ke mata Youngjoo yang bengong penasaran. Sangjin melanjutkan kalimatnya sambil berteriak. “yang ketiga, Kau telah melakukan percobaan menciu u uh h” belum selesai Sangjin berkata tapi Youngjoo lebih dulu membekap mulutnya. “jhanganh bhertherihak. Hust, lihathlah anhak anhak mhelhihat khitah” Youngjoo berbisik di telinga Sangjin dan menebarkan senyum tak ihlas ke anak anak yang melihat pertunjukan tadi.

Sangjin melepas tangan Youngjoo kemudian menunjuk nunjuk Youngjoo lagi. “berarti saat itu kau memang mau menciumku? Ahh kau ini!” Sangjin menebak nebak sambil melemparkan beberapa buku dan pensil yang ada di depan Sangjin.

“heh, hentikan! Jangan pikirkan itu! Hm. . . Apa yang harus aku lakukan supaya kau mau memaafkanku?”

“sudah ku bilang anggap saja kita tidak pernah kenal!” Sangjin memukuli kepalanya pusing menghadapi tingkah namja bodoh di depannya.

“Oke oke kalau itu maumu! Annyeong! Naneun Seo Youngjoo imnida!” Youngjo memperkenalkan diri di depan Sangjin sambil mengulurkan tangannya namun tidak dijabat Sangjin.

“tidak lucu!”tiba tiba suasana menjadi hening.

“bagaimana kalau kau suruh aku Sangjin! Yah, aku akan melakukan apapun untukmu. Asal kau mau memaafkanku! Bagaimana? Tapi jangan aneh aneh!”

“baiklah, aku setuju!” Sangjin menyeringai dan mengulurkan kelingkingnya ke Youngjoo. Dan Youngjoo pun penyentelkan kelingkingnya.

Sebelum bel istirahat berbunyi Lee seongsangnim masuk kelas “Selamat pagi! Saya atas nama guru Matematika dan kepala sekolah akan mendata siapa saja yang berminat mengikuti olimpiade matematika nasional! Lomba ini menggunakan sistim berkelompok! Satu tim terdiri dari 2 anggota. Siapa yang mau mendaftar! ”

Sangjin meringis kegirangan karena lomba itu adalah lomba impiannya. Namun ada rencana lain di balik itu.

“aku seongsangnim!” Sangjin mengacung mendaftarkan diri.

“sudah ku duga kau pasti ikut Sangjin! Siapa partnermu?”

“Youngjoo!”

“pikirkan baik baik Sangjin! Masih banyak teman temanmu yang pandai matematika!” Ucap Lee seongsangnim meyakinkan Sangjin.

Tiba tiba Youngjoo menarik lengan Sangjin paksa ke luar kelas. “heh, kumel! Apa maksudmu? Mau mempermalukanku? Aku anti matematika! Ah, jangan gila kau!”

“ini bagian dari kesepakatan kita! Tapi kalau kau tak mau aku bisa meralatnya!” Sangjin bergegas melangkah namun lengannya di tarik Youngjoo.

“baiklah! Tapi kau harus mengajariku!”

“siiippp!”

☆☆☆☆☆

#Kantin sekolah

“aku benar benar tidak menyangka bisa memenangkan lomba itu. Walaupun tadi aku sama sekali tidak menjawab pertanyaan, tapi tetap saja aku ikut menang. Seperti mimpi aku bisa mendapat juara satu matematika!” Celoteh Youngjoo sambil mengelus piala juara lomba.

“jangan berlebihan! Setelah ini kita akan mengikuti lomba tingkat nasional. Kau tak bisa hanya bergantung kepadaku!” Sangjin memecahkan hayalan Youngjoo.
“kau akan aku maafkan jika kita mendapat juara satu di tingkat nasional!”

☆☆☆☆☆

#Ruang Guru

“karena kalian kemarin menang, mak Saya akan memberikan bimbingan matematika ke kalian untuk persiapan lomba di tingkat nasional, tapi saya di temani guru Im sebagai guru bahasa inggris. Bimbingannya dimulai nanti malam.”

“Yah… Kenapa malam seongsangnim?” bantah Sangjin agak kecewa.

“saya dan Im seongsangnim memilih malam supaya tidak mengganggu sekolah kalian di pagi hari.. Anggap saja ada kelas malam. Ohya.. Saya sudah izin ke orang tua kalian.”

Sangjin dan Youngjoo.mendengarkan baik baik apa yang disampaikan Lee seongsangnim. Kemudian mereka berdua pulanv dan kembali ke kirin jam 6 sore

Youngjoo dan Sangjin sudah sampai kirin dan sekarang sudah pukul 7 tapi belum ada guru yang datang. Youngjoo yanv bosan pun memulai pembicaraan aneh dengan Sangjin.

“hey.. Aku senang sekali karena nanti Im seongsangnim akan mengajar kita!” Youngjoo toba tiba curhat dengan agak menggeser tubuhnya mendekat ke Sangjin.

Sangjin hanya mengerucutkan bibirnya mendengar curhatan spontan Youngjoo. “aku juga senang sekaliiiii.. Dengan bimbingan ini, aku bisa baanyak bertemu dengan Lee seongsangnim!” balas Sangjin sambil mengatupkan kedua tangannya dan meletakkannya ke dagu.

“kau menyukai Lee seongsangnim?”

“dia kan perfect!”

“ia.. Seperti aku!” balas Youngjoo sambil membenarkan kerah bajunya sok keren.

“taraf kecerdasannya berbeda!” balasan sangjin sontak saja membuat Youngjoo kaget.

Tidak berapa lama mereka memgobrol, ahirnya Lee seongsangnim datang dan… Menggandeng? Menggandeng tangan Im seongsangnim.

“kalian belajar dulu sendiri.. Saya dan Im seongsangnim ada urusan mendadak.”

Belum sampai satu menit berbicara, Lee seongsangnim malah langsung pergi.

Sangjin dengan cepat mengeluarkan kertas dan mengambil bolpoin. “Youngjoo lihatlah!”

Sangjin dengan cepat mencoret coret sesuatu yang dari tadi membuntu pikirannya.

“Kau menyukai Im Seongsangnim, dan aku menyukai Lee Seongsangnim” Sangjin sedikit terhenti karena sedikit berfikir gambar apa yang kemudian di buatnya.

“tapi Lee Seongsangnim menyukai Im Seongsangnim, begitu juga sebaliknya! Huh, kita tidak ada harapan! </3”

Sangjin menalarkan cinta segi empat mereka dan kecewa adalah titik temunya.

“berarti jika Im Seongsangnim dengan Lee Seongsangnim, kenapa Seo Youngjoo tidak dengan Lee Sangjin saja?” Lanjut Youngjoo memotong ucapan Sangjin. Sangjin yang mendengar dan melihat ekspresi Youngjoo langsung cepat cepat menjitak kepala Youngjoo.

“sembarangan kau menjitak kepalaku!”

“kau yang sembarangan, bercandamu keterlaluan!” kata Sangjin menjelaskan.

“kenapa yang aku ucapkan kepadamu selalu kau anggap candaan?” tanya Youngjoo pada dirinya sendiri namun dengan berbisik sambil mengerucutkan bibirnya kecewa.

Sangjin yang sedikit mendengar ucapan Youngjoo langsung bertanya penasaran. “apa katamu?”

“tidak penting!”

Setelah Youngjoo dan Sangjin mengobrol panjang lebar, ahirnya Im Seongsangnim datang untuk mengajar bahasa inggris sampai jam 9. Kemudian di ganti oleh Lee Seongsangnim di pelajaran Matematika sampai Jam 11.

“Yah, mungkin untuk hari ini hanya itu saja. Ini saya ada soal yang harus kalian kerjakan!”

o_O Mata Sangjin dan Youngjoo langsung terbelalak melihat pemandangan setumpuk soal. Kira kira sekitar 6cm.

“haruskah kita mengerjakan itu?” Tanya Youngjoo pada Lee Seongsangnim dengan perasaan masih tidak percaya dengan pemandangan ‘indah itu’

“ia, malam ini kalian kerjakan ini!”

“WADDD!!! Tapi ini sudah jam 11? Apa malam ini kita tidak tidur? Tapi besok pagi kita harus sekolah!”
Elak sangjin kepada Lee Seongsangnim yang sepertinya sengaja ingin membunuh mereka.

“kalau kalian cepat mengerjakan, pasti kalian akan cepat selesai. Ini juga hanya soal soal dasar. Saya yakin kalian bisa menyelesaikan semuanya malam ini!”

“prekk” Sangjin yang kesal hanya menjatuhkan pensil keras ke bangku sambil mengerucutkan bibirnya dan meletakkan kepalanya miring di atas bangku.

“yasudah, saya kembali ke ruangan saya. malam ini saya menginap disini jadi jika ada apa apa kalian bisa ke ruangan saya.”

“Seongsangnim tidur bersama Im seongsangnim?” Youngjoo meloncatkan omongannya sembarangan.

“Sembarangan kamu!”

Lee seongsangnim pun meninggalkan mereka berdua. Sangjin masih pada posisi semula dan Youngjoo mencoba menyemangati Sangjin.

“Hey, bangun! Jangan malas malasan! Ayo semangat Sangjin!” Kata Youngjoo setengah berteriak sambil mengepalkan tangannya ke atas.

Sangjin pun bangkit dan terheran heran dengan kekonyolan Youngjoo. “sejak kapan kau semangat mengerjakan matematika?”

“sejakkk. . . Sejakkk. . Se . . . sejak .. . . Aku menyukh” belum selesai Youngjoo berucap, tapi kalimatnya di potong Sangjin. “sudahlah lupakan! Terlalu lama berfikir! Kerjakan ini! Aku setengah dan kau setengah!”

Perintah Sangjin sambil membagi tumpukan soal tadi.

Sangjin sudah mulai mengerjakan tapi Youngjoo masih membolak balik soal bagiannya. “Sangjin! Kenapa semuanya sulit! Hehehe. . . Harusnya aku hanya mendapatkan seperempat bagian saja! Kan aku belum terlalu jago!” Youngjoo mencoba merayu Sangjin supaya tugasnya di kurangi.

“itu semua materi yang tadi di ajarkan Lee seongsangnim! Hanya tinggal mengembangkan saja! Lalu karena kau belum jago matematika, harusnya bagianmu malah lebih banyak supaya kau bisa lancar! Kau jangan membantah! Aku sudah baik, kau mau soalmu aku tambah?”
Balas Sangjin dengan nada mengancam.

Mereka mengerjakan soal dengan sangat hening dan tenang. Sesekali terdengar ketukan pensil Youngjoo yang teratur ketika berfikir. Kadang juga Youngjoo meminta penjelasan ke Sangjin tapi Sangjin hanya menjawab “cari di buku! Di buku ada! Itu materi yang tadi” terang saja semua jawaban itu membuat Youngjoo kesal.

“tuk” ketukan pensil pelan Youngjoo sampai ke gendang telinga sangjin. “hey! Jangan tidur dulu!” Sangjin mengoyak oyak tubuh Youngjoo supaya bangun. Youngjoo langsung mendelik dan mengucek ucek matanya supaya bisa meminimalisir kantuknya.

1 kali, 2 kali, dan sekarang untuk ketiga kalinya Youngjoo terlelap. Tapi kali ini Sangjin tak tega membangunkannya. ‘mungkin kau terlalu lelah!’ Sangjin hanya berbisik dalam hati sambil memandang kilat wajah Youngjoo.

Sekarang pukul 00.15, Sangjin yang sudah di ambang batas ngantuk (?) memutuskan untuk tidur. Tapi sebelum itu Sangjin menatap wajah Youngjoo lagi sambil tersenyum simpul. Kemudian meletakkan kepalanya di atas bangku berhadapan dengan Youngjoo.

☆☆☆☆☆

“Ppali ppali!” Suara lenting Im seongsangnim mengagetkan Youngjoo dan Sangjin.

Sangjin masih berusaha mengumpulkan nyawanya dan menggerayangi setiap sisi bangku untuk mencari kaca matanya. Younjoo masih menyipitkan matanya sambil mengucek uceknya menyesuaikan silauan mentari yang masuk ke matanya.

“setelah ini kalian langsung ke lapangan untuk berolahraga kemudian makan, lalu mandi dan sekolah! Cepat bangun dan ikuti saya” perintah im Seongsangnim lantang dan tegas. Walaupun wajahnya sangat lembut namun ternyata ia sangat disiplin.

Sangjin dan Youngjoo datang ke lapangan sekolah dan langsung di perintahkan untuk berlari mengitari lapangan 3 kali. Waow, 3 kali itu tidak seberapa namun lapangan sekolah sangat luas. Hanya mendengarkan instruksi saja namun Sangjin dan Youngjoo langsung malas dan lunglai.

Sudah putaran terahir dan hampir sampai, Sangjin kelelahan dan sudah tidak kuat ia merasakan perutnya sangat sakit.

Youngjoo sedikit berada di depan Sangjin. Sangjin langsung mengayun berusaha meraih tangan Youngjoo.

“hey, tunggu aku!” Sangjin berhasil meraih lengan Youngjoo dan spontan Youngjoo pun menoleh. “kau tak apa?” Youngjoo menuntun Sangjin yang ngosh ngoshan ke tempat duduk di bawah pohon rindang.

“hey lihatlah itu!” Sangjin menunjuk yeoja dan namja yang sedang lari lari kecil tapi mungkin lebih tepatnya berjalan dengan bergandengan tangan sangat erat.

“ia, mereka berdua romantis!” Sahut Youngjoo menanggapi kalimat Sangjin.

“bukan itu! Lihat baju yang mereka kenakan!”

“itu im dan lee seongsangnim?” tanya Youngjoo memastikan pandangannya tidak salah.

Tak lama kemudian Youngjoo dan Sangjin malah menyeringai iblis. Seperti akan melakukan hal hal kreatif yang patut di acungi jempol.

Youngjoo dan sanjin kemudian mengendap endap menyusul jalannya lee dan im seongsangnim. Dan sekaran mereka tepat di belakangnya.

“aaaaaa” Youngjoo dan Sangjin tiba tiba berteriak sangat kencang. Im dan Lee seongsangnim pun langsung berpaling ke belakan mencari sumber suara teriakan itu. Sangat heran juga padahal mereka sudah memalingkan tubuh masing masing tetapi tetap saja melanjutkan acara gandeng menggandengnya.

“kalian kenapa?” Tanya Im seongsangnim hawatir.

“JANGAN BERGANDENGAAAAANN” teriak Youngjoo dan Sangjin bersamaan untuk yang ke dua kalinya. Namun Lee dan Im seongsangnim masih tak paham dengan tingkah duo jail itu.

Sangjin dan Youngjoo pun melihat dengan tatapan pembunuh ke arah terkaitnya dua tangan yang erat itu. Dan 2 detik kemudian sepertinya mereka sadar dengan tingkah duo jail itu. Mereka pun gugup setengah mati. Dan segera melepas genggaman masing masing.

“sudah, kalian jalan duluan! Nanti kita susul!” elak lee seongsangnim mengalihkan pembicaraan.

Youngjo dan Sangjin pun langsung ngibrit sambil tertawa tak terelakkan. Mereka merasa puas karena kali ini yang mereka kerjai adalah guru mereka sendiri. Dan itu juga kali pertama mereka menuangkan kreatifitas mereka setelah lama tak mengerjai satu sama lain.

Olahraga pun selesai, makan juga sudah, mandi juga sudah, sekarang mereka berdua hanya menunggu anak anak yang lain datang ke sekolah.

Istirahat sekolah, duo jail hanya duduk duduk santai di bangku masing masing.
Youngjoo pun memulai pembicaraan tak jelas dengan sangjin.

“bocah lecek, apa kau benar benar menyukai Lee seongsangnim?”

“kau pikir?”

“ia, mungkin.”

“aku hanya mengidolakannya, Dia adalah guru yang hebat, masih muda tapi dia pintar matematika juga menjadi kepala sekolah. Aku kagum padanya. Hanya perasaan seperti itu, tak lebih. Kalau kau dengan im seongsangnim?” jawab sangjin dan diteruskan dengan pertanyaan yang sama ke Seungjoo.

“sama saja!”

“lalu apa gunanya kita mengerjai im dan lee seongsangnim?” tanya sangjin kedua kalinya.

“aku juga tak tahu, mungkin jiwa jahil kita memang sudah melekat, jadi saat kita berdamai, ada saja yang kita kerjai, tak perduli guru atau murid. hahahaha” jawaban Youngjoo disambung dengan tawa terbahak Youngjoo sendiri yang tak terkendali.

“apa kau bilang? Saat kita berdamai? Kapan kita berdamai hah?”

“sialan kau!”

☆☆☆☆☆

Sudah sekitar dua minggu sangjin dan Youngjoo melewati hari hari nya di dunia matematika. Kurang seminggu lagi mereka harus mengikuti lomba matematika nasional.

Malam ini seperti biasa, sangjin dan Youngjoo menunggu kedatangan lee seongsangnim. Tapi berbeda dengan malam sebelumnya karena malam ini tak ada im seongsangnim. Otomatis tak ada pelajaran bahasa inggris.

Jam menunjukkan pukul 7 malam, lee seongsangnim tepat waktu masuk dan mengambil posisi guru seperti biasa.

“hari ini tidak ada bimbingan bahasa inggris, jadi nanti bimbingan kita agak cepat.” jelas lee seongsangnim mengawali pertemuan mereka.

“Yasudah, mungkin 2 jam ini kalian akan saya beri soal soal latihan saja.” lanjut lee seongsangnim yang di sahuti dengan seringai bahagia di wajah Youngjoo dan sangjin.

Sangjin dan Youngjoo pun memulai mengerjakan soal yang di berikan.

“mungkin hari ini kalian hanya mengerjakan soal itu saja. Saya harus pergi menjenguk im seongsangnim yang sedang sakit. Oyah, malam ini saya tidak menginap disini, jadi jika kalian ada keperluan, kalian tinggal menghubungi pak bon penjaga sekolah ini. Dan juga pak satpam. Soal itu kita bahas besok. Yasudah, lanjutkan. Saya pamit.”
Ucap lee seongsangnim panjang lebar sebelum meninggalkan sangjin dan Youngjoo.

Lee seongsangnim pun berlaluu meninggalkan sangjin dan Youngjoo.
“kalau mau pacaran bilang saja kenapa? Tidak perlu alasan seperti itu!” sahut Youngjoo dengan sengaja mengeraskan suaranya berharap lee seongsangnim mendengar kalimat konyol Youngjoo.

“Ada ada saja tingkahmu!” sahut Sangjin tanpa melihat Youngjoo dan melanjutkan mengerjakan soalnya.

Teng.. Teng.. Teng.. Teng.. Teng.. Teng.. Teng.. Teng.. Teng..
Jam dinding besar sekolah mengeluarkan dentuman lentangnya dan waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam.

“Youngjoo, aku lapar! Antarkan aku beli makanan Yah!” pinta sangjin pada Youngjoo yang sedang serius menghadap tumpukan soal dengan nada yang sangat halus dan sedikit merengek.

“sangjin! Kau jangan gila! Ini sudah Jam 9! sudah malam! Tadi sore kan kita sudah di beri jatah makan!” jawab Youngjoo dengan kesal dan dengan nada yang agak meninggi.
“kalau kau mau, minta antar pak satpam atau pak bon saja!” lanjut Youngjoo semakin membuat Sangjin naik pitam.

“kalau kau tak mau mengantarkanku yasudah! Aku bisa pergi sendiri!”

“di luar dingin, kau harus memakai topi dan jaket!” ucap Youngjoo memerintahkan tanpa menatap sangjin yang benar benar akan keluar.

Tak ada suara lagi, hanya terdengar hentakan sepatu yang kuat dari kaki Sangjin. Sangjin yang masih berada di ujung pintu langsung mendengarkan teriakan Youngjoo. “hey yeoja gila! Ini sudah malam, bahaya jika yeoja berjalan sendirian!” Sangjin mengacuhkan anjuran Youngjoo dan malah melanjutkan berjalan keluar dengan langkah di percepat.

Sangjin sampai di tempat tujuannya. Ia memesan 2 porsi kimchi besar di bungkus. Ia lalu pulang dengan berjalan santai sambil sesekali mendendangkan lagu lagu.

“ahirnya, selesai sudah.” Youngjoo ahirnya menyelesaikan soal bagiannya. “hoammm” Youngjoo menguap lebar. Kemudian ia memutuskan untuk segera tidur. Namun rencananya urung karena tiba tiba bayangan yeoja kumel berponi memenuhi otaknya.

“apa dia baik baik saja?” tanya Youngjoo pada dirinya sendiri. Kemudian mengambil jaket hitam tebal dan dengan cepat berlari mencari sangjin.

“mau kemana adik manis?” kata dua orang pria berwajah di bawah rata rata dengan tato yang menghiasi lengan besarnya.

Pria tersebut dari arah depan. Sangjin panik dan akan berlari ke belakang, namun ia berfikir jika ia berlari, maka lelaki itu pasti akan mengejarnya. Dan jalan yang ia lewati sekarang itu sangat sepi.

Sangjin hanya bisa meremas ujung kantung plastik yang berisi kimchi. Dua pria itu makin mendekat ke arah sangjin. Sangjin hanya bisa mundur. Selangkah preman itu maju, selangkah pula sangjin akan mundur. Sampai ahirnya ia dipojokkan. Ia merasakan betisnya menyentuh pagar yang yang tingginya hanya sekitar lutut.

Sangjin semakin panik. Ia merasakan jantungnya saat ini berjalan tak normal, sangjin benar benar ngosh ngoshan. Ia hanya bisa berdoa dalam hati dan menangis di tempat itu.

“kau mau apa?” sangjin berucap di tengah tengah isakan hebatnya.

Namun belum sempat di jawab oleh preman itu. Sangjin malah merasakan ada yang memeluk pinggangnya dari belakang dan mengangkat badannya melewati pagar selutut itu.

Youngjoo langsung menggenggam tangan sangjin erat dan mengajaknya berlari menghindari kejaran preman itu.

Namun secepat apapun mereka berdua berlari, tetap saja mereka tertangkap. Bahu Youngjoo di pegang oleh preman dan ia langsung di hajar habis habisan okeh kedua preman itu. Sangjin yang melihat itu hanya bisa menangis dan mencoba melerai mereka.

“sudah, kita pergi saja! Anak kecil seperti ini pasti tak punya apa apa.”
Kata salah satu preman kemudian mereka berdua malah pergi meninggalkan sangjin dan Youngjoo tak bertanggung jawab.

“kau tak apa?” sangjin menepuk nepuk pipi Youngjoo yang masih ka’o terlentang di jalan.
“ayo kita kembali ke sekolah!” sangjin mencoba mengangkat kepala Youngjoo sebisanya kemudian mengalungkan tangan Youngjoo ke pundaknya.

“Maafkan aku! Gara gara aku, kau malah jadi seperti ini!” Ucap sangjin dengan nada penyesalan. Sambil membersihkan darah di wajah Youngjoo dengan sapu tangan dan air hangat.

“ani! Itu salahku! Maaf aku tadi tak mau mengantarmu! Aku tadi sedang bingung!” balas Youngjoo sambil menyeringai menahan sakit di wajahnya.

“ah, ini semua salahku! Aku tadi mengacuhkan perintahmu.” Lanjut sangjin lagi.

“sudahlah! Lupakan saja! Semoga lain kali tak ada kejadian seperti ini lagi.”

Sangjin masih sibuk membersihkan darah di wajah Youngjoo, dan Youngjoo sibuk memandangi wajah Sangjin diam diam.
“sepertinya sudah selesai, besok pagi pasti lukanya kering.” ahirnya sangjin menyelesaikan tugasnya Jam 11 malam. Ucapan sangjin sama sekali tak di gubris Youngjoo yang masih asik dengan dunia lamunannya.

“hey!” sangjin melambaiKan tangannya ke wajah youngjoo berharap ia sadar kembali.

“ah, ia, aku tahu!” Youngjoo membalas ucapan sangjin dengan jawaban yang aneh.

“Ohya, aku tadi sengaja membeli 2 kimchi satu untukku dan satu untukmu.” ucap sangjin sambil mengeluarkan dua kotak kimchi. Dan memberikan satu untuk Youngjoo.

Ahirnya mereka berdua selesai makan.
“terimakasih ya, aku jadi merepotkanmu begini! Tadi kau membersihkan lukaku, sekarang kau memberiku makan!”

“ani! Sama sekali tak merepotkan! Tapi kenapa ku lihat kau sangat aneh! Kenapa kau jadi mendadak formal kepadaku?”

“emmm. . . mungkin efek dari pelajaran matematika!” Youngjoo gagu menjawab pertanyaan sangjin dan mencari alasan yang sangat tak bisa di nalar oleh sangjin.

“ada yang seperti itu? Hahaha” sangjin tertawa lepas mendengar jawaban Youngjoo.

“ini sudah malam! Kita lanjutkan besok pagi saja!” Youngjoo mengakhiri perbincangan konyol mereka yang sedikit canggung.

Belum sampai sangjin menuju kasur leceknya, di pojok kanan kelas, Youngjoo malah berteriak sangat kencang dan membuat sangjin kembali ke kasur Youngjoo di pojok kiri kelas.

Ia menyentuh lengan kiri Youngjoo yang katanya sakit. “hah! Ini gawat! Kau mengalami patah tulang!” terkaan sangjin dengan bahasa tingkat tinggi.

“jangan bercanda!” sahut Youngjoo yang tak kalah hawatir.

“kau diam disini, aku akan meminta kunci ruang kesehatan ke pak satpam dan mengambil alat alat.”

Lima menit kemudian sangjin datang dengan membawa banyak sekali alat alat yang jelas Youngjoo tak tahu apa itu.

Sangjin mulai membalut tangan Youngjoo dengan kasa putih, kemudian diambilnya dua kayu lalu di balutkan lagi dan tangan Youngjoo di gendongan ke leher. Sangjin melakukannya dengan hati hati Bak seorang yang sudah profesional.

“selesai!”
Sangjin kegirangan karena melihat hasil pekerjaannya yang sepertinya 100% sukses.

Namun Youngjoo tidak menunjukkan wajah senang, ia malah menampakkan wajah heran. “sangjin, kau kan pandai matematika, lalu sekarang kau berlagak seperti seorang dokter! Memang apa cita citamu?” Youngjoo melontarkan pertanyaan yang sontak saja membuat sangjin ngakak.

“cita citaku, , , ingin menjadi ahli fisika!” jawab sangjin santai sambil membereskan barang barang UKS.

“yeoja gila! Sudah wajahmu aneh, otakmu aneh! Sebenarnya otakmu ini isi apa?” Youngjoo menatap sangjin heran dan mengetuk kepala sangjin dengan jari tengah yang di tekuk.

“berarti aku kan hebat! Bisa melakukan semua hal! Memangnya apa cita citamu?” tanya sangjin balik pada Youngjoo.

“aku ingin menjadi guru matematika yang merangkap sebagai kepala sekolah. Menjadi namja muda yang sukses dan tampan!” jelas Youngjoo yang di balas tatapan meremehkan dari Sangjin.

“seperti lee seongsangnim?” sangjin mengutarakan seseorang yang memiliki ciri ciri yang baru saja disebutkan Youngjoo sambil mengerutkan keningnya. Youngjoo hanya mengangguk mengiyakan.

“kenapa?” tanya Sangjin semakin penasaran.

“emmmm . . . . ” ucap Youngjoo mengulur waktu dan semakin membuat Sangjin penasaran kuadrat.

“sudahlah! Cepat tidur sana! Besok kita harus sekolah pagi pagi.” balas Youngjoo mengalihkan pembicaraan.

“namja gila! Kau lupa membawa otakmu ke sekolah hah?” Sangjin kesal dengan jawaban Youngjoo. dan sebelum ia pergi, Sangjin mengetuk kepala Youngjoo seperti yang tadi di lakukan Youngjoo. Lalu pergi ke kasur tipisnya dan segera tidur.

☆☆☆☆☆

#Pagi hari

Pagi pagi seperti biasa, im seongsangnim membangunkan Sangjin dan Youngjoo, namun im seongsangnim kalah cepat karena mereka berdua sudah bangun lebih awal. Im seongsangnim terbelalak kaget karena melihat pemandangan yang sangat tidak mengenakkan. Ia melihat Youngjoo dengan bungkusan kain putih di tangannya juga memar biru di ujung bibir dan pelipis.

“hah! Youngjoo kau kenapa?” tanya im seongsangnim sedikit histeris. Dan mendekat ke arah Youngjoo yang sedang membolak balik buku diatas kasur.

“semalam ada kejadian yang tidak di harapkan!” Sangjin menyahuti pertanyaan im seongsangnim.

“tapi kau yakin, Youngjoo tak apa?” im seongsangnim memastikan keadaan Youngjoo lagi.

“ne, gwenchanayo seongsangnim, aku sudah melakukan p3k!”

Im seongsangnim yang masih sangat hawatir langsung memanggil lee seongsangnim. Dan Sangjin pun di suruh untuk menjelaskan kronologi peristiwa semalam.

.

“lain kali tak boleh ada hal seperti ini! Yasudah, sekarang kalian makan dan cepat cepat mandi lalu sekolah hari ini tak ada olahraga pagi!” perintah lee seongsangnim setelah mendengar penjelasan Sangjin.

Sangjin dan Youngjoo menyusuri lorong sekolah, Youngjoo yang kakinya agak keseleo di tuntun Sangjin untuk berjalan. Namun belum sampai kelas, mereka berdua di cegat oleh segerombolan yeoja yang tak lain adalah fans Youngjoo. Sangjin hanya bisa mengerucutkan mulutnya kesal.

Sudah sekitar 5 menit mereka terhenti. Ada saja pertanyaan yang mereka ucapkan. Mungkin sudah sekitar 1000 kali seorang yeoja bertanya “bagaimana keadanmu?” yang hanya di respon dengan senyum kecut dan terpaksa oleh Youngjoo.

‘aku jadi kacang’ umpat Sangjin dalam hati. Kemudian dengan sekuat tenaga Sangjin membawa Youngjoo kabur dari gerombolan yeoja yeoja aneh itu. Sedikit terdengar teriakan kecewa di belakang mereka.

“hebat kau! Fansmu sangat banyak dan kebanyakan yeoja! Cantik pula! Jadi kau tinggal memilih untuk dijadikan yeojachingumu!” jelas Sangjin saat mereka sudah duduk di bangku masing masing.

“pabo! Apa enaknya punya fans sebanyak itu! sikapnya juga Aneh!” balas Youngjoo sembarangan.

Sangjin hanya heran melihat jawaban Youngjoo.

“lebih baik aku memilih yeoja jelek berkacamata, dari pada yeoja cantik yang tingkahnya aneh.” lanjut Youngjoo

“maksudmu?”

“lupakan!”

☆☆☆☆☆

-skip-

Malam ini adalah malam terahir Youngjoo dan Sangjin mengikuti bimbingan matematika, dan besok pagi mereka harus mengikuti lomba nasional.

Sekarang pukul 7malam, Sangjin bosan menunggu lee seongsangnim dan hanya mengetukkan pensilnya pelan ke bangku. karena ini hari terahir, Sangjin kira tidak ada bimbingan, namun harapannya sirna ketika lee seongsangnim datang tepat waktu dan langsung memberi soal uji coba. Batas waktu mengerjakan hanya 3½ Jam.

.

“prittt” lee seongsangnim meniup peluitnya tanda waktu mengerjakan sudah habis karena sudah pukul 10.30. Sangjin dan Youngjoo hanya bisa menghembuskan nafasnya berat sambil mengangkat tangan.

Sangjin dan Youngjoo yang menunggu lee seongsangnim mengoreksi hanya bisa berdoa supaya mendapat hasil yang maksimal.

Karena kehebatan lee seongsangnim maka soal selesai di koreksi hanya dalam hitungan menit.
“baiklah, saya akan mengumumkan hasil test ini!” kata lee seongsangnim menambah grogi Youngjoo dan Sangjin.

“Sangjin, , , skormu. . . .” lee seongsangnim mengulur waktu dan membuat Sangjin sangat penasaran.
Lalu lee seongsangnim bersiap siap melanjutkan ucapannya dengan menghembuskan nafas panjang. “10!”.

Sangjin hanya bisa berteriak histeris dengan hasil yang ia peroleh, benar benar sesuai yang di harapkan.

Sekarang giliran Youngjoo yang mendadak berkeringat dingin. “dan Youngjoo, kau berhasil menjawab. . . .” Youngjoo hanya bisa mengepalkan tangannya dan meletakkannya ke dagu. Sangjin pun ikut tegang dengan hasil Youngjoo.

“49 soal dari 50 soal! Skormu 9.8!” Youngjoo yang mendengar hasil tesnya hanya bisa menganga lebar. Ia merasa ada yang aneh. Tak mungkin seorang namja yang anti matematika dan namja yang sudah di kenal ‘hanya mengandalkan tampang’ seantero sekolah sekarang mendapat nilai tes yang sama sekali tak pernah terlintas di pikirannya. Apalagi soal yang di berikan adalah soal olimpiade yang pastinya 10 kali lebih sulit dari soal sekolah biasanya. Sangjin yang dari tadi super panik pun tak menyangka dengan hasil tes Youngjoo.

“saya sangat bangga dengan kamu Youngjoo! Kamu benar benar mengalami kemajuan yang sangat pesat!” puji lee seongsangnim memberi selamat pada Youngjoo. “yasudah, sepertinya kalian sudah siap untuk lomba besok, saya pamit dulu. Jika ada apa apa, kalian tinggal ke ruangan saya. Cepatlah tidur karena besok kita berangkat pagi pagi.”
Kata lee seongsangnim sebelum meninggalkan Youngjoo dan Sangjin.

Youngjoo yang masih tak percaya dengan hasil tesnya tadi hanya bisa senyum senyum kegelian. Sambil memasukkan buku bukunya ke dalam tas.

“selamat Yah!.” Sangjin mendekati Youngjoo dan menjabat tangannya. “sepertinya sudah tidak ada lagi sebutan namja berotak dangkal dan namja yang hanya mengandalkan tampang.”
Sindir Sangjin pada Youngjoo yang masih berkonsentrasi dengan tumpukan bukunya.

Youngjoo yang mendengar ucapan Sangjin langsung meringis “kau bisa memanggilku dengan, emmm. . . Namja berotak dangkal, namja yang hanya mengandalkan tampang, namja pabo! Kau bebas memanggilku sampai aku bisa mengalahkanmu!” balas Youngjoo sedikit menantang.

“baiklah,”

“aku tampan, lumayan pintar dan terkenal. apa aku sudah seperti lee seongsangnim?” tanya Youngjoo meminta pendapat.

“tetap jauh! Jangan bermimpi!” balas Sangjin jutek. “sudah, aku mau tidur!” lanjut Sangjin menuju kasurnya.

“tidur yang nyenyak ya! Kalau bisa impikan aku!” Sangjin hanya memalingkan wajahnya kilas karena mendengar ucapan bodoh Youngjoo.

“Sebelum tidur kau harus menyebut namaku tiga kali!”
Lanjut Youngjoo membuat Sangjin hanya bisa menggaruk kepalanya yang tiba tiba gatal.

“menyebut namamu tiga kali untuk mengusir nyamuk?”

☆☆☆☆☆

#pagi hari

Masih Jam 5.30 pagi, Sangjin sudah bersiap siap untuk berangkat lomba, Sangjin mengenakan seragam khas kirin seperti sekolah biasanya. Dan tak lupa rambut lurus pendeknya di kuncir belakang dan poni rata depan juga kaca mata hitam besarnya.

“ppali ppali! Ayo Youngjoo bangun!” Sangjin mengoyak oyak tubuh Youngjoo yang dari tadi masih molor.

Youngjoo yang sedikit sadar langsung menyipitkan matanya dan melihat pemandangan yeoja berkaca mata seperti biasanya. “Ne! Aku bangun!”

“cepat mandi!” perintah Sangjin pada Youngjoo dan kembali duduk di kursi sambil memandangi wajahnya sendiri di cermin pink kecil.

Sangjin memandangi wajahnya sendiri lama. Kemudian ia mencopot kuncirnya membentuk rambut bob dan melepas kaca matanya. Tak lupa memasang soft lens yang ia punya. ‘tidak buruk!’ kata Sangjin dalam hati menilai penampilannya.

“Sangjin, jaketku mana?” kata Youngjoo yang sangat mengagetkan Sangjin. Dengan cepat Sangjin memasang kaca matanya dan menguncir rambutnya kembali. Namun terlambat. Youngjoo mungkin sudah tahu dan perlahan Youngjoo mendekati Sangjin dan mengambil posisi di sampingnya. Youngjoo memandangi wajah Sangjin dengan teliti. Sangjin hanya bisa tertunduk tak tahu apa yang harus ia lakukan.

“kenapa berhenti? Teruskan jika kau ingin berdandan!” kata Youngjoo menyelidik.

“. . . . .” Sangjin tak menjawab. Masih tertunduk malu.

Youngjoo memegang janggut Sangjin dan menariknya agak ke atas supaya Sangjin tak tertunduk. Sangjin hanya bisa menatap mata sayu Youngjoo. Kemudia Youngjoo perlahan melepas kaca mata Sangjin dan menggeraikan rambut Sangjin. Lalu mengambil jepit hitam panjang dari saku bajunya dan menyematkannya ke poni Sangjin dengan sangat hati hati. Seperti sebuah skenario drama. Seperti Youngjoo sengaja mempersiapkannya dari awal.

Kemudian Youngjoo kembali menatap Sangjin dengan teliti. Sangat teliti. Youngjoo memperhatikan setiap lekuk wajah Sangjin yang sepertinya akan menjadi wajah favoritnya.

“yeppo!”

Deg! Satu kata lirih dari bibir tipis Youngjoo terucap. Dan sangat membuat jantung Sangjin berhenti berdetak. Sangjin merasakan sebuah panah meluncur ke dalam ulu hatinya. Satu kata Youngjoo membuat matanya panas. Kata kata biasa yang bisa di ucapkan semua orang. Namun ucapan Youngjoo berbeda. Masuk ke telinga, menuju otak dan diproses oleh hati.

Sangjin masih tak bisa berucap. Masih memandangi sesuatu yang tak jelas di depannya. “Sangjin, mana jaketku?” ucap Youngjoo yang hanya di balas Sangjin dengan menunjuk gantungan jaket sekolah di paku tembok.

Sangjin benar benar gila sekarang. Sampai tak bisa mengendalikan kinerja otaknya hanya karena satu kata yang sengaja di ucapkan Youngjoo.

“anak anak, ayo kita berangkat!” terdengar suara khas yeoj yang tak lain adalah im seongsangnim. “Sangjin, itu kau?” tanya im seongsangnim sambil menyentuh dua sisi pipi Sangjin. “kau cantik sekali!” puji im seongsangnim yang hanya bisa dibalas senyum terima kasih dari Sangjin.

Ahirnya Youngjoo, Sangjin, im dan lee seongsangnim pun berangkat memakai mobil sekolah.

“kalian pasti bisa!” ucap lee seongsangnim saat mereka berada di pintu masuk ruangan lomba.

“fighting!” sahut im seongsangnim tak kalah semangat.

Youngjoo dan Sangjin pun masuk dengan tangan yang dingin, rasanya sangat deg degan.

Namun tiba tiba suasana menjadi canggung. Tak ada obrolan kecil. Padahal lomba masih kurang setengah Jam.

“nanti jika ada soal yang kau tak bisa, biarkan saja! Nanti aku kerjakan! Lanjutkan ke soal selanjutnya!” instruksi Sangjin tanpa melihat wajah Youngjoo. Youngjoo hanya mengangguk faham mendengar strategi yang diucapkan Sangjin.

.

“te e e e e t t t . . .”

Bel berbunyi pertanda waktu habis. Sangjin dan Youngjoo kemudian keluar ruangan dan langsung di sambut lee dan im seongsangnim.

“bagaimana soalnya tadi? Mudah atau sulit?” pertanyaan pertama pecah dari bibir im seongsangnim.

“Semua soal bisa kami kerjakan, tapi kami belum sempat kami koreksi!” jawab Sangjin dengan menampakkan wajah kecewa.

“yasudah, sekarang kita kembali ke sekolah.”

☆☆☆☆☆

#3 hari kemudian

Adj pelajaran lee seongsangnim sudah berakhir. Sekarang Youngjoo dan Sangjin di suruh ke ruangannya. Mungkin ada pengumuman penting.

Sangjin dan Youngjoo segera duduk di sofa merah ruangan lee seongsangnim.

“dari lomba matematika kemarin, ini pengumumannya!” lee seongsangnim menyerahkan map kuning dan meletakkannya di atas meja. Namun tak ada satupun dari Sangjin ataupun Youngjoo yang mau mengambil.

“baiklah, saya bacakan!” lee seongsangnim ahirnya mengalah dan membacakan hasil lomba kemarin.

“Tim dari SMA kirin dengan nomor peserta 113 mendapatkan,”

Lee seongsangnim mengulur ukur waktu membuat Youngjoo dan Sangjin tambah berkeringat dingin.

“dua!” lanjut lee seongsangnim. Sangjin yang mendengarnya langsung berteriak histeris sambil mengangkat tangannya seperti supporter bola yang tim dukungannya berhasil mencetak gol. Namun berbeda dengan Youngjoo yang hanya tersenyum kecil. Senyumnya pun tak enak di lihat.

“selamat!” lee seongsangnim menyalami Youngjoo dan Sangjin. Kemudian mereka keluar ruangan.

Sangjin menatap heran punggung Youngjoo karena sekarang ia tertinggal di belakang Youngjoo yang langkah kakinya panjang.

“hey hey tunggu aku!” Sangjin berlari dan mencegat Youngjoo supaya bisa menyamakan langkah kakinya. “kau tak senang mendapat juara?” ceplos Sangjin sambil memegang kening Youngjoo seperti memeriksa orang sakit.

“sudahlah!” Youngjoo menampik tangan Sangjin kemudian berlalu. Berjalan dengan cepat meninggalkan Sangjin.

Sangjin hanya menggaruk kepalanya gusar. ‘sedikit tambah pintar, tapi banyak tambah gila! Dasar namja!’ umpat Sangjin dalam hati.

☆☆☆☆☆

#taman kota

Pulang sekolah, Sangjin yang bosan di rumah berjalan jalan ke taman kota, tidak ada tujuan pasti di sana, hanya duduk duduk dan melihat air mancur yang cantik pas terletak di tengah kota. Saat ini Sangjin mengenakan celana jeans atas lutut dan hoodie putih yang berukuran besar dan oblong tentu saja membuat kesan lucunya semakin terlihat.
Tak lupa kaca mata hitam besar dan gaya rambut bob tanpa poni yang sudah menjadi ciri khasnya.

Sangjin tersadar dari lamunannya saat ia merasakan ada yang menepuk pundaknya dari belakang. “sangjin?” suara besar tersebut membuat Sangjin memalingkan wajahnya.

Ternyata ia mendapati namja kharismatik yang biasa ia temui memakai kaus putih dan celana jeans hitam.

“kenapa kemana mana ada kau? Kau menguntitiku?” Sangjin menebarkan sapaan super jutek pada Youngjoo yang sedang membenarkan posisinya di samping Sangjin.

“yang ada, kau yang mengikutiku! Aku pergi kemana, selalu ada kau!” Youngjoo balas menjuteki Sangjin. “hey, tahu tidak, sekarang hari apa?” tanya Youngjoo memulai pembicaraan.

“valentine”

“kau tak ada acara khusus, atau pesta kecil?”

“dari kecil, aku sudah biasa disini setiap tanggal 14 februari, aku tak pernah mengadakan pesta atau rencana khusus untuk valentine. ayah dan ibuku sudah tak ada. Aku hanya ikut kakek yang selalu sibuk dengan perusahaan perusahaannya.”

“sekalipun kau tak pernah merayakan?” tanya Youngjoo lagi.

“pernah, terahir dulu saat aku kelas 3 SD! Sebelum ada kecelakaan yang merengut nyawa orangtuaku.” Sangjin menjawab pertanyaan Youngjoo apa adanya namun tak terasa air matanya sudah turun membasahi seluruh sudut pipinya. Youngjoo sedikit heran. Ia kira yeoja seperti Sangjin tak pernah menangis. Hanya bergelut di dunia buku saja. Namun dugaannya salah.

“hm” Youngjoo memberikan sehelai tissue untuk mengelap airmata Sangjin. Sangjin menerimanya dan membersihkan semuanya.

“bagaimana kalau sekarang kita ke makam orangtuamu kemudian kita jalan jalan!” tawar Youngjoo menghibur Sangjin. Namun hanya di balas gelengan kepala oleh Sangjin.

“Sangjin, kau jangan terlalu larut dalam masa lalumu! Harusnya kau berusaha melihat masa depan supaya bisa berdoa untuk masa lalumu!” ucap Youngjoo bijak dan membuat Sangjin sadar dan hatinya luluh perlahan.
“katamu orangtuamu sudah tak ada, kakekmu juga sibuk! Tapi lihatlah!” Youngjoo mencoba menampakkan wajahnya dan mengalihkan pandangan Sangjin ke arahnya.
“lihatlah sekelilingmu! Lihat aku! Ayo!” Youngjoo dengan semangat menodongkan tangan kanannya dan di sambut tangan kiri Sangjin di atasnya.

Sangjin pun masuk ke mobil putih sport begitu juga Youngjoo. Sangjin menunjukkan jalan menuju malam orangtuanya, namun sebelum itu Youngjoo mengantar Sangjin suntuk membeli bunga. Seperti berkunjung ke makam pada umumnya.

Sampai di gerbang makam, Sangjin langsung berlari masuk menuju makam orangtuanya. Sepertinya sudah lama ia tak mengunjunginya. Sangjin langsung duduk jongkok di antara makam eomma dan appanya.

“eomma!, appa!” ucap Sangjin terisak. Youngjoo hanya bisa berdiri di belakang Sangjin sambil memegang pundak Sangjin menenangkan.

Lalu Sangjin meletakkan bunga yang tadi ia beli, satu untuk appanya dan satu untuk eommanya. Lalu tersenyum kilat.

“ayo!” ajak Sangjin merasa sudah cukup.

“ternyata kau tipe orang seperti itu?” ucap Youngjoo di dalam mobil dan di balas dengan tatapan sinis Sangjin. “ah, lupakan! lalu, kemana tujuan pertama jalan jalan kita hari ini?” tawar Youngjoo pada Sangjin yang masih tak paham dengan kalimat Youngjoo

“jalan jalan kemana? Aku tak bawa uang sama sekali!”

“untuk hari ini, karena aku sedang baik hati kau aku traktir belanja sesukamu!”

“omo! Kau sedang menyuruhku menghabiskan uangmu? Baiklah, kita ke . . . . .”

“ssst!” Youngjoo meletakkan jari telunjuknya ke arah bibir. “jangan dilanjutkan! Aku sudah tahu!”

“kau yakin mengajakku ke toko buku?” ucap Sangjin memastikan saat mereka berada di pintu toko. Youngjoo hanya mengangguk. “tapi kalau aku sudah masuk toko buku, bisa bisa uangmu habis nanti! Aku bisa saja memborong banyak buku sekaligus dalam satu kali belanja.” tambah Sangjin menjelaskan.

“sudahlah yeoja kumel! Masuklah!” Youngjoo seperti tak mau mendengar penjelasan Sangjin dan memutar tubuh Sangjin membelakanginya dan sedikit mendorong pundak Sangjin supaya segera masuk.

“yakin, hanya itu?” tawar Youngjoo pada Sangjin yang sekarang sudah berada di kasir. Youngjoo Heran karena Sangjin hanya membawa satu komik detektif conan kecil dan 4 buku yang berhubungan dengan mapel sekolah.

“cukup!”

“kau tak suka membaca novel?” tanya Youngjoo saat Sangjin berkonsentrasi membaca komik detektif conan barunya dalam mobil.

“aku suka, tapi persediaan novel di rumahku masih banyak! Jadi aku tak berniat beli” jawab Sangjin tanpa menoleh, masih asik dengan benda persegi panjang kecil di depannya.

“hmmmm . . . Tujuan ketiga kita, aku yang pilih.”

“dari tadi juga kau yang pilih tempatnya!”

. . .

“bagaimana?” Youngjoo meminta pendapat Sangjin yang sepertinya tak suka ia ajak ke mall.

“aku sering ke mall, tapi aku tidak suka ke mall!” jelas Sangjin tak di dengarkan Youngjoo. Youngjoo masih memaksa Sangjin untuk masuk dengan menggandengnya.

Namun setelah masuk, malah Youngjoo yang kemana mana harus mengikuti Sangjin.

“kau ikut aku!” gandeng Sangjin supaya Youngjoo mengikuti langkah Sangjin.

“ini kan tempat yeoja!”
Youngjoo bingung apa yang harus ia lakukan disini karena Sangjin mengajaknya ke tempat aksesoris wanita.

“coba ini!” Sangjin meletakkan bando kelinci pink ke kepala Youngjoo. Lalu Sangjin menggelendeng Youngjoo ke kaca terdekat.

“jangan gila!” elak Youngjoo yang tak mau memakai bando tersebut.

Sangjin mengambil satu lagi bando yang sama dengan yang dipakai Youngjoo kemudian mereka berdua mengaca. “bagus kan!”

“sejak kapan kau suka membeli aksesoris seperti ini?” tanya Youngjoo heran, karena ia mengenal Sangjin dengan pribadi yang hanya memoles wajahnya dengan buku.

Sangjin tak perlu menjawab pertanyaan Youngjoo dan hanya menunjuk jepit hitam panjang yang sedang di pakainya. Dan Youngjoo pun langsung faham sambil tersenyum lega.

Sangjin masih asik memilih barang barang, namun Youngjoo langsung menyeretnya dan mengajaknya ke sebelah pojok mall yang menjual baju. “duduklah disini! Jangan memilih baju! Jangan mengikutiku! Ingat!” jelas Youngjoo kemudian langsung meninggalkan Sangjin. Sangjin hanya duduk duduk sambil memikirkan benda yang Youngjoo pakai di kepalanya. ‘bandonya belum dicopot’ kata Sangjin dalam hati sambil ia tertawa kecil sendirian.

Ahirnya Youngjoo datang membawa setelan denim romper Jeans biru dengan dalaman kaus putih senada “cobalah!” Sangjin hanya bisa patuh dengan perintah Youngjoo dan segera masuk ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya. Selesai dan Sangjin keluar di sambut dengan seringai lega dari Youngjoo. “pas, bagus! Sudah, ganti bajumu lagi!” komen Youngjoo dan langsung menyuruh Sangjin ganti lagi. Sangjin hanya bisa menggerutu dalam ruang ganti.

“karena tadi kau sudah memaksaku, sekarang giliranku! Duduklah disini! Jangan memilih baju! Jangan mengikutiku! Ingat!” perintah Sangjin balas dendam sambil mendudukkan Youngjoo seperti yang tadi di lakukan Youngjoo ke Sangjin.

Sangjin datang dan membawa hoodie abu abu bergambar angry bird lucu. Sangjin langsung menyuruh Youngjoo mencoba baju pilihannya dan Youngjoo hanya bisa menuruti apa yang Sangjin perintahkan karena mungkin ini balasan karena Youngjoo telah memaksa Sangjin.

“pas, bagus! Sudah, ganti bajumu lagi!” kata Sangjin menjiplak omongan Youngjoo saat Youngjoo memaksanya. Youngjoo yang merasa tersindir hanya menampakkan wajah kecutnya dan memendam dalam dalam dendanya itu. Kalau tidak, bisa bisa mereka kembali seperti dulu, tak pernah akur.

. . .

Sangjin dan Youngjoo pun menghabiskan waktu luangnya dengan bersenang senang, setelah ke mall mereka malah kembali ke taman kota yang semakin sore semakin ramai. Terkadang ada obrolan kecil yang banyak di mulai oleh Youngjoo, kadang juga diselingi tawa lepas Sangjin karena lawakan Youngjoo.

Hari makin sore. Sekarang pukul 4 sore. Sangjin masih asik dengan ice creamnya sambil melihat lihat anak anak bermain di air mancur.
“hey, aku masih punya satu tempat tujuan lagi” kata Youngjoo mengagetkan lamunan Sangjin.

“tapi ini sudah sore! Kita di sini saja!”

“kalau tak mau pulang sore, makannya kau harus ikut aku sekarang! Ini tempat spesial!” paksa Youngjoo dengan menyeret lengan Sangjin supaya mengikutinya. Dan ahirnya Sangjin pun menurut dan berhasil dibawa oleh Youngjoo ke tempat spesialnya itu.

Youngjoo menghentikan mobilnya dipinggir jalanan di depan pantai yang sepi.
Sangjin pun turun dan melihat jelih apa yang ada di depannya sekarang.

“Youngjoo ini sangat indah!” Sangjin langsung menghambur ke pinggir pantai dan Youngjoo masih bersandar di mobil bagian depannya.

“kau baru pertama kesini?” tanya Youngjoo heran melihat tingkah yeoja yang di ajaknya itu.

Hening dan tidak ada jawaban satu katapun dari pertanyaan Youngjoo. Sangjin tetap menikmati angin yang perlahan lahan meniupi rambutnya. Ia menengadahkan wajahnya ke atas menikmati karunia tuhan yang sangat indah.

Youngjoo angkat kaki dan duduk di depan pohon besar yang menghadap langsung pantai sambil mengutak atik mp3 playernya.

Sangjin yang merasa puas menikmati pemandangan, memilih untuk mengambil posisi di samping Youngjoo dan menatap heran Youngjoo yang sedang menikmati bahkan menghayati sesuatu yang saat ini ia dengar.

“sedang apa?” Sangjin refleks menanyakan hal itu. Tanpa membalas pertanyaan Sangjin, Youngjoo mencopot satu earphone dari telinganya dan menancapkannya pada telinga Sangjin.

Sangjin ikut menghayati setiap lirik yang terucap dari lagu itu.

– – –

Geudae olttaekkaji gidarilkke
Because I can’t forget your love

[aku menunggumu sampai datang
karna ku tak dapat melupakan cintamu]

Galsurok gipeoman ga
I can’t stop thinking about your love

[seiring berjalannya waktu aku tetap tak dapat berhenti memikirkanmu]

Ijeul su eobseul geot gata
Geudae modeun geot

[ku fikir aku tak dapat
melupakanmu]

Mideul su eopseul geot gata
Geudae doraondamyeon

[sayang, aku tak dapat
membayangkan saat kau kembali]

Ijeuryeogo haebonjeokdo eopseo
Naegen gachi eopneun iriraseo
Geudael tteoollineun iri maeil naegeneun
Sumswineun geotmankkeum sojonghae

[Aku bahkan tak pernah mencoba melupakanmu, itu adalah hal tak berguna memikirkanmu setiap hari itu penting bagiku seperti bernafas]

I can’t forget your love uh
Girl, you know that I need your love,

[tak bisa lupakan cintamu.
Gadis, kau tahu aku membutuhkan cintamu]

I need your everything I need you back

[aku butuh segalanya, aku ingin kau kembali]

Kidaril su isseo till you come back
Comeback to me

[ku tak bisa menunggu sampai kau kembali, kembali padaku]

I can’t forget your love
Eonjekkajirado nan
Geudae ol ttaekkaji
Kidarilkke
I can’t forget your love
Eonjekkajirado kidarilkke
Cuz I can’t
I can’t forget your love~

[ku tak dapat melupakan cintamu
Tak peduli berapa lama, aku akan tetap menunggu
karna ku tak dapat, tak dapat lupakan cintamu]

I just wanna be with you
You know my heart beat

[Aku hanya ingin denganmu
Kau tau isi hatiku]

– – –

“kau sedang menunggu seseorang? Menunggu seseorang yang kau cintai dari pergi jauhnya!” Sangjin mencoba menafsirkan lirik lagu itu.

“tidak, aku hanya menunggu. Em. . . Menunggu kapan orang yang aku cintai bisa mencintaiku, dan kapan aku bisa menyatakan perasaanku padannya.” jelas Youngjoo tanpa menatap Sangjin.

Sangjin yang mendengar penjelasan Youngjoo tersenyum pahit ‘aku tak punya harapan!’ batin Sangjin. “yang terpenting, kau harus yakin! Percaya diri bahwa dia mencintaimu dan percaya bahwa kau pasti bisa mengungkapkan perasaanmu.” saran Sangjin menguatkan dirinya.

Saat ini Sangjin tak tahu harus apa, perasaannya campur aduk mendengar penjelasan pahit Youngjoo. Air mata Sangjin sudah bersiap siap untuk mengucur deras. Sangjin langsung berlari ke pinggir pantai lagi sambil membentangkan tangannya dan mengeluarkan semua air mata dan sisa sisa tenaganya.
‘aku tetaplah aku! Gadis kumel, kutu buku, jelek, itu semua aku! Aku takkan pernah menjadi putri tidur yang jika sudah bangun maka pangeran akan jatuh cinta padanya. Sejauh apapun aku berubah, Sangjin tetaplah Sangjin, Youngjoo tak akan menaruh perasaan padamu Sangjin! Jangan bodoh! Satu satunya cita cita yang takkan pernah ku gapai mungkin adalah bisa bersama denganmu.’

Sangjin berteriak dalam hati. Meluapkan segala emosi yang sedari tadi membuntu kerja otaknya. Namun belum lega Sangjin menangis, ia merasakan ada yang memeluk pinggangnya erat dari belakang.
Lelaki karismatik itu membenamkan wajahnya di atas pundak Sangjin.

Sangjin menurunkan tangannya yang tadi menodong ke atas dan masih mematung dengan apa yang terjadi sekarang. Saat ini seperti jantungnya memaksa untuk melonjak keluar.

Youngjoo kemudian bangun dan meletakkan janggutnya di atas pundak Sangjin dan diiringi dengan anak rambut Sangjin yang beterbangan membuat suasana semakin tegang.

“Seo Youngjoo dan Lee Sangjin. Dua anak manusia yang mustahil dapat menyatu. Lalu terjadi pertentangan hebat yang pada ahirnya bisa membuat kita seperti ini sekarang. Terimakasih kau sudah mengubah namja pabo menjadi namja yang tetap pabo di sampingmu sekarang. Kau telah merubah segala aspek hidupku Sangjin!” kemudian Youngjoo menarik nafas berat menyentuh leher Sangjin. “aku kira saat kita tak mendapat juara satu, kau akan marah! Tapi dugaanku salah, maaf jika kekalahan itu karena aku!” semakin lama, suara Youngjoo semakin pelan. Seperti ada yang menahannya untuk berucap. Sangjin masih mematung namun tetap mendengarkan dan memaknai dalam setiap perkataan Youngjoo.

Sangjin merasakan punggungnya terdapat getaran jantung yang hebat. Sangat kencang yang membuat Sangjin malah semakin gugup tak terkendali.
“Sangjin,” hanya satu kata dan setelah 10 detik Youngjoo meneruskan kalimatnya “Saranghaeyo Sangjin-ah” ucap Youngjoo lirih tepat menyelimuti daun telinga Sangjin. Sangjin tak tahu harus berbuat apa! Apa maksud semua ini? Ucapannya benar benar tak seperti yang ternalar diotak Sangjin. Sangjin tak bisa menjawab dan tak bisa berbuat satu gerakan jari pun. Entah apa yang harus ia lakukan sekarang ia pun tak tahu, begitu tak di sangka. “jeongmal Saranghae Sangjin!” tegas Youngjoo dengan suara lebih kuat dan lantang. Jantung Sangjin seperti berhenti berdetak. Lari dari fungsi umumnya. Youngjoo lalu melepas rangkulan tangannya ke pinggang Sangjin. Memutarkan tubuh Sangjin 180° sampai pas menghadap Youngjoo. Sangjin masih mematung dan menatap mata Youngjoo lekat. Mencari sebuah isyarat kebenaran yang tersirat di balik mata indahnya. Dan itu ada.

“lalu kenapa?” kalimat bodoh yang baru saja di ucapkan Sangjin langsung membuat Youngjoo meringis lucu.

“lalu. . . Kau mau tidak, jadi yeojachinguku?” balas Youngjoo dari ucapan bodoh Sangjin.

Sangjin tak tahu harus berbuat apa tak ada satu pikiranpun yang terlintas. Ini terlalu membahagiakan. Sangjin hanya bisa mengeluarkan air matanya tanpa terisak dan masih menatap Youngjoo tajam.

Youngjoo reflek menunjuk air mata Sangjin dengan jari telunjuknya. Melukiskan garis searah dengan arah aliran air matanya.
“kenapa kau menangis?”

Sangjin memukul dada Youngjoo pelan. Sambil masih menangis “kenapa. . . Kenapa kau tidak mengatakannya dari dulu?” lanjut Sangjin membuat Youngjoo tidak waras sekarang. Kebahagiaan itu terlalu besar dan datang dalam satu waktu. Youngjoo membentangkan tangannya lebar lebar berharap Sangjin akan menyambar pelukannya. Namun tidak. Youngjoo tersenyum kecut. 3detik kemudian Sangjin memeluk Youngjoo sangat erat dan tiba tiba membuat badan Youngjoo agak tersentak kedepan. Dengan senang hati Youngjoo membalas pelukan Sangjin.

☆☆☆☆☆

Sangjin menyusuri jalan SMA Kirin sambil menenteng buku yang kemarin ia beli bersama Youngjoo. Di tengah tengah perjalanannya ke kelas, Sangjin merasa ada yang memanggilnya dari belakang.

“tumben kau datang pagi pagi!” tanya Sangjin sambil memperlambat langkah kaki Youngjoo.

“aku ingin cepat cepat menemui yeojachinguku!” balas Youngjoo sambil menggandeng jari jari Sangjin. Sangjin menundukkan wajahnya malu dan semburat merah memenuhi wajah Sangjin.

Hampir sampai ke kelas namun mereka bertemu lee dan im seongsangnim.

“annyeong!” sapa mereka berdua ramah sambil membungkukkan badan.

Tidak ada jawaban atau bahkan senyum dari dua guru favorit mereka. Youngjoo dan Sangjin mengikuti arah pandang guru mereka yang mencurigakan itu.

“JANGAN BERGANDENGAAAN!” teriak lee dan im seongsangnim berbarengan.

‘mereka balas dendam. Lebih baik kita kabur.’ bisik Youngjoo mendesah ke Sangjin. Kemudian mereka lari terbirit birit karena di kejar lee seongsangnim.

————————————–

Perbedaan bukanlah penghalang dari persatuan.

Perbedaan pun belum tentu menjadi sebuah kekurangan.

Terkadang perbedaan itu menguatkan. Menyatukan hal yang tak bisa di satukan sekalipun.

Perbedaan terkadang membuat kita merubah sikap.
Menjadi lebih baik atau tidak.

Cinta tak pernah memandang perbedaan. Tak perduli kau putih dan aku hitam.

Jika takdir yang berbicara maka yang tak mungkin terjadi pun bisa saja terjadi.

“MATEMATIKA” Sebuah pemersatu perbedaan. Pemersatu cinta yang di yakini takkan ada.

Percayakah jika kau menemukan perbedaan itu, maka di balik itu ada sesuatu yang akan bersatu.

-END-

Yang udah baca, RCL ya!

One thought on “[FF] Math Makes One

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s