[FF] What is Love? ( 사랑은 무엇인가? )

FF / What is Love? ( 사랑은 무엇인가? ) / Romance / 12+ / One Shot

Cast:

Lee Sangjin

No Minwoo

Lee Jeongmin

member Boyfriend (cameo)

Genre: Romance ababil (?)

Author: Mujtahidatul Alawiyyah (Tae Hee-Da)

Twitter: @iidonghae861015

Blog: http://www.iidonghae.wordpress.com

Waw, ini kedua kalinya aku bikin ff Cast Minwoo  setelah Love really hurt.

Gatau kenapa lagi mood bikin ff ini, padahal chapter 2 nya love really hurt belum bikin! /jitak/ Coz gara gara mimpi ! Eh, jadi di tuangin ke tulisan.

Sebenernya aku mau nyoba bikin ff yang pendek dan konfliknya sederhana tapi ko kayaknya jadi ababil gini ceritanya?

Yasudah lah! Silahkan di baca, Yang mau baca ya silahken di baca, yg gamau ya minimal like (?) wkwkwk. . .

Sekali lagi aku tekanin kalau ni ff ababil banget.

Dan rada ga guna juga sih ff nya.

Happy reading!

«»«»«»«»«»

Cinta adalah. . .

ketika kamu tidak tahu perasaan apa yang sedang kamu rasakan. . .

#Sangjin POV

“oppa, sepulang sekolah ayo kita ke kedai ice cream!” aku mengoyak tubuh Youngmin manja setelah sukses ditolak saudara kembarnya karena dia akan pergi kencan dengan yeojachingunya.

Satu detik, dua detik, tak ada jawaban. Lelaki bertubuh jakung kurus ini masih sibuk menata buku dilokernya.

“jangan bilang kau juga akan pergi kencan! Aissshh. . . ” tebakku dibalas dengan seringai Youngmin.

“kau sudah tahu ya! Kalau begitu, bye bye!” Dia berlalu meninggalkanku yang masih mematung ditempat. Dia meninggalkan rambutku yang diacak acaknya. Aku mendengus dan menghentakkan kakiku kuat ke lantai tanda kesal.

Aku menyusuri tangga Seoul National High School menuju lantai dua. Markas tempatku jika sedang tak ada teman, kesepian. Menurutku, tempat ini sangat strategis. Selain bisa melihat pemandangan lapangan bawah dengan luas, juga tempat ini hampir tidak pernah ada yang mengunjungi. Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak tadi. Namun aku tak berminat untuk segera pulang, pasti jika pulang aku hanya akan disambut banyak pembantu rumah. Tidak ada eomma dan appa. Semuanya sibuk dengan pekerjaannya masing masing.

Drap Drap Drap. . .

Suara hentakan kaki ringan membangunkanku pada lamunan tak berarah. Ku alihkan pandanganku ke arah sumber suara. Kulihat sosok pria tinggi berwajah manis dengan rambut hitam berponi menghampiriku sambil memicingkan mata penuh tanya. Tanpa berkata, pria itu segera mengambil posisi di sampingku.

“sedang apa kau?” kata pertamanya sambil menatap wajahku lekat. Bisa dipastikan saat ini wajahku sudah memerah.

Ahhh. . . Apa maksudnya, kenapa jantungku berdegup dua kaki lebih kencang begini? Sangat tak masuk akal.

Aku masih sibuk dengan dunia lamunanku. Aku meneliti setiap inci wajahnya sekali lagi. Sungguh dia sangat manis. Tapi kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Mungkin karena aku tak pernah menatapnya sedekat ini.

“kau teman Jo twins oppa kan?” kataku refleks dan di balas dengan senyum yang mengalun menghiasi wajah manisnya. OMO! Kenapa aku ini? Tiba tiba keringat dinginku mengucur deras dan jantungku memompa darah lebih cepat. Apa apaan ini?

“Ne! Aku satu geng dengan mereka, kau mengenal kami? Boyfriend?” wajahnya masih tak berpaling menghadapku, masih asyik melihat ke arah depan. Entah apa yang sedang ia nikmati.

Jujur saja, dulu aku berani berjanji akan membenci geng boyfriend. Geng yang sangat terkenal seantero SMA di Seoul karena ketampanannya. Aku membenci mereka bukan tanpa alasan, dulu saat masih SMP, aku berteman baik dengan Jo twins. Tapi saat masuk ke SMA, entah kenapa mereka berdua berubah. Lebih mementingkan yeojachingu dan fans fansnya. Walaupun tidak berubah drastis, tetapi tetap saja aku merindukan perlakuan manja dari mereka. Sekarang, siapa yang akan memanjakanku.

Tapi saat ini aku melanggar janjiku sendiri untuk membenci boyfriend. Yah, karena namja yang ada disampingku sekarang.

“love first sight” aku masih tak sadar dengan lamunanku dan tak sengaja mengucapkan kalimau bodoh itu.

“maksudmu?” tanyanya yang heran dengan ucapanku. Minwoo mengibas ngibaskan tangannya. Berharap aku segera membuang muka bodohku. Dan sedetik kemudian aku tersadar dan ku dapati wajah manis itu mendekat. Lagi. ‘Omooooo!!!’ aku berteriak dalam hati. Kenapa sepeti ini? Kalau seperti ini bisa bisa aku pingsan di tempat. Aku langsung menunduk malu kemudian segera berlari menghindarinya dan bergegas pulang. Minwoo masih mematung bingung memandang heran punggungku yang lama lama menghilang.

Aku masih berlarian menuruni tangga. Aku memejamkan mata kemudian membukanya kembali. Detak jantungku masih berjalan tak stabil. Aku menuruni anak tangga itu dengan mengandalkan insting. Tapi celaka, kaki kiriku menginjak tali sepatu kananku yang tiba tiba terlepas dan aku tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Pasrah. Badanku terhempas kedepan. Tapi rasanya tak sakit, namun hangat. Aku membuka mataku perlahan dan melihat keajaiban apa yang sedang menimpa diriku. Aku meneliti baju yang di pakainya dan melihat nama yang ada didadanya. – 이정민 – (Lee Jeong Min).

Aku mendongakkan kepalaku mencari wajahnya. Dia kan, anggota boyfriend. Oh tuhan, tadi Minwoo sekarang Jeongmin. Oh tidak! Kenapa hidupku di kelilingi orang orang yang tampan seperti ini? Aku segera menegakkan tubuhku yang sedari tadi berada dipelukannya.

“Mianhae! Jeongmal mianhae!” aku membungkuk sedikit ke arahnya. Dia tersenyum. Ah , sungguh senyumnya benar benar indah.

“kau tak apa? Ayo, aku antar pulang!” tawarnya dengan tangan yang masih was was akan menopang tubuhku lagi yang hampir terjatuh.

“aniya! Tidak perlu! Gwenchana!”

“sudah, nanti kalau kau pingsan di jalan bagaimana?” paksanya sambil menatapku hawatir. Aku mengangguk ringan dan berjalan beriringan disampingnya.

☆☆☆☆☆

#Minwoo POV

“Love first sight?” kataku hampir tak terdengar ketika perlahan raga Sangjin kabur dan menghilang. Aku terkekeh pelan mengingat sikap yeoja itu. Segera aku beranjak dan berdiri menyandarkan perutku ke pagar pembatas. Tapi sesuatu yang tak mengenakkan melintasi pandanganku. Omo! Apa yang sedang ia lakukan bersama Jeongmin hyung? Tak terasa hatiku sesak melihatnya. Aku memegangi dada kiriku dengan tangan kananku. Menahan sakit yang tahu kapan datang dan dengan lancang mengganggu akal sehatku.

“Love first sight?” batinku lagi.

☆☆☆☆☆

Aku mengutak atik remote tv. Tidak ada berita ataupun drama yang bagus. Membosankan. Sampai akhirnya Jeongmin hyung dengan lancang masuk ke rumahku dan merecoki hatiku yang sedang uring uringan.

“MINWOOOOOO!!!”. Sial, dia datang saat aku benar benar sedang tak mau bertemu dengannya.

“ah, untung kau ada dirumah! Aku sudah ke rumah anak anak, tapi semuanya tidak ada di rumah” dengan malas aku mendengar curhatan anehnya. Terlalu banyak basa basi. Aku tahu, pasti Jeongmin hyung mau bercerita tentang suatu hal yang membuatnya menjadi segirang ini.

Jeongmin hyung langsung saja duduk di sampingku tanpa permisi.

“hey, kau tahu kan, siapa yeoja yang selama ini aku ceritakan padamu?”

Aku pura pura tak mendengarnya. Aku bisa menebak arah pembicaraan selanjutnya.

“tadi aku mengajaknya pulang bersama. . . Oh, senangnya!”

Deg ! Pulang? Apa yeoja yang di maksud adalah Sangjin?

“mwo?” aku langsung menatapnya dengan wajah super kaget.

“apanya?” Jeongmin hyung balik bertanya.

Deg deg deg. . . Aku menghembuskan nafasku lebih cepat dari biasanya. Seperti sesudah lari maraton. Aku menenangkan pikiranku sendiri. Dan mencoba mendengarkan lanjutan curhatan dari Jeongmin hyung dengan tanpa minat.

“kau mau tahu namanya?” Jeongmin hyung bertanya lagi.

Aish, pikiranku berlari kemana mana. Kalimat yang akan dilontarkan Jeongmin hyung seakan sudah aku prediksi dan aku tak mau ia mengatakannya.

“namanya Lee. . .”

“Uhm. Hyung, sebaiknya sekarang kau pulang, appa dan eomma pasti mencarimu!” aku mendorong punggung Jeongmin hyung dengan kuat supaya segera menjauh dari pandanganku dan ahirnya aku berhasil mengeluarkannya dari rumahku.

Aku berjalan tak karuan di depan pintu masuk. Tiga langkah ke kanan, kemudian balik lagi tiga langkah ke kiri. Hal itu aku lakukan berulang sembari berfikir. Entah apa yang aku pikirkan. Yang pasti tentang yeoja itu.

Gusar sekali.

“aaahh. . . Kenapa harus kau hyung!”

Ahirnya aku terhenti pada kegiatan mondar mandirku dan menjambak rambutku sendiri dengan penuh amarah.

Kenapa harus kau hyung? Kenapa bukan yang lain saja? Mana mungkin aku merecoki kebahagiaan orang yang aku sayangi.

Tapi kenapa aku segusar ini? Menangnya apa hubunganku dengan Lee Sangjin itu. Ah, aku tak peduli. yang jelas kau tak boleh mencintainya hyung!

☆☆☆☆☆

Aku mencoba menghindar dari Jeongmin hyung, rasanya jika aku berada di dekatnya seperti aku ingin menelannya hidup hidup. Memang sangat egois. Semua orang berhak untuk mencintai dan di cintai. Aku benar menyadari itu. Tapi aku pun tak bisa menghindari amarah ini. Huh, mungkin untuk saat ini lebih baik aku sedikit menjaga jarak dengannya.

Bel pulang sekolah berbunyi, aku segera membereskan segala buku yang berceceran di atas bangku. Dan bergegas ke lantai dua. Berharap Sangjin juga berada disana.

Aku melangkahkan kaki dengan tergesa. Dan Yah, sangat tidak sesuai harapan. Tak ada seorangpun disitu.

Aku melihat keadaan bawah, melihat lapangan sekolah dengan manusia manusia yang berceceran di situ. Pantas saja Sangjin suka berada disini, pemandangannya lucu.

Aku masih mengedarkan mataku ke bawah dan ku dapati yeoja sedang berjalan beriringan dengan namja yang ada di sampingnya. Tingkah mereka berdua terlihat sangat gembira.

“sial!” umpatku dalam hati. Aku benar benar mengenali yeoja dan namja itu. Walaupun hanya di lihat dari atas aku sudah bisa menebak siapa mereka berdua.

Lee Sangjin dan Lee Jeongmin. Dua anak manusia yang sama sama bermarga Lee.

Aku mengerutkan dahiku memendam emosi. Setiap ada hal yang tidak sesuai keinginanku aku hanya bisa mengungkapkannya dengan amarah dan emosi. Tak pernah dengan air mata dan tangisan tak berguna.

Ah, lalu apa yang harus ku lakukan? Rivalku kaki ini benar benar berat.

Jika memang pada ahirnya takdir berkata seperti itu. . . Itu tidak masalah, setidaknya aku akan berusaha untuk membalik takdir itu.

☆☆☆☆☆

#Sangjin POV

Pulang sekolah, Jeongmin memaksaku untuk ikut bersamanya. Bukan memaksa, namun yah, selagi aku menikmatinya itu bukan termasuk dalam pemaksaan. Tapi hari ini aku meninggalkan jadwal pentingku untuk hanya sekedar mengusir kepenatan di lantai dua SMA, tak hanya itu, aku juga harusnya berniat pergi kesana supaya bisa menemui Minwoo. Ya walaupun hanya sedikit kemungkinan dia akan pergi kesana.

Aku melamun di dalam mobil Jeongmin. Menatap arah depan yang penuh dengan mobil. Kami terjebak macet.

Mungkin Jeongmin melihatku sedang melamun dan ia segera menyadarkanku dengan pertanyaannya.

“Kau tak apa Sangjin?”

“ah, gwenchana!”

Aku tak tahu apa yang sekarang sedang aku lamuni, yang jelas tak tahu kenapa pikiranku masih berada di balkon lantai dua itu.

‘Ah, mungkin hanya ingin kesana, tak ada apa apa’ aku menenangkan diriku sendiri dalam hati.

Sudah dua minggu aku dan Jeongmin berteman, dia adalah tipe orang yang mudah bergaul, bahkan dia sangat mengerti sifat manjaku. Mungkin orang ini lebih menyenangkan dari pada Jo Twins yang sehari harinya hanya bisa menggodaku dan hanya sedikit memanjakanku. Sangat berbeda dengan Jeongmin yang selalu memanjakanku. Walaupun terkadang aku merasa tingkahnya agak berlebihan. Yang pasti dia adalah namja yang menyenangkan.

Tapi dalam dua minggu itulah aku merasa hampir tidak pernah bertemu dengan Minwoo lagi. Entah karena aku yang terlalu sibuk atau memang dia yang menghindar.

Aku sekarang berada di jalan sempit antara dua rumah besar. Aku sedikit mengintip ke punggung namja yang membelakangiku. Namun wajahnya menghadap ke belakang. Mengecek semua sudut. Mungkin dia sudah merasa kalau aku mengikutinya.

Aku berjalan mengendap endap ketika Minwoo sudah berjalan normal. Sudah seminggu ini aku mengikutinya, apa saja yang dia lakukan sepulang sekolah, bahkan saat berangkat sekolahpun aku sempat mengikutinya. Tapi hasilnya nihil. Tidak ada informasi penting yang bisa aku dapat dari aku menguntitinya. Bahkan banyak info tentangnya banyak aku dapat dari Jo Twins dan terkadang juga dari Jeongmin. Mulai dari hobi, makanan favorit, minuman favorit, warna favorit. Dan segala tentangnya.

Aku memang sudah tak waras sekarang. Jika di suruh menguntit aku bersemangat, tapi giliran bertemu langsung, semua syaraf pada otakku seakan berhenti bekerja. Semua oksigen yang ada di bumi ini pun seakan habis. Rasanya sesak.

Mulutku terkunci rapat.

Mataku tak bisa berkedip dan ingin selalu menatap wajah manismu itu No Minwoo.

Cukup hanya membayangkan saja tapi rasanya sangat nyata.

Ku lihat Minwoo makin memperbesar sudut kakinya. Mempercepat langkahnya yang hampir berlari.

“gawat!” kataku tak terdengar. Aku berlari menyesuaikan derap langkahnya dan tiba tiba. .

Duk . . .

“awww, appo” aku mengusap dahiku yang tertutup topi. Dan aku tak berminat melihat benda apa yang tak sengaja aku tabrak.

“sudah ku duga, ada yang mengikutiku!” suara itu pas masuk ke daun telingaku dan dengan cermat di proses dalam otakku

Aku mengenali suara berat itu dan segera bersiap siap untuk mengeluarkan jurus kaki seribu. Tapi tidak bisa. Tangan kekar nya mengunci pergelangan tanganku. Seribu alasan silih berganti melewati benakku tapi tak ada satupun yang masuk akal.

Perlahan tangan kanan Minwoo mengangkat janggutku supaya dia bisa melihatku dengan jelas.

Omo! Baru saja aku membayangkan ketika bertemu dan bertatap langsung seperti ini. Tapi kali ini aku salah, efek yang tadi aku bayangkan, ternyata kurang besar. Nyatanya sekarang aku tak bisa berkutik di dekatnya. Omo! Jika seperti ini aku bisa gila!

Untung aku tadi sudah mempersiapkan semuanya, dari syal dan masker, kaca mata hitam, topi rajut hitam. Kali ini aku boleh percaya diri jika Minwoo tak akan mengenalku. Tapi sepertinya aku salah! Dia mengenalku, pasti.

“kau ini ada ada saja! Jangan berpura pura, buka saja langsung semua itu. Aku sudah tahu!” kata Minwoo sambil menyeringai merasa dia memang.

‘Omo! Eomma, eottokhae! Tolong aku!’

Kataku dalam hati sambil sedikit menangis. Kalau aku buka ini, harga diriku . . . ! Oh tidak!

“jangan mengadu pada eommamu! Dia tak akan datang!”

Aku membulatkan mataku yang masih tertutup masker. Bingung. Kenapa mendadak dia punya indra ke enam di saat seperti ini?

“aku tak punya indra ke enam. kalau kau tak mau membukanya, ikut aku! Tak baik berbicara di pinggir jalan!” belum sempat aku mengangguk, ia sudah menggandeng tanganku. Mengajakku pergi ke parkiran umum untuk mengambil mogenya.

“Naiklah!” suruh Minwoo sambil menyodorkan helm berwarna silver dan aku segera mengambilnya. *berasa di mv I Yah*

Aku naik ke motornya dan tak berani memeluk tubuhnya. Terlalu canggung. Padahal sejujurnya aku sangat ingin memeluknya.

Brum . .

Motor yang kita tumpangi seakan melayang. Padahal aku belum siap siap. Tapi aku merasa beruntung dengan itu. Badanku tersentak ke belakang dan refleks saja aku memeluk pinggangnya erat. Detak jantungku beradu dengan punggung Minwoo. Takut takut jika dia merasa aku sangat grogi. Aku mempererat pelukan di tanganku dan merebahkan kepalaku di atas punggungnya. Mungkin hari ini adalah hariku!

☆☆☆☆☆

#Minwoo POV

Pulang sekolah aku langsung bergegas pulang tapi aku harus mengambil motorku yang ku titipkan di parkiran umum. Maklum saja, sekolah melarang siswanya untuk membawa kendaraan bermotor. Aku berjalan tenang menapaki lantai aspal pinggir jalan. Tapi tiba tiba aku merasa ada seorang yang membuntutiku. Entah siapa dia, aku memutuskan untuk berhenti sejenak saat langkahku tepat di depan toko boneka dan memalingkan wajahku ke belakang. Mengecek setiap sudut jalan dan berharap bisa menemukan seseorang yang mengikutiku. Tapi nihil. Tak ada orang. Hanya ada gumpalan kertas koran yang berjalan terdorong angin.

Aku melangkahkan kakiku pelan sambil sesekali mendendangkan nada tak jelas dari mulutku.

Tap tap tap. . .

Perasaan di buntuti itu semakin memuncak. Suara langkah kaki itu tepat sama dengan nada ketukan sepatu yang ku hasilkan. Langsung saja aku berlari menghindari perasaan anehku. Bukan takut, namun lebih tepatnya sedang menerapkan tak tik turun temurun yang pernah eomma sampaikan padaku.

“kalau kamu merasa ada yang mengikutimu dari belakang, segeralah melangkah di percepat, lalu berbaliklah dengan tiba tiba. Kalau orang itu membawa senjata tajam, segera hajar dia. Kalau tidak membawa senjata, langsung peluk dia dan kunci lengannya dengan kuat.”

Pesan eomma dulu selalu teringat dalam kerasnya derap kakiku melangkah. Dan segera aku membalikkan posisi tubuhku. Memutarnya 180° dan ku peluk langsung seseorang yang sama sekali tak ku kenal ini. Ku kunci lengannya hingga ia sama sekali tak bisa berkutat.

Tak ada perasaan was was saat itu. Rasanya hangat dan tidak ada perlawanan darinya. Yeoja ini hanya terdiam tak membalas pelukanku tapi aku tahu betul ia menikmatinya. Aku tahu anak ini yeoja karena ia memakai rok seragam sekolah dan Yah, bodohnya lagi, dia tak menutupi nama pengenal di dadanya saat ia mendongak melihat wajahku.

Entah apa yang aku katakan sampai ia sekarang sudah aku bonceng.

“sampai!” aku memberhentikan motorku di depan rumah besar dengan dominasi warna cream dan putih di temboknya.

“ini rumah siapa?”

Dia masih saja beralasan dengan lidah yang aku yakin sudah hampir keluh karena menyiapkan kebohongan mendadak ini.

“jangan berpura pura, kalau kau ingin membuntutiku kau harus menyiapkannya dengan cermat dan teliti. Kebohonganmu jelas sudah terbaca, aku penggemar berat novel misteri. Jadi jangan coba coba mengikutiku lagi.” seruku ceplas ceplos dan langsung meninggalkan Sangjin di depan rumahnya.

Yeoja aneh!

☆☆☆☆☆

#Sangjin POV

Pagi pagi aku segera berlari kecil menuju kelasku. Namun belum sampai pintu, seseorang memegang lenganku erat.

“Jeongmin oppa!” aku terkaget melihatnya yang masih pagi sudah menghampiriku. Ia mengajakku duduk di depan kelas dan dengan wajah yang sumringah, ia mengawali pembicaraan.

“tara!” Jeongmin langsung mengeluarkan benda kotak yang sedari tadi di umpatkannya di balik badan.

Omo! Dia memberiku dvd 6jib super junior. Kenapa dia tahu kalau aku sangat menggilai mereka.

“gomawo oppa!” refleks aku langsung memeluknya tanda terimakasih. Bukan karena yang lain.

Jeongmin memang sangat manis. Setiap perlakuannya padaku selalu membuat aku sumringah. Andai saja sifat Jeongmin ini ada di diri Minwoo. Lengkap sudah kesempurnaan yang di miliki Minwoo.

Kenapa aku berani mengatakan itu? Yah, karena Minwoo sama sekali tidak memiliki sifat semanis Jeongmin. Sifatnya terlalu dingin dan juga sedikit pemarah. Tapi di balik itu tak tahu kenapa saat didekat Minwoo Rasanya berbeda dengan saat aku memeluk Jeongmin ini.

Siapa yang ada di hadapanku sekarang, dan siapa yang aku pikirkan? Huh, terlalu jauh aku memikirkan Minwoo seperti itu. Dia tak mungkin menyukaiku.

Jeongmin tak membalas perlakuanku dan aku segera melepaskan pelukanku.

Ku lihat Minwoo di seberang sedang melihat adegan kita. Lalu ia langsung bergegas menghilang dan sangat jelas sekali ekspresi kekecewaan yang ada di wajah manisnya.

Aku memikirkan sesuatu yang tak mungkin terjadi. Apa mungkin Minwoo cemburu dengan adegan itu. Ah , tak mungkin! Tapi aku sangat ingin menyusulnya dan menjelaskan semua. Tapi rasanya sangat tak pantas jika aku melakukan itu. Percuma saja jika nanti aku menjelaskan dan Minwoopun tak akan perduli.

☆☆☆☆☆

Sudah sekitar 2 minggu Minwoo sepertinya menghindariku. Padahal walaupun kita tak terlalu dekat, tapi biasanya jika bertemu paling tidak dia akan menyapaku, tapi dalam 2 minggu ini dia terkesan menghindar.

Aku menaik tangga menuju lantai dua tempat favoritku dan pas sekali Minwoo berada di situ sedang berdiri menyandarkan perutnya pada pagar. Entah sejak kapan, dia yang sekarang senang berada di sini. Aku menghampirinya dengan perasaan sangat takut dan pastinya perasaan rindu yang setiap hari menggelayuti hatiku.

“oh, ada kau, Yasudah aku pamit. Annyeong!” katanya saat aku sudah berada sejajar dengan badannya. Apa maksudnya? Baru saja aku datang dan dia langsung mau pergi.

“tunggu! Kau ini kenapa? Aku hanya mau memberimu ini!” aku mengulurkan tanganku. Memberinya benda kotak tebal favoritnya.

Lega. Dia menerimanya walau tanpa seutas katapun.

“aku sengaja membeli novel ini, novel Sherlock Holmes edisi terbaru dan di jual terbatas di korea. Kata Jo Twins oppa, kau belum memilikinya, jadi aku sengaja membeli ini. Semoga kau menyukainya.”

Aku menyunggingkan senyum yang menurutku termanis namun ia masih saja diam beberapa detik.

Aku menunggu kalimat selanjutnya.

“yeoja buta! Tak bisakah kau tidak melakukan hal ini? Jangan membuat aku emosi!” itukah kata selanjutnya yang ia ucapkan. Tuhan, tolong ijinkan aku untuk menyobek telingaku sendiri supaya aku tak pernah mendengar itu. Aku hanya berniat baik untuk memberinya novel. Itu saja tidak lebih. Lalu apa katanya? Buta? Apa maksudnya?

Brakkk

Ia membanting novel pemberianku hingga terjatuh ke lantai. Apa lagi yang ia lakukan? Aku baru sadar jika Minwoo sedang mengamuk, ia bisa separah ini.

Aku menunduk, menutupi wajahku yang sudah tercipta danau besar di situ. Sakit rasanya melihat ini. Aku tidak tahu apa salahku dan tiba tiba Minwoo langsung membentakku kasar.

“mianhae!” ucapku lirih sambil memungut buku yang tadi ia jatuhkan.

“maaf jika aku punya salah, setidaknya terima ini! Jeball!” entah ucapan itu langsung saja keluar di tengah isakanku. Padahal ini sangat bertolak belakang dengan prinsipku -aku tidak akan pernah meminta maaf sampai aku tahu apa salahku-

Dan aku yakin dia sangat faham bagaimana aku berjuang untuk mendapat buku itu. Buku dengan penulis terkenal dan juga dengan tokoh yang terkenal. Terbitannya juga terbatas di korea! Bagaimana dia dengan gampang membantingnya.

“gomawo!” sungguh lirih kalimatnya. Kalimat yang aku tunggu setelah ia berusaha mengatur deru nafasnya yang terengah engah.

Lalu ia langsung meninggalkanku tanpa pamit. Untung ia membawa novel itu. Setidaknya itu cukup untuk meminimalisir rasa sedihku karena bentakan hebatnya.

Tapi satu kata itu terus saja menggangguku ‘yeoja buta?’

☆☆☆☆☆

Seminggu setelah kejadian aneh di balkon lantai dua sekolah itu, hubunganku dengan Minwoo sangat renggang. Aku tak berani mendekatinya lagi. Juga sebaliknya.

Aku duduk di tepi tempat tidur sambil melamun tak terarah. Ah, semuanya membuat aku frustasi.

Cling. . .

Lampu kuning terang tiba tiba menghiasi kepala atas sebelah kananku. Rasanya aku ingat sesuatu yang sangat penting!

“dvd nya!”

Aku segera mengambil dvd ku di laci kecil sebelah tempat tidur dengan terlebih dahulu menjajah kasur tidur.

Ku buka bungkusnya perlahan namun….

Drrtdrrt Drrtdrrt

Getaran kecil ponsel memaksaku untuk mengalihkan kegiatanku. 1 pesan

‘Pulang sekolah besok, datanglah ke lantai dua! Jangan terlambat! Aku tak suka menunggu.’

= 민우 = (Minwoo)

Oh tuhan! Benarkah dia mengajakku bertemu! Ah, memangnya ada apa? Lama tak bertemu dan saling menghindar, tapi dia sekarang malah mengajakku bertemu. Kyaaaa. . . Yah, walaupun isi smsnya sedikit bernada menantang.

Tidak, aku tak boleh tertawa dulu. Aku juga harus menyiapkan mental. Tahu tahu dia mendadak akan membentakku seperti dulu. Ah, aku tak mau itu terjadi lagi.

Aku menepis segala prediksi aneh yang mengitari otakku. Segera kembali ke pekerjaan awal yang sempat ku tunda. Ada surat kecil di dalam sampul dvd itu.

‘tanggal 8 juni, ku tunggu kau di taman kota sepulang sekolah. Ku harap kau bisa datang’

< 정민 > (Jeongmin)

Begitulah isi surat itu. Ah, kenapa semuanya terjadi bersama seperti ini! Aku merasa waktu sangatlah sempit hingga hanya menyisakan hari esok. Lalu siapa yang harus ku pilih? Ah, terlalu sulit memilih antara menjaga kesopanan dan mengikuti kata hati.

☆☆☆☆☆

Mentari pagi menyembulkan sinar indahnya. Membangunkan setiap anak adam untuk melakukan rutinitasnya.

Aku menggeliat di atas tempat tidur ketika dengan sengaja secerca sinar matahari menelusup mataku melalui celah jendela besar.

Aku mengedipkan mataku beberapa kali hingga indra penglihatanku kembali normal.

Aku melihat jam weker dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul. Masih jam 5. Aku tak mungkin terlambat sekolah.

Sekolah? Ah, kenapa aku jadi memikirkan 2 namja itu. Siapa yang harus aku temui.

Minwoo yang tidak suka menunggukah? Atau Jeongmin yang manis itukah? Ah, memikirkan itu rasanya pening.

‘Lupakan Sangjin! Lupakan pikiran bodohmu itu!’ Aku menghibur diri dengan menyibakkan kepalaku beberapa kali.

Ketika aku berharap adanya keberuntungan, tak ada satupun yang mendekat.

Tapi ketika sedang tak ada harapan itu, semuanya mendekat dan lebih menjadi beban.

☆☆☆☆☆

Teeet . . . Teeet . . .

Bel sekolah rasanya cepat berbunyi. Dan sungguh aku tak siap dengan keputusanku.

Aku menunduk membekap kepalaku pada tangan yang terlipat diatas bangku sembari memikirkan sesuatu yang seharusnya tak perlu dipikirkan sedalam ini.

‘apa lebih baik aku tak mendatangi keduanya? Ah, tidak mungkin seperti itu!’ aku menggaruk rambutku kasar. Menghasilkan susunan rambut yang sangat pantas menggambarkan pikiranku yang sedang gusar.

Hmmm. . . Hufffttt. . .

Kutarik satu nafas berat dan kukeluarkan perlahan. Berusaha menyusun kesadaranku kembali.

Yah, mungkin aku sudah tahu mana yang harus aku pilih.

***

Minwoo mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Terutama lapangan. Saat ini Minwoo berada di balkon lantai dua untuk menunggu yeoja yang sengaja ia undang.

Tapi ya, tidak ada tanda tanda adanya manusia di lapangan sekolah. Sampai akhirnya ia melihat seorang yeoja mungil yang sedang berlarian ke luar sekolah. Ya, Sangjin.

Minwoo menyipitkan matanya memastikan apa yang ia lihat memang benar walaupun ia berdoa supaya itu bukan Sangjin. Tapi kali ini doanya tak terkabul. Yeoja berperawakan mungil dengan rambut kuncir kuda glow dengan poni rata menutupi seluruh dahinya. Ciri cirinya persis seperti seorang Lee Sangjin.

“apa ada yang terlalu mendesak sampai kau melupakan pertemuan kita hah! Awas kau Sangjin!” ucap Minwoo sambil menggenggam tangannya kemudian membanting keras genggaman itu ke kursi.

‘tapi aku yakin, kau pasti akan datang, aku akan menunggumu sampai kau datang!’

***

Aku sampai di taman kota. Ku lihat seseorang sedang duduk. Arahnya membelakangiku.

Ku paksakan langkah kakiku mendekat. Mengecilkan jarak antara aku dan sosoknya.

Sekarang aku tepat berada disampingnya. Namun tak ada dorongan yang kuat untuk aku duduk.

“untuk apa kau kesini?”

Sosok itu berkata dengan tegas namun bukan dengan nada mengusir.

Aku mengerutkan dahiku meminta penjelasan atas ucapannya. Bukanlah dia yang mengajakku? Lalu kenapa ia mengatakan hal itu?

Aku masih mematung berdiri. Dan tak berminat untuk menebak nebak apa yang Jeongmin pikirkan.

“jangan mengorbankan hatimu hanya demi perasaan tidak enak.” Jeongmin kembali berucap dan masih tanpa menatapku.

“belum terlambat, cepat hampiri dia!”

Aku masih terpaku dengan punggung kekarnya yang belum bergeming.

Aku mengumpulkan keberanian dan segera ku seret kakiku dengan ragu untuk duduk disamping Jeongmin.

“apa maksudmu?” tanyaku lagi masih memancarkan tatapan penuh tanya.

“aku tahu pesan yang dikirimkan Minwoo untukmu.” jawabnya sangat datar dan masih tak berpaling.

“lalu kenapa?”

“jangan bohongi perasaanmu, kau menyukai Minwoo kan?”

Aku meringis sinis mendengar pernyataan Jeongmin yang 100% benar.

“aku tak akan mengharapkan sesuatu yang tidak ada!”

Hening beberapa detik.

Kemudian ahirnya Jeongmin menatapku dengan intens. Aku balas menatapnya dengan mata yang membulat bingung.

“harapan itu ada karena tidak adanya sesuatu”

Satu tegukan liurku berhasil menuruni kerongkonganku ketika Jeongmin mengatakan itu. Lagi lagi kalimatnya membuatku menganga.

Dengan secepat kilat ia mengalihkan pandangannya ke depan lagi. Entah apa yang ia lihat. Padahal di seberang tidak ada sesuatu yang menarik.

Aku berfikir keras dengan kalimatnya. Dan berhasil tersenyum ketika sangat mengerti maksud ucapannya itu. Bagaimana dia bisa berkata sebijak itu?.

“belum terlambat, cepat hampiri dia!” ucapnya sekali lagi dan masih dengan nada sangat datar. Suaranya terdengar seperti nada bukan menyerah, namun mengikhlaskan.

“lalu untuk apa kau menyuruhku kesini?”

Jeongmin tersenyum ke arahku. Senyumnya terlihat sedikit hambar. Seperti ada sesuatu yang jelas ia sembunyikan.

“nanti Minwoo pasti akan mengatakan hal yang sama seperti yang akan aku katakan!”

☆☆☆☆☆

Aku menaiki anak tangga sekolah dengan tergesa gesa. Belum sampai di tempat tujuan, tapi aku sudah bisa menangkap seseorang sedang tertidur pulas. Aku mendekatinya perlahan. Tak ingin malaikatku terbangun.

Apa? Malaikat’ku’? Oh, tuhan apa yang sedang aku pikirkan? Tapi jujur aku sangat ingin memilikinya.

Wajahnya saat tidur terlihat sangat polos. Hanya dengan mengenakan seragam sekolah dan bersandar ke tembok saja dia sudah terlihat sangat tampan.

Matanya tertutup indah dengan sepasang alis yang mengendur. Hidungnya yang mancung terlihat sangat natural. Juga bibirnya yang indah. Bibir atasnya tipis dan bibir bawah yang tak terlalu tebal. Sangat sempurna bagiku.

Aku duduk di sebelahnya sambil menatapnya dalam. Kenapa saat aku melihat wajahnya, rasanya ingin sekali aku memilikinya. Bisa melihat wajah itu setiap hari. ‘Ah, Lee Sangjin! Jangan terlalu banyak berhayal’

Aku memutar kepalaku 90°. Melihat rintikan hujan yang terdengar berirama seperti sebuah musik yang merdu. Sembari menunggu namja di sampingku bangun, aku menggosok gosok kedua telapak tanganku. Berharap dengan itu badanku bisa lebih hangat.

Aku melakukan hal itu karena aku memang sangat berjodoh dengan hujan. Perjalanan ke sini aku terguyur hujan deras.

Ku dengar bunyi bunyian samar tertutup suara hujan dari arah kananku. Ku lihat seorang malaikat yang tadi tertidur pulas terbangun. Kemudian melihatku. Dengan cepat ia menegakkan tubuhnya dan sedikit merapikan bajunya.

“maaf, aku pasti terlihat sangat jelek saat tidur.”

Kata pertamanya sangat renyah membangunkan suasana.

Jujur saja ketika ia berkata seperti itu, rasanya saat itu juga aku ingin sekali membantahnya mentah mentah. Mengatakan bahwa kau sangat tampan No Minwoo! Bahkan kata tampan saja tak cukup ketika aku melihat parasmu saat tidur.

Grrtsgrrtsgrrts

Gemuruh hujan saling beradu untuk mempertunjukkan suaranya saat menyentuh tanah. Tak ada suara lagi. Hanya suara hujan yang seakan berseru supaya salah satu dari kami mulai memecah keramaian hujan.

Aku sangat ingin mengawali pembicaraan. Tapi rasanya sangat canggung dan aneh ketika berada didekatnya.

Aku menggerakkan kakiku yang menggantung bergantian. Mencoba melakukan apapun yang aku bisa sekarang. Karena selama ada didekatnya semua otot otot di badanku enggan menjalankan fungsi normalnya.

Dia melirikku kilat kemudian melepas jaket seragam sekolahnya. Menyematkan jaket itu pada pundakku yang tak siap menerima perlakuannya.

“tadi kau pasti kehujanan!”

Kenapa dia bisa semanis ini! Bukankah hawa yang dingin di campur dengan sifat Minwoo yang biasanya sangat dingin harusnya bertambah dingin. Tapi kali ini berbalik. Hangat menyelimuti tubuhku terutama hatiku.

Hening kembali hingga sekitar 2 menit. Sampai ahirnya aku memberanikan diri berucap dengan nada agak sinis.

“untuk apa kau mengajakku kesini? Untuk melihat hujan?” sindirku sambil melirik Minwoo yang masih asik melihat tetesan air hujan yang sungguh tak ada yang spesial.

“kau memang buta atau sengaja membutakan matamu?” buta? Kata itu lagi yang diucapkan Minwoo. Aku tak pernah tahu apa maksudnya. Mataku bisa melihat dengan normal. Bahkan sangat normal.

Aku melihat Minwoo dengan heran. Mencari jawaban yang mungkin tersirat pada setiap lekukan wajahnya.

“aku akan menebak bahwa kau sengaja membutakan matamu!”

Sudahlah, bisakah Minwoo berhenti memberi tebakan tebakan tak berguna ini? Tapi aku sangat penasaran dengan maksud di balik kalimatnya.

“kau sengaja membutakan matamu dan sengaja tak menggubris sosok yang dengan gamblang menjelaskan kalau sosok itu menaruh hati untuk mu!”

Ah, kata yang ia ucapkan selanjutnya malah membuatku berfikir keras. Apa maksud dari kalimatnya itu? Apa dia yang terlalu cerdik menyusun kalimat, ataukah memang aku yang terlalu bodoh? Tapi jujur saja aku tak tahu maksudnya. Kenapa dia tak mau langsung berbicara tanpa teka teki seperti ini?

“apa maksudmu?”

“ah, mungkin hipotesaku salah. Apa kau memang buta?”

Aku mengerutkan dahiku. Menyatukan kedua alisku dan memancarkan tatapan protes dengan segala ucapannya. Tapi dia malah tertawa melihat ekspresi wajahku yang kebingungan.

“baiklah, aku akan mengatakan hal yang tak pantas aku katakan.”

Dia mengambil nafas sejenak. Kemudian mengeluarkannya lewat mulut. Pipinya menggembung seperti sedang melakukan aegyo. Tapi kurasa dia tak sedang melakukannya. Wajahnya terlihat sangat tegang dan serius.

“aku bukan namja yang bisa setiap saat berlaku manis terhadap yeojanya. Tapi aku akan melakukannya.

Aku juga bukanlah namja yang bisa memberikan ketenangan penuh kepada yeojanya. Aku adalah namja yang keras kepala, egois, pemarah, tapi aku akan berusaha merubahnya.”

“lalu?”

Pertanyaanku spontan mengalun dari mulutku.

Dia menatap mataku dalam. Tatapannya berbeda dari sebelumnya. Aku membalas Tatapannya dengan dalam pula. Rasanya jantung ini tak berdetak beberapa saat kemudian berdetak lagi dengan kecepatan tak normal.

Dia menarik nafas berat lagi. Kemudian matanya kembali terfokus pada mataku yang sejak tadi memandanginya. Memandangi keindahan yang tak ada di dunia ini kecuali di depanku sekarang.

“Lee Sangjin, aku mencintaimu. Jeongmal Saranghaeyo!”

Deg. Bibirku tak terkata. Mataku tak terkedip. Nafasku tak menderu. Jantungku tak berdetak.

Aku mencari cara untuk bernafas tapi aku tak menemukannya.

Hening dan sepi menggelayuti perasaan masing masing. Tak perduli gemuruh hujan yang makin deras. Rasanya hening seperti hidup dalam tidur.

Mata ku merah memanas. Ingin segera mengucurkan semua kebahagiaan yang tak pernah terprediksi sebelumnya. Tapi mata indah Minwoo mengurungkan niatku. Matanya menahanku untuk tak menangis.

“aku tak bisa berkata aku juga mencintaimu” semua jawaban mengalir begitu saja dari mulutku. Terlalu sulit menyusun kalimat dalam keadaan tak waras seperti ini.

“kenapa?” tanyanya pasti

“karena akupun tak tahu apa perasaanku untukmu”

“ingatlah! Cinta adalah ketika kamu tidak tahu perasaan apa yang sedang kamu rasakan”

“tapi sungguh aku takut mengatakan itu. Karena ini kali pertama aku merasakannya. Bisakah kau melihat hatiku?”

“kau lebih tahu dirimu. Simpulkan sendiri perasaanmu.”

“aku takut salah menyimpulkan.”

“pahami, tafsirkan, dan percayalah pada keputusan hati kecilmu”

Aku terdiam sesaat setelah ia melancarkan beberapa kalimat mencengangkan itu.

“cinta? Perasaan apa itu?”

“jangan tanyakan padaku, akupun tak tahu itu perasaan apa. Tapi yang pasti hati kecilku berkata aku mencintaimu”

“bagaimana jika kesimpulanku yaitu aku juga mencintaimu?”

“berarti kata hatimu, kau ingin memilikiku bukan?”

“ya, aku sangat ingin memilikimu. Tapi bagaimana dengan pepatah “cinta tak harus memiliki?””

Pertanyaanku kali ini benar benar membelok jauh.

“”tak harus?” Dua kata pengharapan ketika tidak adanya sesuatu.”

“maksudmu?”

“harapan ada ketika tidak adanya sesuatu.

Ketika seseorang berkata cinta tak harus memiliki, aku yakin seseorang itu sedang menyerah ataukah mencoba mengikhlaskan kepergian orang yang di cintanya. Walaupun begitu, hati kecilnya berkata ingin memiliki orang yang tak ada itu.

Berharap bisa memilikinya.”

Inti kalimatnya persis seperti yang dikatakan Jeongmin tadi. Jeongmin memang sedang berharap. Mengharapkanku. Aku tahu jawaban dari kalimat terahir Jeongmin tadi.

Tapi maaf, mungkin aku sudah bulat untuk lebih memilih sosok yang mengataiku buta, Memberikanku beban untuk hanya sekedar melihatnya, dan menjawab segala pertanyaan anehku dengan bijaknya.

“terimakasih kau telah mengajariku banyak hal!”

“aku tak merasa begitu”

“kau mengajarkan aku bagaimana mencintai dan di cintai, dan apa perasaan yang sedang aku alami ini.”

“kau sudah menyimpulkannya?”

“ya, kesimpulan awalku. bahwa aku memang memiliki perasaan tak jelas.

Tak bisa di artikan dan tak bisa di uraikan.

Semua terjemahannya rapi berada di hati masing masing.

Na do Saranghaeyo!”

«»«»«»

Cinta. Tidak ada satu katapun yang sanggup menjelaskannya.

Yang pasti pada hakikatnya semua cinta di bumi ini indah. Tergantung kualitas hati dan fikiran pribadi yang merasakannya.

Berterima kasih lah pada Tuhan karena menurunkan satu rasa yang berat. Yang semua orang pasti bisa mengartikannya.

«»«»«»

«»«»«»«»«»

Huah, lega bgt udah end.

GJ GJ GJ GJ GJ GJ GJ GJ!?

Ababil kan? Bener kan?

Tapi lega, bisa cepet selese.

Suka banget sama kalimat terahir yang

“pada hakikatnya semua cinta di bumi ini indah. Tergantung kualitas hati dan fikiran pribadi yang merasakannya.”

Hahaha

Makasih buat yang ngerasa jadi inspirasi saya buat bikin ini ff! ===> http://facebook.com/maulida.fitriarifinanda mumumu :-*:-*:-*

Ditunggu LIKEnya! #ngarep.

Maaf buat yang kena tag, nyampah bgt.

=====

Kamus kecil

-Oppa: panggilan adik perempuan ke kakak laki laki

-Yeojachingu: Pacar (cowok ke cewek)

-Eomma: ibu

-Appa: papa

-omo: oh tuhan (OMG)

-mianhae: maaf

-Jeongmal: betul betul

-anio: tidak/bukan

-gwenchana: tidak apa apa

-hyung: panggilan adik laki laki ke kakak laki laki.

-mwo: apa

-yeoja: wanita

-namja: pria

-appo: sakit

-eottokhae?: bagaimana ini?

-gomawo: terimakasih

-annyeong: halo

-jebal: please

-na do: aku juga

-aegyo: acting lucu (sok imut)

=====

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s