[Cerpen] 7 Years Of Love

Tittle: 7 Years of love (SAD)
Cast:
-Dina
-Daniel
-Sisi (Cameo)
-Fia (Cameo)
-etc
Genre: Romance, Sad
Backsong:
Yesung – waiting for you
Kyuhyun – The way to break up
SJ – Lets not
SJ KRY – The One I Love
Author: Mujtahidatul Alawiyyah
Twitter: @iidonghae861015
Blog: www.iidonghae.wordpress.com

 

Huahahaha *cengar cengir* (๑ºั╰╯ºั๑)
Aku datang lagi dengan cerita cerita gaje[?]. Dari judul pasti 1st mind bayangin muka Kyuhyun. #OkStop.
Kali ini bukan cerita korea. Wkwkwk. Lagi pengen aja pake nama indonesia. (ง •ˆ⌣ˆ•)ง
Yang ga nge-eh sama castnya, ganti aja kamu ama pacar #ciyeee. (´▼`)ε ´╰)
Yaudah cekidot aja lah–
__________

Apa kau tahu selama ini kumbang telah mengubah hidup lebah?
Apa kau tahu selama ini hanya lebah yang bisa memenuhi hati kumbang?
Apa kau tahu hanya kumbang yang bisa dengan kuat menyakiti lebah?
Dan apa kau tahu kisah 2 insan ini yang lain?
Berawal dari sebuah kebahagiaan lebah. . . .
Dengan pertemuan tanpa sengaja.
Dan membuat hidup damai.
Yang mengapung ringan dalam hati yang lapang.
Mamun mata kabur perlahan.
Kabur akan ragamu.
Hilang dan perlahan lenyap.
Deretan teratas kekesalan hidupku? Hilangnya kumbang.

Kesulitan hidup terbesarku?
Lenyapnya kumbang.
Tuhan. . . Kekasih kecilmu ini letih.
Hatiku kaku.
Mataku nanar.
Bibirku tak terkata.
Kapan aku bisa lepas dari kepengapan ini?
Kapan aku bisa lari dari ketegangan ini?
Kapan kumbang datang dan mengangkatku dari kekalutan ini?
Namun ketertatihanku surut.
Saat tuhan membuka gerbang penantianku.
Saat tuhan sengaja mendatangkan malaikat kecil.
Sosok kecil bersayap kini datang.
Kumbang yang menghambur pada rangkulan lebah.
Lebah yang menabur pada dekapan kumbang.
Tuhan. . . Inikah awal hidup baruku?
Hidup dengan mahluk yang lama ku nanti.
Namun mata kaburku datang. Lagi.
Entah memancarkan sebuah perpisahan. Ataukah keabadian damai.
Aku tertegun pada sebuah kenyataan.
Kenyataan indah 2 insan yang bersama sampai berpindah dunia.
Mungkin ini sebuah balasan.
Sebuah hukum kekekalan cinta damai.

#Dina POV
hari ini aku masuk sekolah baru. Bukan sekolah yang aku harapkan. Aku terpaksa pindah sekolah karena tuntutan pekerjaan ayah yang berpindah pindah. SMA 25 Garuda memang SMA ternama, namun sebenarnya aku tak mau karena sekolah ini terkenal dengan murid-muridnya yang super kaya dan sombong.

Aku menyusuri lorong sekolah dengan riang sambil menenteng laptopku yang terbuka. Aku sengaja datang pagi-pagi karena ingin mengelilingi sekolah. Tapi belum sempat aku masuk kelas tapi.
Duaggg. . . . .
Aku merasakan sesuatu menyentuh kasar laptopku sampai semuanya terasa gelap.
☆☆☆☆☆
Aku mengerjap ngerjapkan mataku bangun. Menyesuaikan keadaan silau matahari yang menelusup masuk ke mataku. Ku lihat gadis cantik yang seumuran denganku.
“kau sudah sadar?” dia menanyakan keadaanku dan aku mengangguk sambil memegangi kepalaku yang terasa agak sakit.
Dia mengantarku masuk kelas dan langsung duduk di bangkunya. Ternyata kita sekelas.
“namaku Arsha Andina Kiran. Kalian bisa panggil aku Dina!”
Aku memperkenalkan diri di depan teman teman sekelas. Sepertinya mereka tidak memperhatikan perkenalanku. Aku mengambil tempat disamping gadis yang tadi menolongku. Aku menjabat tangannya dan memperkenalkan diri.
“aku sisi!”
Ia membalas jabatanku dan tersenyum ramah. Sedikit heran karena kenapa gadis sebaik ini tidak memiliki teman sebangku.

~istirahat
Aku masih berusaha berkenalan dengan teman sekelasku. Tapi tak tahu kenapa responnya sama, tak ada balasan jabat tangan atau hanya senyum.
Aku tak berminat pergi kemana mana. Aku hanya mengobrol dengan Sisi untuk mengakrabkan diri. Obrolan kita beralih ketika aku tak sengaja melihat lelaki duduk di pojok dengan telinga yang disumpat headset.
“siapa dia?” pertanyaanku secara spontan terlontar dari mulutku. Dia menjelaskan dan ternyata dia yang menggendongku saat aku pingsan tadi.

Aku mendekatinya dan mengambil posisi di samping kursinya.
Aku berniat mengajaknya berkenalan.
“hey, namaku Dina! Apa kau yang tadi menolongku? Wah, kau sangat baik! Terimakasih ya! Maaf jika aku merepotkanmu!” aku memperkenalkan diri namun ia hanya pura pura tak mendengar. Padahal sudah jelas sekali headset yang ia pasang tak terhubung dengan mp3 atau semacamnya. Aku mengerucutkan bibirku dan kembali duduk.

Aku menguatak atik laptop kesayanganku yang sepertinya rusak.
Dan benar saja, laptop ini memang rusak. Aku menangis sambil memeluk laptopku erat dan mengomel Sisi yang jelas tak bersalah.
“ini!” seseorang menyodorkan sapu tangan kepadaku. Tanpa menatapnya aku langsung mengambil sapu tangan itu.

“maaf, tadi aku yang merusakkan laptopmu!”
Katanya pelan yang hampir tak terdengar.
Aku melihat ke arahnya dan seketika itu tak ada satu kata marahpun yang tersirat dari bibirku. Lelaki yang suka mojok tadi ternyata bisa bicara? Aish, jika di lihat dari dekat dia lumayan juga! !_!

Di menodongkan tangannya seperti meminta sesuatu. Aku menampakkan wajah heranku.
“mana laptopmu, aku bisa membetulkannya. Besok pagi mungkin sudah selesai” aku mengerutkan keningku memastikan bahwa dia memang sungguh-sungguh. Aku tak mau laptop kesayanganku jatuh ke tangan yang salah [!].
Tanpa berfikir panjang aku dengan cepat memberikan laptopku padanya. Aku meluapkan rasa senangku dengan mengoyak oyak bahunya yang di balas dengan raut kesal. Aku memang sangat berlebihan.
☆☆☆☆☆
~Pagi Hari
Hari ini aku sangat senang menunggu laptopku yang sudah waras. Aku mengambil tempat duduk biasa dan sedetik kemudian seseorang memberiku laptop kesayanganku. Aku mengecek laptopku dan yesss. . . Semuanya kembali normal. Lagi lagi tanpa sadar aku mengoyak oyak tangannya merasa sangat girang. Tapi tetap saja balasannya hanya senyum tak ihlas.
Aku merasa tertarik dengan lelaki itu. Tingkahnya yang selalu menjauh dari peradaban murid yang lain dan hobinya yang mojok dengan headset tanpa mp3, itu sangat lucu. Ternyata masih ada murid seperti itu di sekolah ini.
~Istirahat
Sisi sudah dulu pergi ke kanting dan aku tak berminat menyusulnya. Aku berniat mengajak lelaki itu ke kantin sebagai tanda terima kasih tapi pasti dia langsung menolak.

Aku mendekatinya dan berkata dengan nada memaksa.
“hey, ikut aku!”
Aku melihat tajam ke arahnya dan ia tidak merespon.
Aku kehilangan kesabaran. Aku mencabut headsetnya dan menarik tangannya kasar. Tapi ia tetap tak mau sampai ahirnya aku menyeretnya dan berhasil mengajaknya ke kantin.
“kau mau pesan apa? Biar aku yang traktir. Ini sebagai ungkapan rasa terima kasihku!” aku memulai pembicaraan sambil menyodorkan menu makanan tapi ia terus saja menolak.

“ayolah, pesan satu saja! Kalau tidak mau, Es teh saja bagaimana?”
Aku memaksanya sambil menyunggingkan senyum manisku ke arahnya.
“baiklah!” ahirnya ia angkat bicara.
Aku memesan 2 es teh dan tak berapa lama kemudian pesanan kami datang. Aku menyeruput dan sesekali mengaduk es ku sambil mencari bahan pembicaraan.
‘prok prok prok’ terdengar tepukan tangan keras dari arah pintu kantin, semua mata langsung tertuju pada segerombolan siswa yang menghampiri meja kami.
“daniel, daniel. ternyata masih berani keluar lo!” lelaki bertubuh besar yang sepertinya pemimpin itu menepuk nepuk pundak daniel. Aku baru tahu kalau namanya adalah daniel. Nama yang bagus.
Setelah itu lelaki tersebut malah mengambil paksa es teh yang di pegang daniel dan langsung meludahinya. Aku tak tahu apa maksud tindakannya itu. Tapi yang jelas dia orang jahat.
Saat itu aku tak berani bertindak sampai ahirnya lelaki bertubuh besar itu menyiramkan es teh yang di pegangnya ke wajah daniel. Aku tahu saat itu dia sangat malu.
Dia berusaha lari dan aku memegang erat lengannya.

“sudah ku bilang aku tak mau!” dia membentakku sambil melepas genggamanku. Aku hanya bisa menangis dan berniat membunuh lelaki bertubuh besar itu.
Aku menghampirinya dan dengan suara tercekat aku berteriak di depan wajah tanpa dosanya.

“awas kau! Aku akan membuatmu menyesal!”
Aku nekat mengatakannya sambil menunjuk nunjuk keras dadanya penuh ancaman.
☆☆☆☆☆
Hampir setiap hari aku meminta maaf padanya. Hampir tiap hari pula aku menangis karenanya. Saat ini aku berada di kelas, hanya melamun sambil meletakkan kedua tanganku ke pipi dan menggunakan sikuku untuk menopang kepalaku. Bukan dalam keadaan menangis. Jika di paksa menangispun aku akan terus bisa mengeluarkan air mataku untuknya.

Sudah sekitar dua minggu ini aku berusaha meminta maaf padanya. Namun sia sia saja usahaku tak direspon sama sekali. Mungkin mulai detik ini aku akan berhenti memohon mohon padanya.
Namun aneh sekali. Mungkin jika gadis lain mengalami hal yang sama sepertiku sekali minta maaf saja pasti sudah menyerah. Namun aku merasa bukan aku. Ini lain. Bukan karena perasaan tidak enakku namun seperti ada sebuah percikan perasaan yang lebih.
☆☆☆☆☆
#Daniel POV
Sudah sekitar seminggu ini aku tak mendengar lagi suara manjanya dan wajah yang di imut-imutkan walau sebenarnya dia memang imut. Bukan tanpa alasan kenapa selama ini aku selalu membiarkannya memohon mohon padaku walaupun sering kali aku tak tega melihat pipinya yang basah karena tetesan kristal bening dari matanya. Aku melakukan itu karena aku tak mau jauh jauh darinya.
Tak mau seharipun wajahnya tak ada pada jangkauan penglihatanku.
Tak mau seharipun suaranya tak ada pada jangkauan pendengaranku.
Tak mau seharipun ia tak ada pada jangkauan otakku.
Aku memang egois. Sangat egois. Tapi untuk kali ini aku membiarkan keegoisanku mengendalikan kinerja otakku untuknya.
Namun sesuatu yang tak pernah ku bayangkan terjadi. Ia menyerah dan sudah seminggu ini tak lagi merengek rengek padaku. Sekarang malah aku yang selalu gusar memikirkannya.
Kemana dia? Gadis yang selama ini selalu merengek rengek di hadapanku. Walaupun kita setiap hari bertemu di kelas, namun tetap saja berbeda! Dan benar saja sekarang aku sangat merindukannya.
Aku membulatkan tekad untuk menghampiri mejanya. Sekarang waktu istirahat dan tak ada satupun orang kecuali aku dan Dina.
Aku mendekati mejanya. Dia tak menoleh sampai aku memberanikan diri menepuk pelan bahunya.
matanya terbelalak kaget melihat kedatanganku yang sangat tiba-tiba. “daniel? Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah memaafkanku?” kata pertama yang ia ucapkan pecah dari bibir mungilnya.
Ku kira dia sudah menyerah dan sudah tak memikirkan itu! Tapi terkaanku salah. Ia meminta maaf padaku sambil menangis. Lagi.
“datanglah ke taman samping sekolah besok sepulang sekolah” aku bergegas menuntaskan tujuan awalku. Jika tidak mungkin saat ini aku bisa saja memeluknya erat dan berusaha menyeka air matanya.
Aku langsung kembali ke markasku. Bangku pojok favoritku.
Mungkin banyak orang heran dengan kegiatan anehku dan sikapku yang menghindar memilih tak memiliki satu temanpun.
Aku sebenarnya hanya anak tukang kebun sekolah. Aku sudah menganggapnya sebagai orang tuaku. Di sekolah megah ini aku hanya bermodalkan beasiswa.
☆☆☆☆☆

~Taman
Aku cepat cepat datang ke taman dan belum sampai aku duduk aku mendapati gadis lucu memangku tas miringnya menempati kursi. Kursi tempat favoritku.
Aku menepuk pundaknya pelan. Memberi isyarat bahwa aku sudah datang. Dia malah bergeser dan mempersilahkan aku duduk di tempat yang ia duduki tadi.

Aku mengeryitkan mataku tak mengerti. Sampai ia angkat bicara.
“sudah sekitar 2minggu ini aku mengikutimu, biasanya kau selalu duduk di tengah-tengah kursi ini! Mungkin ini tempat duduk favoritmu!”
Aku tak tahu mengapa ia mengikutiku sampai mengetahui hal sekecil itu dariku.
Aku memiliki kebiasaan aneh lagi. Bukan kebiasaan baru. Aku memang sangat senang duduk di bagian tengah kursi taman dengan pohon mangga kecil di belakangnya yang pas untuk tempat bersandar. Di tengah tengah kursi ini juga aku bisa melihat pemandangan pedesaan kecil yang sejuk. Semua sisi dari kursi ini menurutku berbeda. Hanya kursi bagian tengah yang aku sangat sukai.
Aku mengambil posisi di sampingnya. Aku tak mau memulai pembicaraan. Aku mengajaknya kesinipun tak tahu tujuannya.
“apa kau mengajakku kesini untuk memaafkanku?” dia memulai pembicaraan dengan kepala menunduk dengan tangan yang mempermainkan dasinya.
Aku hanya tertawa dalam hati melihat tingkahnya yang selalu begitu. Tapi kemudian dia malah membuka tasnya dan mengeluarkan sekotak makanan.

“oh ya, ini aku punya nasi goreng. Walaupun aku tak bisa memasak tapi ini Aku sengaja membuatnya tadi pagi! Ayo makanlah!”
Dia menyodorkan kotak itu setelah ia membukanya. aku melihatnya sesaat lalu menyendokkan nasi goreng itu ke mulutku.
“uhuk uhuk” aku tersedak rasa nasi goreng itu. Rasanya Sangat aneh dan tidak enak. Dia memberiku botol minumnya dan tanpa berfikir panjang aku langsung meminumnya dalam satu tegukan.
“tidak enak? Hihihi maaf. Uhmmm. . . Kau tidak perlu memakannya!” dia tersenyum malu sambil meminta paksa kotak nasi yang aku pegang.
Aku meminta nasi itu kembali dan segera memakannya.
“hey! Kau tidak perlu memakannya! Itu tidak enak!” dia memintaku menghentikan aku makan. Tapi sama sekali tak aku hiraukan. Aku dengan cepat melahap habis makanannya.

Di tengah tengah aku makan, tak tahu kenapa aku memecahkan satu air mataku.
“hey, kenapa kau menangis? Kalau tidak enak, kau tak perlu memakannya!” dia menghawatirkanku. Heran juga kenapa dia tidak mengataiku lelaki cengeng.
“hm. . . Aku hanya terharu memiliki teman sepertimu!” aku menyeka pelan air mataku dan dengan cepat ia meringis sambil meletakkan kedua tangannya ke pipiku. Menghadapkan wajahku pada wajahnya.
Ia mengambil kain kecil dan segera mengusapkannya ke bekas tetesan mataku.
Lalu dia membuka tanganku dan meletakkan sapu tangan itu ke genggamanku.
“terima kasih, itu sapu tanganmu dulu!”
semenjak itu aku menjadi manusia normal. Menjadi manusia sosial seutuhnya karena sekarang aku sudah memiliki teman. Teman yang sedikit ku beri perasaan lain.
☆☆☆☆☆
-skip-
Aku melakukan semua kegitan harianku seperti biasa. Tidak ada yang berubah kecuali hadirnya malaikat kecil yang merubah 180° pola hidupku.
☆☆☆☆☆
#Dina POV
Satu lagi sesuatu yang membuat hidupku semangat. Kehadiran sosok daniel sangat membuat aku berbeda. Tak tahu kenapa saat berteman dengannya, ada sepercik rasa bangga dan juga satu rasa yang tak ku mengerti.
Sudah sekitar 1 tahun aku berteman dengannya. Dia sering sekali mengajakku ke taman belakang sekolah. Sekarangpun aku berada di taman tersebut menunggu Daniel.
Tapi tak lama kemudian ia datang. Ia mengambil posisi duduk favoritnya. Tak ada pembicaraan pasti antara kami. Hanya melihat keindahan pedesaan yang ada di depan.
“apa kau suka mawar?” kalimat pertamanya terlontar begitu cepat.
“ahh, aku tidak suka mawar, mawar itu punya duri. Duri untuk melindungi dirinya tapi harus menyakiti orang lain. Mawar itu egois.” aku menceritakan keditak sukaanku pada mawar secara gamblang.
Aku melirik ke arahnya dan kudapati dia sedang memetik setangkai mawar di dekat tempat duduknya dan mencabuti pelan durinya.
“ini, cobalah untuk menyukai mawar! Mawar itu cantik, jadi ia harus punya benteng supaya tidak ada yang menyakiti. Bayangkan kalau mawar itu dirimu!” dia menyerahkan mawar tanpa duri yang baru saja dipetiknya sambil menyunggingkan senyuman yang sontak saja membuat aku tidak bisa berkedip. Aku menerima mawar itu dan sejenak berfikir. Satu lagi hal yang dia lakukan bisa merubah pola fikirku.
“besok malam apa kau mau datang kesini?”
“untuk apa?”
Aku balik bertanya. Dan setelah itu tak ada jawaban dan dia malah pergi. Dasar lelaki misterius.
Aku pulang dan masih memikirkan kenapa daniel mengajakku ke taman besok. Aku meletakkan mawar tadi kedalam sebuah kotak kaca seukuran dan memastikannya tetap indah sampai kapanpun.
☆☆☆☆☆
Malam tiba dan aku bersiap siap, hanya memakai kaus oblong putih dan celana jeans selutut. Aku menghampiri taman dan tak ku dapati seorangpun disitu. Aku duduk di kursi ku menikmati keindahan malam. Sekarang pukul 7malam dan disini sepi. Bukan sepi dalam artian menyeramkan, tapi sepi menenangkan.
Belum selesai aku melamun, seseorang dengan pelan menepuk pelan bahuku. Aku menoleh ke arahnya dan lagi lagi senyumnya hampir membuat aku lunglai.
Daniel mengambil tempat di sampingku. Dia menatapku lama dan aku pun menatapnya balik. Tatapan itu penuh arti. Seperti memancarkan sebuah isyarat. Isyarat yang tak aku pahami.
Sedetik kemudian ia memalingkan wajahnya dan mulai mengucapkan sesuatu. “jaga dirimu baik-baik jika aku tidak ada!” kata itu membuat aku menganga tak paham. Apa ini sebuah salam. Salam perpisahan.

Aku menatapnya mencari kejelasan.
“aku akan pindah. Ayah dan ibuku menyuruhku kuliah di LA!”
Dia melanjutkan kalimatnya.
Deg. . . . Aku tak berani menatapnya. Aku hanya menunduk dan mempermainkan ujung ujung kausku. Dan sedetik kemudian airmataku dengan cepat membanjiri semua sisi pipiku. Aku tak kuat lagi. Apa maksudnya? Tuhan. Sungguh saat ini aku ingin memutar waktu kembali. Jika pertemuan ini hanya untuk sebuah perpisahan. Bukankah lebih baik kita tidak pernah mengenal?.
Isakan tangis ku tak terbendung. Di tengah tengah tangisan hebatku dia meraih satu sisi pipiku kemudian menghadapkanku pada wajahnya. Setelah itu satu tangannya lagi mengelus sisi pipiku yang lain. Aku masih tak berani menatapnya. Masih tak kuat menatap pria yang setelah ini meninggalkanku.

Dia perlahan menyeka air mataku dengan jempolnya. Kemudian membersihkan wajahku lagi dengan sapu tangannya. Lalu ia menggenggamkan kain kotak itu ke tanganku.
“perpisahan itu bukan ahir, tapi dimulainya kehidupan baru!” aku menatapnya sesaat setelah ia mengucapkan kalimat itu. Kulihat sebutir kristal bening sudah memenuhi kedua sudut matanya.
Tanpa pikir panjang aku dengan cepat langsung memeluknya erat. Sangat erat. Aku membenamkan wajahku di atas pundaknya menumpahkan seluruh kesedihan dan bebanku saat ini. Aku berteriak di atas pundaknya namun percuma saja tak terdengar. Aku masih memeluknya sangat erat dan aku tahu dia juga balas memelukku. Aku merasakan tangan kanannya memegangi punggungku erat. Dan tangan kirinya mengelus pelan rambutku. Ku dengar juga isakan tangis dari bibirnya.
Tangisan kita sudah berlangsung cukup lama. Aku ingin melepaskan pelukanku namun ia tak mengijinkan. Sekarang malah yang menangis dengan kuat. Tapi tak lama kemudian dia dengan pelan melepaskan pelukannya dan menggenggam kedua lenganku erat. “tunggu aku disini selama 3 tahun saat malam dan pagi tahun baru. Jika sudah 3 tahun aku tidak kembali juga maka lupakan aku!”
Aku mendengar kalimatnya baik baik. Mencerna setiap detail katanya dan merekamnya baik baik di otakku.
Lalu ia memberi selembar sampul kertas biru muda padaku. Dia memalingkan wajahnya dan melihat pemandangan di depannya. Aku mengikuti sudut pandangnya dan ku dapati percikan kembang api indah di langit dan aku baru sadar kalau hari ini malam tahun baru.
☆☆☆☆☆
Pagi ini merupakan hari terahir ia berada di Indonesia. Aku tak berani mengantarnya ke bandara. Belum juga lulus SMA tapi dia sudah pindah.
Hari ini hari minggu dan aku hanya tengkurap di atas ranjang tidurku dengan bantal yang menopang kepalaku. Aku memandangi kotak itu lagi. Kotak yang berisi mawar pemberiannya. Aku tersenyum sesaat kemudian sesuatu yang penting terlintas di benakku.
Aku mengingat surat biru pemberiannya semalam. Aku menghampiri meja belajarku untuk mengambil secarik kertas itu.
Aku kembali pada posisi awalku. Perlahan ku buka sampulnya dan ku lihat tulisan tangannya.

‘hi Dina. . .
Mungkin saat kau membaca ini aku sudah tidak di sampingmu. Sebenarnya tukang kebun sekolah itu bukan orang tua kandungku. Aku di titipkan padanya supaya aku bisa mandiri .
Hey, maaf aku belum sempat mengatakannya. Apa kau tahu, sejak pertama aku bertemu denganmu kau sangat unik, lucu. Kau berbeda. Dan kau juga mau berteman dengan orang sepertiku. Orang sudah di anggap berbeda oleh semua orang.
Tapi setelah kita semakin dekat. . Tak tahu kenapa perasaan persahabatanku berubah. Berubah menjadi perasaan yang tak aku pahami. Aku tak tahu apa kau juga mencintaiku atau tidak, tapi aku tak berharap banyak karena mungkin perasaanmu padaku hanya sebatas sahabat. Mungkin sampai kapanpun aku tak tahu perasaanmu. Tapi supaya aku tahu tolong datanglah ke taman belakang sekolah 3tahun lagi saat tahun baru pagi harinya! ^^
Oh ya, saputanganku ada padamu kan? Oh ya! Satu pesan saja untuk sapu tangan ku. JANGAN PERNAH BASAHI SAPU TANGANKU DENGAN AIR MATAMU KARENA AKU. DAN JANGAN PERNAH GUNAKAN ITU JIKA TIDAK ADA AKU.
satu kalimat terahir untukmu. I LOVE YOU.
-Daniel-‘
Aku tersenyum lembut melihat isi surat itu. Aku meresapi setiap bait kata surat itu. Tak terasa air mataku menetes membasahi suratnya.
☆☆☆☆☆
Hari ini kelulusan SMAku, aku memakai setelan seragam abu-abu putih dengan diselimuti toga dan topi pasangan khasnya. aku duduk di kursi di depan kelasku dengan masih memakai toga.
aku mengeluarkan sehelai kertas biru pemberiannya. sedikit mengingat wajahnya dan mencoba tersenyum geli walau hatiku sedikit menangis.

sreeekkk
“Dina, apa ini!”
Sisi datang mengerecoki lamunanku. aku mencoba menjangkau kertas itu dan terlanjur. dia sudah membacanya.
“daniel pindah ke LA! ! ! kenapa kau tak memberi tahuku?”
kata pertamanya sukses membuat aku memeluknya. aku menunangkan segala bebanku di pundak sisi. sahabat terbaikku.
dia berusaha menenangkanku dan aku melepaskankan pelukanku.
“ceritakan saja semua! aku bersedia menampung curhatanmu!” kata sisi sambil memandangku.
aku menceritakan semuanya. terkadang aku terisak di tengah ceritaku. menangis kenangan yang tak pernah manis yang pernah kita buat.
☆☆☆☆☆

-skip-
1 Tahun Kemudian
aku merebahkan tubuhku ke kasur. sekarang hari libur kuliah. aku sudah diterima di universitas favoritku.
aku melirik benda biru tebal. tapi kali ini bukan surat dari daniel. aku mulai menulis semuanya disitu. mencoretkan deretan tinta hitam diatas lembarannya. bisa dibilang buku diary. hobiku ini bermula dari dulu. sejak pertemuan terahirku dengan daniel.
aku selesai menulis semua isi otakku. aku ingin mencantumkan tanggalnya. aku mulai menulisnya.
01.01.2014
aku mencoba mengingat ingat tanggal yang aku tulis. aku meringis menahan sakit dan tak sengaja sebutir air mataku jatuh membasahi coretan diaryku.
aku memutuskan untuk pergi ke taman belakang sekolah. walaupun penantianku belum genap 3tahun. tapi dengan pergi ke taman mungkin bisa meminimalisir produksi tangisanku di rumah.
keadaan taman ini masih sama. namun sedikit berbeda karena banyak anak kecil. sepertinya sudah diubah menjadi tempat bermain.
sekarang musim panas dan aku hanya memakai kaus oblong putih dan celana jeans dengan rambut di ikat kuda.
aku duduk di kursi panjang yang biasa aku dan daniel tempati. aku menyandarkan punggungku ke pohon mangga yang semakin tua. aku mengeluarkan ponsel dan earphone dari saku celanaku. aku mulai mendengarkan lantunan lagu disana.

(Neoege haji motan maldeuri
nun gameumyeon jakku tteoolla)
Kata-kata yang tak bisa
kuberitaukan padamu, jika aku
menutup mataku, itu akan
terus muncul

(Gieogeul dameunchaero
meomchwodun naui sarang,
neoreul saenggakhae)
Berhenti mengingat kenangan,
cintaku aku memikirkanmu

(Gyeote dugo
banghwanghaetdeon naldeureul
huhoehago isseo)
Aku menyesali hari-hari ketika
aku berkeliling denganmu, kau
berada di sisiku

(Naui jinsimi deulliji annni)
Tidakkah kau mendengar
hatiku yang tulus?
– – –
aku memejamkan mataku. menikmati alunan lagu yang menelusup ke dalam gendang telingaku.
belum sempat lagu itu selesai tapi seorang anak menepuk nepuk punggung tanganku. dan dengan cepat aku mencabut earphonku.
“kakak, bunga apa itu? itu kan bunga jelek! sudah busuk!” dia menunjuk kotak bunga dengan mawar yang coklat dari daniel dulu.
“kau mau?” aku membungkukkan badanku. menyamakan tinggi anak kecil tadi. dia menggelengkan kepalanya tanda penolakan.
aku memetikkan mawar yang ada di dekat kursiku. ku cabuti duri durinya dan ku sematkan mawar itu ke telinga balita yang ada di depanku. dia terlihat sangat polos dan cantik.
aku mengalihkan pandanganku memikirkan apa yang baru saja aku lakukan. aku mengingatnya lagi. mengingat saat dimana dia memperlakukanku seperti ini. tak terasa pipiku sudah basah karena butiran kristal bening pecah begitu saja.
“kenapa kakak menangis?”
anak itu bertanya padaku sambil menunjuk pipiku yang basah. dengan cepat aku menyeka airmataku.

“tidak, kakak tidak menangis, sudah itu ibumu sudah mencarimu.”
aku menunjuk wanita separuh baya yang melambaikan tangannya.
“terimakasih mawarnya kakak!” dia mengecup pipiku kilat dan perlahan menghilang dari pandanganku.
☆☆☆☆☆
waktu berlalu dan setiap gerakku tak ada yang spesial. hari hariku tetap saja sepi karena tak ada Daniel.
aku menelusuri lorong kampus menuju kelas. dengan malas aku duduk. di kampus aku memang dikenal sebagai pribadai yang penutup.
aku mengetuk pensilku sambil meletakkan kepalaku miring di atas meja. tidak ada sisi, sahabatku, rasanya aku ingin keluar dari sini. membosankan.
pulang kuliah aku memutuskan jalan jalan ke taman belakang SMAku dulu. aku duduk di kursi biasa. hari ini sangat sepi membosankan. dan aku memutuskan pulang untuk lebih menenangkan diri dan memikirkan hal positif tentang Daniel disana. karena beberapa hari ini pikiran negatifku mengusik kekukuhanku untuk menunggunya. apa dia masih mengharapkanku? masih mencintaiku?
☆☆☆☆☆
hari ini aku bergegas untuk ke Taman belakang SMA, walaupun sangat tak mungkin Daniel tiba-tiba datang.
aku duduk di bangkuku seperti biasa. tak lama kemudian ku dapati anak yang ku beri mawar setahun lalu. aku melambaikan tanganku padanya.
“wah, kakak kita bertemu lagi”
dengan cepat aku memetik mawar di sampingku dan mencabuti duri durinya. aku mengulurkan tanganku memberi mawar tersebut.
“terimakasih!”
ia membungkuk ke arahku tanda terima kasih. aku menggendongnya kemudian meletakkannya diatas pangkuanku.
“kenapa kakak selalu datang setiap tahun baru saja?”
“kakak sedang menunggu lelaki yang memberi kakak bunga ini!” aku menunjukkan bunga didalam kotak kaca.
dia hanya tersenyum dan langsung beranjak dari pangkuanku. ia langsung berlari ke arah ibunya.
aku melamuni diriku sendiri. apa aku layak untuk menunggunya? apa dia di sana berencana untuk kembali? atau tidak sama sekali? semua pikiranku membanjiri otakku.
tiba tiba aku terisak sambil memeluk mawar itu erat. sangat erat. aku mengharapkan semua yang positif terjadi dalam hidupku.
tangisanku terhenti saat aku merasakan getaran ponsel. sms dari operator.
aku mengeluarkan earphoneku mendengarkan sebuah lagu. lagu yang mencerminkan keadaan tragisku tanpa kehadiran Daniel.
– – –

(Neoreul gidaryeo sesangi
kkeutnal ttaekkaji)
Aku menunggumu sampai akhir dunia

(Neol gidaryeo unmyeongi
mageul geu sungankkaji)
Aku menunggumu sampai takdir menghentikannya

(Ijen naega neoege modu jul su
inneunde)
Sekarang aku bisa memberikanmu segalanya

(Naegero dagaol su eomni
sojunghan nae saram)
Tak bisakah kau datang
padaku, orang yang berharga untukku
– – –
☆☆☆☆☆
2 tahun sudah aku menunggunya, tapi hasilnya nihil. ini kali ketiganya aku berada di taman SMA, hari terahir dimana aku menunggunya. 3tahun bertahan itu sulit. sangat sulit dan menyakitkan.
aku sengaja datang pagi pagi dan berharap Danielpun akan datang pagi pagi. aku duduk di kursi favoritku. bersandar di pohon mangga kenangku.
“kakak, aku tahu kau pasti datang, apa kakak masih menunggu pria itu?”
belum 5 menit aku duduk, anak kecil yang tak ku tahu namanya itu mengusik lamunanku. aku hanya tersenyum membalas pertanyaannya.
sedetik kemudian ia menodongkan tangannya ke arahku meminta sesuatu. aku memutar otakku dan aku tahu maksudnya. segera ku petik mawar di samping kanan tempat dudukku dan ku cabuti durinya satu persatu.
anak kecil itu menerimanya dan tersenyum lucu. ia langsung naik ke pangkuanku dan dengan cepat aku memeluknya dari belakang.
“kak, namaku fia, nama kakak siapa?”
ia memulai pembicaraan.

“aku dina, hehehe”
aku membalas perkenalannya dengan senyuman.

“kakak menunggu siapa disini? kenapa hanya setiap tahun baru?”
pertanyaan kekanak kanakannya muncul. apa yang harus aku jawab?
“kakak sedang menunggu seseorang, namanya Daniel. dia yang memberi kakak mawar ini. dia berjanji akan datang saat tahun baru. sekarang saat terahir. kakak tidak tahu apa dia menepati janjinya atau tidak!”
aku menjelaskan semua dan tanpa permisi air mataku keluar. kali ini bukan tangisan biasa. tangisan yang penuh arti. tanpa malu aku terisak sangat keras di depan fia.
mungkin ia mendengar isanku. dia langsung berdiri menghadapku dan memelukku erat. aku menuangkan semua bebanku pada pundaknya. pundak kecilnya.
aku masih terus menangis. membayangkan apa Daniel disana juga menangisiku seperti aku menangisinya.
apa Daniel disana sengsara karenaku seperti aku sengsara karenanya.
dan apa ia akan kembali saat sudah bertahun tahun aku menunggunya?
kali ini aku benar benar menangis. menangis sambil memikirkan semua hal negatif yang bisa saja terjadi.
merasa cukup, aku melepaskan pelukan fia. aku menyeka cepat air mataku kemudian menatapnya.
“aku akan menemani kakak disini sampai lelaki yang kakak tunggu datang.” ia memberiku semangat dengan kata katanya. aku membalasnya dengan pelukan.
kemudian fia duduk disampingku. aku memasangkan earphone ke telinganya dan telingaku kemudian memulai alunan lagunya.

(Hollo ijeul sudo bakkul sudo
eomneun i sarang)
Ini cinta yang tak bisa
dilupakan dan berubah

(Neoui binjarie nameun
honjatmal)
Sendiri yang tersisa di
kekosonganmu

(Naui gyeote itdeon neoui
soneul japji motan
geotcheoreom)
Seperti aku yang tak bisa
menahan tanganmu ketika kau
masih berada di sisiku

(Neoreul gidaryeo sesangi
kkeutnal ttaekkaji)
Aku menunggumu sampai
akhir dunia

(Neol gidaryeo unmyeongi
mageul geu sungankkaji)
Aku menunggumu sampai
takdir menghentikannya

(Majimak sarang neo hanainde)
Cinta terakhirku, hanya kamu

dengan cepat lagu itu berhenti dan aku meneruskan kegiatanku yaitu melihat jelih semua manusia manusia yang ada di sekitarku. berharap keajaiban terjadi dan Daniel menjadi salah satunya.
sekarang sudah jam 2 siang dan dia belum juga datang. aku sedikit melirik fia yang sepertinya kepanasan. aku menyuruhnya pulang dan dia menurutinya.
sekarang tinggal aku yang menunggu sesuatu yang tak pasti. sekarang pukul 4 dan wajahnya masih belum bisa tertangkap oleh indra pengelihatanku.
semua perasaan burukku datang. aku mencengkeram ujung bajuku. rasanya saat ini aku ingin berteriak sampai Daniel mendengarnya.
sakit. itu yang aku rasakan aku merasakan baru saja jantungku di kepal keras. nafasku sesak tak bisa merasakan udara di sekitarku. hatiku sakit. sangat sakit. seperti tersayat pedang sangat tajam.
tanpa berfikir aku langsung menangis. apa kau benar benar tak mengharapkanku lagi? kau tak menepati janjimu Daniel! janji kita!. 3tahun itu tak sebentar. 3tahun aku melewatinya dan kau tahu? itu sangat sulit. tak pernah ada kata bahagia ketika aku melakukan penantian ini. hanya tangisan dan kesedihan. dan sekarang benar, semua kesedianku karena menunggumu terbayar dengan tidak adanya kau disini sekarang! ! !
apa disana kau merasakan kesedihan ini? pasti tidak.
apa disana kau meraskan sakit ini? pasti tidak.
kenapa aku harus percaya padamu dulu? kenapa aku sangat bodoh?
dan sekarang berahirlah 1 bebanku yaitu menunggumu. namun apa kau tahu, sakit yang ku rasakan ini tak akan pernah hilang.
aku menghela nafas berat. berharap emosiku bisa terkendali. 2jam aku menangis. terkadang aku memukuli kepalaku merasa bodoh. terkadang aku memukuli dadaku yang sesak dan sangat sakit. semua yang aku rasakan saat ini tak bisa di ekspresikan.
aku pesimis dengan penantian ini. aku pulang dengan keadaan limbung tak bisa menopang tubuhku sendiri. terkadang aku memukuli dadaku yang terus saja sesak. sangat menyakitkan.
‘aku bukan memaksanya untuk kembali dan mencintaiku. tapi setidaknya tepati janjimu yang berat itu! 3tahun menunggu dan hanya di balas dengan sebuah penghianatan.’
☆☆☆☆☆
semenjak saat itu, aku seperti mayat hidup. terlontang lantung seperti melakukan sesuatu yang tak memiliki tujuan.
☆☆☆☆☆

01.01.2017
aku mulai membuka diaryku. menuliskan setiap kalimat yang ingin aku tuang.
aku melirik kembali tanggal di atas diary ku, dan sekarang tanggal 1, aku memutuskan datang ke tamana SMA, tapi kali ini bukan untuk menunggu Daniel. hanya untuk sekedar melepas penat di rumah orang tuaku.
aku sekarang tak lagi tinggal di apartemenku semenjak kejadian di rumah sakit itu. padahal aku tidak apa-apa namun orang tuaku menyuruhku tinggal bersamanya. memang sangat aneh.
aku duduk di tempat biasa, dari rumah aku sudah berjanji untuk tidak menangis karena Daniel disini.
Aku mulai menyandarkan punggungku ke pohon mangga biasa. Namun sebelum itu ku pandangi dulu pohon itu. Dulu saat aku dan daniel masih sekolah, pohon ini masih kecil. Dan lihatlah sekarang pohon ini sudah besar, cukup untuk aku dan Daniel. Pohon mangga ini seperti menjadi saksiku. Sejak aku pertama kali mengenalnya sampai sekarang dia tak ada disini. Kau kemana Daniel? Kau tidak mau duduk bersamaku dan bersandar dipohon ini bersamaku? Datanglah! Ku mohon!
Aku tak kuat lagi. Aku melanggar janjiku sendiri untuk tidak menangis. Seberapa besar usahaku untuk melupakanmu, maka sangat besar pula rasa kehilanganku itu!
Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Aku teriak berteriak keras keras dengan tangan yang masih menutup mulutku. Berusaha meluapkan semua bebanku.

Apa yang saat ini kau lakukan disana? Apa kau masih mengingatku?
Apa kau masih menyayangiku?
Apa kau masih MENCINTAIKU?

Kau tahu betapa sulitnya bertahan selama 4tahun?
Kau tahu betapa sulitnya bertahan 1hati hanya untukmu?
Dan apa kau tahu, betapa sakitnya pengorbanan besarku yang hanya dibalas dengan dusta? Rasanya lebih dari sakit! Sangat sakit!
Hatiku berbicara sendiri sambil membayangkan ia ada di depan mataku sekarang. Tapi hayalan tetaplah menjadi hayalan. Daniel tak mungkin kembali.
Tangisanku terhenti dan hanya menyisakan isakan kecil ketika seorang menyodoriku tissue. Aku langsung mengambilnya dan ia langsung menghambur di pangkuanku.
“fia!”
“apa kakak masih menunggu lelaki itu?”
Aku mendengar pertanyaannya dengan tersenyum kecut.
“kakak tidak menunggu lelaki itu. Dia sudah melanggar janjinya. Untuk apa kakak menunggunya! Hehehe~”
Fia sepertinya mencerna baik baik jawabanku dalam otaknya.
“jangan bicara seperti itu! Jangan pernah kakak menyesal dengan apa yang sudah kakak ucapkan!”
Aku tersenyum sambil memberikannya mawar seperti biasa.
“terimakasih!” setelah itu dia malah lari dengan teman temannya.
Aku tersenyum geli mengingat ingat kalimat fia lagi. Namun setelah itu malah aku merasakan sakit yang sangat di kepalaku. Aku memegangi kepalaku dan sesaat setelah itu hidungku mengeluarkan darah. Dan semuanya terasa gelap.
☆☆☆☆☆
-skip- 6bulan kemudian
“Dina, Mama harus membicarakan ini sekarang!” kata ibuku dengan sangat lembut.
Sekarang aku didudukkan ibuku diruang tamu. Hanya ada aku, ibu, dan ayah. Suasana semakin menegang saat ibu menampakkan wajah seriusnya.

“apa kau tahu alasan kami menyuruhmu pindah bersama kami?”
Aku hanya menggeleng tak mengerti.
“Sebenarnya kamu mengidap kanker otak. Kata dokter umur kamu hanya tinggal sekitar 6 bulan lagi!” ibuku melanjutkan perkataannya. Dan aku benar benar kaget. Ibuku menangis sambil memelukku. Ayah hanya menunduk sedih.
Aku menangis sekencang kencangnya dipelukan ibu. Aku menyumpat kedua telingaku berharap aku tidak pernah mendengar hal menyakitkan itu.

Kenapa harus aku yang menerima kenyataan ini?
lalu sanggupkah aku menerima dua rasa sakit ini? Tuhan, tolong aku. Jika kau mau menderitakanku dahulu sebelum mengambil nyawaku, maka lebih baik ambillah nyawaku sekarang! Aku merasa tak akan sanggup menjalani hidup seperti ini!
☆☆☆☆☆
Aku duduk di teras rumahku. Sudah sekitar 3 bulan aku menahan dua rasa sakit ini. Sekarang aku tak bisa ke mana-mana, hanya bergantung pada kursi roda yang bersedia mengantarku kemanapun.
Aku melihat ke arah depan. Ku lihat anak anak yang sedang asyik mengisi hidupnya dengan kebahagiaan, keceriaan, kebebasan. Lalu aku? Apa aku patut bahagia ketika sebuah penyakit perlahan menggerogoti tubuhku? Apa aku patut ceria ketika orang yang aku cintai meninggalkanku begitu saja? Apa aku bisa bebas ketika dengan sengaja tuhan mengirimkan kedua cobaan itu sekaligus untukku.
Aku menangis sesenggukan ketika mengingat ingat semua yang saat ini tengah merenggut semangatku. Aku merasa tak perduli dengan penyakit ini. Aku mungkin sudah siap jika tuhan menjemputku kapanpun dia mau. Tapi sebelum hal itu terjadi tak bisakah aku bertemu dengan lelaki itu? Daniel?

Jika ku biarkan peribahasa berkata “Cinta tak harus memiliki” maka sekarang aku akan siap untuk pergi tanpa terngiang ngiang bayang Daniel. Cih. Itu hanya peribahasa bagi orang yang pesimis.
Tapi aku tak seperti itu, jika aku sudah memutuskan untuk mencintai seseorang maka dengan cara apapun aku harus memilikinya!

__________
Aku tak mudah untuk mencintai
Aku tak mudah mengaku ku cinta
Aku tak mudah merasakan aku jatuh cinta. . .
Senandunku hanya untuk cinta
Tirakatku hanya untuk engkau
Tiada dusta SUMPAH KU CINTA
SAMPAI KU MENUTUP MATA.. .. ..
__________
☆☆☆☆☆
01.01.2018
Hari ini aku sudah tidak berada di rumah lagi. Tapi di tempatkan di rumah sakit. Keadaanku semakin hari semakin parah saja. Tapi sekarang tanggal1? Tanggal di mana aku biasa ke taman belakang SMA, dan tanggal di mana aku menjalani hari terahirku di dunia ini.
Aku sudah siap menerima semuanya. Aku sengaja meminta ibu dan dokter untuk melepas segala kabel dan yang lain. Aku langsung pergi ke taman belakang SMA dengan memakai kursi roda dan baju tidur biru khas rumah sakit tanpa di temani siapapun. Ibuku mengizinkanku karena ku bilang bahwa ini adalah permintaan terahirku.
Aku menekan tombol pada kursi rodaku memintanya untuk berhenti. Hari ini terasa berbeda karena aku sengaja mendiam bukan di tempat biasanya. Bukan tempat duduk kayu di depan pohon mangga . Tapi di seberang tempat duduk kayu di depan pohon mangga tersebut. Aku tak mau mengambil resiko jika nanti aku menangis karena Daniel tidak akan datang. Dan mungkin hari ini hari terahir aku menghembuskan nafas. Jadi aku memilih menjauh dari orang orang.
Aku memejamkan mataku sambil menghirup dalam dalam udara segar yang mungkin tidak akan pernah aku rasakan lagi.
Namun seperti biasa seorang anak yang setiap tahun bertemu denganku menghentikan kegiatanku.
“kakak kenapa memakai kursi roda?” Fia bertanya sambil memegang megang heran apa yang saat ini aku duduki.
Aku hanya tersenyum dan menjawab pertanyaannya. “Fia, setelah ini jangan mencari kakak lagi. Setelah ini, kakak tidak akan pernah kesini lagi. Kakak akan pergi jauh. . . Pergi ke surga!” aku mengecup keningnya kilat. Lalu ia memelukku sambil mengangis. Tapi sedetik kemudian ia malah pergi.
Aku masih melamun sambil melihat sekeliling. Mungkin saja tiba tiba Daniel datang. Namun itu sangat mustahil. Walaupun ia telah melanggar janjinya, tapi tetap cinta ini tetap ada dan sulit untuk di lupakan. walaupun jika mengingatnya terkadang sangat sakit.
Aku melihat sekelilingku namun belum sampai 5 menit, ku dapati seorang pria di seberang. Ia memakai jaket hitam dan celana jeans senada. Tak lupa juga topi baseball dan masker yang hanya menampakkan kedua matanya saja.
Aku mengikuti gerak geriknya. Ia duduk di kursi depan pohon mangga dan merebahkan punggungnya ke permukaan pohon itu. Lalu ia memasang earphone, namun aneh earphone tersebut sama sekali tak terhubung.
Aku bertekat menggerakkan kursi rodaku dan mendekatinya perlahan.
__________

(Hollo ijeul sudo bakkul sudo eomneun i sarang)
Ini cinta yang tak bisa
dilupakan dan berubah

(Neoui binjarie nameun
honjatmal)
Sendiri yang tersisa di
kekosonganmu

(Naui gyeote itdeon neoui
soneul japji motan
geotcheoreom)
Seperti aku yang tak bisa
menahan tanganmu ketika kau masih berada di sisiku

(Dasin neoreul nochi anheul tenikkan)
Aku tak bisa membiarkanmu pergi lagi

(Bogo sipeotdeon bogo
sipeotdeon maeumi neomu keojyeoseo)
Aku merindukanmu, aku
merindukanmu, hatiku sangat berdebar

(Neoreul hyanghan balgeoreum neuryeo jigo itjiman)
Langkah kepadamu menjadi lambat

(Cheoeum mannan
geotcheoreom neoreul
saranghal geoya)
Seperti pertama kali bertemu, aku mencintaimu

(Meomchwoitdeon naui
gaseume huhoe eomneun sarangeul)
Berhenti dalam hatiku aku akan mencintaimu tanpa penyesalan
__________
Perlahan aku mendekatinya dan saat ini aku tepat berada di depan sosok yang sedang duduk dengan memejamkan matanya. Aku menatap matanya lekat lekat sambil menahan rasa sakit yang tak tahu sejak kapan ada.
Aku memejamkan mataku sesaat dan menghela nafasku berat sambil mengatur kestabilan detak jantungku yang tiba tiba saja seperti ingin meloncat keluar.
Aku dengan cepat menarik paksa masker yang menutupi wajahnya hingga ia meresponnya dengan berdiri. Dia menatapku lekat dan akupun balas menatapnya. Tiba tiba saja semua menjadi hening. Seperti di dunia ini hanya aku dan dia.
Aku belum bergerak, iapun sama. Masih saling menatap tanpa tujuan.

‘Bruk. . . ‘
Ia ambruk ke tanah dan menjadikan lututnya penopang tubuh. Ia masih menatapku. Menatapku sangat sangat lekat.
Aku merasa mata teduh yang sekarang aku pandangi memeluk erat mataku. Aku merasakan kebahagiaan yang selama ini aku tunggu datang. Tak ada cipratan rasa benci saat itu juga. Seperti nyawa yang sudah kembali ke raganya.
Aku merasakan nafasku sesak. Sangat sesak. Dan perlahan air mataku yang tadi terkumpul jatuh begitu saja. Aku menggigit bibir bawahku dan mencengkeram pegangan kursi rodaku.

“D. . . Da. . niel!”
Suaraku menjadi gagap dan aku langsung membuang pandanganku tak ingin menatapnya sambil menangis.
Aku melirik matanya yang saat ini sudah banyak cairan yang siap menetes. Jujur saja jika boleh, saat ini aku ingin segera memeluknya. Memeluknya sangat erat dan tak mau melepasnya lagi.

Aku melihatnya dan satu air matanya menetes.
“Dina!”
Dengan cepat ia langsung menempatkan badanku pada pelukannya hingga aku tersentak ke depan. Tanpa ragu aku membalas pelukannya. Akupun balas memeluknya lebih erat. Bahkan mungkin sangat erat.
Aku menangis di atas dada bidangnya. Aku menumpahkan segala beban sangat berat yang selama ini aku jalani.

Kau kembali? Daniel? Benarkah yang aku peluk sekarang ini Daniel?
Daniel yang memberi aku sapu tangannya.
Daniel yang memberi aku mawar tanpa durinya.
Daniel yang memberikanku beban sangat besar saat ia tak ada?
Daniel yang melanggar janjinya untuk menemuiku 3 tahun setelah berpisah?
Daniel yang berhasil membuatku menderita?
Daniel yang membuatku mengerti cinta?
Daniel ini kau? Benarkah?

Aku merasa aku bermimpi, jika ini memang mimpi, tolong hentikan waktu dan jangan pernah bangunkan aku. Biarlah aku memeluknya seperti ini selalu.
Tapi kenapa kau datang di saat aku akan pergi? Kau benar benar terlambat!
☆☆☆☆☆
Acara tangis menangis kita terhenti. Hanya tinggal beberapa isakan kecil. Dan terkadang juga aku masih mengucek mataku memastikan bahwa semua ini nyata!
Aku sekarang duduk diatas kursi panjang bersejarah dengannya. Aku meminta Daniel untuk mendudukkanku di situ dan kita bersandar berdua di pohon mangga besar seperti impianku.
“Dina, maafkan aku! ”
Satu kalimat pertamanya terbang begitu saja. Ia mengatakannya tanpa menoleh menatapku.
“…”
Aku terdiam dan tak bisa ku balas pernyataanya. Kau tak perlu meminta maaf. 5Tahun sakitku itu sudah terganti dengan hadirmu sekarang!
“Maaf aku terlambat datang karena aku harus meneruskan kuliahku. Aku sekarang sudah menjadi agen rahasia. Mimpiku tercapai. Namun saat ini nyawaku terancam. Disini banyak yang mengintaiku.”
Dia menjelaskan semuanya tetap tak menoleh. Lalu ia melanjutkan penjelasannya.
“aku memang egois, aku lebih mementingkan diriku sendiri disaat orang lain menungguku selama itu. tapi kenapa kau menungguku? Menunggu pria brengsek sepertiku. Melanggar janjinya selama 5 tahun. Menggantungkan cinta gadisnya. Kenapa kau menungguku? Kenapa tak kau cari pria lain yang jauh lebih baik dariku?”
Kali ini nada suaranya naik. Ia mengatakannya sambil memukuli kepalanya merasa bodoh. Ia menunggu jawabanku sambil menatapku nanar.
“apa kau masih ingat suratmu? Untuk apa aku menungumu jika aku tidak mencintaimu hah? Daniel, aku membalas cintamu yang dulu. 7 tahun lalu. Aku berharap perasaanmu sama seperti dulu.”
Aku membalas tatapan nanarnya dengan tatapanku yang lebih nanar. Menunjukkan betapa berat dan besarnya aku mencintainya.
“tapi perasaanku berbeda, sekarang aku lebih lebih dan sangat mencintaimu Dina!”
Dia memperjelas katanya dengan menerkam bahuku meyakinkan. Tanpa permisi ia langsung menghambur ke pekukanku tapi aku sengaja tak membalas pelukannya. Aku hanya terus menangis sambil menutupi mulutku.
“kenapa kau menangis?” ia kembali mencengkeram bahuku dan menatapku hawatir.
“tapi apa kau tahu kau terlambat? Bukan terlambat 2 tahun. Tapi kau terlambat jika kau mau hidup lama denganku!” aku memulai pembicaraan anehku. Dan daniel langsung membelalakkan matanya meminta kejelasan kembali.
“aku mengidap kanker otak stadium ahir. Dan parahnya kata dokter, hari ini mungkin menjadi hari terahirku! Apa kau merasa terlambat?”
Ia kembali menatapku dengan mata yang sudah berlinang air. Aku tak kuat melihat mata itu. Ia pun langsung memelukku sambil terisak hebat. Ia memelukku sangat erat. Yang mungkin pelukan ini tidak akan pernah terulang esok.
Aku melepaskan pelukannya dan mengeluarkan beberapa benda yang menurutku sangat penting.
“ini sapu tanganmu! Aku tidak pernah membasahi sapu tanganmu dengan air mataku karena kau. Dan aku tidak pernah gunakan itu saat tidak ada kau. Ohya ini lihatlah mawar yang kau berikan dulu masih utuh! Aku hebat kan?”
Aku menghibur diriku dengan candaan yang malah membuat Daniel menangis. Aku menggenggamkan kedua benda itu ke tangan kekarnya. Sambil menyunggingkan senyum pahit.
☆☆☆☆☆
#Daniel POV
Aku benar benar limbung sekarang! Kanker otak? Hari terahir? Kenapa Daniel begitu bodoh? Sangat bodoh!
Penyesalanku terhenti ketika ia mengeluarkan benda yang sangat aku kenal dan bunga aneh?
“ini sapu tanganmu! Aku tidak pernah membasahi sapu tanganmu dengan air mataku karena kau. Dan aku tidak pernah gunakan itu saat tidak ada kau. Ohya ini lihatlah mawar yang kau berikan dulu masih utuh! Aku hebat kan?”
Aku menatap benda benda itu. Sekuat itukah memori otakmu untuk mengingatku? Dan sebesar itukah cinta yang kau tunjukkan padaku? Kali ini aku merasa kalah.

“Dina, aku punya sesuatu untukmu!”
Aku mengeluarkan kotak kecil merah berbentuk hati yang berisi sepasang cincin pernikahan dengan ukiran D&D. Aku melihat wajah Dina yang berbinar binar tak percaya. Aku menyematkan cincin itu ke jari manis nya. Dan ia pun sama.
Ia tersenyum simpul dan aku pun membalasnya walaupun rasanya sangat sakit. Apa ini akan menjadi senyum terahirmu?
“daniel, jika nanti aku pergi, maafkan aku! Aku tidak bisa memberikan kebahagiaanku lebih lama! Tolong ikhlaskan aku!”
Kalimat pahitnya lepas begitu saja.
Namun belum sempat aku menjawab, setetes darah segar perlahan muncul dari hidungnya. Aku segera mengelap nya dengan sapu tanganku. Ia menunggu jawabanku sembari meremas mawar busuk pemberianku.
“jika kau lebih dulu pergi, berarti tuhan memang adil. Dulu saat aku pergi, kau bertahun tahun menungguku. Jadi nanti jika kau pergi, aku pasti akan tetap menunggu. Bukan menunggumu, namun menunggu ajal, supaya nanti aku bisa bertemu kau di surga!”
Aku mencoba menahan sakitku. Mencoba mengendalikan emosiku yang makin memuncak!
“Daniel! Bolehkah aku tidur di pundakmu? Sebentar saja!” ia memohon kepadaku manja. Namun aku tak berani mengizinkannya. Aku takut, sangat takut.
“ayolah, aku janji hanya sebentar!” katanya lagi
“kau yakin? Janji hanya sebentar?” aku mengizinkannya. Aku memberikan pelukanku dan kemudian ia meletakkan kepalanya diatas dadaku.
Saat itu rasanya seperti aku masuk ke dalam mimpi buruk dan aku ingin segera bangun! Namun perasaanku tak enak. Perasaanku kali ini benar benar tak wajar.
“Dorrr” seseorang yang sepertinya sudah menguntitiku sejak tadi melepas pelurunya dan pas tertanam ke dadaku. Namun aku masih sadar
“prekk” ku dengar sebuah benda jatuh dengan lembut dari arah belakangku.
Perasaan burukku kembali lagi. Rasanya benar benar sakit! Lebih sakit dari peluru yang beberapa detik tadi menembus dadaku. Aku tahu itu suara mawar yang tadi di genggam Dina. Kenapa kau pergi? Apa secepat itu kita bertemu? Aku merasakan Sakit yang luar biasa. Seperti ada ribuan pedang yang menancap di badanku. Mana janjimu untuk tidur hanya beberapa menit? Yang ada di pikiranku sekarang yaitu aku akan segera menyusulmu Dina!

” Even though it was so painful, I still
pretend not happen

Despite the
tears, I know how to hide I keep it
all on one side in my heart
and I know how to smile, as if nothing happened

My heart became gloomy again anything left slowly began to disappear All these
may be deleted, all of this might be a memory

Just remember tears in
my eyes And there are a lot of
happy memories left there

for me. . love is something that hurts. Even though it was so painful, I must
remain to await

I forgot when it started
I don’t know why I like this

A day seems so long
And doesn’t seem to have an end
How does another morning come?
I don’t know

I can’t do anything
While not doing anything
I look at the slow time
Where are you?
What are you doing?
Because I only think of one person

I know I shouldn’t be doing this
I know that I can’t love you
My confession will make you go
through more pain
I know

Even though I know
I can’t do anything
I can only think of you

If I close my two eyes
Or open them again
I can only think of one person

The memory I can’t erase for one
second
I just think of you
I only think of that one person” -D.I-

“Saying that this moment is the last to
you whom I loved so much
Even if you try to turn it back
Even if you hold onto me crying

I always act strong
But I’m a cowardly man
Didn’t have the confidence to protect
you forever and left

Hurting, you try to hold me
But I’m a cowardly man
Who doesn’t have the confidence to
give happiness to anyone beside her

Don’t cry in pain
Counting the time that’s passed
Don’t miss a foolish love that’s already
passed
One who looks at only you and needs
only you

Don’t love someone like me
Don’t make someone to miss
One who looks at only you and needs
only you
Meet someone who loves you so much

But do not know why you keep holding me back.
Do you really love me?
Until willing to waste a lot of time to wait?
Why do not you leave me cant you happy
Because you really love me? “-D.A-

end————————–

RCL yy!!!

Iklan

3 thoughts on “[Cerpen] 7 Years Of Love

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s