[FF] Love Really Hurt – Chapter1

Tittle: Love Really Hurt (Someday)

Cast: No Min Woo Lee Sang Jin Lee Taemin Etc

Genre: Sad, Romance

BackSong: Yesung – Love Really Hurt Ryeowook – Smile Again

Author: Mujtahidatul Alawiyyah (Tae Hee-Da)

Twitter: @iidonghae861015

Blog: http://www.iidonghae.wordpress.com

 

Kembali lagi dengan cerita cerita gila saiia. . . . Padahal baru publish yg Math Makes One, eh sekarang udah publish lagi. Tangan udah gatel buat nulis. Ide bikin ff ini sebenernya dari dulu, cuma takut aja nuanginnya ke tulisan. Tapi yah, beginilah hasilnya. Yang mau baca ya silahken di baca, yg gamau ya minimal like (?) wkwkwk. . . Selamat membaca!!!

 

 

Hari masih pagi. Semburat mega merah menyelimuti birunya awan. Sangjin mengerjapkan mata sipitnya mencoba beradaptasi pada cahaya matahari yang menerawang ke matanya. Sangjin melakukan aktifitasnya seperti biasa di pagi hari dan cepat cepat berangkat ke kampus karena dorongan dari seseorang. Seorang yang dicintanya. Sangjin segera menginjak pedal gas Spyker C12 Zagatonya dan segera menuju ke tempat persinggahan temannya sejak kecil. Sangjin pun masuk ke rumah Minwoo. Ia mendorong kursi roda Minwoo yang siap berangkat. Minwoo adalah sahabat dekat Sangjin. Bisa dibilang sangat dekat. Orang tua merekapun sangat akrab. Namun Minwoo memiliki masa lalu yang suram. Kecelakaan itu bermula ketika Minwoo dan Raera akan pergi bersama ke kampus dengan motor Minwoo.. Namun sebuah truk berisi beban berat melaju cepat dari arah berlawanan. Minwoo menekan rem tangannya dan terlempar jauh ke semak semak. Namun sayang, Raera terjebak dimotor. Dan tertindih beras dari truk besar tersebut. Itulah sebab Minwoo sekarang menjadi lebih pendiam dan menutup diri. Terkadang ia sering menangis tanpa alasan, kadang juga melamun membayangkan cinta masa lalunya yang sangat kelam. Sangjin mendorong pelan kursi roda Minwoo mengikuti deretan lantai di lorong lorong Inha University. Sangjin dan Minwoo memang satu jurusan sehingga mereka bisa bersama setiap saat. “Sangjin, ayo kita ke lantai atas!” ajak Minwoo ketika bel pulang berbunyi. Sangjin hanya mengangguk mengikuti kalimat Minwoo. Sangjin harus pandai pandai menjaga amanat eomma dan appa Minwoo yang menyuruh Sangjin dan keluarganya untuk menjaga Minwoo. Mereka adalah keluarga broken home. Appanya menikah lagi dan masih menetap di seoul. Eommanya pergi ke London mengurusi bisnis bisnisnya. Mereka tak pernah akur. Bahkan tidak pernah bertemu setelah hari perceraian. Minwoo dan Sangjin sampai di balkon kampus lantai dua yang menghadap langsung pantai dan hanya dibatasi pagar tembok paruh tubuh. Minwoo terlihat memejamkan matanya menikmati keindahan alam dan semilir angin yang menerbangkan pelan rambutnya. Menambah aura tampannya makin keluar. Sangjin tersenyum puas melihat ekspresi Minwoo yang sepertinya sangat menikmati. Sangjin menekuk lututnya menyamakan posisi Minwoo yang saat ini berada di atas kursi roda. “kau sangat cantik!” tiba tiba satu kata yang mengagetkan Sangjin terucap. Saat ini Sangjin merasakan kebahagiaan mendalam. Minwoo masih asik menyembunyikan anak rambut Sangjin ke belakang telinganya dan melanjutkan kalimat terahirnya. “sangat cantik seperti Raera” Deg. Sakit. Sangat sakit bak terhunus samurai tajam pas ke ulu hati Sangjin yang terdalam. Sangjin mencoba menahan sakitnya dalam dalam. Menyimpan sakit itu rapi di satu sisi teraman di hatinya. Tiba tiba Minwoo menangis haru mengingat masa lalunya. “dulu, aku dan Raera sering ke sini. Aku merindukannya. Sangat!..” _____ Saat kau bercerita hal tentangnya.. Aku diam . . . Aku bertahan . . . Tak bisakah kau merasakan sakit ini?.. Namun akan aku simpan baik baik rasa sakitku.. Pada satu sisi hatiku yang terkuat.. _____ ☆☆☆☆☆ Sepeti biasa, Sangjin menjemput Minwoo ke rumahnya untuk berangkat ke kampus bersama. Maklum Minwoo hanya tinggal sendirian. Hanya ditemani pembantu kiriman eommanya. Namun Minwoo menyambut Sangjin berbeda dari biasanya. Bukan dengan kursi roda, namun dengan besi panjang dua kaki yang siap menopang tubuhnya. “kau tak apa?” tanya Sangjin menyelonong masuk ke rumah Minwoo sembari memegang megang tongkatnya. “aku ingin memakai ini, kalau aku selalu bergantung pada kursi roda, kapan aku akan sembuh!” jawab Minwoo dengan senyum ikhlas yang baru pertama kali ini Sangjin lihat setelah kejadian kecelakaan itu. Sangjin hanya tersenyum ringan mendengar jawaban Minwoo. Namun belum selesai mereka menuruni anak tangga di depan rumah Minwoo, “Brukkk” Minwoo jatuh kesakitan. Sangjin juga ikut tersentak kedepan karena tadi Minwoo memegang tangannya. “kau tak apa?” Sangjin berusaha mengangkat Minwoo dan menaikkannya pada kursi roda. Namun Minwoo masih tetap merasa kesakitan. Sangat sakit dikakinya. Sangjin tak tega dan membawa Minwoo ke rumah sakit. “bagaimana kakinya dok?” saat ini Sangjin berada di ruangan sepi dan terdapat sosok bertubuh besar berpakaian serba putih yang tak lain adalah dr. Choi yang merupakan dokter pribadi keluarga Lee. “keadaannya sangat lemah. Dia sudah memiliki penyakit kaki dari awal. Di tambah dengan jatuhnya tadi. Keadaannya benar benar sangat parah. Jika tidak segera di amputasi, maka tumor yang ada di kakinya akan menyebar dan perlahan merenggut nyawanya!” jelas Dr. Choi membuat Sangjin limbung seketika. Ia tak bisa berfikir jernih. Yang ada di fikirannya hanyalah nyawa Minwoo. “operasi saja!” ucap Sangjin spontan. “tapi harus ada persetujuan keluarga!” elak dr. Choi. “ku mohon! Kau pasti sudah tahu Minwoo kan dok! Dia tak punya keluarga lagi! Hanya aku, eomma dan appaku!” Sangjin memohon mohon pada dr. Choi yang pasti sudah mengenal dekat keluarganya. ‘nyawa! Hanya nyawa yang saat ini aku pikirkan! Kau harus tetap hidup Minwoo! Harus!’ _____ Ketika perlahan ajal mendekati ragamu.. Aku hanya bisa membekap rapat mulutku dan menangis dalam diam.. Hiduplah walau tersiksa! Aku akan selalu mendampingimu.. Bagiku itu lebih indah dari pada aku tidak bisa melihat ragamu selamanya. . . _____ “kau sudah sadar?” Sangjin melihat jari jari Minwoo bergerak ringan. Segera Sangjin memberi isyarat pada eomma dan Appanya untuk keluar. Minwoo masih menatap segala penjuru ruang berbau obat itu dengan jelih dengan tatapan kosong yang sulit di jelaskan. “kau berada di rumah sakit, tadi kau terjatuh.” Sangjin memberi penjelasan singkat pada Minwoo. Namun perlahan air matanya mengucur deras. Takut bila sebentar lagi Minwoo pasti mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Minwoo menatap mata Sangjin heran lalu berucap dengan nada sangat datar. “kau kenapa? Aku kenapa?” “kau. . . . Tak. . . .” Suara Sangjin tercekat. Tak kuat menahan sakit yang tiba tiba ia rasakan. Minwoo ingin duduk, namun ada yang aneh dengan kakinya yang sedari tadi tertutup selimut. Sangjin merasa sebentar lagi dia pasti akan tahu. “sreeek” selimut putih tipis milik rumah sakit itu berhasil terbuka dan memperlihatkan segala kebenaran menyakitkan. Minwoo menatap kakinya dengan tatapan sangat kosong. Kemudian kumpulan air matanya mengalir begitu saja. Minwoo menatap Sangjin penuh tanya. Namun Sangjin tak bisa berbuat. Hanya bisa terisak hebat. “aaarrrggghhh. . . .” teriak Minwoo sangat keras sambil menjambak rambutnya penuh amarah. Sepertinya saat itu Minwoo telah kehilangan satu lagi menyemangati hidupnya. “sudah. . . Ku mohon!” kata Sangjin ikut berteriak kencang dalam tangisan. Minwoo kemudian membenamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya. “kenapa semua ini terjadi padaku?” ucap Minwoo di tengah tangisan hebatnya. “mianhae. . . Semua ini salahku!” Sangjin balas menatap mata nanar Minwoo. Rasanya Sangjin telah melakukan kesalahan sangat besar. ☆☆☆☆☆ Hari ini hari libur. Sangjin mengunjungi Minwoo yang sudah pulang dari rumah sakit. Sangjin melihat Minwoo sedang memandangi bunga bunga indah di teras rumahnya. Pastinya dengan menggunakan kursi roda. Sangjin mendekati Minwoo perlahan. Menepuk pundak Minwoo pelan hingga memalingkan wajahnya yang sangat pucat. “mianhae! Jika keputusanku membuatmu menyesal! Aku memang salah!” “kau tak salah! Hanya saja aku bingung dengan segala takdir hidupku. Kenapa semuanya menyakitkan?” Sangjin tertegun pada satu kalimat Minwoo. Takdir hidupnya memang sangat menyakitkan. Sangjin bisa merasakan itu. Sangjin mendorong pelan kursi roda Minwoo. Mengajaknya ke taman belakang rumah Minwoo. Sangjin mengambil posisi di samping Minwoo di kursi putih panjang. Tidak ada obrolan serius di antara mereka. Sangjin tak mau memulai karena melihat Minwoo yang hanya melamun dengan tatapan kosong. Namun beberapa menit kemudian Minwoo berucap. Masih tak menatap Sangjin. “kau pasti tahu kisah hidupku?” Sangjin tak menjawab dan hanya mengangguk. “kenapa hidupku seperti ini? Tidak ada secuil kebahagiaan!” Sangjin mendengarkan curhatan Minwoo dengan baik sambil merasakan betapa sakitnya yang ia rasakan saat ini. Namun bukan hanya itu, fikiran Sangjin juga di penuhi dengan penderitaan dirinya sendiri. ‘saat aku mendengar ceritamu tentang Raera, aku menderita Kau sakit dan kau menjadi seperti ini, aku ikut menderita Kau tak pernah tahu perasaanku?, aku menderita. Dan ada satu hal lagi yang tak perlu kau ketahui. Suatu saat nanti waktu yang akan menjawab.’ Minwoo melihat Sangjin menunggu jawabannya, namun Sangjin hanya asik melamun sendiri. Sampai ahirnya Sangjin sadar dan menjawab. “kau sama sepertiku!” “sama? Apa?” Minwoo tersentak kaget. Menurutnya, penderitaan hidupnya adalah yang terparah. Dan menurutnya Sangjin yang ceria di hadapannya tak mungkin memiliki masalah yang besar. “aku, mencintai seorang namja! Namun namja itu tak mungkin mencintaiku. Sangat tak mungkin!” sekarang malah Sangjin yang curhat. Deg . . . Jujur rasanya sangat menyakitkan di hati Minwoo. Seperti ada ribuan jarum yang menancap paksa ke tubuhnya. Minwoo benar benar tak tahu, apa itu. Namun ia tak ingin Sangjin mencintai orang lain. Ia sangat menyayanginya. Walaupun ingatan tentang Raera takkan pernah lenyap. Memang sangat egois. “siapa?” Minwoo dengan cepat menanyakan hal itu. “selamanya kau tak akan pernah tahu!” jawab Sangjin. ‘karena dia adalah kau!’ lanjut Sangjin dalam hati. _____ jangan pernah bertanya siapa yang aku cintai, jangan pernah bertanya siapa yang aku sayangi, kau tak akan tahu dan tak akan pernah tahu. karena seseorang itu adalah kau. _____ ☆☆☆☆☆ pagi hari seperti biasa, Sangjin bergegas ke rumah Minwoo memastikan keadaannya baik baik saja. Harusnya ia berniat untuk menjemput Minwoo supaya berangkat kuliah bersama. Namun setelah di pikirkan mungkin Minwoo sebaiknya memulihkan keadaannya dulu di rumah. tanpa permisi Sangjin langsung menyelonong masuk. karena ia sudah menganggap bahwa rumah Minwoo adalah rumahnya. Sangjin melihat Minwoo sedang berada di balkon kamarnya di lantai dua. Sedang mengamati sisa rintikan hujan dari ujung ujung atap. Sangjin langsung mendekatinya dan mengambil posisi di sampingnya. “kau sudah makan?” Sangjin berbasa basi mencoba memulai pembicaraan. “. . .” tidak ada balasan. hanya ada suara hentakan kaki menuju ke ruang atas. Sangjin melihat pembantu rumah sedang menangis sambil berlarian gugur menghampiri Sangjin dan Minwoo. “non, tiba tiba ada kabar dari kampung, anak saya sakit non, saya bingung harus bagaimana, bolehlah saya pulang untuk menjenguk anak saya?” kata pembantu itu sambil memegang tangan Sangjin memohon. Sangjin melihat Minwoo kilas. Mencari jawaban dari pernyataan pembantunya. Namun mata Minwoo masih tak beralih dari tetes tetes hujan itu. “mbak boleh pulang sekarang, ini ada sedikit pesangon. Semoga anaknya cepat sembuh!” Pembantu itu langsung bergegas keluar dan pulang. Namun Sangjin bingung sendiri, jika tak ada pembantu Minwoo, lalu siapa yang akan merawat Minwoo. Dan tentunya dia sendirian di rumah. Sangjin mencoba menepis masalah itu dulu. Sangjin menyeret kursi roda Minwoo dan dibawahnya ke taman belakang rumah yang sangat minimalis. Namun terkesan simpel dan elegan. Taman itu di dominasi warna putih di setiap bendanya. Terdapat danau buatan kecil yang menambah suasana nyaman semakin terasa. Terdapat kursi putih panjang yang terletak disamping wadah putih berisi air untuk tempat minum burung. Sangjin seperti biasa, menghentikan kursi roda Minwoo di samping kursi putih panjang dan segera Sangjin menduduki kursi putih panjang itu. Tidak ada perbincangan khusus antara mereka. Minwoo masih asyik dengan lamunannya. Menatap daun daun yang gugur dan mengapung di atas danau. Menatap itu dengan tatapan kosong tak memiliki arti. “pembantumu sedang pulang kampung, apa tidak sebaiknya kau tinggal di rumahku saja bersama eomma dan appa?” tawar Sangjin dengan menuturkan kata sehalus mungkin. Minwoo masih tak menjawab hingga lama. “kau yang harus menjagaku.” balas Minwoo tanpa menatap Sangjin. Sangjin hanya mengangguk mengiyakan. dan terlalu paham dengan kalimat yang di ucapkan Minwoo itu. Entah ini merupakan sebuah kebahagiaan ataukah beban untuk menjaga Minwoo bagi Sangjin. Berada selalu di sisinya ialah hal yang sangat ia inginkan. Namun saat berada di sisi Minwoo, selama ini ia hanya kenyang tangisan karena selama ini yang ada di fikiran Minwoo hanyalah Raera, Sangjin tak akan bisa masuk ke dalam hati Minwoo. Semua hati Minwoo sudah penuh dengan cinta Raera, terlalu sempit Sangjin untuk mencoba memasukinya. ☆☆☆☆☆ Jam sudah menunjukkan pukul 13.00 Sangjin segera membawakan Minwoo makan siang. Sangjin mengantarkan semangkuk bubur putih ke Minwoo yang sekarang sedang duduk diatas ranjang sambil menonton tv di ruang tengah. Segera Sangjin menyuapkan sesendok bubur ke bibir mungil Minwoo. Minwoo menikmati bubur instan buatan Sangjin itu sambil menatap layar tv, tapi bukan gambar tv yang ia lihat, Minwoo tenggelam dalam lamunannya sendiri. Seperti biasa, melamun dengan tatapan kosong memikirkan jalan hidupnya yang sangat tak ia harapkan. Minwoo memang sedikit memiliki gangguan pada kejiwaannya. Penyakit itu tidak bisa melupakan Minwoo dari kenangan masa lalunya. Selalu memikirkan masa lalunya. *penyakitngarang* Tak terasa bubur yang ada di mangkuk Sangjin sudah habis, Sangjin menatap heran Minwoo yang sedang melamun seperti biasa. Sangjin mengamati mata Minwoo yang benar benar teduh. Ia melihatnya dengan teliti dan memaknai arti tatapan kosongnya. namun tanpa Sangjin sadari, mata mereka bertemu. beradu untuk saling menatap. Buliran air mata Minwoo mengalir tanpa terasa. Sangjin langsung beranjak dari tatapannya dan segera mengelap air mata Minwoo dengan tissue yang dari tadi bertengger di atas bangku kecil samping ranjang. Sangjin tak ingin menanyakan sebab Minwoo memecahkan air matanya. Rasanya sudah biasa Minwoo melakukan hal itu, lebih baik Sangjin membiarkannya berfikir jernih dulu dan perlahan Minwoo akan memberitahukan apa yang sedang ia pikirkan. “kenapa kau mau menjagaku?” tutur Minwoo mengawali pembicaraan. “karena. . . ” ucap Sangjin menggantung. “karena kau adalah temanku, temanku sejak kecil yang aku sayangi.” tak terasa Sangjin malah mengikuti jejak Minwoo untuk menangis. Rasanya Sangjin ingin mengungkapkan perasaan yang selama ini menggerogoti ulu hatinya. Mengungkapkan segala kata hatinya. Namun rasanya tak mungkin hal itu terjadi. “seandainya saja Raera masih ada, dia pasti dengan ikhlas menjagaku, selalu berada di sisiku seperti yang kau lakukan saat ini” Ucap Minwoo tanpa menatap Sangjin. Lagi. . . Lagi lagi Raera yang selalu berputar putar dalam otak Minwoo. Memang sudah tak ada lagi kesempatan Sangjin untuk sedikit menjajah hati dan pikiran namja tampan yang sekarang ini sedang melamun di depannya. Tanpa permisi air mata Sangjin langsung mengalir deras membasahi segala sisi pipi putihnya. Tak kuat menahan segala sakit yang pasti akan menjadi kebiasaannya. Sangjin menunduk menyembunyikan air mata memalukan. Kucuran air mata untuk cinta yang bertepuk sebelah tangan. “terimakasih Sangjin-ah,” kata manisnya sambil mengelus poni Sangjin dan menatap lekat mata bulat Sangjin. “terima kasih sudah mau menjaga namja pabo yang tak bisa apa apa ini.” Sangjin tak berani membalas tatapan itu. Terlalu sakit untuk hanya sekedar melihatnya. Melihat namja yang ia cintai mencintai orang lain. Menangisi namja yang hanya bisa menangisi orang lain. “kau pasti haus setelah makan, akan ku ambilkan minum untukmu.” Kata Sangjin sekenanya mengalihkan pembicaraan kemudian berlari menuju dapur dengan wajah yang masih tertunduk menangis. … Bruagggghh Terdengar suara benda berat yang jatuh. Suara tersebut sontak merangsang Minwoo untuk segera menuju sumber suara. Dilihatnya badan seorang yeoja tergeletak tak sadarkan diri dengan hidung yang mengeluarkan darah segar dan pecahan gelas kaca yang ada di sekitar yeoja itu. Minwoo yang tak berdaya di atas kursi roda langsung menelpon ambulance dan orang tua Sangjin. ☆☆☆☆☆ Minwoo dan Ny. Lee sedang berada di depan ruangan Sangjin. tidak ada Sangjin appa karena beliau sedang sibuk dengan urusan kantor yang mendesak. Saat ini Sangjin sedang di periksa di rumah sakit oleh Dr. Choi. Sangjin eomma dari tadi hanya berdoa demi keselamatan Sangjin dan Minwoo hanya melamun memandangi pintu ruangan tempat Sangjin di periksa sambil mengaturkan doa untuk keselamatan Sangjin. “kenapa harus kambuh lagi?” Sangjin eomma tiba tiba berucap sambil menangis hebat. Minwoo heran dengan kalimat Sangjin eomma. Minwoo langsung mengalihkan pandangannya ke Sangjin eomma dan segera bertanya apa maksudnya. “Sangjin menderita penyakit jantung sudah sejak lama.” kata pertama Sangjin emma membuat Minwoo melongo, mana mungkin yeoja ceria seperti Sangjin memiliki penyakit mematikan seperti itu. “sebenarnya Sangjin merahasiakan ini, tapi eomma tidak kuat, biarkan ini hanya kau yang tahu.” Lanjut Sangjin eomma memperjelas kalimat pertamanya, masih sambil menangis semakin hebat. Tiba tiba Minwoo meneteskan satu air matanya. Ia tak menyangka, sangat. Ternyata inilah penderitaan Sangjin yang dulu sempat ia gantungkan. Minwoo refleks memeluk Sangjin eomma yang badannya masih bisa ia jangkau. Minwoo memberikan dekapan yang semoga bisa meminimalisir kesedihan Sangjin eomma. Namun tak bisa di pungkiri saat ini Minwoo benar benar merasakan kesakitan. lebih dari sakit saat dulu ia mengetahui kaki kanannya telah tanggal. Krieeettt Suara pintu ruangan terbuka dan keluar seorang dokter tampan dan tegap berjalan menghampiri Sangjin eomma dan Minwoo. “tak perlu hawatir, hanya menunggu beberapa menit ia akan sadar!” kata Dr. Choi membuat Sangjin eomma sedikit lega. _____ Ingatan masa lalu membuatku kelam. . . Kelam di dasar pengetahuan. . . Tak perduli seberapa besar seseorang di masa depan mencintaiku. . . Tetap, masa lalu akan selamanya terbesit dalam rongga ingatanku. . . _____ ☆☆☆☆☆ Sangjin mendorong kursi roda Minwoo menyusuri jalan di Inha University. “Sangjin!” teriak seorang namja dari arah belakang. Sangjin menghentikan langkahnya dan segera berpaling mencari tahu siapa yang telah memanggilnya. “Taemin oppa! sedang apa?” “ani. gwenchana, aku hanya ingin berjalan bersamamu, Uhm. . Ruangan kita kan searah!” jawab Taemin agak gugup. Sangjin hanya membalas dengan senyuman singkat. Taemin adalah teman dekat Sangjin dan Minwoo. di kampus, Ia 2 tingkat di atas Sangjin dan Minwoo. Umur mereka juga selisih dua tahun. Taemin adalah namja yang populer di kampus. Ia adalah mahasiswa yang pandai dan mengukir banyak prestasi. Wajahnya yang tampan juga pas melengkapi kesempurnaan yang melekat di dirinya. “ku dengar kau kemarin sakit? Apa sudah tak apa apa?” tanya Taemin memecah keheningan. “Uhm. . . Aku hanya terlalu capek.” jawab Sangjin rileks sambil terus mendorong kursi roda Minwoo. “kalau begitu kau harus pandai pandai menjaga kesehatan, jangan telat makan, sediakan waktu untuk berolahraga!” Sangjin memicingkan matanya memandangi Taemin heran. “oppa, sejak kapan kau jadi cerewet seperti ini? Hahaha” Taemin dan Sangjin malah tertawa. Minwoo hanya tersenyum melihat keanehan hyungnya itu. “Jin-ah, aku sudah sampai. Aku duluan ya!” “ne!” . . . “kalian mau makan apa? Kali ini biar aku yang traktir!” tawar Sangjin pada dua namja tampan di hadapannya. “aku ramen!” jawab Taemin sambil mengulurkan tangannya ke atas “Uhm. . . Minwoo, kau sebaiknya bubur saja ya!” tawar Sangjin pada Minwoo yang di balas dengan anggukan mengiyakan. Sangjin segera menuju ke stan kantin untuk memesan makanannya. Minwoo dan Taemin hanya terdiam. Tidak ada yang terlalu berani untuk meramaikan suasana yang terlalu hening. “hyung, kau menyukainya?” sambar Minwoo pada Taemin yang sedang asik membaca novel setebal 5cm. Taemin kaget dengan ucapan Minwoo dan membulatkan matanya sambil menatap Minwoo yang juga menatapnya. Taemin hanya tersenyum singkat kemudian pandangannya kembali tertuju pada buku. “tapi kurasa dia menyukaimu!” lanjut Taemin tanpa melihat orang yang sedang diajak berbicara. “aku tahu” ucap Minwoo lirih namun masih tertangkap oleh indra pendengar Taemin. Segera Minwoo melanjutkan kalimatnya. “hyung, jaga dia selagi aku tak ada ya!” Lagi lagi Taemin terkaget karena ucapan Minwoo yang dari tadi berbicara ngelantur. “apa maksudmu? Seperti kau ingin pergi jauh saja?” “entahlah!” jawab Minwoo tergesa karena seorang gadis yang sedang mereka debatkan sudah meletakkan pesanan di meja. “apa yang kalian bicarakan?” ☆☆☆☆☆ _____ Terkadang cinta tak perlu diungkap. . . Bila ungkapan manis itu terlalut menjadi beban.. Pandang aku dengan tatapan ‘aku membencimu’… Tak bisakah? Berhenti mencintai seseorang yang hanya akan menguras air matamu. . . _____ Sudah sekitar sebulan Minwoo menjaga rahasia tentang penyakit Sangjin. Jika memikirkan itu rasanya tuhan mengajak Minwoo untuk berfikir keras. ‘aku menderita penyakit ini selamanya. Tanpa di hantui bayang bayang kematian. Dan aku hanya bisa tersungkur tak berdaya menghadapi kenyataan itu. Sedangkan Sangjin yang menderita penyakit jantung itu. Dengan dihadapkan pada prediksi manusia tentang berapa lama lagi ia bernafas, Sangjin malah menengadah menerima kenyataan dengan sumringah. Menganggap penyakitnya tak pernah ada. Betapa lemahnya aku! Hanya bisa merangkak menghadapi secuil cobaan. Dan betapa hebatnya Sangjin yang sudah berlari menghadapi hal yang bahkan lebih besar dari yang aku rasakan’ Teng tong teng tong. . . Suara bel rumah membuyarkan lamunan Minwoo. Segera pembantu Minwoo membukakan pintu dan terlihat sosok yang baru saja singgah di fikiran Minwoo datang dengan memakai slop putih, dress putih dengan pita diperutnya. Dan tak lupa rambut yang tergerai lurus dan poni miring kiri membuat aura anggunnya nampak sempurna. “Minwoo, ayo kita ke belakang!” Sangjin segera menghambur pada pegangan kursi roda Minwoo. Tanpa Minwoo mengiyakan, Sangjin langsung mendorong kursi roda Minwoo ke taman belakang rumah. Taman ini tak berubah, hanya saja rumput hijau di sekitar taman makin meninggi. Hari ini tak tahu kenapa Sangjin sangat bersemangat. Entah ada angin apa hingga membuat Sangjin sangat semangat mengajak Minwoo ke taman belakang. Padahal itu merupakan hal yang biasa mereka lakukan. Sangjin segera mengambil posisi seperti biasanya, duduk di atas kursi putih panjang. “kenapa tiba tiba kau sangat semangat?” tanya Minwoo dengan tatapan kosong sambil menatap daun daun yang rontok dari rantingnya. “entahlah, sepertinya aku ingin menghabiskan hari ini dengan bersenang senang.” Satu menit, dua menit. Hening. Itulah yang sedang menyelimuti mereka. Mereka terlalu sibuk dalam pikirannya sendiri sendiri. “seberapa besar cintamu untuk Raera?” tanya Sangjin yang membuat Minwoo tersentak kaget dan menatap wajah Sangjin. Kemudian air mata Minwoo bergulir pelan menuruni pipinya yang mulus bak porselen. “be. . . Besar. S. . Sa. . Sangat besar.” haruskah Minwoo selalu menutupi perasaannya sendiri? Membohongi dirinya sendiri dan seseorang yang ia sayangi di depannya. Mungkin menurutnya inilah jalan yang ia pilih. Menyakiti dua belah pihak. ‘kau mengerti atau tidak perasaanku, kau pasti akan sakit. Lebih baik kau tak mengetahuinya.’ umpat Minwoo dalam hati. Ekor matanya masih mengamati mata Sangjin yang sama sekali tak mengeluarkan air mataya. Tapi ia yakin, Sangjin masih menyembunyikan air matanya itu di balik senyumnya yang terasa mengganjal. “ikut aku!” Sangjin segera beranjak dari tempat duduknya dan segera mendorong kursi roda Minwoo menuju tepi danau yang airnya sedang surut. “tulis pesanmu untuk Raera, ini!” Sangjin menyodorkan sehelai kertas memo kecil dan bolpoin warna biru sapphire dengan ujungnya yang berbulu. Minwoo menatap Sangjin sangat heran. Ia tahu betul Sangjin sangat mencintainya, tapi apa maksudnya saat ini? Bukankah dengan melakukan hal itu maka semakin menyakiti hatinya sendiri. Sangjin tersenyum kaku menahan sakit yang di buatnya sendiri. Ia melihat Minwoo mencorat coret memo yang di berikan Sangjin. Sangjin menahan sakitnya . Sangat sakit. Melihat seseorang yang ada di depannya sedang menulis sambil menangisi yeoja lain. Tak tahu kenapa hari ini rasanya Sangjin ingin membahagiakan orang yang ia cintai walaupun harus menggores hatinya sendiri. Walaupun pada kenyataanya Minwoo malah sakit sendiri dengan perlakuan Sangjin. Walaupun Sangjin tak pernah mengetahui perasaan sebenarnya namja yang ada didepannya. Minwoo menuliskan beberapa kata untuk Raera. «»«»«»«»«» Hi Raera Kau pasti sudah tenang berada di sana ! Ku harap kau bahagia di sana dan masih mengingatku! Raera, aku menulis surat ini karena perintah Sangjin. Ohya, aku minta maaf, dulu aku pernah bilang kalau aku akan mencintaimu selamanya. Namun sekarang aku tak bisa menepati janji itu, aku mencintai seseorang yang ada di sampingku sekarang. Namun mungkin dia tak harus tahu perasaanku. Itu malah akan menyakiti hatinya lebih dalam. Sekali lagi maafkan aku yang tak bisa menepati janjiku sendiri. Tapi menurutmu, apa aku ini bodoh, atau keputusanku ini sudah tepat? Ah, sudahlah tenanglah kamu di sana. Jangan pikirkan masalahku. . . Hahaha. . . Tenanglah di sana! Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu! «»«»«»«»«» “sudah, ini!” Minwoo memberikan kertas memo tadi dan pensilnya. Sangjin tak berniat membukanya, sudah ada beberapa kalimat yang diprediksi di benak Sangjin. Dan dia yakin semuanya menyakitkan. Sangjin segera melipat kertas itu membentuknya menjadi perahu. Kemudian dia mengembalikannya lagi ke Minwoo. Minwoo sepertinya mengerti maksud Sangjin. Ia segera meletakkan perahu kertas itu ke permukaan air danau dengan sedikit mendorongnya. Sangjin tersenyum lega melihat Minwoo yang juga sepertinya lega. “kata eomma, jika kau merindukan seseorang, tulis suratmu, kemudian taruh di atas permukaan air.” Sangjin tersenyum lagi sambil melihat perahu kertas itu mengapung mengikuti aliran air. Sangjin mendorong kursi roda Minwoo kembali. Dan duduk di tempat semula. Namun belum satu menit mereka duduk, Minwoo langsung menangis. Hypophrenia nya kambuh. “Sangjin!” Minwoo memanggil Sangjin sambil berusaha menemukan manik matanya. Sangjin tak berani menatap balik Minwoo. Sangjin tahu apa yang sebentar lagi Minwoo katakan. Sangjin masih tak berani menatap Minwoo. Namun tatapan Minwoo memaksa Sangjin untuk mengalihkan matanya dan segara menatap Minwoo balik. Sangjin memalingkan pandangannya dan mendapati Minwoo sedang menatap manik matanya lekat. Mata Sangjin memancarkan sebuah pertanyaan mengapa Minwoo memanggilnya dan membawanya semakin sakit dengan tatapan cinta sebelah tangannya itu. “Sangjin! Kenapa kau masih mau menjadi temanku?” tanya Minwoo dengan tatapan sangat kosong. “masih? Maksudmu?” tanya Sangjin balik namun tak ada jawaban dari Minwoo. Sangjin meneruskan kalimatnya “karena. . . Karena kau adalah sahabatku dan aku tahu persis apa yang saat ini kau rasakan.” ‘jangan bohongi dirimu Sangjin! Katakan bahwa kau menjagaku karena kau mencintaiku! Aku ingin jawaban itu sekarang Sangjin!’ umpat Minwoo masih menatap Sangjin lekat. Sangat lekat. Menatap mata apiknya mencari sebuah kejujuran yang tersembunyi. Hening. Sangat hening. Tak ada yang mau berbicara lagi. Minwoo masih asik menatap bulatan mata indah dengan bingkai yang pas membalut bola mata itu. Sangjin pun masih tak bisa lepas dari penjara mata Minwoo. Terlalu sayang bila mata itu di sia siakan. Tak di tatap dengan dalam. Namun konsentrasi Sangjin terhadap mata indah Minwoo buyar. Minwoo merasakan pandangannya kabur perlahan. Terhalang oleh air mata yang siap untuk menetes. “aku sudah tak memiliki kaki! Kau tak malu berteman denganku?” “aneh!” Sangjin membalas pernyataan Minwoo dengan satu kata sambil menyunggingkan senyuman sinis meremehkan. “kau tak bisa mengartikan kata sahabat?” lanjut Sangjin. Minwoo hanya memandangi Sangjin heran. “kau mau tak punya kaki, tak punya tangan, tak punya kepala sekalipun!. . . ” Sangjin terhenti, nada bicaranya makin meninggi. Sangjin tak kuat menahan butiran air matanya yang mendesak untuk keluar. “kau buta?” Sangjin malah bertanya pada Minwoo. Minwoo berfikir apa yang saat ini Sangjin tanyakan. Merasa tak ada kaitannya. Sangjin menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya yang menggantung. “adakah seorang sahabat yang meninggalkan sahabatnya terpuruk sendiri menghadapi cobaan hidupnya?” saat ini Sangjin sudah mengeluarkan air matanya. Menatap dalam mata Minwoo. “lihat aku! ! ! Kakimu tinggal satu? Lihat! aku memiliki dua kaki! Ini kakimu Minwoo! Kau memiliki tiga kaki!” Sangjin tak kuat lagi. Tangisannya semakin hebat. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Minwoo menatap haru rambut yang menghalangi wajah Sangjin dan segera menggerakkan tangan kanannya. Menghadapkan wajah Sangjin degan wajahnya. Minwoo mengusap pipi Sangjin yang basah karena tangisannya. Mengelus hati hati pipi Sangjin dengan jempolnya yang tak tahu sejak kapan sudah mendarat di wajah Sangjin. “jika kaki itu adalah kakiku, maka jantung ini, . . .” kalimat Minwoo sedikit terhenti. Minwoo memberikan gerakan lagi di tangannya. Meletakkan tangan kirinya menyilang di dada. “jantung ini, adalah jantungmu!” Minwoo menatap kosong mata Sangjin yang masih kebingungan. Namun sesaat setelah itu mereka saling tersenyum. Sangat manis. Lagi lagi mereka berdua hanyut dalam pikiran masing masing. Setengah jam mereka berada dalam suasana yang kelam dan sangat hening. Tak tahu kenapa tiba tiba suasana di antara mereka berubah menjadi sedikit canggung. Sangjin sibuk mencuili daun kuning kering yang jatuh. Minwoo sepeti biasa memandang sesuatu di depannya tanpa memiliki arti (baca:melamun XD) “Minwoo, aku menyukaimu!” Deg . . . Duarrr . . . Minwoo seperti baru saja tersambar oleh petir paling indah. Tiga kalimat yang bertahun tahun ia tunggu keluar dari mulut kecil Sangjin sekarang. Sangjin tak menyadari apa yang baru saja ia katakan, yang jelas hatinya mendorong mulutnya untuk segera mengungkapkan itu sekarang. walaupun ia sudah tahu Minwoo tak mungkin balas mencintainya. Sangjin masih menunduk tak berani melihat Minwoo. Rasanya sangat malu. “huft. . . Uhm. . . Aku tahu, mungkin bagimu ini sangat tak masuk akal. Tapi aku hanya mengungkapkan yang sebenarnya.” Sangjin gugup memperjelas kalimatnya “Uhm, . . A . , e. , ” Minwoo ingin mengatakan sesuatu, namun semuanya terlalu mendadak. Ia tak mempersiapkan kepercayaan diri yang besar sebelumnya. “kau tak perlu membalasnya, aku tahu kau tak mungkin membalas . Er . . . Aku tahu kau sangat mencintai Raera! Aku!” Sangjin tak kuat lagi dengan yang ia ucapkan sendiri. Terlalu sakit untuk di ungkapan. Juga terlalu sakit untuk dipendam. Sangjin membenamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya. Berteriak sekuat mungkin didalam bekapan mulutnya sendiri. ‘kenapa aku begitu bodoh! Ungkapanku pasti akan mengiris hatiku lebih dalam lagi. Biarkan dia mengetahuinya. Aku tak berharap lebih.’ Minwoo langsung memberanikan diri memeluk badan mungil Sangjin dari samping. Inilah kebahagiaan sesaat Minwoo! Sangjin tak membalas perlakuan Minwoo. Ia masih menutupi wajahnya. Minwoo melepas pelukannya, menempelkan kedua telapak tangannya pada pipi Sangjin. Mengajak mata Sangjin bicara. Minwoo baru sadar kalau wajah Sangjin sangat pucat. “percaya atau tidak, aku juga memiliki perasaan yang sama sepertimu!” Jelas Minwoo dengan tatapan kosong khasnya. Sangjin langsung menganga mendengar penjelasan Minwoo. Ia langsung menghambur dalam dekapan hangat Minwoo. Sangat hangat. Sangjin masih menyandarkan wajahnya ke atas pundak Minwoo. Namun air mata yang keluar dari tepi matanya bercampur dengan cairan yang keluar dari hidung Sangjin. Lalu semuanya terasa sangat gelap. _____ Mengerti perasaanmu disaat aku akan meninggalkanmu. . . Rasanya seperti tertidur di atas pohon mawar. . Indah di bunganya namun terasa sangat sakit di batangnya. . . _____ ☆☆☆☆☆ Sangjin merasakan cipratan cahaya menyerbu menembus kelopak matanya. Ia langsung berusaha membuka matanya, namun tak kuat. Di tutupnya lagi matanya sampai beberapa lama, kemudian mata indah itu membuka dengan berbinar. Ia melihat eommanya berteriak memanggil dokter. Kemudian lelaki berbaju putih itu segera datang dan memeriksa tubuh Sangjin aneh. Sesaat setelah dokter itu pergi, malah segerombol orang yang sangat familiar di otaknya mengerumuni ranjang Sangjin melingkar. Ada Sangjin eomma, Sangjin appa, Minwoo eomma, Minwoo appa, Taemin oppa, tapi kemana Minwoo? Sangjin langsung mencopot sesuatu yang menutupi mulut dan hidungnya. Kemudian berusaha untuk duduk. Perasaan aneh Sangjin menyeruak. Sangjin segera memeluk eommanya dan menangis dalam dekapan hangatnya. Mengeluarkan segala beban yang tiba tiba mengganggu akal sehatnya. “kau ada di rumah sakit, 3 minggu yang lalu kamu operasi jantung, dan sekarang kamu baru saja bangun.” jelas eomma menenangkan sambil mengelus punggung Sangjin. Sangjin terbelalak kaget. Mata nanarnya menatap eommanya tajam. Sangjin heran dengan masih adanya ia di bumi ini. Ia pikir penyakitnya ini tak mungkin sembuh, jantung eomma dan appanya tak cocok. Tak mungkin untuk melakukan operasi. “ada seseorang yang mendonorkan jantungnya untukmu!” Deg. . . Pikiran aneh Sangjin kembali menghantui. Siapa dia? Kalaupun ada, orangnya pasti sudah meninggal. Tak mungkin orang itu hidup tanpa jantung. Siapa dia ? Siapa? “sudah, kau jangan berfikir yang aneh aneh. Kau harus segera istirahat” kata Minwoo eomma ikut menenangkan Sangjin. ☆☆☆☆☆ Sangjin sedang duduk di sofa rumah Minwoo dengan Minwoo eomma. Minwoo eomma sengaja mengajak Sangjin ke rumah itu untuk mengatakan sesuatu. “Sangjin, ini dari Minwoo.” Minwoo eomma memberikan surat yang ditulis tangan Minwoo. Sangjin mulai membukanya perlahan. Berharap tak ada yang aneh aneh dalam isi surat itu. «»«»«»«»«» Hi Sangjin! Saat kau membaca ini, pasti kau sudah sembuh. Sangjin, maafkan aku yang tiba tiba menghilang tanpa kabar. Maafkan aku, aku dijodohkan eommaku dengan yeoja di london, aku menerimanya karena semua itu demi bisnis eomma. Aku tak tega melihat eomma. Aku benar benar minta maaf, aku tak bisa berbagi kebahagiaanku lebih banyak untukmu. Kau boleh membenciku! Benci aku! Itu lebih baik! Benci aku dan segera lupakan aku! Itu yang aku mau! Suatu hari nanti kau pasti akan menemukan kebahagiaanmu yang lain. Dan. . . Suatu hari nanti kau akan menemukan sebuah kenyataan yang semoga membuatmu lebih membenciku! Someday. . . Someday. . . Love No Minwoo «»«»«»«»«» Beberapa gumpalan air matanya langsung bergulir menuruni pipi nya. ‘apa maksudmu Minwoo? 3 minggu yang lalu kau baru saja berkata “aku mencintaimu!” tapi sekarang kau malah tanpa permisi meninggalkanku dengan surat pahit ini!’ “maafkan eomma Sangjin!” Minwoo eomma segera memeluk erat Sangjin yang sedang menangis dengan isakan yang sangat hebat. Seperti telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga dan itu memang benar. “Sangjin. . . ” Minwoo eomma melepaskan pelukannya kemudian mendekap kedua sisi pipi Sangjin dengan hangat telapak tangannya. Sangjin menatap Minwoo eomma nanar. Tak kuat dengan segala kenyataan pahit yang mengguncang hidupnya. “terimakasih, kau telah merubah hidup keluarga kami Sangjin!” lanjut Minwoo eomma. Sangjin tak paham masih menatap wajah orang yang sudah ia anggap sebagai eommanya sendiri. “karena kau, keluarga kita kembali utuh.” Minwoo eomma menjelaskan. Memang, sudah beberapa hari Sangjin sering melihat Minwoo eomma sering terlihat mendampingi Minwoo appa. ‘lalu apa hubunganku dengan kembalinya keluarga mereka? Apa yang membuat mereka kembali rujuk? Karena aku?’ pertanyaan pertanyaan itu sempat mengitari kepala Sangjin. Membuat kesedihan Sangjin sedikit tertutup dengan keanehan yang ada. “Sangjin, ini pesan Minwoo. Dia menyuruhnya untuk tinggal disini!” Minwoo eomma menyodorkan kunci rumah ini pada Sangjin. ‘namja bodoh! Kenapa kau sebodoh ini Minwoo! Dengan aku tinggal disini itu malah membuat aku semakin tak bisa melupakanmu ! Bukankah kau berharap aku membencimu! Pabo namja!’ Sangjin masih mengeluarkan air matanya deras. Namun tanpa isakan. Akhirnya Minwoo eomma pamit pulang. Sangjin mengantarkannya hingga ambang pintu. Minwoo eomma berpaling. Seperti ada yang masih mengganjal di fikirannya. Minwoo eomma menghampiri Sangjin dan menepuk punggung Sangjin dengan penuh kasih sayang. “terima kasih telah mencintai Minwoo.” ☆☆☆☆☆ Sangjin melangkah gontai memasuki rumah yang hanya ditempati seorang pembantu. Sangjin masuk kamar Minwoo. Ia tahu dengan melakukan itu sakitnya malah semakin dalam. Tapi ia ingin memuaskan kesedihannya hari ini Sangjin membuka gagang pintu kemudian terlihat ruangan besar dengan tembok berwarna pearl aqua green yang menenangkan. Terdapat ranjang besar berwarna hot green motif garis yang cukup untuk dua orang terletak di bagian pojok sebelah kanan. Bangku kecil kayu dengan lampu marmer di atasnya juga cukup menjadi pasangan ranjang tersebut. Mata Sangjin beralih pada sisi kiri kamar. Terdapat satu set komputer dan meja belajar di sampingnya. Lantai kamar ini berwarna cokelat padam motif kayu dan ada karpet berwarna senada dengan tembok yang terletak di bawah TV. TV 21 inci yang menggantung di tembok tepatnya di belakang pintu. Mata Sangjin masih takjub dengan desain kamar ini. Sederhana namun sangat elegan. Sangjin memasuki kamar itu perlahan dan duduk di atas ranjang. Sangjin mengamati langit langit kamar itu. Terlihat cahaya murni yang menyilaukan karena atapnya memang di desain supaya bisa melihat langit secara langsung. Tak sadar, ternyata Sangjin sudah beranjak berdiri mematung di depan bingkai foto besar yang terletak di samping meja belajar. Terlihat seorang anak kecil dengan senyum sumringah duduk di atas pundak bapak bapak yang jelas adalah appanya. Di sampingnya terdapat wanita cantik yang pundaknya dirangkul lelaki di sampingnya itu. Sangat harmonis. Sangjin menatap keluarga bahagia itu dengan intens. Dengan wajah yang tak tahu sejak kapan sudah basah karena air matanya. Terlihat jelas bahwa Minwoo sangat mencintai keluarganya. Namun disaat keluarganya berkumpul kenapa ia malah pergi ke london dan tidak mau berbagi kebahagiaan dengan keluarga yang ia cintai? Bodoh bodoh bodoh!!! Pikiran Sangjin yang dari tadi kagum pada kamar Minwoo sekarang beralih pada seorang namja yang dianggapnya paling bodoh. Deretan air matanya kembali mengalir. Namun kali ini sangat deras. Sangjin merebahkan tubuhnya kasar ke ranjang dan menutupi seluruh wajahnya dengan bantal. Berharap dengan begitu bisa meminimalisir ingatannya tentang Minwoo. Namun sia sia saja karena bayang Minwoo tetap mengelilingi otaknya. Ingatan itu seperti sebuah rol film. Saat dimana mereka saling berebut mainan saat TK , saat pergi dan pulang sekolah SD bersama membawa sepeda ontel , saat SMP menang lomba memasak satu tim, saat kaki Minwoo harus diamputasi, saat Sangjin menyatakan perasaannya pada Minwoo, saat Minwoo pergi tanpa pamit meninggalkan Sangjin. Semuanya terlihat rapi mengelilingi otak Sangjin. “aaarrrggghhh” Sangjin berteriak keras sambil bangkit dan membuka bantal yang dari tadi menutupi wajahnya. Sungguh tak kuat. Tak kuat menahan sakit itu sendirian. ‘kau meninggalkanku hanya dengan seutas kertas yang menyakitkan. Kau bilang ingin meninggalkanku setelah aku mengetahui perasaanmu. Apa kau memang sengaja mempermainkan perasaanku? Baru aku merasakan kebahagiaan sesaatmu itu. Dan kini kau dengan tega dan berani meninggalkanku dengan menyisakan luka yang tak akan pernah hilang. Kau menyuruhku membencimu? Akan aku lakukan Tapi banyak kenangan yang kita buat tak bisa terhapus begitu saja dalam satu detik. Kau tahu Minwoo, membencimu adalah hal yang menyenangkan, tapi aku tak bisa. Dan sekarang, bagiku mencintaimu adalah hal yang sangat memuakkan. Sempat terpikir sebuah penyesalan karena pernah memberi banyak hati ini untukmu. Tapi tetap tak bisa! Beri tahu aku cara membencimu!’ Sangjin menekuk kakinya, membenamkan segala bebannya pada lutut mungilnya. Menangis dan berteriak seiring dengan detik jarum jam. ‘Minwoo! Ku mohon! Kembalilah! Kembalilah walau dengan yeoja lain aku tak mengapa Yang terpenting jangan pernah jauh dan lepas dari jarak pandangku!’ Sangjin membuka wajahnya. Mendongakkan kepalanya menghadap sinar matahari siang yang siap menguapkan sisa sisa air matanya. Mata Sangjin kemudian beralih pada figura kecil berbentuk monokurobo di depan lampu duduk samping ranjang. Terlihat sepasang remaja mengenakan baju khas musim dingin. tangan kanan yeoja itu memegang lolipop berukuran besar. Tangan kiri namja itu memeluk pundak si yeoja. Tangan kiri si yeoja dan tangan kanan si namja menyatu di atas kepala. Membentuk love sign khas orang korea. Sangjin mengambil figura itu dengan tangan yang lemas. Kemudian mengingat ingat liburan musim salju mereka. Saat itu bulan desember. Seoul international high school meliburkan sekolahnya. Sangjin memiliki ide liburan untuk pergi ke Everland. Minwoo menyetujuinya dan pada Tanggal 27 desember mereka ke Everland. Mereka menikmati berbagai wahana yang siap untuk meleburkan kepenatan tugas sekolah. “ayo mengambil gambar!” ucap Minwoo sambil mengeluarkan kamera dari saku jaketnya. Kemudian mereka memanggil orang yang sama sekali tak mereka kenal. Meminta orang tersebut untuk memotret gambar Minwoo dan Sangjin. Mereka berdua terlihat sangat lepas seperti hidup tanpa beban. Mereka berdua bebas mengekspresikan pose pose yang cukup aneh. Pose pertama yaitu memanyunkan bibir. Yang ke dua yaitu membentuk wajah konyol. Minwoo dengan manis tersenyum namun Sangjin melirik sinis ke arah Minwoo dan “jpret” hasilnya sangat lucu. Mungkin foto itu adalah foto favorit Sangjin saat bersama Minwoo. Yang ke tiga yaitu membentuk love sign. Foto Love sign manis yang sekarang sudah berada dalam dekapan Sangjin. Sangjin menangis. Lagi. ‘kau menyuruhku untuk membencimu dengan segudang kenangan manis yang tak akan pernah hilang begitu saja. Kau salah jika memilih cara ini untuk menghindariku’ _____ Aku bisa mengatakan ‘aku membencimu’ tapi aku tak bisa melakukannya Aku bisa mengatakan ‘aku melupakanmu’ tapi aku tak bisa melakukannya. Kau bisa menyuruhku untuk membencimu! Tapi beri tahu aku cara untuk membencimu Karena selamanya aku takkan bisa melakukannya. _____ ☆☆☆☆☆ Tok tok tok. . . Suara ketukan lembut dari balik pintu mendesak gendang telinga Sangjin. Memaksa otaknya untuk mendengarkannya. Sangjin tak menghiraukan ketukan itu yang semakin keras. Rasanya perih untuk Sangjin membuka matanya. Krieeet. Pintu terbuka dengan hati hati. Menyisakan sebuah getaran yang dihasilkan dari gesekan ujung bawah pintu dan lantai. Pembantu rumah itu membuka selimut yang menutupi wajah Sangjin. Terlihat seorang malaikat dengan mata sembab dan rambut yang acak acakan. Keadaannya benar benar tak memungkinkan untuk di sebut sebagai seorang angel. Sangjin dengan terpaksa menuju kamar mandi dengan nyawa yang belum 100% terkumpul. Selesai mandi ia melihat pantulan sosoknya ke cermin. “ieeew” gerutu Sangjin pada wajahnya sendiri. Sangat tidak pantas jika wajah itu di bawa ke kampus. Sangjin menutupi kantung matanya yang membesar dengan beberapa polesan bedak. Namun tidak bisa menghilangkan tatapan kesedihan yang selalu tertanam dimatanya. “tidak makan dulu non?” Tanya pembantu rumah yang sukses tak di gubris Sangjin. “non dari kemarin siang hanya tidur. Belum makan sama sekali” Ucap pembantu itu lagi saat Sangjin sudah berada di ambang pintu rumah. Lagi lagi tak ia gubris. Menangis semalam saja rasanya sudah sangat kenyang. … Sangjin memarkirkan mobilnya paksa hingga ia tersentak kedepan. Sangjin membenamkan wajahnya ke setir mobil. Mengumpulkan keberanian untuk menentang ingatan masa lalu yang pastinya ada dimana mana. Sangjin melangkahkan kakinya menuju kelas. Bukan melangkah, mungkin lebih tepatnya menyeret. Sekarang pukul 6.30 pagi, tapi jam kuliah Sangjin masih jam 8. Sangjin memutuskan untuk pergi ke balkon kampus lantai dua. Sangjin menatap kosong gulungan ombak cantik yang ada di depannya. Sangjin menyandarkan perutnya pada pagar pembatas dan meletakkan kedua tangannya di atas pagar itu. Ingatannya tentang Minwoo kembali menyeruak mengganggu ketenangannya. Saat saat dimana dulu Minwoo mengajaknya ke sini. Dia bilang ini adalah tempat favoritnya bersama Raera. ‘Minwoo, kembalilah dan ceritakan semuanya tentang Raera! Bagiku itu tak lebih sakit dari pada kau menghilang begitu saja!’ Sangjin berkali kali menghela nafas panjang penuh beban. Air matanya dengan lancar mengalir. Sangjin memejamkan matanya. Merasakan hembusan angin yang siap membawa segala bebannya terbang. Tapi beban itu terlalu kuat menempel pada diri Sangjin. Tak bisa begitu saja hilang tertiup angin. Sangjin masih memejamkan matanya. Air matanya terus saja mengalir tanpa di iring dengan isakan. ‘Minwoo, kenapa jika berada di sisimu aku tak pernah merasakan kebahagiaan?’ Tangisan Sangjin bertambah dahsyat. Menangis sambil memejamkan matanya tanpa isakan supaya tak ada orang yang tahu bahwa dia kini telah menyandang sebilah beban yang sangat apik menempel pada rongga rongga ingatannya. Biar hanya ia sendiri yang tahu dan biar hanya ia sendiri yang bisa merasakan. Di tengah tengah tangisannya Sangjin merasakan sosok bertubuh besar berdiri tegap di samping kanannya. Sangjin membuka matanya perlahan. Terlihat bayangan sosok hitam diatas pagar. Tanpa menoleh Sangjin sudah tahu sosok itu dari aroma parfum maskulin aqua khasnya. Dengan refleks Sangjin menyandarkan kepalanya pada sosok itu. Air matanya tak dapat dibendung. Tangan kiri Taemin refleks merangkul pundak kiri Sangjin kemudian menyelipkan anak rambut Sangjin ke belakang telinganya. “aku tahu itu sangat berat.” Satu kalimat Taemin pas membuat tangisan Sangjin semakin deras mengalir dan kali ini Taemin bisa mendengar isakan hebat Sangjin. Hening. . . Sangat hening di antara mereka. Taemin faham betul yang di butuhkan Sangjin saat ini adalah orang yang bisa menemaninya dalam kesepian. Menyediakan pundaknya untuk bersama sama menanggung beban itu. Bukan orang yang memberi nasehat nasehat. Juga bukan orang yang berusaha untuk menghentikan tangisannya. Saat ini Taemin hanya memikirkan keadaan yeoja yang ada di sampingnya. Tak pernah terpikir tentang perasaannya sendiri. Melihat yeoja yang ia cintai menangisi namja lain. Tepat seperti dulu Sangjin melihat Minwoo menangisi Raera. Merasa cukup, Sangjin menegakkan tubuhnya menghela satu nafas berat dan panjang. Menguatkan dirinya sendiri dan menghilangkan sisa sisa isakannya. “oppa, terimakasih!” Sangjin menatap Taemin pas di manik matanya. Membuat jantung Taemin berdegup dua kali lebih kencang dari keadaan normal. Kemudian Sangjin berlalu meninggalkan Taemin yang masih mematung. Taemin melihat punggung Sangjin semakin menjauh dan memperbesar jarak antara mereka. Taemin tersenyum lega merasa sudah bisa memberi secuil ketenangan pada yeoja yang ia cintai. _____ Bukalah sedikit hatimu untukku. . . Walaupun kecil, aku akan berusaha untuk memasukinya. . . Berusaha memperbesar pintu itu. Walaupun pasti sulit adanya. _____ ☆☆☆☆☆ Taemin memaksa Sangjin untuk mengikuti langkahnya setelah berhasil memasukkannya ke Ferrari FF o_O Taemin. Sangjin memakai pakaian sisa kuliah. Kaus oblong putih dengan rompi jeans dan rok selutut pas membalut tubuh mungilnya. Sedangkan Taemin memakai kaus putih tanpa lengan dengan di lapisi cardigan motif garis dan celana jeans hitam. Saat ini Sangjin tengah duduk atas pasir dengan menekuk lututnya. Melihat pemandangan pantai sore yang dengan senang hati menampilkan gulungan ombaknya yang sangat indah. Mata Sangjin menatap pantai itu nanar. Memancarkan sebuah penderitaan yang ia rasakan. Dan lagi lagi air matanya mengalir tanpa di iringi isakan. Sangjin tak mau Taemin ikut menanggung beban besar yang ia rasakan. Taemin yang duduk di sebelah kanannya, melirik Sangjin yang saat ini tengah menangis memandang ke arah depan dengan kosong. Taemin dengan hati hati menggosok pundak Sangjin dua kali kemudian menarik tangannya lagi untuk memeluk lututnya. Lagi lagi Taemin sangat mengerti dengan apa yang Sangjin mau. Yaitu seseorang yang membiarkannya menangis melepas bebannya. Seseorang yang menyediakan kehangatan untuk dirinya. Bukan sosok yang berusaha menghentikan tangisannya dan memberi berbagai tips untuk bisa lalai dari masalahnya. Tak ada suara lagi. Hanya terdengar gemuruh ombak yang menderu mewakili semua kalimat yang ingin diteriakkan Sangjin. Sangjin terdengar mengeluarkan nafas berat. Taemin tahu bahwa Sangjin sudah ingin menghentikan tangisannya walaupun tak bisa. Taemin berdiri menghadap Sangjin kemudian mengulurkan tangan kanannya. Mata Taemin berkata supaya Sangjin menerima uluran tangannya. Dan dengan cepat Sangjin meletakkan tangan kanannya di atas tangan Taemin kemudian tangan mereka saling menggenggam erat. Sangjin beranjak dari posisi duduknya kemudian mereka berdua berdiri di tepian pantai. Taemin mengeluarkan dua benda dari sakunya kemudian memberikan kertas memo pink dan pensil warna coklat ke Sangjin. “kata eomma, jika kau merindukan seseorang, tulis suratmu, kemudian taruh di atas permukaan air.” Deg. . . Sangjin menatap mata Minwoo intens. Kalimatnya persis dengan kalimat yang ia ucapkan saat menyuruh Minwoo menulis suratnya untuk Raera. Padahal Sangjin hanya mengarang lelucon itu. Taemin tersenyum singkat melihat ekspresi Sangjin. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke depan. “aku mengetahui semuanya!” Jawab Taemin singkat. Sangjin masih menatap mata Taemin dengan aneh. “cepat tulis suratmu!” Lanjut Taemin tak melihat ke arah Sangjin. Tanpa banyak bicara Sangjin langsung menulis deretan unek unek yang sangat ingin ia sampaikan ke Minwoo. Masih dalam keadaan berdiri, Sangjin mulai mengotori kertas memo pink tersebut. «»«»«»«»«» Minwoo kenapa kau sangat jahat! ! ! Aku ingin kau mengerti bahwa aku tak bisa melupakanmu ! Itu terlalu sulit. Aku juga tak bisa membencimu! Itu juga termasuk hal tersulit yang harus aku lalui dalam hidupku! Namun jika kau disana bahagia, aku akan mencoba untuk bahagia. Jangan pernah lupakan aku! Aku akan mencoba melupakanmu walaupun sangat sulit. Jika ada waktu, berkunjunglah ke seoul. Aku akan dengan senang hati menerimamu, tapi bukan untuk merebutmu dari yeojamu. Terimakasih sudah menjadi sahabat yang sangat aku cintai «»«»«»«»«» Sangjin langsung mengakhiri tulisannya. Padahal masih ada banyak kata yang perlu untuk dirangkai dan selanjutnya di sampaikan dengan gamblang ke telinga Minwoo. Namun lagi lagi air matanya mendesak untuk keluar. Beberapa diantaranya menetes membasahi memonya. Sangjin benar benar menangis kali ini. Menjatuhkan memo dan pensilnya ke tanah karena sudah tidak kuat lagi. Menulis surat itu seperti membayangkan jika Minwoo sekarang berada di depannya dan Sangjin benar benar tak kuat membayangkannya. Taemin perlahan memunguti memo dan pensil yang Sangjin jatuhkan. Kemudian melipat memo itu dengan telaten menjadi sebuah perahu kertas. Tadinya Taemin berniat untuk memberi perahu kertas itu ke Sangjin. Namun ia tak tega melihat yeoja di sampingnya sedang menutup wajah manisnya dengan tangan. Juga terdengar teriakan yang sangat kencang didalamnya. Taemin mengalirkan perahu itu. Kemudian perahu itu mengalir ke tengah tengah pantai dengan dorongan angin yang tak seberapa kuat. Semilir angin menerbangkan rambut Sangjin menutupi sebagian wajahnya. Sangjin masih menutupi wajahnya dengan tangan. Masih menangis dengan sangat kencang. ‘Minwoo, kenapa kau tidak terlahir seperti namja yang ada di depanku ini! Menenangkanku dengan pundak kokohnya Menguatkanku dengan tatapannya’ Sangjin semakin deras mengucurkan air matanya. Sesekali berteriak dengan kata tak jelas yang tidak bisa terdengar oleh Taemin. Kali ini Taemin tak tahu apa yang harus ia lakukan. Dirinya sendiri juga tiba tiba menahan sakit yang dirasakan Sangjin. Dengan tekad yang bulat, Taemin memutar badan Sangjin 90° Menghadapkannya pada tubuh Taemin. Taemin membuka tangan yang dari tadi menutupi wajah Sangjin dengan hati hati. Deg . . . Terlihat sosok yeoja manis dengan wajah merah dan mata yang sembab karena terlalu banyak menangis. Taemin merasa aneh karena setelah tangannya terbuka tidak ada tangisan yang keluar dari mata dan mulut Sangjin. Mata mereka bertemu pada satu titik yang sangat sulit diartikan. Tiba tiba tubuh Sangjin seolah terkunci dengan tatapan teduh Taemin. Tidak ada kalimat yang bisa terucap. Dan tidak ada air mata yang memaksa untuk mengalir. Taemin menahan nafasnya yang tiba tiba lebih cepat dari biasanya. Jempol Taemin bergerak tak terkendali. Mengusap sisa air mata Sangjin. Tak berapa lama Taemin melakukannya, mata Sangjin kembali mengalirkan air mata. Namun mata itu masih melihat mata yang ada didepannya. Seperti sedang memeluk mata itu dan segan untuk melepasnya. “oppa!” Kata Sangjin lirih namun masih bisa tertangkap oleh gendang telinga Taemin. Sangjin langsung memeluk tubuh Taemin dari depan. Sangat erat. Hingga Taemin sedikit tersentak ke depan. Sangjin merasakan tubuh hangat Taemin. Mencurahkan segala beban yang membuntu otaknya. Tak perduli seberapa banyak air mata yang akan membasahi dada bidang Taemin. Yang terpenting saat ini yaitu ada seseorang yang dengan senang hati memberikan ketenangan untuknya. Taemin masih mematung tak membalas perlakuan Sangjin. Tak terasa sesuatu sudah membasahi pipi Taemin. Matanya memerah merasakan dekapan yeoja yang dicintainya. Taemin tersenyum kilat dengan air mata yang masih mengalir deras. Dengan tekad yang kuat, tangan kirinya merangkul tubuh Sangjin. Tangan kanannya dengan hati hati mengelus punggung Sangjin hangat. ‘jika memang ini nyata, tolong hentikan waktu supaya aku bisa merangkulnya selalu’ Mungkin inilah “awal” kebahagiaan mereka. ☆☆☆☆ Jika memang dia tak Kau takdirkan untuk bersamaku. Setidaknya berikan aku pengganti yang lebih darinya. Carikan aku sosok yang bisa membiarkanku menangisi yang lain. — Aku berjanji kau pasti akan menemukan kebahagianmu yang lain. Dan tentunya bukan dengan bersamaku. Itu membuatku lebih tenang berada di sana. Walaupun pada akhirnya kau tetap akan membenciku. — Walaupun jika hidup denganmu akan penuh dengan tangisan, yang terpenting adalah selalu ada sosokmu yang akan selalu tertangkap saat aku mengedarkan pandanganku kemanapun. — ###End### Alhamdulillah, end sudah. . . Ini ff masih chapter1 tapi udah panjang bgt. Perasaan banyak bgt adegan yang tatap tatapan? Wkwkwk. . . #abaikan Gimana endingnya? Gantung? Ga sesuai keinginan? #SENGAJA XD Emang sengaja di buat kaya ga ada endingnya karena ada rahasia rahasia yang akan bermunculan di chapter2 #bahasanya Bagi yang konsentrasi baca per-adegan dan per-kalimat, pasti bakal tahu chapter2nya kaya gimana. XD Sekian lah, thanks buat yang udah baca. Ditunggu LIKEnya! #ngarep.

Iklan

One thought on “[FF] Love Really Hurt – Chapter1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s